POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Tampilkan postingan dengan label Fiqih Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih Islam. Tampilkan semua postingan

Keajaiban Hamba Allah

Diposting oleh Masakan On 08.38 0 komentar
Seorang rekan yang mengaku mengalami berbagai keajaiban bercerita banyak pada saya. Bagaimana keluarganya menganggap bahwa do'a yg dia panjatkan pasti diterima Allah. Bagaimana isterinya, penganut salah satu tarekat, jika berdo'a sudah bisa merasakan apakah do'a ini terkabul atau tidak.

Rekan lain juga bercerita bagaimana dia mengalami keajaiban. Ketika dia berdo'a agar termasuk mereka yang berhati emas, tiba-tiba dia melihat langit berwarna keemasan dan tetesen emas itu bagaikan jatuh ke bumi.



Entahlah, apakah pengalaman rekan-rekan saya tersebut benar-benar terjadi atau tidak. Saya hanya khawatir dua hal:

Insya Allah

Diposting oleh Masakan On 19.05 0 komentar
Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.


Saat itulah turun ayat menegur Nabi, "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (QS 18: 24)

Sang Pendaki Yang sukses

Diposting oleh Masakan On 08.18 0 komentar
Ada Unsur yang Harus kita gali dalam diri kita dalam hal meraih kesuksesan hidup. Mengenal lebih jauh akan pribadi kita secara mendalam, bercermin. Pepatah bilang Kenali dirimu sebelum engkau mengenal diri orang lain. Karena apabila kita belum bisa mengenal diri kita sendiri bagaimana kita bisa mengetahui siapa orang lain yang ada disekitar kita.
Manusia itu seperti diibaratkan seorang pendaki… ada tiga tipe pendaki yang ada di diri manusia.


1. Pendaki yang Pertama adalah bila ia ingin melakukan pendakian sekiranya ia sampai di lereng gunung dan ia melihat betapa tingginya gunung yang akan didaki, ia pun merasa usahanya hanya sampai di lereng gunung saja karena di membayangkan kesuliatan yang akan di rasakan apabila ia mendaki nanti.

2. Pendaki yang Kedua adalah ketika iya sampai di lereng gunung dia melihat betapa tingginya gunung tersebut tapi dia merasa tertantang dengan kemegahan alam dan ketiinggiannya. Dia pun mendaki dengan penuh semangat dan dia berhasil menaklukan gunung itu. Diapun berpikir sudah cukup baginya karena dia merasa dia sudah berhasil menaklukan gunung tersebut.

3. Pendaki yang ketiga adalah ketika iya berhasil mendaki satu gunung, dan dia melihat dari atas gunung itu terlihat dan terhampar di depannya gunung-gunung lain yg ternyata lebih tinggi dari gunung yang barusan ia daki. Dan iapun mencoba lagi menaklukan gunung-gunung yang lain.

Dari beberapa tipe pendaki di atas. Disimpulkan

1. Pendaki yang Pertama adalah orang dimana ketika mau berusaha dia langsung menyerah dengan apa yang ingin dia usahakan, Seperti orang kalah sebelum berperang. Tipe manusia seperti ini tipe manusia yang sangat menggantungkan hidupnya sama orang lain tanpa mau bekerja dan berusaha.

2. Pendaki yang kedua adalah Tipe manusia yang mau berusaha dalam
hidupnya, sampai ia bekerja keras dari titik nol sampai dia berhasil meraih apa yang ia cita-cita kan. Dan setelah ia merasa berhasil dengan apa yang ia cita-cita kan iapun merasa puas dan cukup dengan keberhasilan yang ia raih.

3. Pendaki yang Ketiga adalah Tipe manusia Yang mempunyai banyak mimpi dan di berusaha meraih mimpi-mimpinya itu. Keberhasilan Pertama tidaklah cukup baginya untuk terus berusaha dan bekerja meraih keberhasilan yang lain. Ini adalah Tipe yang terbaik dari Tipe manusia yang diatas.

Pertanyaannya
Tipe Yang Manakah Kita?

Kesuksesan Bukan di lihat dari kaya atau banyak uangnya sesorang, kesuksesan dimana kita Mampu mensyukuri kepada yang memberi kesukesan atau keberhasilan.

Jadilah Manusia yang Bersyukur

Diposting oleh Masakan On 07.04 0 komentar
Suatu ketika..
Ada seorang laki-laki berumur kira-kira 60 tahun bernama Pak Cahyo..
Dia mempunyai seorang istri dan dikaruniai 2 orang anak serta 5 cucu yang memang sedang lucu-lucunya..
Sungguh bahagia laki-laki itu..

Suatu malam dia bermimpi..

Ada seorang laki-laki tua berjanggut menemui dirinya..
Lalu laki-laki itu berkata..
“Apakah kamu ingin berumur panjang??”
”Ya.. saya ingin berumur panjang dan menikmatinya bersama keluarga saya” jawab Pak Cahyo dengan cepat..
Laki-laki tua itu hanya tersenyum


“Baiklah.. kalau begitu..” jawab laki-laki tua itu..
“Tapi kamu harus memilih salah satu syarat yang saya ajukan ini..” sambung laki-laki tua itu lagi..
“apa syaratnya, pak tua??” Tanya Pak Cahyo dengan terburu-buru..
“Syaratnya kamu harus memilih untuk kehilangan fungsi salah satu dari panca indera kamu.. karna tidak semua nikmat Tuhan dapat kamu miliki secara bersamaan jika kamu diberikan umur yang panjang.. atau kamu memilih untuk menderita lumpuh tapi berumur panjang” jawab laki-laki tua itu..

Pak cahyo hanya terdiam.. berfikir keras..
Tapi belum sempat dia menjawab.. tiba-tiba dia mendengar suara lain..
“Cahyo, kamu jangan memilih mata untuk dikorbankan karena apabila mata yang kamu korbankan maka tiada berguna dunia yang indah ini bila tidak dapat kamu lihat..” kemudian suara itu menghilang..

Tapi sesaat kemudian ada suara lain yang ia dengar..
“Cahyo, benar apa yang dikatakan oleh Mata-mu itu, tapi tidaklah lebih baik apabila kamu kehilangan indera penciuman dan perasa-mu” raung suara yang kedua kepada Pak Cahyo..

Pak Cahyo kembali berfikir..

Dan ternyata ada suara yang ia dengar lagi..
“Cahyo, apakah kamu tetap ingin berumur panjang akan tetapi tidak bisa mendengar indahnya kicauan burung di pagi hari??” jelas suara yang ketiga pelan dan kemudian menghilang..

Pak Cahyo berkeringat.. deras mengucuri tubuhnya..

Belum selesai ia menyeka keringat di wajahnya, terdengar lagi suara yang menasehatinya..
“Apakah kamu tidak ingin bisa mengecap rasa makanan yang nikmat lagi di dunia ini, Cahyo??”
“Apakah kamu lupa kalau istrimu itu pandai memasak?? Apakah kamu tidak ingin bercerita dongeng dengan cucumu??” lanjut suara itu pelan..

Laki-laki tua itu masih menunggu jawaban Pak Cahyo.. dan berkata..
“bagaimana Cahyo??” apakah kamu sudah memutuskan jawabanmu??”

“Belum pak tua..” jawab Pak cahyo.. “saya masih memikirkan baik buruknya menderita lumpuh tapi berumur panjang..” lanjut Pak Cahyo..
Tiba-tiba Pak Cahyo terjaga dari tidurnya.. keringat bercucuran disekujur tubuhnya.. nafasnya tersengal-sengal..

Pagi harinya Pak Cahyo termenung ditaman belakang rumahnya..
Ia masih sangsi dengan mimpi yang dialaminya tadi malam..
Tapi..
Apabila mimpi itu benar-benar terjadi..
Ia belum bisa menentukan mana yang akan ia pilih..

Kupu-kupu

Diposting oleh Masakan On 15.11 0 komentar
Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung.
Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata
angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas.
Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain
disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek
tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak
Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak
juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan
lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku
harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"


Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di
pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada
sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor
kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku
dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa
lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan
bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan
disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat
pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran.
Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain.
Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari
tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk
mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya
semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat
ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak
naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda.
Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada
sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka
terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak
tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap
pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin
kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi
dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan
benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah
kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari
kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang
hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan
keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang
mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu
indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

***

Teman, mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi
mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka
cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak
sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja
mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat
meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap
setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan
cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di
genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan
adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam
hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari
kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan
menjauh.

Teman, cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu
menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap
langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup
kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia
itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan
mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah
memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita,
namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya. ***

Hati yang Selalu Tersenyum

Diposting oleh Masakan On 16.08 0 komentar
Rasulullah saw adalah sosok manusia yang sempurna. Di medan perang beliau adalah seorang jendral profesional yang menguasai taktik dan strategi bertempur. Ditengah masyarakat,beliau adalah teman,shabat, guru,dan sosok pemimpin yang menyenangkan. Di rumah,beliau adalah seorang kepala rumah tangga yang bisa mendatangkan rasa aman,kasih sayang,sekaligus kebahagiaan. Beliau adalah sosok yang romantis.

Beliau biasa memanggil istrinya,'Aisyah, dengan panggilan yang indah: "Ya Humaira" (wahai si merah jambu). Wanita mana yang tidaK tersanjung saat dipanggil suaminya dengan panggilan ini? Telinga siapa yang tidak ingin mendengar sapaan seperti ini? Tapi keindahan itu tercipta bukan karena beliau ahli merayu,melainkan karena hati beliau bersih,bening, dan indah. Dari hati yang indah itu keluar kata-kata,prilaku, dan sikap yang indah. Dari keindahan hati itulah terpancar segala keindahan dari setiap yang dipandang dan ditemuinya. Memang, betapa indah hari-hari kehidupan dimata Rasululah. Romantisme tidak hanya berlaku bagi istri-istrinya, juga anak-anak,nenek- nenek dan semua mahluk Allah swt lainnya pun merasakannya. Begitu dekatnya Rasulullah dengan unsur-unsur di alam sekitar.

Setiap berhadapan dengannya beliau kerap menyapanya dengan ungkapan:"Robbiy wa Rabbukallahu" (Tuhanku dan tuhanmu adalah Allah). Melihat sekuntum bunga yang mulai terbuka kelopaknya, kalbunya bergetar,hatinya bersuka cita,dan segera beliau mendatanginya, mencium dengan bibirnya,dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa beliau mengucapkan:"Aamu khairin wa barokatin insya Allah"(T ahun baik dan penuh berkah, insya Allah). Demikian pula ketika beliau mendapati bulan sabit di awal-awal malam kemunculannya, tak lupa menyambutnya dengan suka cita. Dengan penuh optimis beliau bercakap tentangnya:"Hilaalu khairin wa barokatin insya Allah"(Awal bulan yang baik dan penuh berkah,insya Allah).

Setelah menyambut dengan tahniah (ungkapan kegembiraan) , beliau juga tak lupa berdoa:"Allahumma ahillahu'alaina bil yumni wal imani wassalamati wal Islami"(Ya Allah, jadikan permulaan bulan ini membawa keuntungan,iman, keselamatan, dan Islam). Apa bedanya bulan yang ditatap Rasululah emat belas abad yang lampau dengan bulan yang kita lihat setiap malam? Bukan bulannya yang berbeda, tapi cara pandangnya yang berbeda. Rasulullah saw memandangnya dengan cahaya iman,sedang kita mungkin memandangnya dengan hati yang masih ragu. Rasulullah melihat di balik bulan ada kebesaran Allah, sedang kita melihat bulan tidak lebih dari sekedar materi.

Beliau melihat bulan dari perspektif waktu yang akan datang (dengan visi),sedang kita melihatnya sekedar dengan "menghitung hari". Melalui tulisan ini, saya mengajak seluruh aktivis Hidayatullah dan segenap pendukungnya, mari kita tatap dunia ini dengan senyum, sebagai pertanda bahwa kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena bulan dan matahari masih dipergilirkan, siang dan malam masih berputar. Ada waktu untuk berbuat dan beramal. Mari kita tatap masa depan dengan penuh harapan. Tak usah berkecil hati, sekalipun tantangan sebesar dan sebahaya gunung Merapi. Kita masih punya tuhan pemilik dan penguasa alam semesta. Di tangan-Nya tergenggam seluruh nyawa, sekaligus kehendak-Nya. Sekali diputar, semuanya akan berubah.

Tersenyumlah, sebagaimana Rasululah tersenyum ketika menyapa matahari terbit setiap pagi, dan bulan yang mengorbit setiap malam. Tersenyumlah dan sapalah istri dengan suka cita sebagimana beliau melahirkan kebahagiaan kepada keluarga dan semua manusia.

*Suara Hidayatullah Edisi Agustus 2006

Arti "nikmat" Menunggu

Diposting oleh Masakan On 02.04 0 komentar
social market

Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai.

Sang pemuda terus memandangi si pemancing tua. “Aneh?” ucapnya membatin. Tanpa sadar, satu jam sudah perhatiannya tersita buat Pak Tua. Tujuannya ke pasar nyaris terlupakan. “Bagaimana mungkin orang setua dia bisa tahan berjam-jam hanya karena satu dua ikan?” gumamnya kemudian.

“Belum dapat, Pak? Ucap si pemuda sambil melangkah menghampiri Pak Tua. Yang disapa menoleh, dan langsung senyum. “Belum”, jawabnya pendek. Pandangannya beralih ke si pemuda sesaat, kemudian kembali lagi ke arah genangan sungai. Air berwarna kecoklatan itu seperti kumpulan bunga-bunga yang begitu indah di mata Pak Tua. Ia tetap tak beranjak.

“Sudah berapa lama Bapak menunggu?” Tanya sia pemuda sambil ikut memandang ke aliran sungai. Pelampung yang menjadi tanda Pak Tua terlihat tak memberikan tanda-tanda apa pun. Tetap tenang.

“Baru tiga jam”, jawab Pak Tua ringan. Sesekali, siulannya menendangkan nada-nada tertentu. “Ada apa, Anak Muda?” tiba-tiba Pak Tua balik Tanya. Si Pemuda berusaha tenang. “Bagaimana Bapak bisa sesabar itu menunggu ikan? tanyanya agak hati-hati.

“Anak Muda”, suara Pak Tua agak parau. “Dalam memancing, jangan melulu menatap pelampung. Karena kau akan cepat jenuh. Pandangi alam sekitar sini. Dengarkan dendang burung yang membentuk irama begitu merdu. Rasakan belaian angin sepoi-sepoi yang bertiup dari sela-sela pepohonan. Nikmatilah, kau akan nyaman menunggu!” ucap Pak Tua tenang. Dan ia pun kembali bersiul.


Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu. Padahal hidung adalah kegiatan menunggu. Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya. Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya. Para gadis menunggu jodohnya. Pegawai menunggu akhir bulannya. Semua menunggu.

Namun, jangan terlalu serius menatap “pelampung” yang ditunggu. Karena energi kesabaran akan cepat terkuras habis. Kenapa tidak mencoba untuk menikmati suara merdu pergantian detak jarum penantian, angin sepoi-sepoi pergantian siang dan malam, dan permainan seribu satu pengharapan.

Nikmatilah! Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Seperti memandang taman indah di tepian sungai.

Kiyai dan Ayam

Diposting oleh Masakan On 01.51 0 komentar
Selepas Isya', setelah merasa cukup memberikan pengajian selama bertahun-tahun pada santrinya, seorang Kiyai memberikan santrinya masing-masing seekor ayam. Kiyai berpesan, "terimalah ayam ini, lalu semblihlah ditempat, dimana tidak ada yang bisa melihat apa yang kamu lakukan."

Subuh itu udara cukup dingin, namun Kiyai dan para santrinya sudah berkumpul di Langgar. Selepas shalat subuh berjama'ah, Kiyai bertanya perihal ayam yang diberikannya itu. Seorang santri senior meminta ijin berbicara, "Kiyai, saya sudah jalankan pesan Kiyai untuk menyemblih ayam itu di tempat yang tak bisa ada yang melihat saya menyemblih ayam itu."

Kiyai tersenyum, "Dimana kamu semblih?"

Santri menjawab, "Di belakang sumur, malam tadi tepat jam 12.00"

"Kamu yakin tak ada yg melihat perbuatan itu?," tanya Kiyai lagi.

"Yakin....a'inul yakin, Kiyai, saya sudah periksa berulang kali tempat itu dan sudah sangat berhati-hati" jawab santri dengan takzimnya.

Kiyai menghela nafas. Dia tatap seluruh santrinya. Lalu dengan perlahan dia bertanya, "Bagaimana dengan yang lain?" Satu-satu melaporkan "tempat rahasia" mereka saat menyemblih ayam tersebut.

Kiyai sekali lagi menghela nafas. Dengan suara berat, Kiyai berkata, "Kalian semua tidak lulus.... berbulan-bulan aku mengajarkan Islam kepada kalian, sayang, kalian tak mampu menangkapnya dengan baik. Ketika kalian merasa telah menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat perbuatan kalian, kalian lupa, wahai anak-anakku, bahwa sungguh tak ada tempat di dunia ini yang lepas dari pengamatan Allah!" "Ketika kalian semblih ayam itu, tak sadarkah kalian bahwa Allah melihat perbuatan itu."

Saya menghela nafas mengingat kembali kisah di atas. Betapa sering kita lupa bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui perbuatan kita. Ketika kita "semblih" nasib bawahan kita, kita lupa bahwa Allah melihat perbuatan kita. Ketika kita berhasil meloloskan diri dari kecurigaan isteri untuk berdua-duaan saja dengan wanita yang bukan hak kita di sebuah motel selama berjam-jam, kita lupa bahwa Allah tak bisa kita kelabui.

Saat kita sukses merubah laporan keuangan sehingga di akhir tahun anggaran, terdapat banyak dana sisa yang bisa kita "hanguskan", kita juga lupa bahwa Allah akan "meng-audit" laporan keuangan tersebut di akherat nanti. Manakala kita tunjuk pihak-pihak lain sebagai kambing hitam dari persoalan moneter di negara kita, dan melupakan bahwa kitapun memiliki "saham" dari persoalan ini, kita lupa bahwa Allah bisa membedakan dengan jelas mana kambing yang "hitam" dan mana yang "putih".

Ah...bisakah kita melepaskan diri dari "mata" Allah, bisakah kita menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat apa yang kita lakukan...???

Ya Allah, ampuni kami....

Oleh :
Nadirsyah Hosen



Hadiah untuk Orang-orang yang Bertakwa

Diposting oleh Masakan On 18.06 0 komentar

Berikut yang manakah orang yang bertakwa??
Orang yang bertakwa berarti menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Nah, sering ditekankan kepada kita, "Hai sekalian umat manusia beriman dan bertakwalah!!!" Hal ini bisa memunculkan sendiri, "Lantas apa yang didapat oleh orang-orang yang bertakwa?"

ini ada beberapa ganjaran atau semacam "hadiah" bagi orang-orang yang bertakwa, yang dikemukakan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur'an:

1. Senantiasa mendapat petunjuk
Mereka itulah (orang-orang bertaqwa) yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah:5)

2. Diberi penyelesaian masalah
Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya akan diberikannya jalan keluar. (Ath-Thalaq:2)

3. Dimudahkan segala urusan
Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memudahkan baginya segala urusan. (Ath-Thalaq:4)

4. Mendapat rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka
…dan memberinya (orang bertaqwa) rezeki dari sumber yang tidak terduga. (Ath-Thalaq:3)

5. Disayang Allah (serta malaikat dan manusia)
Sesungguhnya Allah menyayangi orang-orang yang bertaqwa. (Ali ‘Imran:76)

6. Mendapat keberkatan dari langit dan bumi
Jika seluruh penduduk sebuah negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya kami akan melimpahkan kepada mereka berkat dari langit dan bumi. (Al-A’raaf:96)

7. Mendapat kemenangan
Sesunggunya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan. (An-Naba’:31)

8. Terpelihara dari tipu daya musuh
Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. (Ali ‘Imran:120)

9. Diberi furqan (petunjuk untuk membedakan yang benar dan salah)
Jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan. (Al-Anfaal:29)

Cukup pantas kan!!!!
So, jangan menunggu, bersegeralah sodara!!!!



4 Renungan dalam 4 skenario sehari hari

Diposting oleh Masakan On 22.42 0 komentar
4 Skenario

Skenario 1

Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.

Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong
tersebut.

Suasana cukup ramai namun masih ada tempat bagi kita untuk
menggoyang-goyangkan kaki.

Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.

Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada
kita.

"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih," kata orang tersebut seraya
memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.

Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya
kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari
handphone kita hilang.
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita
sambil berkata,
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.

Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima
kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung
memberikan handphone itu kepada kita).
Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita
menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun
dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada
orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya
kepada kita.
Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya
kepada kita) menjawab telepon kita.
"Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba bicara
kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone
itu kembali kepada kita.

Orang yang menemukan handphone kita berkata,
"Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
Biar bapak ambil di sana nanti ya."
Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut.
Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.

Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?
Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan sepertinya akan
lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang
yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari
kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba
menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
Sampai akhirnya kita tiba di rumah.



Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
"Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan
handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. "
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
Kita sudah putus asa.
Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam
handphone kita.

Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.
Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita
menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone
tersebut.

Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan
oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.

Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?
Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan
mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih
berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).

Moral
Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada
orang yang menemukannya.

Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih.

Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita
turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.

Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari
kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.

Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu
baru mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling
baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,
bukan?

Dia adalah orang pada skenario pertama.
Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara
empat orang di atas.

Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu
beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama
itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.


Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi
orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita
berikan lebih sedikit.

OK, kenapa bisa begitu?
Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
skenario.
Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar
handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.

Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu
kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan
kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.

Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama
kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita
kembali.

Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang
menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone
yang kita miliki.

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?
Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,
kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang
tersebut.

Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?

Sebaiknya tidak.

Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih
ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap
dari diri kita.
Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

Dusta Yang Mana Lagi...?

Diposting oleh Masakan On 15.51 0 komentar

Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat. Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi "fabiayyi alai rabbikuma tukadziban" (Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?

Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni'mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?". Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "dusta"; bukan kata "ingkari", "tolak" dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni'mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya. Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni'mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!

Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata, semua ni'mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni'mat itu semuanya datang dari Allah.

Maka ni'mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan!

Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah--baik anda dustakan atau tidak--semua ni'mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!

"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni'mat yang kamu peroleh saat ini" (QS 102: 8)



Hukum Merokok dalam Islam

Diposting oleh Masakan On 16.34 0 komentar
Penulis: Fatwa al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al If

SIKAP ISLAM TERHADAP ROKOK

Sesungguhnya Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad dengan petunjuk-Nya dan agama yang hak, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dan membersihkan serta mensucikan hati mereka dari kotoran kekufuran dan kefasikan dan membebaskan mereka dari belenggu penghambaan kepada selain Allah ta’ala.

Dia (Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam) membersihkan manusia dari kesyirikan dan kehinaan kepada selain Allah dan memerintahkannya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dengan merendahkan diri dan mencintai-Nya dan meminta serta memohon kepada-Nya dengan penuh harap dan takut.

Dia juga mensucikan manusia dari setiap kebusukan maksiat dan perbuatan dosa, maka dia melarang manusia atas setiap perbuatan keji dan buruk yang dapat merusak hati seorang hamba dan mematikan cahayanya dan agar menghiasinya dengan akhlak mulia dan budi perkerti luhur serta pergaulan yang baik untuk membentuk pribadi muslim yang sempurna. Maka dari itu dia menghalalkan setiap sesuatu yang baik dan mengharamkan setiap yang keji, baik makanan, minuman, pakaian, pernikahan dan lainnya.

Termasuk yang diharamkan karena dapat menghilangkan kesucian adalah merokok, karena berbahaya bagi fisik dan mengdatangkan bau yang tidak sedap, sedangkan Islam adalah (agama) yang baik, tidak memerintahkan kecuali yang baik. Seyogyanya bagi seorang muslim untuk menjadi orang yang baik, karena sesuatu yang baik hanya layak untuk orang yang baik, dan Allah ta’ala adalah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik.

Berikut akan kami kemukakan beberapa fatwa dari para ulama terkemuka tentang hukum rokok : “Merokok hukumnya haram, begitu juga memperdagangkannya. Karena didalamnya terdapat sesuatu yang membahayakan, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits :
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ أخرجه الإمام أحمد في المسند ومالك في الموطأ وابن ماجة
“ Tidak (boleh melakukan/menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau membahayakan” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, Malik dan Atturmuzi)

Demikian juga (rokok diharamkan) karena termasuk sesuatu yang buruk (khabaits), sedangkan Allah ta’ala (ketika menerangkan sifat nabi-Nya Shalallahu 'alaihi wassalam) berfirman: “...dia menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan yang buruk“ (Al A’raf : 157)

Panitia Tetap Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia.
Ketua: Abdul Aziz bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzak Afifi.
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan –
Abdullah bin Quud.

“Merokok diharamkan, begitu juga halnya dengan Syisyah, dalilnya adalah firman Allah ta’ala: “Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap diri kalian “ (An-Nisa : 29)


“ Jangan kalian lemparkan diri kalian dalam kehancuran” (Al-Baqarah : 195)

Dunia kedokteran telah membuktikan bahwa mengkonsumsi barang ini dapat membahayakan, jika membahayakan maka hukumnya haram. Dalil lainnya adalah firman Allah ta’ala:
(وَلاَ تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمْ الَّتِى جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا ( النساء : 5

“ Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan..” (An Nisa:5)
Kita dilarang menyerahkan harta kita kepada mereka yang tidak sempurna akalnya karena pemborosan yang mereka lakukan. Tidak diragukan lagi bahwa mengeluarkan harta untuk membeli rokok atau syisyah merupakan pemborosan dan merusak bagi dirinya, maka berdasarkan ayat ini hal tersebut dilarang.

Sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam juga menunjukkan pelarangan terhadap pengeluaran harta yang sia-sia, dan mengeluarkan harta untuk hal ini (rokok dan syisyah) termasuk menyia-nyiakan harta. Rasulullah e bersabda:
{ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ }

Syekh Muhammad bin Sholeh bin ‘Utsaimin
Anggota Lembaga Majlis Ulama Kerajaan Saudi Arabia


“Telah dikeluarkan sebuah fatwa dengan nomor: 1407, tanggal 9/11/1396H, dari Panitia Tetap Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa di Riyadh, sebagai berikut: “Tidak dihalalkan memperdagangkan rokok dan segala sesuatu yang diharamkam karena dia termasuk sesuatu yang buruk dan mendatangkan bahaya pada tubuh, rohani dan harta.

Jika seseorang hendak mengeluarkan hartanya untuk pergi haji atau menginfakkannya pada jalan kebaikan, maka dia harus berusaha membersihkan hartanya untuk dia keluarkan untuk beribadah haji atau diinfakkan kepada jalan kebaikan, berdasarkan umumnya firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمِ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيْهِ إِلاَّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيْهِ (ألبقرة:267
“ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata darinya “ (Al Baqarah: 267)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: “ Sesungguhnya Allah Maha Baik, tidak akan menerima kecuali yang baik “ (al Hadits)
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

(Dinukil dari terjemahan عفواً ممنوع التدخين Maaf, dilarang MEROKOK oleh Thalal bin Sa'ad Al 'Utaibi)

SUmber : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=427

Kematian Hati

Diposting oleh Masakan On 06.23 0 komentar

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang
mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang
yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa
hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia
perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak
disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk
berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH
berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap
ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar
perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam
hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka
baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh,
alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH,
jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau
hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak
tahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan
dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada
orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian
menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya
sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu
merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan
atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak
mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?


Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing.
Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu
makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa
rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu
sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau
meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau
kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani
meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka
lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung.
Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1.500
responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir
separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan
dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan
aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah
rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan
menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan
canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana
getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan
segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"? Saat engkau muntah melihat
laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung
ustadzmu yang mengatakan "Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana
perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton
akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul
bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti
ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan
dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.
Justeru engkau akan dihadang tantangan : sangat malu untuk menahan
tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar
dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang,
walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter,
maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu
jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya
telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus
ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi
di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu
maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu
segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan
seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku,
karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat
daripada ayah kandung dan ayah mertua?"

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar
diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua
kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang
sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang
alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau
andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang
maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila
demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami
dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal.
Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak
mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" .
Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak
minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku".
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah
engkau punya harga diri.

Ketik REG PRIMBON kirim ke 9877…!!!

Diposting oleh Masakan On 16.43 0 komentar

Iya, inilah kata - kata yang manis penuh dengan madu yang seringkali
diucapkan mas - mas ber"blangkon" (memakai topi khas Jawa-pen) pada
iklan - iklan yang tayang di layar televise. Bagi sebagian pemuda yang
bertampang melas, masa depan belum jelas dan tipe pemalas…mungkin REG
(spasi) PRIMBON kirim ke 9877 dan lain sebagainya iklan sejenis…
merupakan angin segar yang bisa membuat karir, jodoh dan kehidupannya
semakin membaik. Tapi…

Eits…! Tunggu dulu…! Tahukah sejatinya kita tentang hal - hal semacam
ini? Dan sudahkah kita mengetahui hakikat mereka yang sesungguhnya… ???

Sangatlah jelas bagi seorang yang mengerti tentang islam yang mulia
ini akan perkara syirik modern yang dipopulerkan via handphone ini.
Bagaimana tidak??? Setiap manusia hamba Allah, disarankan untuk minta
bantuan dan pertolongan pada mas - mas berblangkon agar jodohnya
lancer. Manusia - manusia yang setiap shalatnya mengucapkan "laa haula
wa laa quwwata illa billah" justru diminta untuk mengadukan nasibnya
pada mas- mas berblangkon…? ??


Mas - mas berblangkon yang lebih tepatnya dikatakan dukun atau tukang
ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta
pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya.
Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di
antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca
(garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.

Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya
hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak
mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi
kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di
masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal
pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang
semisalnya.

Lantas bagaimana hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun?
Nah jika mereka para pengirim sms mempercayai terhadap apa yang
dikatakan dan disampaikan oleh si dukun, maka bisa jadi mereka jatuh
dalam kekafiran, keluar dari agama Islam. Rasulullah
Shallallahu' alaihi wasallam bersabda :

"Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa
yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang
diturunkan kepada Muhammad". (HR. Ahmad: II/ 429, dalam buku Shahih al
Jami' Hadits, no : 5939)

Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka
mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin
tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir,
tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah
Shallallahu' alaihi wasallam bersabda :

"Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya
tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh
malam" (Shahih Muslim : IV / 1751).

Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib)
dan bertaubat atasnya.

Bagaimana dengan kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet
terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia…???

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Ia berkata: Rasulullah
Shallallahu' alaihi wasallam shalat bersama kami, shalat subuh di
Hudaibiyah - Di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam
harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya
berkata:

"Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Robb kalian?
Mereka menjawab : " Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui". Allah
berfirman : Pagi ini di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan
ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan
denagn karunia Allah dan rahmatNya maka dia beriman kepadaKu dan kafir
terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: (hujan ini turun) karena
bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepadaKu dan beriman
kepada bintang" (HR Al Bukhari, lihat Fathul Baari : 2/ 333).

Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang)
seperti yang banyak kita temui di Koran dan majalah. Jika ia
mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka
dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia
telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa. Sebab tidak dibolehkan
mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Di samping syaitan
terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada
hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan
menuju kemusyrikan.

Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak
dijadikan demikian oleh Allah Tabaroka wata'ala. Seperti kepercayaan
sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbahu syirik, kalung
dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya sesuai
dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan
turun menurun.

Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-
anak mereka untuk menolak `ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh
rasa dengki seseorang dengan pandangan matanya; kena mata). Demikian
anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut
pada badan, manggantungkannya di mobil atau rumah, atau mereka
mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai
kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala' atau untuk
menghilangkannya.

Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan
(perintah) tawakkal kepada Allah. Dan tidaklah hal itu menambah kepada
manusia, selain kelemahan. Belum lagi ia termasuk berobat dengan
sesuatu yang diharamkan.

Berbagai jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk
syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan minta pertolongan
kepada sebagian jin atau setan, gambar-gambar yang tak bermakna,
tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang
tenung (sulap) menulis ayat-ayat Al Qur'an dan mencampur-adukkanny a
dengan hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis
ayat-ayat Al Qur'an dengan barang yang najis atau dengan darah haid.
Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah
haram. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu' alaihi wasallam :

"Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik
[HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No :
492].

Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa
berbagai hal itu bisa mendatangkan manfaat atau madharat (dengan
sendirinya) selain Allah maka dia telah masuk dalam golongan pelaku
syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu merupakan
sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah tidak menjadikannya
sebagai sebab, maka dia telah terjerumus pada perbutan syirik kecil,
dan ini masuk dalam kategori syirkul asbab.

Nah, akhir kata…semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua agar
tidak mudah - mudah untuk mengirimkan REG (spasi) PRIMBON dan
sejenisnya ke 9877. Lagian, daripada dibuat mengirimkan begituan,
mending pulsa handphone kita digunakan untuk hal - hal yang bermanfaat
saja…

Wallahu ta'ala a'lam…

Nasib manusia telah ditentukan

Diposting oleh Masakan On 11.02 0 komentar

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim).
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1. Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.
2. Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
3. Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).
4. Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.
5. Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.
6. Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
7. Sebagian ulama dan orang bijak berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.
Kumpulan hadits Arba’in, Karya Imam Nawawi

BERIMAN KEPADA ALLAH

Diposting oleh Masakan On 17.25 0 komentar

Iman kepada Allah mengandung empat unsur :


1. Beriman kepada wujudnya Allah

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara', dan indra.

1. Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fitrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang memalingkannya.

Rasulullah SAW bersabda :

"Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani, atau majusi." (HR. Al-Bukhari).

2. Bukti akal tentang wujud Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin pula terjadi secara kebetulan. Tidak mungkin wujud itu ada dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat mencipakan dirinya sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada.

Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk dengan aturan aturan yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait dengan erat antara sebab-musababnya dan antara alam semesta satu sama lainnya.

Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur.

Kalau makhluk tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.

Allah SWT menyebutkan dalail aqli (akal) dan dalil qath'i dalam surat Ath thur :



"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" ( QS. Ath-thur : 35).

Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah SWT.

Ketika Jubair bin Muth'im mendengar dari Rasulullah SAW yang tengah membaca surat Ath-thur dan sampai kepada ayat-ayat ini :

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu atau merekalah yang berkuasa?" ( QS. At-Thur : 35-37).

Ia, yang tatkala itu masih musyrik berkata : "hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku." (HR. Al-Bukhari).

Dalam hal ini Kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada sesorang berkata kepada anda tentang istana yang dibangun, yang dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan karpet, dan dihiasi dengan berbagai perhiasan pokok dan penyempurna, lalu orang itu mengatakan kepada anda bahwa istana dengan segala kesempurnaanya ini tercipta dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta, pasti anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta dan dungu. Kini Kami bertanya kepada anda, masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta apa-apa yang ada di dalamnya tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?.

3. Bukti syara' tentang wujud Allah SWT bahwa seluruh kitab samawi ( yang diturunkan dari langit ) berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb yang maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dati Robb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan itu.

4. Bukti inderawi tentang wujud Allah SWT dapat dibagi menjadi dua:

a. kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya do'a orang-orang yang berdo'a serta penolong-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Alah SWT.

Allah berfirman :

"Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu ketika dia berdo'a, dan Kami memperkenankan do'anya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar." ( QS. Al-Anbiya : 76).

"Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Robbmu, lalu diperkenankannya bagimu …" ( QS. Al-Anfal : 9)

Anas bin Malik t berkata : " Pernah ada seorang badui datang pada hari jum'at. Pada waktu itu Nabi SAW tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata : "Hai Rasul Allah, harta benda Kami telah habis, seluruh warga sudah kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah SWT untuk mengatasi kesulitan Kami. "Rasululah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdo'a. tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada hari jum'at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata : 'Hai Rasulullah, bangunan Kami hancur dan harta bendapun tenggelam, doakanlah Kami ini kepada Allah (agar selamat).' Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdo'a : "Ya Robbku, turunkanlah hujan di sekeliling Kami, dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi Kami." Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat kecuali menjadi terang (tanpa hujan)." (HR. Al-Bukhari).

b. Tanda-tanda para Nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud yang mengutus para Nabi tesebut, yaitu Allah SWT, karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai penguat dan penolong bagi para Rasul.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, Musa memukulnya, lalu terbelahlah laut itu menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah berfirman, yang artinya :

"Lalu Kami mewahyukan kepada Musa : "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar." ( QS. Asy-Syuara' : 63).

Contoh kedua adalah mukjizat Nabi Isa AS ketika menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah.

Allah SWT berfirman yang artinya :

"… dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…" (QS. Al-Imran : 49).

" … dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup) dengan izinKu .." ( QS. Al-Maidah : 110).

Contoh ketiga adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW ketika kaum Quraisy meminta tanda atau mukjizat. Beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya.

Allah SWT berfirman tentang hal ini yang artinya :

"Telah dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata : "(ini adalah) sihir yang terus-menerus." (QS. Al-Qomar 1-2).

Tanda-tanda yang diberikan Allah, yang dapat dirasakan oleh indera kita itu adalah bukti pasti wujudNya.

AGAMA ISLAM

Diposting oleh Masakan On 11.46 0 komentar

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad . Dengan Islam, Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hambanya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatanNya, dan meridlai Islam sebagai dinnya. Oleh karena itu tidak ada lain yang patut diterima selain Islam.


Allah SWT berfirman:

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi… (QS. Al-Ahzab : 40).

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu ni'matKu, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama bagimu…" (QS. Al-Maidah : 3).

"Sesungguhnya Ad-diin (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam…" (QS. Al-Imran : 19).

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-Imran : 85).

Allah SWT telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama Islam karena Allah. Hal ini sebagaimana telah difirmankan-Nya kepada Rasul-Nya, yang artinya :


"Katakanlah : "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk." (QS. Al-A'raf 158).

Dari Abu Hurairah t dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari ummat ini, Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati tidak mengimani sesuatu yang aku diutus karenanya, kecuali dia termasuk penghuni neraka." (HR.Muslim).

Beriman kepada Nabi SAW artinya : membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan terhadap segala yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib ( paman Nabi SAW) dikatakan bukan orang yang beriman kepada Nabi SAW, walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya itu, dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama terbaik.

Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat dan umat.

Allah SWT berfirman kepada Rasulnya yang artinya :

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu… ( QS. Al-Maidah : 48).

Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah bahwa berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dikehendaki sebagian orang.

Agama Islam adalah agama yang benar. Allah menjamin kemenangan kepada orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dikatakan dalam firman-Nya, yang artinya :

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." ( QS. At-Taubah : 33).

Dan Allah telah berjanji kepada orang orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlainya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam kekuatan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." ( QS. An-Nur : 55).

Agama Islam merupakan aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syai'at, karena :

1. memerintahkan untuk bertauhid dan melarang syirik.
2. memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.
3. memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang berbuat lalim.

Catatan :

Adil artinya menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dikatakan sebagian orang, yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Menyamakan hal-hal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunyapun tidak terpuji.

4. memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.
5. memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.
6. memerintahkan untuk berbakti pada ibu-bapak serta melarang menyakitinya.
7. memerintahkan untuk bersilaturrahim/menyambung hubungan dengan kerabat dekat, serta melarang memutuskannya.
8. memerintahkan untuk berbuat baik dengan tetangga dan melarang berbuat jahat kepada mereka.Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan buruk.

Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." ( QS. An Nahl : 90).



RUKUN ISLAM

Diposting oleh Masakan On 20.47 0 komentar

Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar t, Rasulullah SAW bersabda :

"Islam didirikan atas lima dasar; yakni : (1) Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) puasa Ramadlan, dan (5) ibadah haji." (HR. Bukhari Muslim).

1. Kesaksian tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya merupakan keyakinan yang mantap, yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan dapat menyaksikan-Nya.

Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun, padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasul SAW adalah muballigh (penyampai) sesuatu dari Allah SWT. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah merupakan kesempurnaan kesaksian : "Tiada tuhan selain Allah".

Atau, karena kesaksian (syahadah) itu merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Amal tidak sah dan tidak akan diterima bila dilakukan tidak dengan keikhlasan terhadap Allah SWT dan dengan tidak mengikuti manhaj RasulNya SAW. Ikhlas kepada Allah terealisasi pada kesaksian "bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya."

Buah syahadah (kesaksian) yang terbesar ialah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk serta tidak mengikuti selain para Rasul-Nya.



2. Mendirikan shalat artinya menyembah Allah dengan mengerjakan shalat secara istiqamah serta sempurna, baik waktu maupun caranya.

Salah satu buah atau hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

3. Mengeluarkan zakat artinya, menyembah Allah SWT dengan menyerahkan kadar (ukuran) yang wajib dari harta-harta yang harus dikeluarkan zakatnya.

Salah satu hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan jiwa dan moral yang buruk yaitu kekikiran, serta dapat menutupi kebutuhan Islam dan umat Islam.

4. Puasa Ramadlan artinya menyembah Allah SWT dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkannya di siang hari bulan Ramadhan. Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridla Allah Azza wa jalla.

5. Naik haji ke Baitullah ( rumah Allah), artinya menyembah Allah SWT dengan menuju ke Baitul al Haram (Rumah suci) untuk mengerjakan syiar atau manasik haji.

Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah SWT. Oleh karena itu haji merupakan salah satu macam jihad fi sabilillah.

Hikmah rukun Islam, baik yang sudah Kami sebutkan maupun yang belum Kami sebutkan, akan dapat menjadikan umat sebagai umat yang suci, bersih, beragama yang benar, dan memperlakukan manusia dengan penuh keadilan serta kejujuran. Baiknya syariat-syariat Islam yang lain tergantung pada baiknya dasar-dasar ini. Baiknya umatpun tergantung pada baiknya agamanya, dan hilangnya kebaikan tingkah laku umatpun akan tergantung pada kadar hilangnya kebaikan agamanya.

Bagi yang ingin mengetahui penjelasan ini, silahkan menyimak firman Allah SWT yang artinya :

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari diwaktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi." ( QS. Al-A'raf : 96-99).

Untuk lebih jelasnya hendaklah anda pelajari sejarah orang-orang terdahulu kita, karena dalam sejarah terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan bagi orang yang hatinya "bersih" (tidak ada hijab yang menutupi hatinya).



Dari Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyah,

Diposting oleh Masakan On 09.46 0 komentar

Adapun nasihatku dalam thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu agama) bagi wanita, maka aku katakan: Hendaklah wanita memulai dari perkara yang Allah wajibkan atasnya, seperti mulai dengan belajar ilmu tauhid yang merupakan pokok agama ini, karena Allah tidak akan menerima amalan apa pun dari seorang hamba jika ia tidak mentauhidkan-Nya dalam ibadah tersebut. Sebagaimana Allah berfirman dalam hadits qudsi :

“Aku paling tidak memerlukan kepada sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang dalam amalan tersebut dia menyekutukan Aku dengan yang lain maka aku tinggalkan
dia dan sekutunya.

Juga mempelajari thaharah, cara bersuci dari haid, nifas dan setiap yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur/kemaluan depan dan belakang), dan mempelajari tata cara shalat, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.

Demikian pula mempelajari tata cara haji jika ia ingin menunaikan ibadah ini, dan seterusnya… Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”

Setelah itu, jika wanita tersebut termasuk orang-orang yang berkesinambungan dalam menuntut ilmu, maka hendaklah ia menghafal al- Qur’an bila memang itu mudah baginya dan juga menghafal hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tentunya disertai pemahaman dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian merujuk kitab tafsir kalau ada masalah yang berkaitan dengan Al Qur’an, seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Jarir. Jika masalahnya berkaitan dengan Sunnah, maka merujuklah kepada kitab-kitab syarah dan fiqih seperti Fathul Bari, Syarhun Nawawi li Shahih Muslim, Nailul Authar, Subulus Salam, al-Muhalla oleh Ibnu Hazm.


Dan perkara yang sangat penting dan tak bisa diabaikan dalam hal ini adalah doa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena doa termasuk sebab yang menolong untuk memahami ilmu. Oleh karena itu, hendaknya seorang insan memohon kepada Allah agar menganugerahkan pemahaman kepadanya.



Wasiat Aqidah Imam Syafi'i

Diposting oleh Masakan On 23.38 0 komentar

Imam Syafi'i, begitulah orang-orang menyebut dan mengenal nama ini, begitu lekat di dalam hati, setelah nama-nama seperti Khulafaur Rasyidin. Namun sangat disayangkan, orang-orang mengenal Imam Syafi'i hanya dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih. Padahal beliau adalah tokoh Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan multi keahlian. Karena itu ketika memasuki Baghdad, beliau dijuluki Nashirul Hadits (pembela hadits). (Al-Majmu', Syarhul Muhazzab, 1/10). Imam Adz-Dzahabi menjuluki beliau dengan sebutan Nashirus Sunnah (pembela sunnah) dan salah seorang mujaddid (pembaharu) pada abad kedua hijriyah. (Syiar A'lam, 10/5-6;46 dan Tadzkiratul Huffazh, 1/361).

Dalam hal aqidah, Imam Syafi'i memiliki wasiat yang sangat berharga.
Muhammad bin Ali bin Shabbah Al-Baldani berkata: "Inilah wasiat Imam Syafi'i yang diberikan kepada para sahabatnya, 'Hendaklah Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah adalah hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan semesta alam yang tiada bersekutu dengan sesuatu pun. Untuk itulah aku diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri kepadaNya. Sesungguhnya Allah membangkitkan orang dari kubur dan sesungguhnya Surga itu haq, Neraka itu haq, adzab Neraka itu haq, hisab itu haq dan timbangan amal serta jembatan itu haq dan benar adanya. Allah Subhanahu Wa Ta’alamembalas hambaNya sesuai dengan amal perbuatannya. Di atas keyakinan ini aku hidup dan mati, dan dibangkitkan lagi Insya Allah. Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kalam Allah, bukan makhluk ciptaanNya. Sesungguhnya Allah di hari akhir nanti akan dilihat oleh orang-orang mukmin dengan mata telanjang, jelas, terang tanpa ada suatu penghalang, dan mereka mendengar firmanNya, sedangkan Dia berada di atas 'Arsy. Sesungguhnya takdir, baik buruknya adalah berasal dari Allah Yang Maha Perkasa dan Agung. Tidak terjadi sesuatu kecuali apa yang Allah kehendaki dan Dia tetapkan dalam qadha' qadarNya.
Sesungguhnya sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallamadalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu'anhum . Aku mencintai dan setia kepada mereka, dan memohonkan ampun bagi mereka, bagi pengikut perang Jamal dan Shiffin, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, dan bagi segenap Nabi. Kami setia kepada pemimpin negara Islam (yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah) selama mereka mendirikan shalat. Tidak boleh membangkang serta memberontak mereka dengan senjata. Kekhilafahan (kepemimpinan) berada di tangan orang Quraisy. Dan sesungguhnya setiap yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun diharamkan. Dan nikah mut'ah adalah haram.
Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Allah, konsisten dengan sunnah dan atsar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid'ah dan hawa nafsu. Bertaqwalah kepada Allah sejauh yang engkau mampu. Ikutilah shalat Jum'at, jama'ah dan sunnah (Rasul). Berimanlah dan pelajarilah agama ini. Siapa yang mendatangiku di waktu ajalku tiba, maka bimbinglah aku membaca "Laailahaillallah wahdahu lasyarikalahu waanna Muhammadan 'abduhu warasuluh".
Di antara yang diriwayatkan Abu Tsaur dan Abu Syu'aib tentang wasiat Imam Syafi'i adalah, 'Aku tidak mengkafirkan seseorang dari ahli tauhid dengan sebuah dosa, sekalipun mengerjakan dosa besar, aku serahkan mereka kepada Allah Azza Wajalla dan kepada takdir serta iradah-Nya, baik atau buruknya, dan keduanya adalah makhluk, diciptakan atas para hamba dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Siapa yang dikehendaki menjadi kafir, kafirlah dia, dan siapa yang dikehendakiNya menjadi mukmin, mukminlah dia. Tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ridha dengan keburukan dan kejahatan dan tidak memerintahkan atau menyukainya. Dia memerintahkan ketaatan, mencintai dan meridhainya. Orang yang baik dari umat Muhammad masuk Surga bukan karena kebaikannya (tetapi karena rahmatNya). Dan orang jahat masuk Neraka bukan karena kejahatannya semata. Dia menciptakan makhluk berdasarkan keinginan dan kehendakNya, maka segala sesuatu dimudahkan bagi orang yang diperuntukkannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits. (Riwayat Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Aku mengakui hak salaf yang dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menyertai NabiNya, mengambil keutamaannya. Aku menutup mulut dari apa yang terjadi di antara mereka, pertentangan ataupun peperangan baik besar maupun kecil. Aku mendahulukan Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali radhiallahu 'anhum. Mereka adalah Khulafaur Rasyidin. Aku ikat hati dan lisanku, bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan, bukan makhluk yang diciptakan. Sedangkan mempermasalahkan lafazh (ucapan seseorang yang melafazhkan Al-Qur'an apakah makhluk atau bukan) adalah bid'ah, begitu pula sikap tawaqquf (diam, tidak mau mengatakan Al-Qur'an itu bukan makhluk, juga tidak mau mengatakan Al-Qur'an itu makhluk") adalah bid'ah. Iman adalah ucapan dan amalan yang mengalami pasang surut. (Lihat Al-Amru bil Ittiba', As-Suyuthi, hal. 152-154, tahqiq Mustofa Asyur; Ijtima'ul Juyusyil Islamiyah, Ibnul Qayyim, 165).

Kesimpulan wasiat di atas yaitu:


1. Aqidah Imam Syafi'i adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah;
2. Sumber aqidah Imam Syafi'i adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Beliau pernah mengucapkan: "Sebuah ucapan seperti apapun tidak akan pasti (tidak diterima) kecuali dengan (dasar) Kitabullah atau Sunnah RasulNya `. Dan setiap yang berbicara tidak berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ia adalah mengigau (membual, tidak ada artinya). Waallu a'lam." ( Manaqibusy Syafi'i, 1/470&475);
3. Manhaj Imam Syafi'i dalam aqidah menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan menolak apa yang ditolak oleh Allah dan RasulNya. Karena itu beliau menetapkan sifat istiwa' (Allah bersemayam di atas), ru'yatul mukminin lirrabbihim (orang mukmin melihat Tuhannya) dan lain sebagainya;
4. Dalam hal sifat-sifat Allah, Imam Syafi'i mengimani makna zhahirnya lafazh tanpa takwil (meniadakan makna tersebut) apalagi ta'thil (membelokkan maknanya). Beliau berkata: "Hadits itu berdasarkan zhahirnya. Dan jika ia mengandung makna lebih dari satu, maka makna yang lebih mirip dengan zhahirnya itu yang lebih utama."(Al-Mizanul Kubra, 1/60; Ijtima'ul Juyusy, 95).

Imam Syafi'i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah yang harus diimani, maka beliau menjawab, "Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah dikabarkan oleh kitabNya dan dijelaskan oleh NabiNya kepada umatnya. Tidak seorang pun boleh menolaknya setelah hujjah (keterangan) sampai kepadanya karena Al-Qur'an turun dengan membawa nama-nama dan sifat-sifat itu. Maka barangsiapa yang menolaknya setelah tegaknya hujjah, ia adalah kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, ia adalah ma'dzur (diampuni) karena kebodohannya, sebab hal (nama-nama dan sifat-sifat Allah) itu tidak bisa diketahui dengan akal dan pemikiran. Allah memberitahukan bahwa Dia memiliki sifat "Yadaini" (dua tangan), dengan firmanNya: "Tetapi kedua tangan Allah terbuka" (Al-Maidah: 64). Dia memiliki wajah, dengan firmanNya: "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajahNya" (Al-Qashash: 88)." (Manaqib Asy-Syafi'i, Baihaqi, 1/412-413; Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah, Al-Lalikai, 2/702; Siyar A'lam An-Nubala', 10/79-80; Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyah, Ibnul Qayyim, 94).

Kata-kata "As-Sunnah" dalam ucapan dan wasiat Imam Syafi'i dimaksudkan untuk tiga arti. Pertama, adalah apa saja yang diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah ` berarti lawan dari bid'ah. Kedua, adalah aqidah shahihah yang disebut juga tauhid (lawan dari kalam atau ra'yu). Berarti ilmu tauhid adalah bukan ilmu kalam begitu pula sebaliknya. Imam Syafi'i berkata: "Siapa yang mendalami ilmu kalam, maka seakan-akan ia telah menyelam ke dalam samudera ketika ombaknya sedang menggunung". (Al-Mizanul Kubra, Asy-Sya'rani, 1/60). Ketiga, As-Sunnah dimaksudkan sebagai sinonim dari hadits yaitu apa yang datang dari Rasulullah ` selain Al-Qur'an.

Ahlus Sunnah disebut juga oleh Imam Syafi'i dengan sebutan Ahlul Hadits. Karena itu beliau juga berwasiat: "Ikutilah Ahlul Hadits, karena mereka adalah manusia yang paling banyak benarnya." (Al-Adab Asy-Syar'iyah, Ibnu Muflih, 1/231). "Ahli Hadits di setiap zaman adalah bagaikan sahabat Nabi `." (Al-Mizanul Kubra, 1/60) Di antara Ahlul Hadits yang diperintahkan oleh Imam Syafi'i untuk diikuti adalah Imam Ahmad bin Hanbal, murid Imam Syafi'i sendiri yang menurut Imam Nawawi : "Imam Ahmad adalah imamnya Ashhabul Hadits, imam Ahli Hadits." (Al-Majmu', 1/10). (Abu Hamzah).