POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

DOKUMEN INI DITEMUKAN DI MILIS TEKNOKRAT BANDUNG DAN MUNGKIN
BERMANFAAT TUK DIBACA DAN DISIMAK

Dokumen Rahasia CIA tentang penyerbuan ke Indonesia...

Sat Jan 19, 2008 2:31 pm (PST)
Dokumen Rahasia CIA tentang penyerbuan ke Indonesia ...

Sebuah dokumen berklasifikasi sangat rahasia (TOP SECRET) bocor ke tangan
wartawan. Dokumen ini adalah laporan CIA kepada Pentagon yang
sebenarnya akan diteruskan ke Gedung Putih.

Menurut dokumen tsb, setelah Irak , Indonesia akan jadi sasaran
berikutnya. Tapi intel2 CIA yang lebih dahulu diterjunkan ke Indonesia
, menyimpulkan bahwa jika diteruskan maka perang tsb akan menjadi
sangat mahal biayanya dan dipastikan AS akan menderita banyak kerugian.

Ini isi dokumen yang telah diterjemahkan unofficial ke dalam Bahasa
Indonesia :

Kepada Yth.

Kepala Staf Gabungan
Jenderal Richard Myers

Tembusan: Direktur CIA

Rencana penyerangan ke Indonesia sebaiknya dipertimbangkan lagi
mengingat mahalnya biaya yang akan timbul dari peperangan tersebut.
Berikut data-datanya:

Begitu memasuki perairan, Armada ketujuh kita akan dihadang pihak
Bea Cukai karena membawa masuk senjata api dan peralatan tanpa surat
izin dari pemerintah RI. Ini berarti kita harus menyediakan "uang
damai". Coba hitung berapa besarnya jika peralatan yang dibawa
sedemikian banyak.

Kemudian bila kita mendirikan base camp militer , bisa ditebak di
sekitar base camp pasti akan banyak dikelilingi tukang bakso, tukang es
kelapa,
lapak VCD bajakan, sampai obral celana dalam Rp 10.000 dapat 3.
Belum terhitung jika pedagang komedi puter juga ikut mangkal di sekitar
base camp.

Kemudian kendaraan tempur serta tank-tank lapis baja yang diparkir dekat
base camp akan dikenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas
perparkiran daerah maupun preman-preman sekitar. Jika dua jam
pertama dikenakan Rp 10.000 (tarif untuk orang bule), berapa yang harus
dibayar oleh pemerintah AS jika kendaraan harus parkir sebulan atau
setahun lebih seperti di Irak sekarang ini.

Belum lagi pengusaha parkir swasta yang bisa melobi Gubernur Fauzi
Bowo untuk menaikkan tarif parkir. Lobi itu sangat mulus karena salah
satu komisaris di sebuah perusahaan parkir terbesar di Jakarta itu
adalah mantan pejabat tinggi.


Belum lagi di sepanjang jalan menuju lokasi base camp kita harus
menghadapi para "Pak Ogah" yang berlagak mengatur jalan sambil memungut
biaya dari kendaraan yang memutar. Bisa dibayangkan berapa recehan yang
harus disiapkan jika harus melakukan operasi
tempur menuju pusat-pusat musuh seperti Cilangkap. Dari Tanjung
Priok (pelabuhan tempat Kapal induk merapat dan lokasi pasukan
mendarat) ke Cilangkap saja ada berapa pertigaan, perempatan dan
putaran.

Suatu kerepotan besar jika rombongan pasukan harus berkonvoi.
Karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan dihampiri para pengamen,
dan anak-anak jalanan.
Ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi.

Belum lagi jika di jalan bertemu polisi bokek, udah pasti kena
semprit karena konvoi tanpa izin terlebih dahulu. Bayangkan berapa uang
damai yang harus dikeluarkan untuk polantas-polantas itu.

Itu baru polantas Pak Myers. Belum petugas DLLAJ. Anda harus
melihat sendiri bagaimana mereka beraksi. Kendaraan2 dan tank2 itu kan
belum di kir. Itu pertanda buruk. Setiap kali kir, berapa uang yang
harus kita keluarkan untuk

membayar yang resmi dan tidak resmi. Belum lagi kalau mau menyerbu
KODAM di daerah lain. Kita harus melewati jembatan Timbang milik DLLAJ.
Siapkan saja uang pelicin yang lebih banyak.

Di base camp militer , tentara AS sudah pasti tidak bisa tidur
nyenyak, karena banyak nyamuk akibat sangat tidak higienisnya
lingkungan sekitar. Ini bisa dibasmi dengan penyemprotan dari dinas
kesehatan. Lagi-lagi harus menyiapkan amplop untuk mereka.

Tentara AS juga nggak bisa jauh2 dari peralatan perangnya, karena
disekitar base camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap
mempreteli peralatan perang canggih yang kita bawa. Kurang waspada
sedikit saja, tank Abrams kebanggaan kita bakal siap dikiloin.

Belum lagi para pencuri kendaraan bermotor yang sudah siap beraksi
dengan kunci T-nya bakal merebut jip-jip perang kita yang kalau
didempul dan cat ulang bisa dijual ke pasar gelap atau pasar spare part
hasil curian ranmor di Cinangka.

Peralatan telekomunikasi kita, yang menjadi alat vital dalam
pertempuran, juga harus dijaga ketat, karena bandit kapak merah sudah
mengincar peralatan itu.

Di samping itu juga ada aturan wajib lapor kalau bawa tamu jika
lebih dari 1 x 24 jam, dan harus izin RT setempat. Belum RW dan
kelurahan. Berapa banyak meja yang harus dilalui dengan amplopan.

Membayangkan ini semua, kami mewakili intel CIA di lapangan sepakat untuk
meninjau ulang rencana penyerangan ke Indonesia .


Pendahuluan
Pada 2004 Asian Development Bank dan Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan di Indonesia (Partnership for Governance Reform in Indonesia) menerbitkan Laporan Tata Pemerintahan Negara Indonesia. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tiga tujuan reformasi tata pemerintahan yang ditempuh oleh Pemerintah Indonesia yakni, penataan struktur pemerintahan negara, desentralisasi pemerintahan, dan reformasi keuangan negara, telah berjalan cukup lancar tetapi belum berhasil seperti diharapkan.
Skala reformasi yang dijalankan oleh Pemerintah Indonesia dinilai cukup luas cakupannya, bahkan dipandang terlalu luas dan terlalu cepat dari yang pernah dijalankan oleh banyak negara-negara di dunia. Indonesia juga dipandang telah melakukan perubahan radikal dalam tata hubungan antara pusat dan daerah melalui program desentralisasi pemerintahan yang belum pernah ditempuh oleh negara mana pun di dunia.
Tetapi mengapa reformasi pemerintahan negara yang demikian luas jangkauannya dan begitu radikal perubahannya belum berhasil menciptakan good governance yang mampu membawa Indonesia keluar dari multi krisis yang sudah melanda bangsa ini sejak 1998? Mengapa kita belum seberhasil? Muangthai dan Korea Selatan yang telah mampu keluar dari krisis ekonomi yang sebenarnya lebih parah?
Ada beberapa faktor penyebab, yang paling utama adalah karena Pemerintah Indonesia sejak Pemerinthan Orde Baru melaksanakan reformasi birokrasi hanya setengah hati. Reformasi gaji misalnya, hanya secara parsial dengan hanya menaikkan 5 – 10 persen dari gaji pokok, tanpa kerangka konseptual yang solid, dengan mengaitkan gaji dengan kinerja serta dengan memperbadingkan dengan skala gaji sektor swasta. Perubahan budaya organisasi juga kurang mendapat perhatian serius, padahal tanpa perubahan budaya organisasi, tidak mungkin tata pemerintahan negara yang amanah dapat dikembangkan.


Tata Pemerintahan Amanah
Dalam kamus, istilah government dan governance seringkali dianggap memiliki arti yang sama yaitu cara menerapkan otoritas dalam suatu organisasi, lembaga atau negara. Government atau pemerintah juga adalah nama yang diberikan kepada entitas yang menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan dalam suatu negara.
Istilah governance sebenarnya sudah dikenal dalam literatur administrasi dan ilmu politik hampir 120 tahun, sejak Woodrow Wilson memperkenalkan bidang studi tersebut kira-kira 1125 tahun yang lalu. Tetapi selama itu governance hanya digunakan dalam konteks pengelolaan organisasi korporat dan lembaga pendidikan tinggi. Wacana tentang governance dalam pengertian yang hendak kita perbincangkan pada pertemuan hari ini — dan yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai tata-pemerintahan, penyelenggaraan pemerintahan atau pengelolaan pemerintahan — baru muncul sekitar 15 tahun belakangan ini, terutama setelah berbagai lembaga pembiayaan internasional mempersyaratkan good governance dalam berbagai program bantuannya. Oleh para teoritisi dan praktisi administrasi negara Indonesia, term good governance telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tatapemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih.
Perbedaan paling pokok antara konsep government dan governance terletak pada bagaimana cara penyelenggaraan otoritas politik, ekonomi dan administrasi dalam pengelolaan urusan suatu bangsa. Konsep “pemerintahan” berkonotasi peranan pemerintah yang lebih dominan dalam penyelenggaran berbagai otoritas tadi. Sedangkan dalam governance mengandung makna bagaimana cara suatu bangsa mendistribusikan kekuasaan dan mengelola sumberdaya dan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.
Dengan kata lain, dalam konsep governance terkandung unsur demokratis, adil, transparan, rule of law, partisipatif dan kemitraan. Mungkin difinisi yang dirumuskan IIAS adalah yanag paling tepat meng-capture makna tersebut yakni “the process whereby elements in society wield power and authority, and influence and enact policies and decisions concerning public life, economic and social development.”
OECD pada 1992, telah menggunakan keruntuhan Uni Soviet, sebagai momentum untuk membenarkan sistem ideologi liberal yang intinya adalah: (1) penghargaan terhadap HAM, (2) demokrasi, (3) penegakan Rule of Law, (4) Pasar bebas dan (5) Perhatian terhadap lingkungnan.
Sejak itu pula good governance di negara penerima bantuan dijadikan salah satu persyaratan oleh lembaga penyedia keuangan internasional.
Ada tiga pilar pokok yang mendukung kemampuan suatu bangsa dalam melaksanakan good governance, yakni: pemerintah (state), civil society (masyarakat adab, masyarakat madani, masyarakat sipil), dan masyarakat pengusaha. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab baru tercapai bila dalam penerapan otoritas politik, ekonomi dan administrasi ketiga unsur tersebut memiliki jaringan dan interaksi yang sinerjik dan setara. Interaksi dan kemitraan seperti itu biasanya baru dapat berkembang subur bila ada kepercayaan (trust) transparansi, partisipasi, serta tata aturan yang jelas dan pasti, good governance yang sehat juga akan berkembang sehat dibawah kepemimpinan yang berwibawa dan memiliki visi yang jelas.
Bagaimana kondisi good governance di Indonesia? Berbagai assessment yanbg diadakan oleh lembaga-lembaga internasional selama ini menyimpulkan bahwa Indonesia samapi saat ini belum pernah mampu mengambangkan good governance. Mungkin karena alasan itulah Gerakan Reformasi yang digulirkan oleh para mahasiswa dari berbagai kampus telah menjadikan Good Governance, walaupun masih terbatas pada Pemberantasan Praktek KKN (Clean Governance).
Namun, hingga saat ini salah satu tuntutan pokok dari Amanat Reformasi itupun belum terlaksana. Kebijakan yang tidak jelas, penempatan personl yang tidak kredibel, enforcement menggunakan, sertra kehidupan politik yang kurang berorientasi pada kepentingnan bangsa telah menyebabkan dunia bertanya apakah Indonesia memang serius melaksanakan good governance?
Tidak perlu disanggah lagi bahwa Indonesia Masa Depan yang kita citacitakan amat memerlukan good governance agar kita dapat menyelenggarakan pemerintahan negara sesuai dengan praktek-praktek yang diterima secara internasional. Namun, perumusan praktek-praktek tersebut harus dilakukan secara hati-hati dan dengan sangat memperhatikan budaya dan kondisi bangsa Indonesia. Jangan terjadi, Indonesia kemudian semakin terjerumus kedalam jebakan negara asing atau lembaga internasional dalam pemilihan bentuk penyelenggaraan pemerintahan negara, hubungan antara pusat dan daerah, serta dalam pengelolaan keuangan negara.
Budaya Organisasi Untuk Mendukung Good Governance
Di muka sudah saya singgung serba sedikit bahwa salah satu penyebab kurang berhasilnya reformasi administrasi untuk mendukung penyelenggaraan tata pemerintahan amanah karena Pemerintah tidak menaruh perhatian yang serius terhadap perubahan budaya organisasi. Selanjutnya ada dua pertanyaan yang perlu dijawab mengenai hal ini. Pertama, apa yang dimaksudkan budaya organisasi? Kedua, bagaimana mengubah budaya organisasi?
Budaya organisasi amat besar pengaruhnya pada keberhasilan dan mati hidup sebuah organisasi. Karena itulah perusahaan bersedia mengeluarkan dana yang amat besar untuk mengubah budaya perusahaan (corporate culture) agar selalu sesuai dengan lingkungannya yang selalu berubah dengan cepat. Sebaliknya, birokrasi pemerintahan negara kurang punya perhatian terhadap perubahan lingkungan karena dua alasan. Pertama, secara konseptual ketika Max Weber, sarjana sosiologi Jerman merumuskan konsep birkrasi kira-kira 140 tahun yang lalu, organisasi birokratis diasumsikan sebagai bentuk organsasi yang cocok untuk lingkungan yang stabil dan untuk menjalankan tugas-tugas yang bersifat massif tetapi redundant. Dengan demikian bentuk dan budaya organisasi harus berubah bila tugas organisasi dan lingkungannya berubah.
Budaya organisasi adalah semua ciri yang menunjukkan kepribadian suatu organisasi: keyakinan bersama, nilai-nilai dan perilaku-perlaku yang dianut oleh semua anggota organisasi. Budaya organisasi adalah tradisi yang sangat sukar diubah. Dalam bukunya “Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi”, Djokosantoso Mulyono mendifinisikan budaya organisasi sebagai “sistim nilai yang diyakini oleh semua anggota organisasi, yang dipelajari, diterapkan dan dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem perekat, dan dapat dijadikan acuan berprilaku dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.
Nilai-nilai dan perilaku yang diperlukan untuk penyelenggaraan pemerintahan amanah antara lain adalah: demokratis, adil, costconsious, transparan, akuntabel. Semuanya ini sebenarnya terangkum dalam konsep budaya FAST yang disebarluaskan oleh Ary Ginandjar yaitu: fathonah, amanah, siddiq dan tabligh.
Pada organisasi baru, membangun budaya organisasi yang sesuai dengan misinya lebih mudah melakukannya. Tetapi dalam organiisasi kementerian dan lembaga non-departemen di pusat dan dinas serta lembaga non-dinas di daerah, nilai dan perilaku sudah berkembang menjadi tradisi yang sukar berubah. Saya pribadi mengalami sendiri betapa sukar merubah budaya organisasi UGM dari PTN yang sudah berusia 56 tahun menjadi perguruan tinggi otonom. Mahasiswa, pegawai dan dosen, serta masyarakat umum termasuk media massam bersamasama mau pun sendiri-sendiri selalu “menentang” langkah-langkah yang kami ambil untuk mengejar ketertinggalan UGM dari PT luar negeri. Budaya UGM harus berubah agar dapat merealisasikan visinya menjadi “Universitas peneliian bertaraf internasional yang unggul dan terkemuka, serta berorientasi pada kepentingan bangsa dan dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.
Bagaimana Mengubah Budaya Organisasi
Peter Bijur (2001) menganggap syarat yang paling utama untuk menjamin keberhasilan upaya perubahan budaya organisasi adalah kepemimpinan yang kuat (strong leadership) baik dalam kemampuan memimpin mau pun dalam ketajaman visinya. Saya kira secara nasional ini yang menjadi kendala utama kita.
Selanjutnya, ada 5 faktor yang penting untuk mensukseskan perubahan budaya organisasi yaitu:
1. Nilai-nilai yang mendukung pencapaian visi yang telah ditetapkan;
2. Motivasi yang mampu memobiliasi dukungan untuk perubahan;
3. Ide dan Strategi yang tepat untuk menciptakan lingkungan yang mampu menyuburkan kebersamaan dalam perumusan ide-ide dan strategi untuk mendorong perubahan;
4. Tujuan yang jelas serta selalu dikomunikasikan kepada para anggota organisasi;
5. Etik kinerja yang ditumbuhkan dengan sistem remunerasi dan penghargaan yang tepat.
Perjalanan Panjang menuju Budaya Organisasi Pemerintahan yang Amanah
Perubahan budaya organisasi adalah ibarat perjalan panjang yang melelahkan dan merupakan upaya yang bersifat incremental, tidak bisa dicapat melalui gebrakan revolusioner. Budaya organisiasi paternalisitik dan sentralistik, misalnya, tidak serta merta berhasil berubah dengan menjungkir balikkan pemerintah yang berkuasa, seperti yang sedang kitaalami selama beberapa tahun ini.
Organisasi yang ingin merubah budayanya harus berani menempuh jalan yang tidak selalu lurus, dari kondisi stabil, melalui turbulence atau bahkan chaos, untuk mencapai penyesuaian dengan nilai-nilai, normanorma, perilaku dan simbol-simbol budaya baru. Organiisasi harus disipkan untuk selalu adaptif terehadap perubahan-perubahan, harus berani bereksperimen, harus berani gagal dan harus dapat menyesuaikan diri dengan unsur-unsur budaya baru, yang ditelakkan oleh pimpinan organisasi.
Walaupun sudah dilakukan dengan komitmen yang tinggi serta program yang benar, selalu ada resiko perubahan budaya organisasi tidak berjalan seperti diharapkan, atau dalam kakus sekstrim bertentangan dengan arah yang diinginkan. Perubahan budaya organisasi adalah proses panjang dan mahal yang tidak ada jaminan akan sukses. Minimal diperlukan waktu 5 sampai 10 tahun untuk merubah budaya organisasi dengan sekala seperti Republik Indonesia atau pemerintah provinsi, kabuaten dan kota. Karena itu strategi yang diajurkan oleh para ahli (Morgan, 1996dan Toolpack, 2001) adalah perubahan secara bertahap dan gradual. Memang kurang revolusioner, kurang radikal tetapi lebih aman.



Profile Soeharto

Diposting oleh Masakan On 20.35 0 komentar

Presiden Soeharto

Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.

Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998. (Dari Berbagai Sumber)

Yahudi Akan Terbasmi, Insya Allah

Diposting oleh Masakan On 07.35 0 komentar

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Diantara hal yang membuat hati kaum Mukminin tenteram dan karenanya mereka semakin yakin ialah ; bahwa negeri yang menjadi tempat berkumpulnya bebagai macam suku Yahudi Dunia, yang kemudian secara zalim dan bathil dinamakan negara Israel, adalah negara yang akan musnah dan terhapus dari muka bumi. Saya tidak katakan tanggal sekian dan tanggal sekian seperti yang dilakukan secara tidak benar oleh sebagian orang yang memiliki semangat menggebu.

Bisa jadi waktunya akan datang sebelum ramalan mereka jatuh tempo, dan itu tidak sulit bagi Allah. Ya, bisa jadi (waktunya akan datang) jauh sebelum itu.

"Artinya : Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu kecuali Dia" [Al-Muddatstsir : 31]

Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia Yang Maha Tahu dan Maha Waspada.

Karena itulah ada tokoh politik (Muslim) kontemporer yang mengatakan :"Sesungguhnya perdamaian kita bersama Yahudi hanya semata-mata perdamaian politis, bukan keyakinan".

Sesunguhnya ada beberapa riwayat hadits Nabi yang shahih dan tegas, bahwa petempuran besar (melawan bangsa Yahudi-pen) akan terjadi, pasti. Dan bahwa kalimat Tauhid pasti akan mengalahkan orang-orang Yahudi tersebut, baik majikan-majikan maupun budak-budaknya (para pemimpinnya maupun pengikut-pengikutnya -pen).

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Kalian akan memerangi bangsa Yahudi sampai seseorang di antara mereka bersembunyi di belakang batu. Maka batu itu berkata : Wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, bunuhlah !".

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak akan terjadi hari kiamat sebelum kaum Muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kemudian kaum Muslimin membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu atau pohon. Maka batu -atau- pohon itu berkata : Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, kemarilah lalu bunuhlah. Kecuali pohon Gharqad (sebuah pohon berduri yang dikenal dikalangan bangsa Yahudi), sesungguhnya Gharqad itu adalah salah satu pohon bangsa Yahudi".

Dua riwayat di atas adalah riwayat paling kuat dan paling shahih yang di satu sisi menjelaskan pasti dan benar-benarnya kejadian perang melawan Yahudi, sedangkan di sisi lain menjelaskan tentang yakin (pasti)nya kemenangan di tangan kaum Muslimin.

Riwayat tersebut -segala puji bagi Allah, dan dengan taufiq-Nya amat sangat jelas, jelas dan jelas. Tidak perlu komentar dan tidak membutuhkan keterangan.

Dalam dua nash di atas terdapat berbagai pentunjuk manhaji (bersifat manhaj/bersifat ajaran), yang paling menonjol di antaranya adalah dua hal :

Pertama.
Berkaitan dengan awalnya, yaitu perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat :"Kalian pasti akan memerangi (orang Yahudi). Sabda ini memberi petunjuk yang tegas bahwa masa depan hanya untuk Islam saja -bi idznillah-, akan tetapi tentu Islam yang sesuai dengan manhaj Salaf. [Lihat : Basha'ir Dzawisy Syaraf Bisyarhi Marwiyyaati Manhajis Salaf, karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 151-165].

Kedua.
Berkaitan dengan akhirnya, yaitu sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika menceritakan perkataan pohon atau batu : "Wahai Muslim, wahai hamba Allah!". Kisah ini menunjukkan bahwa manhaj Tarbawi Ishlahi (pola pendidikan yang bertujuan perbaikan) yang tegak berdasarkan realisasi tauhid dan peribadatan adalah betul-betul memiliki kesiapan untuk menegakkan syari'at Allah di muka bumi dan untuk memulai kehidupan baru dengan kehidupan Islami yang sesuai dengan pola kenabian. [Lihat pula : Madaarij al-Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 145-153].

Di sana ada riwayat lemah -dari berbagai periwayatan- yang tersebar di tengah-tengah masyarakat dan bergulir di kalangan orang-orang khusus dan orang-orang awam, yang wajib diungkap dan dijelaskan (yaitu) :

Riwayat Ibnu Sa'd dalam "Tahabaqat"nya VII/422, Al-Bazzar dalam "Musnad"nya IV/138, Az-Zawaid, Ibnu Abi Ashim dalam "Al-Ahad wa Al-Matsani" 2458, dan lain-lain, dari Nahik bin Shuraim As-Sakuni, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Musyrikin sampai akhirnya sisa-sisa (pasukan) kalian akan memerangi Dajjal di sekitar sungai di Urdun (Yordan), kalian di sebelah timurnya dan mereka di sebelah baratnya".

Perawinya berkata : Saya tidak tahu di bumi sebelah manakah Urdun (Yordan) pada waktu itu.

Hadits ini sanadnya dha'if, di dalamnya terdapat Muhammad bin Aban Al-Qurasyi. Abu Dawud, Ibnu Ma'in, Al-Bukhari dan imam-imam lain mendha'ifkan (melemahkan)nya.

Guru kami, 'Allamah, Imam, lautan ilmu, Syaikh Abu Abdir Rahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani -semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya- telah mengeluarkan hadits tersebut secara rinci dalam kitab karyanya yang mengagumkan : Silsilah Al-Hadits Adh-Dha'ifah III/460-461. Beliau menjelaskan kelemahan hadits itu, kemudian beliau Rahimahulah berkata :

"Saya tulis hadits ini setelah banyak pertanyaan mengenainya, bertepatan dengan pendudukan bangsa Yahudi di tepi barat Yordania pada awal bulan Haziran (Juni) tahun 1967M. Semoga Allah menghinakan dan merendahkan mereka serta membersihkan negeri ini dari mereka dan dari pendukung-pendukungnya".

Saya (Syaikh Ali Hasan) berkata : Saya aminkan do'a beliau Rahimahullah di atas, sambil saya jelaskan bahwa sebab penulisan makalah ini adalah karena pembantaian, pengusiran serta perusakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi semenjak kurang labih tiga bulan yang lalu (dihitung sejak majalah Al-Ashalah edisi ini terbit yaitu Syawal 1421H) terhadap saudara-saudara kita kaum Muslimin di Palestina yang terjajah. Hanya Allah-lah yang dapat memberikan pertolongan.

Penutup dari Penerjemah
Demikianlah, insya Allah jika kaum Muslimin telah kembali kepada agamanya secara sungguh-sungguh, maka saat itulah negara Yahudi akan lenyap dari permukaan bumi. Sebelumnya akan di awali dengan pertempuran habis-habisan seperti diterangkan dalam dua hadits shahih di atas. Kita senantiasa memohon taufiq dan pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla.


[Makalah ini diterjemahkan secara bebas oleh Ahmas Faiz Asifuddin dari majalah al-Ashalah edisi 30/Th.V/15 Syawal 1421H. Majalah As-Sunnah edisi 08/Tahun V/1422H/2001M hal. 21-22.]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=841&bagian=0

Apa Blogger Bisa Ditangkap Polisi??

Diposting oleh Masakan On 21.38 0 komentar

Setelah sekian lama akhirnya aku menulis lagi tentang blogger-blogger.Judul diatas merupakan pertanyaan yang mungkin membuat para blogger bisa pada ketakutan dan mungkin tidak akan lagi menulis artikel-artikel di blog.ini merupakan contoh kasus tentang para blogger dan website :

Pada Bulan Juli 2006 Unit Cyber Crime Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menangkap pembobol website (situs) Partai Golkar, Isra Syarat (26) di Warnet Belerang, Jl Raden Patah No 81, Batam, pada 2 Agustus 2006. Tersangka pembobol website Partai Golkar pada Juli 2006. “Tersangka dijerat dengan UU No 36/1999 tentang Telekomunikasi dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan Pasal 406 KUHP tentang perusakan barang,”

Pengungkapan Cyber-terorrism berdasarkan chating yang dilakukan oleh Imam Samudra dengan jaringannya diluar penjara, menggunakan laptop yang diselundupkan oleh sipir penjara krobokan bernama Beny Irawan yang telah pindah ke lapas Purwokerto, dan laptop itu dikirimnya melalui TIKI JNE ke lapas Krobokan, bersama Beny telah ditangkap juga tiga tersangka lainnya.

Tidak pernah ada kasus kriminal di Indonesia karena implikasi menulis blog, kasus - kasus diatas adalah murni cybercrime yang menurut Menurut RM Roy Suryo dalam Warta Ekonomi No. 9, 5 Maret 2001 h.12, kasus-kasus cybercrime yang banyak terjadi di Indonesia setidaknya ada tiga jenis berdasarkan modusnya, yaitu :

1. Pencurian Nomor Kredit.
Nama dan kartu kredit orang lain yang diperoleh di berbagai tempat (restaurant, hotel, atau segala tempat yang melakukan transaksi pembayaran dengan kartu kredit) dimasukkan di aplikasi pembelian barang di internet.
2. Memasuki, Memodifikasi, atau merusak Homepage (Hacking)
Pada umumnya tindakan hacker Indonesia belum separah aksi di luar negeri. Perilaku hacker Indonesia baru sebatas masuk ke suatu situs komputer orang lain yang ternyata rentan penyusupan dan memberitahukan kepada pemiliknya untuk berhati-hati. Di luar negeri hacker sudah memasuki sistem perbankan dan merusak data base bank
3. Penyerangan situs atau e-mail melalui virus atau spamming.
Modus yang paling sering terjadi adalah mengirim virus melalui e-mail. Menurut RM Roy M. Suryo, di luar negeri kejahatan seperti ini sudah diberi hukuman yang cukup berat. Berbeda dengan di Indonesia yang sulit diatasi karena peraturan yang ada belum menjangkaunya.

Jadi……., jangan kuatir ! blogger Indonesia belum ada yang tersangkut kriminal karena menulis blog, coba bandingkan dengan ini ! (contoh di negara lain) :

Setelah tahun lalu Raja Petra Kamaruddin yang mendirikan situs Malaysia Today sempat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian Malaysia karena artikel yang dituduh menghina Islam, kali ini Raja Petra Kamaruddin dipanggil menghadap pihak kepolisian karena artikelnya yang dianggap menuduh Wakil Perdana Menteri Malaysia terlibat kasus kematian seorang foto model asal Mongolia beberapa waktu lalu.

Raja Petra Kamaruddin menyampaikan pada AFP 3 Mei kemarin bahwa polisi telah menyita komputernya dan mengajukan beberapa pertanyaan seputar artikelnya yang berjudul 'Let's send the Altantuya murderers to hell'.

Dalam tulisannya itu Raja Petra Kamaruddin menganggap Wakil Perdana Menteri Najib Razak dan istrinya terlibat dalam kasus pembunuhan foto model asal Mongolia bernama Alantuya Shaariibuu tersebut. "Saya menduga bahwa tulisan saya terlalu 'jujur' dan beberapa pihak merasa terancam dengan adanya tulisan saya," ungkap Raja Petra pada AFP.

Pengamat politik Abdul Razak Baginda yang diduga terkait dengan kasus pembunuhan ini adalah teman dekat Najib Razak. Namun Najib sendiri menolak keterkaitannya dengan kasus pembunuhan itu.

Sementara Rosmah Mansor istri Najib Razak melepas pernyataan dalam harian Star bahwa ia juga tidak terlibat dalam kasus itu dan meminta masyarakat untuk tidak begitu saja mempercayai apa yang mereka baca di internet.

Pada bulan November 2006 di Al Azhar, Kairo, Mesir seorang mahasiswa bernama Abdul Karim Nabil (22) ditangkap karena tulisan - tuilisannya dianggap menghina suatu agama dalam Blognya…

Pada September 2007 “Blogger” Nay Phone Latt dan seorang pria lain ditangkap oleh rezim Militer Myanmar (Burma) karena mendukung pemberontakan Aung San Syu Kyi tulisan Nay Phone Latt ditulis dalam bahasa Myanmar dalam bentuk novel. Dia menggunakan itu sebagai forum untuk membicarakan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, seperti, pemadaman listrik, yang terjadi hampir sepanjang hari dan peningkatan biaya hidup. Tentara sangat terganggu dengan ulah “blogger” selama unjukrasa pendukung demokrasi, ketika mereka menyediakan perincian kekerasan dan membantu berita menyebar di seluruh penjuru negara itu, tempat akses media masih dibelenggu.

Pada bulan Agustus 2007, Steven Gan, jurnalis pendiri Malaysiakini.com, aktivis demokrasi yang lantang ditangkap dan digrebek polisi, Mereka menyita 19 komputer. Dengan berbagai kebijakan yang begitu represif, pemerintah Malaysia ternyata tetap saja tak berdaya menghadapi kekuatan demokrasi baru yang berkembang seiring teknologi, yakni kekuatan pro demokrasi yang memanfaatkan internet. Steven Gan mendirikan “Malaysia kini” sebagai situs berita alternatif. Ia menggambarkan: “Pemerintah sebetulnya berupaya pula melakukan pemberangusan terhadap media internet. Sejumlah blogger ditangkap. Jadi begitu banyak penindasan. Ini menunjukan, pemerintah menyadari, monopoli mereka terhadap kebenaran mendapat tantangan dari internet (kaum blogger).

Pada bulan Agustus 2006, Seorang blogger Independent Amerika Serikat Josh Wolf, yang selalu memuat karya - karya video dalam blognya, ditangkap polisi San Francisco karena memuat video mobil polisi yang terbakar pada protes besar - besaran sidang G8, ini menjadi perdebatan hebat juga di Amerika Serikat.

Jadi berbahagialah buat para blogger Indonesia karena sampai detuk ini pun belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang blogger dan kebebasan dalam berekspresi...Alhamdulilah....Jangan sampai Blog qu ini di Blokir sama Mas Roy Suryo..wkwkwkwkwkwkwkw

sebagian tulisan ini dikutip dari berbagai sumber
Menurut saya, berarti YouTube (dan situs lainnya)harus sesegera mungkin menghapus film Fitna dari situ, sementara pemerintah harus segera membuka blokir atas situs-situs yang diblokir. Terus terang aja seorang teman saya yang punya wirausaha mengaku sangat kesal dengan tindakan pemerintah yang memblokir MySpace, karena di situs itulah dia mempromosikan bisnisnya. Tindakan pemerintah seperti ini sama saja dengan mencoba membunuh seekor ular menggunakan bom nuklir. Artinya, yang mati bukan cuma ularnya, tapi makhluk hidup satu wilayah juga mati semua.

Ehm2.. Temen2 yg tercinta, cuma mw ngabarin youtube uda isa tuh.. (Sekalian mw ngemeng2 dkt nh, bwt tmn2, qta smua tw kq klo pemerintah qta nh lagi labil, lagi bnyk masalah, masi bnyk yg harus dibenahi, tapi, bwt tmn2, jgn langsung ngemaki2 ke pemerintahny lgsg dnk, toh pemerintah yg skg tu jg hasil dari pilihan qta jg.. qta jg harus blajar bwt liat ke dalam diri qta sndiri, tanyain ke dalam diri kita sndiri, apa yang uda qta perbuat ke negeri qta yg tercinta ini?? Apakah qta uda pantes bwt memaki2 pemerintah qta sndiri?? menurut gw jawabanny nggak.. <<---- Cuma bwt bahan renungan) Smoga bermanfaat..^^V



Jakarta - Pihak YouTube secara resmi menanggapi e-mail yang diajukan detikINET terkait rencana pemerintah memblokir situs berbagi video tersebut. Tanggapan itu diterima pada Jumat (4/4/2008).

Berikut ini respons dari YouTube yang ditandatangani sebagai pernyataan jurubicara YouTube tanpa menyebutkan nama:

Internet memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berbicara dan didengarkan. Namun memudahkan orang mengekspresikan diri di Internet juga memunculkan kekhawatiran yang terkait dengan budaya dan politik di negara tertentu.

Itulah sebabnya kami memudahkan pengguna untuk menginformasikan konten yang mereka yakini melanggar ketentuan dan persyaratan kami. Jika hal ini terjadi, kami akan menghapus konten itu.

Kami juga bekerja sama dengan otoritas hukum di negara bersangkutan dalam penanganan konten yang mungkin melanggar hukum yang berlaku di negara tersebut.

Kami kira pendekatan ini memberi keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan penghargaan terhadap hukum di suatu negara.


Wicaksono Hidayat - detikinet

SLANK vs DPR

Diposting oleh Masakan On 00.42 0 komentar
aduh Bapak-bapak di DPR kenapa seh malah ngurusin musisi2 INDonesia mending bapak urus dulu aja tuh Rakyat Kecil yang membutuhkan minyak n harga yang semakin tinggi.aku juga bgung neh ma DPR padahal tuh lagu kn udh ada sejak 4 tahun yang lalu n kenapa baru sekarang Bapak2 kyk kebakaran jenggot gitu..wah jangan2 gara2 udah mau pemilu lagi bapak2 takut ga kepilih lagi yah??udah gtu DPR pada nuntut Slank n kawan2 lagi aduh apa seh maunya anggota DPR kita ini.Jangan cuma pada maunya enak doank donk....untung gara2 suaminya mba kristina yang anggota DPR dari fraksi PPP itu selasa malam ke tangkep dengan dugaan korupsi..wah brti bner bgt donk sma apa yang dinyayiin sma Slank n tdi seh aku lihat berita tuntutan DPR buat Slank dicabut ktanya seh Anggota DPR pda malu krna lagunya Slank kena bgt buat DPR...wkwkwkwkwk

Lagu SLANK berjudul Gosip Jalanan yang dinyanyikan di Kantor KPK di protes oleh BK DPR. Lagu itu menyinggung DPR. Berikut Liriknya,



"Mau tau gak, mafia di Senayan...! Kerjaannya tukang bikin peraturan... Bikin UUD! .... Ujung-ujungnya duit...! "
Lagu itu sudah dibuat SLANK sejak tahun 2004 dan hal itu bukan hal baru lagi. Selain menyinggung DPR, Slank juga menyinggung hal hal sosial lainnya seperti lirik berikut,
"Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar Pake peci tapi kelakuan barbar Ngerusakin bar orang ditampar-tampar"
itu adalah singgungan untuk ormas-ormas islam yang keterlaluan melakukan penertiban di Bar - Bar menjelang ramadhan, tapi apakah disini ormas islam seperti FPI dan lain lain marah ???

Uniknya, beberapa hari setelah "konser mini" slank di Pelataran Gedung KPK, anggota dewan ditangkap KPK di sebuah hotel, diantarana suami pedangdut KRISTINA, yaitu Al Amin Nasution.
Di TOPIK MINGGU INI SCTV tadi malam, hal ini juga dibahas antara BK DPR, Gayus Lumbuun dan pengamat politik Fajrul.

Berita dan Videonya bisa dilihat di :
http://www.liputan6.com/news/?id=157657&c_id=8

sumber : http://rasa-ganyang.blogspot.com/

Majalah HIM X (Tentang Pemilu)

Diposting oleh Masakan On 18.29 0 komentar
HIMtv

Pemilu tinggal setahun lagi. Berbagai kasak-kusuk berita maupun rumor politik pastinya sudah menghangat akhir2 ini. Sekedar untuk menyebut beberapa “hot item” dunia perpolitikan saat in, diantaranya : PDI-P masih saja mengandalkan Megawati sebagai kandidat presiden ( jadi sekarang lebih disibukkan pada pencarian sosok cawapresnya ), Golkar masih terombang-ambing apakah hendak melakukan konvensi lagi ( yang berarti bakal ada “pertarungan” jilid kedua antara Jusuf Kalla dengan Akbar Tanjung ? ) atau berkoalisi dengan partai lain, PKB sedang didera kisruh perselisihan antara ketua umum dengan ketua dewa syuro, Partai Demokrat tampaknya memang mau tak mau untuk kesekian kalinya masih mengunggulkan figur pak Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan dari jalur “indie”, beberapa kandidat berusaha masuk dalam bursa calon presiden seperti Sultan Hamengku Buwono X, Wiranto ( lewat jalur partai Hanura ), Sutiyoso, dan kelihatannya sich Prabowo juga. Akan semakin seru juga kalau calon perseorangan yang tidak melalui jalur partai telah disetujui.

Ketimbang mumet atau sampai langganan sms-nya mama Lauren segala untuk sekedar tahu siapa pemimpin bangsa ini tahun depan, lebih baik penulis membahas soal sosok “news anchor” yang tampaknya akan banyak menghiasi layar talkshow tv belakangan ini. Kita mulai dari MetroTV yang kelihatannya akan memasang Rizal Malarangeng sebagai ujung tombak pembawa acara spesialis bincang2 politik seperti ini ( seperti yang selama ini dilakoninya via “Save our nation”, mungkin kedepannya akan didampingi oleh Meuthia Hafid. SCTV, yach mau tak mau bakal mengusung pemrednya yakni Rosiana Silalahi. Penulis tidak tahu apakah Sondang Sirait yang mulanya berasal dari VOA akan diterjunkan pula untuk “proyek” ini.

ANTV mempersiapkan Wimar Witoelar lewat acara (the return of) Perspektif-nya. Sedangkan untuk tvOne, meski banyak merekrut presenter kawakan dari banyak stasiun tv lainnya, kandidat pembawa acara yang diunggulkan tampaknya duet tandem antara Alfito Deannova dan Rahma Sarita. Tak mau kalah, saluran tv kabel Astro Awani pun sudah bersiap diri untuk menyambut pesta demokrasi terbesar tahun depan, setidaknya penampilan bung Rizal Mustari dalam segmen “Sudut Pandang” saat ini masih konsisten saat dia dulu membawakan “Kupas Tuntas”-nya TransTV. Ditunggu nich, stasiun tv mana yang berhasil menggaet Ira Koesno kembali ke kancah “wajah” (program tv) perpolitikan nasional kita ?





HIMedia

Sabtu lalu, KOMPAS menyisipkan lembaran angket sebagai salahsatu bentuk menjaring karakter dan opini pembacanya. Banyak hal bisa dijaring dari program tersebut tentunya tergantung isian kuesioner yang diminta, meski tentunya ini hanya terbatas pengamatannya dari hasil yang dikirim. Jadi kemungkinan adanya aspirasi pembaca yang tidak mengirimkan angketnya juga tak bisa dipungkiri pasti ada, maklumlah hadiah undian bagi para pengirimnya relatif sedikit sich, he3… Tapi setidaknya angket seperti ini tidak seperti polling sms yang mana sebenarnya tidak berorientasi pada valid atau tidaknya hasil “terfavorit”, tapi lebih kepada pengumpulan pulsa sebanyak-banyaknya.

Jadi teringat beberapa minggu lalu di sebuah ATM bank BUMN, tampaknya kala itu sedang ada tim survey “ask the customer”, singkatnya setelah nasabah melakukan proses transaksi di ATM, lalu ada anggota pensurvey yang hendak menjaring persepsi pelanggan, entah itu dari pertanyaan seberapa sering menggunakan ATM dalam sebulan, transaksi apa saja yang dilakukan ( biasanya sich cuman tarik tunai dan cek saldo doank ), bagaimana soal kemudahan prosedur, dan berbagai input saran lainnya. Entah hasil surveinya akan seperti apa kalau yang dihadapi kebanyakan adalah nasabah yang duitnya ditelan ATM J. Kalau dari penulis sich sarannya, kapan donk saya bisa menang undian grandprize-nya bila untuk mendapatkan 1 poin undian saja perlu saldo rata2 jutaan rupiah ?

Balik lagi ke soal angket, sistem “rating” mungkin paling diperdebatkan keabsahannya dalam dunia broadcast televisi. Banyak pengamat, pemerhati, maupun insan pertelevisian kita kadang terheran dengan hasilnya, mengapa tayangan “sejelek” itu ( maksudnya mungkin tidak mendidik ) menurut rating bisa ditonton banyak orang. Jadi selama ini bisa jadi memang ada semacam salah kaprah bahwa program “laris” bukan hendak melayani kecerdasan pemirsa, tetapi membantu “kecerdasan” pemasang iklan memilih. Mungkin ada baiknya pula sesekali pengelola tv membuat survey internal yang lebih independent sebagai bahan komparasi.





HIMtermezzo

Minggu2 belakangan ini banyak perusahaan terbuka mulai mempublikasikan laporan keuangannya di media massa untuk periode tutup tahun 2007. Tentunya dari satu sumber tersebut bisa memunculkan banyak interpretasi tergantung kepentingannya. Misalnya untuk investor maupun pemegang saham dapat menjadi indikator mengukur kinerja perusahaan tersebut. Bagi kantor pajak, yach bisa dipakai untuk memperkirakan apakah selama ini pajak yang disetorkan tidak berbeda jauh dengan yang dilaporkan. Namun bagi kalangan awam seperti penulis, yach nggak beda jauhlah dengan iklan2 harian lainnya. Kalau biasanya menyangkut soal brand produk, tapi untuk financial report tahunan ini seperti mempromosikan brand perusahaan.

Namun bagi karyawan mungkin saja ada kerisauan tertentu, seperti lho kok tidak berbanding lurus yach dengan kenaikan gajinya. Semisalkan pertumbuhan profitabilitas perusahaan 15%, tapi kenaikan pendapatan hanya 10%. Untuk budget tahun depan, sales ditarget meningkat 20%, tapi upah karyawan hanya disesuaikan 7-8%. Biasanya sebagai dalih atas kecilnya kenaikan upah karyawan ini adalah untuk menekan biaya operasional, sebagai anak buah kita diajak prihatin atas kenaikan harga bbm yang salahsatunya berbuntut pada tingginya ongkos transportasi dan harga beli bahan baku . Menaikkan harga jual terlalu beresiko bagi pencapaian target penjualan, jadi pilihannya adalah mengefisienkan ongkos produksi, dimana elemen gaji karyawan adalah komponen biaya yang relatif “mudah dikendalikan”.

Setidaknya lihat saja fenomena penolakan para pengusaha kalau UMR dinaikkan. Komplain bahwa hal tersebut akan makin menggerus keuntungan perusahaan yang sudah tipis dimakan berbagai “biaya siluman”. Sudah lama salahsatu ironi “biaya buruh murah” dijadikan keunggulan kompetitif ( competitive advantage ) dalam versi pengajaran ilmu ekonomi kita di sekolah-sekolah. Sedangkan bagi karyawan sich melihatnya gampang saja bahwa harga kebutuhan saja sudah naik, masa gaji tidak naik.

Berkaca ke tahap awal kita memasuki dunia kerja, lihat saja ketika tahapan wawancara kerja yang membahas negosiasi gaji, banyak pihak HRD yang justru malah bertanya kepada pelamar soal gaji yang diharapkan ( maksudnya diharapkan serendah mungkin ? ), padahal mustinya terbuka saja dari awal bahwa untuk posisi X yang tersedia bisa ditawarkan gaji segini dengan tunjangan dan insentif segitu. Kalau tawaran tersebut dianggap tidak sesuai ekspetasi pelamar kerja, silakan bandingkan dulu dan boleh dicek dech dengan perusahaan sebelah… lha, kalau ini sich mirip jualan hp donk....

Resensi "fitna" the movie

Diposting oleh Masakan On 01.47 0 komentar
Setelah menyaksikan sendiri “FITNA” film anti islam yang berdurasi 15 menit buatan politikus sayap ultra kanan Belanda Geert Wilders terlihat jelas tujuan dan upaya mendiskreditkan Islam dari dibuatnya film tersebut. Film dokumenter itu penuh dengan adegan teror berupa pengeboman, pembakaran dan pembunuhan kaum kulit putih, dan Yahudi yang dikatakan dilakukan oleh umat Islam seperti yang saya beritakan disini. Fitna yang diputar di website www.liveleak.com itu dibuka dengan nukilan Alquran surat Al An’am yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda. Terjemahan dari ayat yang disatir itu adalah, “Allah tidak akan membiarkan orang kafir hidup di dunia dan akan menyiksanya di akhirat”. Potongan ayat itu oleh Wilders disambung dengan cuplikan gambar peristiwa penabrakan pesawat oleh teroris pada menara kembar WTC di New York, Amerika Serikat, 11 September 2001 silam. Cukilan ayat kedua diambil dari Surat AnNisa ayat 56. Terjemahannya adalah, “Sesunguhnya orang-orang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali
kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Setelah itu, agar meyakinkan, anggota ultra sayap kanan parlemen Belanda itu menyambungnya dengan adegan pengeboman sebuah bus tingkat di Inggris dan pembakaran tubuh seorang kulit putih. Orang tersebut lantas diseret oleh orang-orang berkulit hitam. Tak hanya
nukilan ayat, Wilders juga menambah rekaman filmnya dengan ceramah seorang ulama Arab yang mempropagandakan jihad sambil mengacungkan sebuah pedang. Adegan tersebut seolah-olah menggambarkan Islam dengan ajaran jihadnya sebagai agama yang cinta pada
kekerasan. Selain cuplikan video tentang ajakan jihad dan beberapa peristiwa
pengeboman yang memang dilakukan oleh kelompok teroris, politisi berusia 44
tahun itu juga memuat gambar seorang wanita yang sedang bertanya kepada seorang anak wanita. “Apa agamamu? Tanya wanita tersebut dalam Bahasa Arab. Anak wanita berkerudung putih yang usianya masih 3,5 tahun itu dengan polos menjawab ‘muslim’. Wanita itu kemudian bertanya apakah dia tahu siapa kaum Yahudi dan seperti apa mereka. Lagi-lagi dengan polos, anak perempuan itu mengaku tahu. Menurutnya kaum Yahudi itu seperti monyet dan babi. Dibagian akhir film terdapat fragmennsetelah NAZI (1945) dan Komunisme (1989)kini saatnya Eropa harus menaklukan
ideologi Islam, STOP ISLAMISASI dan pertahankan kebebasan (freedom) kita.
Islam mau menguasai, menindas dan bermaksud menghancurkan peradaban Barat. Muslim menginginkan bahwa Anda harus memberi ruang untuk Islam, tapi Islam tidak memberikan ruang untuk Anda. Pemerintah (Pemerintah Belanda:Red) menyuruh Anda untuk respek untuk Islam, tapi Islam sama sekali tidak mempunyai
respek untuk Anda. Terlihat jelas disitu bahwa propaganda dari “Widers” bertujuan untuk menyinggung dan menyamakan islam dengan kekerasan dan berupaya untuk menyugestikan masyarakat umum agar phobia terhadap islam, Quran sebagai kitab fasis dan menyebutkan pula filmnya adalah peringatan terakhir sebelum
Belanda dan Eropa dikuasai Islam. Terakhir dari saya adalah marilah kita umat Islam Indonesia khususnya kita sikapi persoalan ini dengan sikap yang mulia, tidak terprovokasi buktikan bahwa tuduhan si pembuat film tersebut salah bahwa Islam itu fasis. Islam adalah agama yang jauh dari apa yang digambarkannya. orang ini sengaja
berupaya memecah belah umat islam, mereka khawatir karena islam lebih baik dari agama mereka. terbuktinya mereka tidak bertoleransi terhadap agama lain. Indonesia telah membuktikan walapun belum sesempurna seperti yg di ajarkan Islam toleransi beragama cukup besar walaupun hampir 85% penduduk Indonesia beragama Islam, namun semua agama
mendapatkan perlakuan yang sama, seperti contoh untuk hari libur semua perayaan besar agama di Indonesia mendapatkan hari libur. Indonesia yang baru belajar demokrasi bisa lebih toleran dengan barat yg menyanjung kebebasan tanpa toleransi. Mereka sendiri tidak berkaca dengan pengalaman imperialisme mereka yang menyebabkan puluhan bangsa sekarat dan terjajah di bawah politik kolonialisme mereka yang telah menjadi luka teramat dalam bagi bangsa-bangsa jajahannya. Dan mereka tidak menyadari keberadaan islam garis keras tersebut muncul dari perlakuan mereka sendiri yang memunculkan benih-benih permusuhan dan berusaha untuk menguasai dan mengambil hak-hak bangsa lain yang mereka inginkan. Yang pasti karena kejadian ini, kita umat Islam semakin bersatu
padu dan semakin mempertebal keimanan kita terhadap Islam. Amin ya robbal allamin

SEPOTONG KENANGAN UL

Diposting oleh Masakan On 20.13 0 komentar
oleh : Nataresmi Salinggih

Mengapa? Kernyitan samar mengiringi saat hatinya bertanya demikian. Dengan mata memicing ke arah matahari, ia berkesimpulan senja segera tiba. Saatnya mandi sore, dan mencari makanan di kulkas buat teman nonton. Tapi ia tahu sudah kehilangan waktu untuk kebahagiaan yang sederhana itu.
Dunia makin bermasalah dan kehidupan akan menunjukkan ketakadilannya kalau terlalu banyak bertanya. Untuk sesaat ia halau pikirannya dan memusatkan mata pada lalu-lalang orang di peron stasiun. Yang datang dan pergi tergesa-gesa, keluarga dengan anak-anak yang berceloteh serta tas tas bawaan, atau berpasang-pasang kekasih yang menikmati detik per detik menjelang perpisahan mereka. Tukang koran. Pedagang makanan minuman. Lengking peluit dan mesin kereta bersuara bising.
Kesibukan rutin. Mendadak terasa ganjil setelah matanya menyambar langit dan menenggelamkannya pada kebiruan tanpa batas. Benaknya terusik tanya: apakah kesibukan manusia di kulit bumi terasing sendirian, di jagat mahaluas berdiameter 100 parsec ini?! Dari milyaran bintang belum diketahui apakah kehidupan di bumi berkawan. Kalau tak ada, alangkah lengangnya jagat.
Hal-hal astronomis mengingatkannya pada kuliahnya yang berantakan di pertengahan semester kelima ini. Observatorium Bosscha dan bougenville tuanya yang setia memunculkan bunga tiap musim penghujan, apalagi saat purnama sepanjang Mei-Oktober waktu diadakannya Malam Umum, tinggal sepotong kenangan belaka. Betapa, ia lebih tertarik untuk merekam alam yang puitis itu kedalam sekian bait puisi daripada mengutak-atik teropong Zeiss untuk memperoleh setumpuk hasil mengamatan.
Aku terperangkap di jalan yang seharusnya bukan untukku, gumamnya. Mengapa? Seperti biasa, ia tak mendapat jawaban. Dicobanya menerka, mungkin karena ketertarikannya pada sastra. Atau, keraguannya terhadap prospektif ilmu murni menjamin masa depan, seperti rata-rata temannya. Atau juga, konsep pengetahuan eksak yang sulit ia pahami. Ia tak menemukan jawaban. Tapi tangannya menemukan setumpuk kertas di saku jaketnya. Surat. Kartu. Foto kawan Astronomi Angkatan 97 berlatar gerbang Ganesha.
“Tetep semangat. Semoga Nobel impianmu tercapai, Penyair! Dengan cinta, kawanmu: Nataresmi” (Ada gambar bibir bertuliskan Cup! Dekat tanda tangannya).
“Dari Ina: Pergi saja, dirimu pergi....bilang saja pada dunia... Ah, Ul... gua “gak bisa meneruskannya. Jaga diri baik-baik ya!” (Ia tersenyum kecut membayangkan Ina berlagu Krisdayanti dengan sok melankolis).
“Ul, ingat tidak waktu kita sekelas hiking ke Maribaya? Saat aku hampir tergelincir dari jembatan, kamu menyelamatkanku. Kalau tidak, mungkin aku terseret pusaran air terjun. Lewatmu, aku masih diberi-Nya umur. Terima kasih ya, Ul, untuk semua kebaikanmu. Semoga Allah tetap bersamamu. Salam, Neflia. (Ah, Li...bukannya aku yang sering merepotkanmu. Minjem duitlah, maksa ditraktir, nyontek PR...).
Sudut matanya memanas. Kartu-kartu perpisahan dibacanya satu per satu.
“You”re the best my friend. Be carefull “n wish your dream come true. Vivi. (Pesan singkat ini mengingatkannya kepada sosok Ambon yang keranjingan komputer: Avivah.)
“Sok didoakeun sing pinter, bageur, cageur. Jangan lupain gue. And Missisipi is mighty, but it starting at Minnesota at a place where”d you could walk, cross with five step down.
Sampai ketemu lagi nanti. Saya sudah beranak empat dan punya Land Rover dan jadi desainer terkenal. Si Idola tea: Maria M. Lubis. (Bibirnya membuat garis tawa. Si Lurus ngaku - ngaku peranakan Batak-Spanyol tapi sangat Sunda ini temannya bercanda. Mereka mengangankan punya sekolah alam yang tidak menjejali muridnya dengan hafalan. Masihkah ada waktu buat mewujudkannya? Ia menggeleng).
“Je suis triste. Kita kehilangan nih, Ul. Ul yang manis dan misterius. Eh, dulu aku berhutang 2.000 perak bekas jajan soto, ikhlaskan ya!!! He ... he...”
Tya si Nona Prancis, Mariyam, Ichal, Zaid, Ketut, Udin, Farkhan, Yana, saling tersenyum di foto itu. Ia tatapi dengan pandangan mengabur.
Hey, mengapa menangis? Meski percaya airmata bukanlah perwakilan emosi sesungguhnya, ia saat ini ingin melakukannya selagi pikirannya memaklumi kesedihan yang timbul kali ini. Sebab telah lama ia menahan karena keyakinan bahwa Tuhan akan memberinya kekuatan kalau ia tabah dan tidak menangis.
Saat Papa tertembus peluru nyasar dalam huru-hara politik di penghujung Mei 1998, rasa kehilangan itu ia bunuh dengan susah payah. Bukankah mati; kapan, di manapun dan bagaimanapun, kembalinya ke tempat yang sama. Saat harga kostnya makin menurun dan akhirnya hanya sebuah kamar pengap di pojok Tamansari Bawah yang mampu ditinggalinya, ia belum menyerah. Pun pada kemampuannya yang sedang-sedang dalam menghadapi rumitnya mata kuliah Fisika, ia coba bertahan. Meski akhirnya kebakaran juga. Dua D, satu E, dua C, dan A sendiri. Melarikan diri ke Perpustakaan Salman, bau kertas dari novel tua menjadi karibnya. Salah satu favoritnya karya Jose Rizal Noli me Tangere yang gelap dan puitis.
Pertahanan yang telah dibangun dari retak-retak kekuatannya memang tidak kokoh. Mama berkunjung. Bercerita tentang Josh, insinyur lulusan Delft. Sudah mapan. Putra bungsu karib Papa. Saat itu ia menyelami mata Mama dalam-dalam. Ditemukannya di situ ketiga adik lelakinya mencari masa depan. Tanpa kata, semata karena niat baik, ia iyakan permintaan ibunya. Ia memararelkan cintanya kepada Josh karena mencintai ibu dan adiknya. Juga deretan nilai ujiannya yang pas-pasan menjadi pertimbangan lain. Tetapi ia menyodorkan alasan berbeda kepada teman-temannya saat berpamitan; ingin serius menulis mungkin kelak mengambil jurusan sastra.
Paling nanti Maria atau siapa pun akan memergokinya sebagai nyonya belia, ia tersenyum getir. Dan untuk itu ia menyiapkan sebuah gurauan klise; ternyata menikah itu enaknya cuma 30 %, yang 70 % itu enak sekali. Haha, ia nyaris tertawa. Josh, samar-samar benaknya merekonstruksi sosok bungsu yang manja, montok dan atraktif sebagai kawan sekilas masa kecil. Keajaiban alam yang berlangsung perlahan, seiring waktu mengubah setiap benda dalam keteraturan yang harmonis. Pun dengan Josh. Dia legam dan langsing seperti patung-patung dewa Yunani. Perhatian dan religius. Apapun dia dan bagaimana, satu saja pertanyaan mengusik benak: bisakah ia rela terhadap dirinya sendiri yang tiba-tiba saja dihampiri kehidupan baru, sebagai istri dan kehilangan dunia mahasiswa begitu saja!
Tuhan!! Aku tak mengenal-Mu terlalu baik, desisnya, hanya berbekal kesadaran kecil tentang satu hal: seorang manusia selalu dalam ujian, yang menjadi benang merah hubungan kita. Dan maaf, benang itu sekarang tampak teregang dengan jalinannya sebagian pecah menahan beban ini...
Tap. Tap. Tap.
Tepukan berulang mampir di bahunya ia mengangkat muka segera.
“Meski tidak terdengar, saya dapat menerka seberapa dalam kesedihan Anda. Perlu tissue-kah?”
Ia mengabaikan tawaran ramah itu dengan gelengan lemah. Dijepitnya hidung sekilas, muncul suara ingus yang terhisap tarikan napas, terasa panas dan berair, ia bisa menerka kekontrasan antara warna merah di hidungnya dengan kulitnya yang putih pucat.
“Hendak ke mana?”
“Surabaya,” ujarnya mengambang. Minggu depan aku menikah, lanjut batinnya. Sejurus kemudian ia balik bertanya, “dan Mbak?”
Orang itu tertawa kecil, menganguk-angguk. Aneh, gerutunya. Tetapi wajah sedemikian ramah itu mengirimkan perasaan ditemani yang menenteramkan.
“Anda nampak lapar. Saya kebetulan punya makanan.” Orang itu membuka travel bag-nya, mengeluarkan kotak berisi kue pisang keju khas Stasiun Bandung “Kartika Sari”. Menyodorkan tepat di depan matanya, dan meski agak sungkan ia mengambil satu. Usai berterima kasih, langsung dikunyahnya, setengah malu ia lantas menyadari sikapnya agak bernapas.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap orang itu keras-keras.
Seketika ia tersedak. Menoleh heran dan menemukan ekspresi yang datar saja. Seperti diingatkan ia pun dalam hati mengeja basmallah.
“Hmm. Enak ya. Saya juga suka makanan Bandung yang lain: siomay dan es cendol.” Gayanya bercerita seolah mereka sudah akrab lama. “Cuaca di sini juga nyaman, dan gampang mencapai tempat buat berwisata alam yang dekat kota. Pernah ke Hutan Jayagiri?”
Ia mengangguk. “Juga mendaki Gunung Burangrang, keliling kawah Tangkuban Perahu dan jalan kaki selama sembilan jam ke Situ Lembang. Waktu berkemah di Rancaupas saya malah pernah terjebak badai dalam suhu 5 derajat Celsius...” paparnya dengan suara rawan. Petualangan alam sudah selesai baginya.
“Wow. Menyenangkan, bukan. Saya harus bersyukur dengan semua pengalaman pengalaman yang menarik, karena...,” orang itu menunjuk para pekerja yang sedang membersihkan badan kereta, “saya tak yakin mereka punya waktu untuk menikmati hal serupa kita. Paling sekedar menginginkan. Tapi hidup jadi tak seimbang kalau selalu memuaskan keinginan, akan seperti menguras air di laut. Tak kunjung habis. Tuntas satu keinginan saya akan segera tahu keinginan berikutnya jumlahnya sudah berganda. Tetapi, tanpa itu... uh, alangkah membosankan.” Orang itu terkekeh halus.
Ia menggumam tak jelas sebagai komentar. Dengan bosan dilayangkannya mata ke kejauhan cakrawala yang dilukisi cahaya lembayung. Dalam ujian Laboratorim Astronomi, ia pernah menemukan soal: mengapa pada siang hari langit berwarna biru sedangkan sore hari lebih kuning? Jawabannya ketika itu: saat mengelilingi matahari bumi yang bulat juga berotasi terhadap sumbunya, suatu tempat akan mengalami perpindahan sejauh seperempat keliling lingkaran bumi selama rotasi 6 jam, hal itu mengakibatkan perbedaan panjang jarak ke matahari. Kala siang hanya gelombang cahaya biru yang terhambur di udara, dan pada sore hari yang jaraknya lebih panjang menyebabkan gelombang cahaya kuninglah yang tertangkap mata pengamat di bumi. Tetapi ia lebih suka mendefinisikan cahaya kuning senja hari itu sebagai lukisan naturalis yang membangkitkan rasa sentimentil. Seperti waktu ini, setelah salam perpisahannya dengan Kampus Ganesha, Perpustakaan Salman, kawan-kawannya, dan masa lajang! Ketika rasa kehilangan mendekat pasti, betapa tersadari keterikatan yang ketat dan tak hendak melepasnya dari takdir kita. Tetapi, hidup terus berjalan.
Ia bangkit menepuk-nepuk debu yang tak ada pada jinsnya. “Saya salat Maghrib dulu.”
“Silakan. Saya tidak karena... biasa perempuan,” Orang itu mengibaskan tangan dan tersenyum. “Anda lagi sedih. Mengadulah saat salat. Pasti Anda diberi-Nya kekuatan. Percaya, bukan?!” Matanya teduh sekali.
“Bisakah saya titip tas dan koper ini kepada Anda?”
Orang itu mengiyakan. Mengisyaratkan keamanan terjamin. Setelah berterima kasih, ia menuju pintu keluar peron. Berdesakan mengambil wudhu. Musala di ujung barat stasiun terlalu kecil untuk menampung jamaah. Lebih seperempat jam baru mendapat giliran, setelah orang agak lengang. Didapatinya masbuk pada takhiyat awal, lalu menyelesaikan kedua rakaat terakhir dengan perasaaan abstrak tanpa kontur. Seolah dipeluk ke dalaman Mahagaib yang mengisi seluruh sel dan syarafnya. Dari ucap ke ucap, gerak demi gerak. Hanya bacaan sepanjang salatlah bahasa Arab yang dimengertinya. Dan ia bersunguh-sungguh kali ini. Maka kelegaan tanpa batas saat menyudahi dengan salam, memaku keyakinan di dadanya: mengalirnya air tenang adalah kepasrahan yang mempunyai kekuatan seperti gelora laut. Detik berikutnya ia berdoa agar diberi-Nya sifat air, setia meliuk sepanjang arus dan mengikis satu per satu perintang. Di belokan pertama telah menungguinya seorang Josh. Ia percaya, seseorang tidak akan dibebani melebihi kesanggupannya.
Ia hembuskan napas. Ia menyadari kelegaan yang tiba-tiba. Ia merasa kesejukan.
Dunia nyata menepuknya dan memberi tahu waktu sudah pukul setengah tujuh. Agak bergegas dimasukinya peron dan ia terkesiap menumbuk bangku yang didudukinya tadi. Detak sepatunya seperti berlomba tiba. Ke mana orang tadi?!
Barang-barangnya utuh. Rasa bersalah menyeruak, telah berburuk sangka sebelumnya. Memberesi bawaan pun, kepalanya sibuk bertanya-tanya. Akhirnya, ia mendekati seseorang.
“Maaf, apakah saudara melihat seseorang tadi duduk di sini pergi?”
“Anda bercanda? Tak ada siapa-siapa, bukan? Sedari tadi Anda duduk sendirian dan terlihat sedih.”
Ia mengabaikan keheranan orang itu. Malaikat? Simpulnya menjawab sendiri. Tapi dia perempuan, ralatnya, tentu makhluk gaib yang baik hati. Yang tadi itu begitu nyata. Kartika Sari dan tatap matanya. Tiba-tiba sel otaknya mengolah informasi tak masuk akal menjadi hal terlogis, mendatangkan kejutan di ujung-ujung syaraf membuat kulitnya menebal tanpa rasa, seperti dibius. Merinding dingin.
“Aku ditemani,” gumamnya dengan perasaan nyaman.
“Kereta Turangga dengan tujuan Surabaya akan diberangkatkan tepat pukul tujuh malam, telah disediakan di jalur tiga. Kepada para penumpang yang telah memiliki karcis silakan segera naik.” Pengumuman dari pengeras suara.
Bandung, selamat tinggal.
Kakinya menuntun ke selatan. Melewati tempat sampah, ia berhenti, mengambil kertas-kertas dari saku jaketnya dan membuangnya. Satu episode hidupnya telah selesai. Kusimpan saja kalian dalam hati, batinnya. Sayang, ia melewatkan secarik kartu putih yang belum dibacanya. Dari Nataresmi. Sebait syair karya Sufi dari Konya, Rumi:
Pergilah ke pangkuan Tuhan, dan Tuhan akan memelukmu
dan menciummu, dan menunjukkan
bahwa Ia tidak akan membiarkanmu lari dari-Nya
Ia akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya,
siang dan malam

LANGIT MAKIN KELABU

Diposting oleh Masakan On 18.55 0 komentar
Oleh : Pipiet Senja

Langit tampak kelabu pagi itu dan belum banyak yang datang, ketika Badi memasuki pekarangan kantor Pemda dengan motor bututnya. Seorang lelaki tua sedang sibuk membersihkan lantai. Ia tersenyum ramah dan segera menghampiri Badi begitu mengenalinya.
"Assalamualaikum, Mang Lili " sapa Badi sopan.
"Waalaikumussalam Kang Badi, rajin benar. Sudah janjian sama pak Maman, ya?" Orang yang dimaksud adalah kepala bagian Humas.
"Ya, begitulah, Mang. Belum datang ya?"
“Biasalah, Kang, pejabat mah doyan telat atuh " sahut lelaki tua itu sambil melanjutkan pekerjaannya, tanpa merasa terganggu.
"Kalau mau ngeteh mah ambil saja di belakang, ya Kang "
"Mangga, hatur nuhun, Mang"
Entah sudah berapa lama dia bekerja di sini, tanpa naik jabatannya. Hanya sebagai pegawai rendahan, honorer, gumam Badi. Untuk sesaat ia jadi melamunkan kehidupan getir yang harus dijalani lelaki tua itu tanpa sanak saudara. Tak lama, karena ia pun dibetot kembali pada persoalan dirinya. Kira-kira apa yang akan dikatakannya kepada Pak Maman, kaitannya dengan misinya kali ini? Apakah dia akan berani bilang; "Seperti yang sudah kita bicarakan via telepon itu, Pak "
"Ini berita yang akan kami muat di media Warta Tanah Air besok. Tapi kalau Anda tak setuju, kita deal saja "
Atau langsung sodok saja dengan, "Berapa Anda berani bayar untuk membatalkan berita ini, Pak Maman?"
"Begini, Pak Maman sebaiknya Anda borong seluruh koran kami yang bakal terbit besok!" ya, mestinya begitu saja!
Pak Maman tentu akan menawar, "Berapa tirasnya? Berapa yang harus kami bayar?"
"Yaah, nggak seberapa jika dibandingkan dengan jatuhnya nama baik Pak Bupati. Proyek fiktif yang kami temukan itu kan dalam bilangan triliun. Hmm, bisa dibayangkan! Bagaimana hebohnya masyarakat kita kalau tahu para pejabat yang selama ini dihormati dan dipercayai, eeh ujung-ujungnya megakoruptor?!"
Tentunya Pak Maman tanpa banyak bicara lagi, demi nama baik sang atasan, terpogoh-pogoh menghubungi bagian keuangan. Urusan dengan Pak Bupati belakangan. Yang penting, selamatkan dulu beliau!
Beberapa bulan terakhir ini dirinya bekerja di koran ecek-ecek. Mulai dari modal, kualitas pengelolanya, wartawan, redaksi yang tugasnya dicampur aduk, sampai soal peras memeras!
Setiap kali rapat wartawan diadakan, Badi akan menerima pembekalan-pembekalan itu. Intinya bagaimana cara mendapatkan aib para pejabat, memeras dan memanfaatkan kelemahannya. Demi meraup keuntungan bersama, begitulah istilah Bang Harap, pemrednya.
"Sudah tahu, Bung, kalau Wakapolsek itu bininya ada dua ?"
"Tahu kan Kang, tambak udang hasil rampasan anggota dewan di desa Burujul itu "
"Ternyata sudah sepuluh tahun Pak Dandim kerja bareng Pak Hakim kelola klub malam "
"Klub malam yang mana?"
"Evergreen, tempat judi dan transaksi narkoba terbesar di kota kita!"
"Waah, enak tuuuh, tinggal teror dan peras saja!"
"Bagaimana, Bung Badi, apa sudah dapat banyak objekan?"
Kemarin Bang Harap melakukan pendekatan pribadi dengannya. Tentu ia ingin tahu, sejauh mana kreativitas dan loyalitasnya pada terhadap koran mereka.
"Belum, Bang " sahut alumni Institut Keagamaan yang nyasar ke dunia persuratkabaran itu.
"Sudah hampir tiga bulan kan kerja bareng kami di sini?"
"Eeh, iya, Bang " Badi mulai gugup dan berkeringat.
"Bung ini kurang berani sih!" untuk beberapa menit lelaki yang mengaku lulusan PTN terkenal di medan itu memberikan pembekalan khusus; kiat dan triknya yang aneh dan nyeleneh. Badi hanya manggut-manggut.
Dalam hatinya, terjadi perang sabil yang luar biasa. Betapa ingin Badi menyatakan ketaksetujuannya dengan politik bisnis yang dijalankan lelaki itu. Namun, betapa kerdil dirinya, karena naluri mulai dikalahkan oleh tuntutan kehidupannya. Ibu yang tua dan sakit-sakitan, lima adik yang harus dibiayainya.
"Seharusnya ini tanggung jawabmu, Bapak! Tetapi, entah ke mana lelaki yang tak bermoral itu!"
Lalu, harus dikemanakan nurani yang halus, sarat moral dan nuansa keagamaan itu? Adakah nurani hanya akan mengapung ke awan, mewarnai langit dengan rona kelabunya?
"Bagaimana, Bung, mengerti apa yang sudah saya katakan?"
"Eng, ya ?" gamang hatinya.
"Giatkan lagi cari berita aktual!" tekannya bernada mengancam.
Kelihatannya Bang Harap kehabisan toleransinya memiliki anak buah tak bernyali. Tak pernah berhasil memberikan kontribusi besar pada korannya. Kalau tak ingat akan jasa Badi menyelamatkan nyawanya pada suatu insiden, di mana dirinya dikeroyok abang-abang becak Bah!
Cari berita aktual, apa bongkar aib seseorang? Di lapangan terbukti, tidak ada kasus apapun kok dicari-cari, diada-adakan, kalau perlu dibikin, diwujudkan menjadi nyata. Badi sering melihat rekan-rekannya tanpa rasa malu lagi mendatangi para pejabat bermasalah. Mulai dari meneleponnya secara pribadi, kalau belum mempan langsung disambangi ke kantor. Atau disusul ke rumah peristirahatannya. Dikomfirmasikan kepada istri, anak, keluarga bahkan para pembantu dekatnya. Pada akhirnya, mereka yang mengaku wartawan itu hampir tak pernah menulis berita. Karena tulisan mereka segera dibeli oleh para pejabat bermasalah. Disimpan di kantong celana dan raib begitu saja.
Persetan dengan kode etik, idealisme, dan tetek bengeknya itu!
"Inilah kerajaan kita, Bung!"
"Hahaha dan betapa nikmatnya zaman reformasi!"
"Iya, sekarang segalanya bisa ditransparankan, ditelanjangi!"
"Bukan pihak kita lagi yang diintimidasi, ditekan habis, tapi sebaliknya!"
"Betul itu! Kitalah yang berperan sekarang!"
"Inilah nikmatnya punya sarana media cetak. Bisa dipakai menarik gaji dari para pejabat bermasalah "
"Bahkan tunjangan pensiunan, huahaha " suara bahak kesenangan rekan-rekannya menyayat telak nurani Badi
"Kang Badi, sekarang beliau sudah datang. Ditunggu di ruangannya".
"Ooh, begitu Terima kasih, Mang Lili!"Badi bangkit dari bangku yang telah memakunya dengan tingkah polah rekan-rekan, termasuk dirinya belakangan ini.
"Kok belum diminum tehnya, Kang?"
"Eeh, hatur nuhun Mang, nanti sajalah "
Sekejap mata Badi bersirobok dengan sepasang mata di depannya. Bening, polos, dan lugu. Mata tua yang mengingatkannya pada mata mendiang kakeknya, seorang pejuang '45. Kakek yang suka menuturkan kisah-kisah kepahlawanan di masa kecilnya dulu.
"Tak pernah terbesit sedikit pun untuk memperoleh keuntungan dari perjuangan kami. Semuanya rela kami korbankan demi kemerdekaan Tanah Air, kehormatan bangsa dan kemualiaan agama " Terngiang lagi ucapan kakek. Dan sekarang setelah Tanah Air merdeka, berkali-kali diguncang, hingga kini semakin carut-marut ?"
"Nah, jadi begitulah duduk persoalannya. Bagaimana? Bung Badi, apa Saudara sudah mengerti penjelasan saya?" Suara berat Pak Maman membuat keberadaanya kembali di sebuah ruangan AC dan sederhana sekali. Ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk, tergagap menyahut."Ya, ya, saya mengerti, Pak " Ha, apa yang telah dipahaminya dari uraian lelaki itu mengenai kejujuran sang atasan? Bahwa Pak Bupati hanya menjalankan perintah dari seorang mantan pejabat tinggi di pusat, itukah yang dipahaminya? Bagaimana dengan tekanan pemrednya, agar mengorek tuntas kasus proyek fiktif itu?
"Ini alamat rumah beliau di Bandung "
"Beliau siapa?" cetusnya rikuh, gamang.
Pak Maman mengerutkan alisnya, tapi kemudian ia tersenyum maklum.
"Investor proyek fiktif itu, tentu saja. Bung akan mengkonfirmasikannya kesana, bukan?"
"Oh, ya, tentu saja Baiklah, Pak, kalau begitu saya pamit!" gegas ia menyambar secarik kertas di hadapannya.
Pak Maman tergopoh-gopoh mengejarnya. "Ini, jangan ditinggalkan lho Kang uang perasaan," bisiknya sambil menyelipkan amplop ke telapak tangannya. Ada yang membakar ubun-ubunnya seketika, hingga hawa panasnya merambah ke wajah, dada, ke mana-mana. Ia tergesa-gesa meninggalkan ruangan yang terasa mendadak gerah.
"Sudah beres, Kang?" Mang Lilih menyapa di tempat parkir.
"Eeh, ya, ya "Aduh, kenapa dirinya mendadak merasa seperti maling yang kepergo?
"Ada yang ketinggalan, Kang?"
"Tidak ini buatmu, Mang!" diselipkannya selembar puluhan ribu ke tangan lelaki tua itu.
"Apa ini?"
"Lumayanlah Mang, buat rokok "
"Oh jangan Kang, jangan beri apa-apa!"
Mang Lili begitu cepat mengembalikannya ke saku kemeja pemuda itu. Lantas begitu cepat pula ia berlalu, meninggalkannya dalam perasaan gamang yang menyiksa. Sadarlah Badi, sejak saat ini nuraninya telah terpasung. Dan langit di atasnya tampak semakin merona kelabu.

DIMANA AYAH

Diposting oleh Masakan On 17.56 0 komentar
Alwi tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja hadir sosok laki-laki selain dirinya di rumah ini. Ketika anak umur tujuh tahun itu bertanya pada Ibu, jawabannya singkat, “ Dia Bapak barumu.”
Alwi diam terkejut.
“ Kok diam? Katanya mau Bapak. Jadi enggak mau nih.” Ibu tersenyum.
Alwi tertawa. Dia gembira bukan alang kepalang. “ Asyiiik, akhirnya punya Bapak.” Alwi lompat kegirangan. Selama ini kata Bapak hanya hadir dalam bait tanya. Alwi tak pernah tahu siapa Bapaknya. Kata Ibu, Bapak tenggelam di laut sewaktu hendak berangkat ke Arab. Tetangga bilangnya lain lagi. Mereka bilang Alwi anak haram.
Sewaktu Alwi disebut-sebut sebagai anak haram, gembiranya bukan main. Ternyata aku anaknya Haram, pikirnya. Ternyata selama ini dia punya Bapak yang bernama Haram. Namun lama-lama sebalnya bukan main. Wince tidak boleh bermain dengan Alwi oleh ibunya hanya karena dia anak haram.
“ Jangan pergi main sama Alwi! Dia anak haram, tahu!” kata ibu Wince suatu hari.
“ Memangnya kenapa kalau Aku anak haram?” tanya Alwi marah.
“ Kamu bukan anak baik-baik!” Pintu rumah Wince ditutup.
Alwi kesal. Sambil menghentak-hentakkan kaki, dia pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah dia langsung mencari ibunya.
“ Bu, memangnya kenapa kalau aku anak Haram?”
Ibunya yang sedang memasak tersentak kaget. “ Siapa yang bilang?!”
“ Ibunya Wince.”
Ibu terdiam. Dia hanya menghela napas
“ Bu, memangnya Pak Haram itu bukan orang baik-baik? Penjahat ya? Ah, kalau begitu aku tidak mau jadi anaknya Pak Haram. Aku anak Ibu saja.”
Ibu tersenyum. “ Ya, kamu anaknya Ibu saja.”
Sejak saat itu, setiap disebut-sebut sebagai anak haram, Alwi marah besar.
“ Aku bukan anak Haram. Aku anak Ibu saja!” teriaknya selalu.
Tapi seringkali ia iri pada teman-temannya yang mempunyai bapak.
Sekarang Alwi sedang menatap satu sosok di depannya. Lelaki itu sedang duduk-duduk santai. Kakinya dinaikan sebelah ke atas bangku. Mulutnya mengepulkan asap rokok sambil sesekali menyeruput segelas kopi. Alwi menghirup dalam-dalam aroma kopi yang begitu nikmat. Dia pikir beginilah yang dilakukan lelaki dewasa di pagi hari. Ingin sekali dia ikut meminum segelas kopi. Tapi dia enggan pergi ke dapur atau minta dibuatkan Ibu. Dia asyik memandang lelaki yang kini menjadi bapaknya.
“ Alwi!”
Badan Alwi berdesir sebentar. Namanya dipanggil. Belum pernah ada suara sebesar itu yang memanggilnya di dalam rumah ini.
“ Ya Pak.”
“ Beli nasi uduk sana.” Lelaki itu mengeluarkan uang dari saku celananya.
“ Ya Pak.”
Alwi menyambar uang dari tangan lelaki itu. Dia berlari sambil sesekali lompat kegirangan. Baru kali ini tangan seorang lelaki besar memberinya uang. Biasanya jika ibu menyuruhnya membeli nasi uduk, Alwi seringkali malas. Dia akan cemberut. “ Beli nasi uduk itu tugasnya ibu-ibu,” begitu katanya selalu.
Ternyata punya Bapak itu menyenangkan Alwi. Setiap pagi, ketika Bapak pergi kerja, dia akan ikut bonceng motor Bapak. Dan Bapak akan menurunkannya di sekolah. Alwi akan duduk di atas motor dengan gagah. Dan orang-orang akan saling berbisik, “ Siapa tuh yang boncengin Alwi?”
“ Marko. Mandor penggilingan padi Juragan Rahmat. Sekarang dia jadi Bapak barunya Alwi.”
Ketika sore tiba, Alwi akan buru-buru mandi. Dia akan duduk dengan manis di depan rumah. Kalau ditanya sedang apa, dia akan menjawab,” Tunggu Bapak.”
Adanya seorang lelaki besar menambah hangat suasana rumah. Jika malam tiba Alwi dengan semangat bercerita pada lelaki besar itu tentang siangnya. Dia akan bercerita kalau tadi siang dia bersama teman-teman pergi ke sawah menangkap kepiting. Sedang asyik-asyiknya menangkap kepiting, temannya yang gendut terpeleset dan jatuh ke dalam lumpur sawah. Lelaki besar itu dan ibunya pun tertawa mendengar cerita Alwi . Sekarang tidak hanya jangkrik yang terdengar dari rumah Alwi, tapi juga suara hingar bingar penghuninya.
Dengan teman-teman lainnya, Alwi pun tidak lagi merasa iri dan minder. Setiap kali teman-temannya bercerita tentang bapak mereka, Alwi tidak lagi terdiam. Sekarang Alwi malah paling sering bercerita tentang Bapak barunya. Teman-temannya dengan pandangan takjub mendengarkan cerita Alwi. Buat mereka mempunyai bapak baru merupakan hal yang aneh.
“ Bapak baruku punya gambar kalajengking di badannya. Warnanya hitam. Besar sekali. Kira-kira besarnya segini.” Alwi memperlihatkan tangannya yang meregang ke hadapan teman-temannya.
“ Wah besar sekali.” seru teman-temannya.
“ Kata Bapak baruku namanya tato. Cara menggambarnya serem lho. Pakai jarum panas.”
“ Iiih, pasti sakit deh,” ujar seorang temannya.
“ Iya dong, tapi Bapak baruku itu-kan orang hebat. Dia tidak menangis sama sekali. Kalau aku sudah besar aku akan bikin gambar banteng di badanku.”
“ Kalau aku gambar singa,” teman yang lain menimpali. Mereka kemudian saling berebutan menyebutkan benda-benda yang akan di gambar di atas tubuhnya jika besar kelak.
“ Wah Bapak barumu hebat yah,” celetuk seorang anak tiba-tiba.
“ Iya dong!” Alwi tersenyum bangga.
Tapi tiba-tiba semuanya berubah. Alwi tak mengerti. Setiap hari Bapak barunya marah-marah. “ Harga solar naik. Produksi padi makin berkurang. Gajiku dipotong Juragan Rahmat. Brengsek!”
Makin hari suasana rumah makin tidak enak. Ibu sekarang sering mengeluh harga minyak tanah naik. Alwi yang tidak mengerti apa-apa, jatah jajannya dikurangi. Pernah satu kali Alwi menangis keras karena tidak dibelikan es cincau yang lewat di depan rumah. Dan baru berhenti ketika Bapak membentaknya, “ Diam!” Alwi berlari menuju pelukan Ibu dan terisak-isak menahan tangis. Saat itu dia takut sekali pada Bapak barunya.
Suatu malam dari ruang makan, Ibu memanggil Alwi. Bapak juga sudah ada di sana. Di atas meja sudah terhidang pisang goreng kesukaannya.
“ Alwi, ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan.”
Alwi hanya memandang ibu. Mulutnya sibuk dengan kunyahan pisang goreng.
Ibu mengelus kepala Alwi. “ Alwi, sekarang apa-apa mahal. Gaji Bapakmu tidak cukup untuk kita semua. Ibu memutuskan untuk bekerja membantu Bapak.”
“ Kerja di mana Bu?” Mata Alwi menatap Ibu dan Bapak bergantian.
“ Di Arab.”
“ Lho, kok di Arab? Sekolah Alwi bagaimana?”
“ Alwi nggak ikut. Alwi di sini sama Bapak.”
Alwi menatap Bapak dan Bapak mengangguk.
“ Alwi nggak mau! Alwi ikut Ibu saja!” Alwi mulai menangis.
Ibu dan Bapak mencoba mendiamkannya. Beribu bujuk rayu dicoba, Alwi tetap menangis sambil sesekali teriak, “ Alwi nggak mau!”
Bapak terlihat mulai kesal. Ibu mulai resah dan mencoba membujuk Alwi dengan uang lima ratus rupiah. Alwi menggeleng kemudian lari ke kamar. Dia terisak-isak sambil telungkup di atas kasur. Lama-lama matanya lelah kemudian terpejam. Sayup-sayup terdengar suara ibu, “ Ibu kerja ke Arab buat Alwi juga. Buat sekolah Alwi.”
Esoknya badan Alwi panas. Ibu sibuk mengkompresnya dengan air dingin. Alwi tidak melihat Bapak. Kata ibu, Bapak sudah pergi pagi-pagi sekali. Ibu juga sama sekali tidak menyinggung soal kepergiannya ke Arab. Sorenya, tiba-tiba Bapak pulang membawa sekantong plastik jeruk.
“ Alwi cepat sembuh, ya,” kata Bapak.
“ Iya, Pak,” ujar Alwi.
Bapak mengupas sebuah jeruk dan diberikannya pada Alwi. Alwi senang sekali Bapak tidak marah. Panas Alwi mulai turun. Alwi aktif bermain lagi. Makin hari, Bapak makin sering bersama Alwi. Bapak mengajaknya bercanda, mancing dan main bola. Hingga suatu hari.
“ Motor Bapak kemana? Alwi kangen ingin jalan-jalan lagi pakai motor Bapak.”
“ Alwi sayang Ibu nggak?” tanya Bapak.
Alwi mengangguk.
“ Sayang Bapak nggak?”
“ Ehm, sayang deh,” Alwi tersenyum kecil.
“ Kalau begitu, izinkan Ibu pergi ke Arab. Bapak janji Bapak akan mengurus Alwi dengan baik.” Mata bapak menatap Alwi penuh harap.
“ Bapak enggak akan marahin Alwi lagi ?”
“ Enggak. Bapak janji nggak bakalan marahin Alwi.”
“ Janji?!”
“ Janji.”
“ Terus motor Bapak kemana?”
“ Dijual.” Bapak tersenyum lebar. “ kita pakai sepeda saja, ya, Wi.”
“ Yaaah, sepeda.” Alwi terkekeh.
Akhirnya Ibu pergi juga. Motor Bapak ternyata dijual untuk membiayai keberangkatan Ibu. Alwi mendengar ibu berkata pada Bapak,” Titip Alwi ya, Kang!” Bapak mengangguk. Meski Alwi janji tidak menangis, dia tetap menangis ketika ibu melambaikan tangan di ujung jalan. Alwi tetap berdiri di ujung jalan meski mobil yang membawa Ibu sudah tidak kelihatan lagi. Akhirnya Bapak menggendong Alwi pulang ke rumah.
Rumah jadi sepi sejak Ibu tak ada. Bapak juga jarang pulang. Awalnya Alwi sering menangis karena merasa takut sendirian di rumah. Lama-lama Alwi jadi terbiasa. Bahkan ketika di meja tidak ada makanan, Alwi akan pergi ke rumah Bi Irah, teman Ibu yang baik hati. Tapi yang tidak bisa ditahan Alwi adalah rasa rindunya pada Ibu. Dia bisa menangis seharian kalau rindu pada Ibu.
Kata Bi Irah, Alwi harus rajin-rajin berdoa untuk Ibu. Dengan begitu rasa rindu Alwi akan terobati. Alwi tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Akhirnya dia pergi ke mushalla untuk belajar berdoa. Di mushalla, dia tidak sekedar belajar berdoa, tapi juga belajar shalat dan mengaji.
Sekarang Bapak menjadi sosok asing buat Alwi. Mereka tidak lagi akrab seperti dulu. Bapak hanya sesekali pulang ke rumah. Bapak juga tidak lagi memberinya uang. Sepulang sekolah, Alwi jadi sering ke pasar. Bersama temannya Adi, dia menjadi kuli panggul, membantu ibu-ibu yang keberatan membawa belanjaannya. Lumayan bisa buat makan dan jajan. Tapi yang bikin Alwi pusing, bagaimana dia membayar uang sekolahnya. Alwi ingin bertanya pada Bapak, tapi rasa takut menghinggapinya. Hingga suatu pagi ketika Bapak baru saja pulang.
“ Pak, Alwi belum bayaran sekolah empat bulan.”
“ Enggak ada duit!” bentak Bapak.
“ Uang dari ibu “
Belum selesai Alwi berkata, Bapak sudah menarik tangannya dengan kasar.
“ Enggak ada duit, tahu!” suara Bapak makin meninggi. Bapak menghadapkan wajahnya ke wajah Alwi. Matanya melotot. Dari mulutnya, Alwi mencium sesuatu yang aneh.
Alwi mulai terisak.
Tiba-tiba Bapak membanting Alwi keras. “ Dasar anak nggak tahu diuntung.”
Alwi tersungkur ke lantai. Bapak mulai memukuli Alwi.
“ Ampun, Pak, ampun.” Alwi mengaduh.
“ Jangan panggil aku bapak! Aku bukan bapakmu. Kamu anak haram.” Bapak kalap.
Alwi kaget. Hatinya berdesir hebat. Kata itu terdengar lagi. Aku anak haram, batinnya. Kata anak haram terngiang-ngiang di kupingnya. Alwi ingin tahu arti anak haram.
“ Wak Haji, anak haram itu apa?” tanya Alwi pada Wak haji seusai mengaji.
Wak Haji tersenyum. “ Dalam Islam enggak ada tuh, yang namanya anak haram. Semua anak terlahir dalam keadaan suci. Kalau ada yang haram, mungkin orangtuanya saja yang melakukan perbuatan haram.”
“ Artinya apaan Wak Haji?” tanya Alwi serius.
“ Duh, nih anak. Bapak-Ibunya punya anak tapi enggak nikah. Ngerti Wi?”
Alwi tercenung. Alwi bertanya-tanya dalam hati, apakah Bapak kandungnya dan Ibu berbuat seperti apa yang dikatakan Wak Haji. Mulai timbul kecewa dalam hati Alwi. Tega-teganya Ibu berbuat itu pada Alwi. Dan dimana Bapak kandungnya. Alwi marah. Ditendangnya kerikil dihadapannya. Kemudian Alwi lari sekencang-kencangnya menuju rumah. Air matanya mengalir deras.
Batinnya terus berteriak-teriak, kenapa semua ini menimpanya? Dimana Bapak? Andai Ibu ada di hadapannya, akan dia tanya tentang semua itu.
Alwi sudah berada di depan rumah. Napasnya memburu. Keringat membasahi tubuhnya. Baru saja dia akan membuka pintu rumah, dia mendengar suara perempuan tertawa diselingi suara besar lelaki yang beberapa bulan ini dia panggil Bapak. Alwi mengurungkan niatnya membuka pintu. Dia berjalan berjingkat ke belakang. Suara perempuan itu bukan suara Ibu, tapi sekarang ada di kamar Ibu.
Alwi tidak mengerti sedang apa mereka, tapi ada perasaan jijik di hati Alwi. Alwi memasuki rumah dari pintu belakang. Perlahan dia masuk ke kamarnya dan mengambil barang seperlunya. Diraihnya celengan ayam pemberian Ibu dari dalam lemari. Alwi bergegas keluar rumah. Di luar rumah, Alwi berteriak-teriak memanggil tetangga. Ada bentakan dari dalam rumah, menyuruhnya untuk diam. Alwi tidak peduli. Dia terus berteriak hingga tetangga berdatangan kemudian Alwi lari meninggalkan rumah.
Alwi terus berlari hingga ke ujung jalan tempat dia melepas ibu. Rintik hujan mulai turun. Alwi menatap jauh ke depan. Tekadnya sudah bulat. Dia akan mengejar Ibu. Dia akan meminta Ibu menjawab semua pertanyaan yang memenuhi dadanya.
Kampung Rawa, 17 Januari 03
Untuk seorang adik kecil yang bertanya di mana letak terminal

Di atas Langit Australia, 8 Oktober 2002
Aku terperangah menyaksikan akhir film Autumn in New York. Tragis dan menyedihkan. Richard Gere yang melakonkan Will Keane, juragan restoran setengah baya di New York itu, harus menangis karena kekasihnya Winona Ryder yang melakonkan Charlotte Fielding yang masih belia meninggal karena penyakit kronis yang dideritanya.
Aku teringat Cindy, istri Australia-ku yang kunikahi empat tahun silam. Empat tahun menikah, tak sekalipun ia mau ke Indonesia. Pun sekarang, saat aku harus ke Bandung untuk menikahkan Sarah, adik bungsuku.
Cindy adalah tipikal perempuan Aussie. Mandiri, humanis, fair, assertif, namun begitu cuek dengan keluarga. Jangankan urusan pernikahan, ketika ayah meninggal empat bulan silam-pun Cindy enggan ke Jakarta. “ Take it easy, Tommy, semua orang pasti mati,” katanya santai.
Cindy tumbuh dalam keluarga broken home. Ayah ibunya bercerai ketika ia berusia tiga tahun. Cindy tumbuh matang dan mandiri. Ia bekerja dan belajar 16 jam sehari. Tanpa keluhan. Pagi hari bersekolah, sore dan malam hari menjadi pelayan restoran. Ia menamatkan high school-nya dan melanjutkan ke School of Law, di Sydney hingga mencapai gelar master bidang hukum internasional dengan predikat summa cum laude. Sesudahnya, dunia begitu ramah bagi Cindy. Hampir semua law firm besar di kota ini melamarnya. Cindy memilih salah satu yang terbesar. Semuanya berjalan begitu lugas, sampai ia bertemu aku yang dikirim untuk studi S-3 dan magang di kantor mitra asing kami di Sydney, Krueger and Associates.
Studi di University of New South Wales sambil magang bukanlah pekerjaan mudah. Aku hampir tak memiliki waktu untuk kehidupan sosialku. Aku nyaris tak punya waktu untuk manusia. Kecuali tiga jam saja setiap pekan, ketika shalat Jum”at di Masjid Indonesia Wabash Street, dan pengajian Ahad.
Pada saat-saat sibuk itu, ternyata ada sepasang mata yang selalu memperhatikanku. Aku tak sadar sampai pemilik mata biru ini menegurku dengan bahasa Inggris aksen Australia yang khas. “ Mengapa anda selalu menggelar kain merah dan sujud ke arah barat laut setiap pukul dua siang, lima sore, delapan sore, dan sembilan malam? Apakah anda pengikut suatu aliran kepercayaan di Asia Selatan?” Tanya pemilik mata biru tersebut setengah menyelidik.
“ Oh No. Saya seorang muslim. Seorang muslim wajib melaksanakan ibadah shalat lima kali setiap hari,” jawabku sedikit heran. Tak biasa wanita Aussie membuka percakapan dengan pria asing.
Kemudian dialog pun mengalir lancar. Si mata biru itu ternyata Cindy Stuart Masterson, junior lawyer di Krueger sekaligus kandidat Doktor di UNSW.
Perjumpaan yang semakin sering membuat kami saling tertarik, sampai suatu hari Cindy menanyaiku serius, “ Tommy, will you marry me?” Aku kontan gelagapan. Akhirnya, aku hanya berkata, “ Ah, ya. Insya Allah!”
Kami menikah pada 21 Februari 1997. Sepekan setelah Iedul Fitri 1417 H. Dua hari sebelumnya Cindy mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Wabash Street. Imam masjid memberinya nama Aisyah Muthmainah.
Setahun pertama pernikahan, kami adalah pasangan yang amat harmonis. Petaka mulai timbul setelah anak pertama kami lahir. Aku ngotot memberinya nama Islam, Faiz atau Raihan. Cindy protes. “ Aku akan memberinya nama Ian.” Aku malas berdebat. Setelah kejadian itu Cindy menjadi sangat berkuasa. Cindy-lah yang menentukan Ian sekolah dimana. Makan apa. Boleh ke masjid atau tidak.
Ketika anak kedua kami lahir, aku ingin memberinya nama Nadia atau Yasmin, yang kurasa agak akrab dengan telinga Australia. “ No, Tommy. Namanya Nicole. Ia akan seperti Nicole Kidman. Mudah-mudahan ia akan mulus menapak Hollywood seperti Nicole Kidman,” lanjut Cindy santai.
Cindy semakin sulit diatur. Janjinya untuk belajar Islam, membaca Al Qur”an, dan shalat tak pernah terwujud. Ia pun membatasi Ian dan Nicole untuk berinteraksi dengan komunitas muslim Indonesia. Rencanaku untuk membawanya pindah ke kawasan muslim Lakemba juga ditolaknya mentah-mentah.
Kesabaranku habis saat Cindy enggan ta”ziah ke Bandung saat ayah meninggal empat bulan yang lalu. Pekerjaannya terlalu berharga baginya. Mertuanya tak lebih berharga dari appointment dan contract yang harus dibuatnya. Tragisnya, Cindy melarang aku membawa Ian dan Nicole dengan alasan takut terkena virus tropis Indonesia. Dua minggu kemudian aku meninggalkan rumah tanpa pamit. Sudah hampir tiga bulan aku \lquote menggelandang” dari rumah ke rumah teman-teman Indonesiaku. Malam hari aku tidur di masjid, siang belajar di UNSW. Aku tak pernah lagi ke Krueger and Associates. Aku belum sanggup bertemu Cindy.
Permintaan Sarah via e-mail sepekan silam menghentikan petualanganku. Aku senang pulang ke Indonesia. Satu saja yang membuatku resah. Permintaan Sarah : bawa Teh Cindy, Ian, dan Nicole, ya Mas”!
Bandung, 11 Oktober 2002
Pernikahan Sarah dan Syamsul tergolong unik. Perkenalan, lamaran, dan akad nikah semuanya berlangsung kilat. Tukar menukar biodata berlangsung via internet, telepon dan teleconference. Baru empat hari mereka berjumpa. Allah menyatukan hati mereka kendati mereka tak sempat mengenal lama satu sama lain.
Aku \lquote cemburu” melihat kemesraan Sarah dan Syamsul. Sedangkan aku? Pergi dari Sydney seorang diri setelah \lquote terusir” dari rumah. Meninggalkan istri dan dua anak yang masih balita tanpa pamit.
Sabtu, 12 Oktober 2002
Aku berkemas-kemas. Sore nanti flight Ansett Aussie 247 tujuan Sydney telah menungguku di Bandara Soekarno Hatta. Aku tengah memasukkan oleh-oleh Ibu ke dalam tas, ketika berita tentang meledaknya bom di Bali kudengar di televisi. Innalillahi, Bali diserang? Dan kebanyakan korbannya adalah warga Australia. Negeri keduaku tanah tumpah darah istriku.
Belum habis rasa terkejutku, setengah jam kemudian aku mendengar semua penerbangan ke Australia ditunda sampai waktu yang tak ditentukan.
Senin, 14 Oktober 2001
Headlines Sydney News yang aku baca via internet sungguh mengejutkanku. Gelombang anti muslim dan anti Indonesia yang merebak di seluruh Australia pasca ledakan bom di Bali memakan korban warga muslim mancanegara yang tinggal disana. Islamic Center dan Masjid di Brisbane-Queensland diserang. Juga di Perth, Western Australia. Kata-kata kotor dituliskan di tembok masjid, bahkan kotoran manusia dilemparkan ke masjid.
Beberapa muslim Indonesia di Sydney, Melbourne, dan Perth diinterograsi oleh dinas intelijen Australia. Beberapa diinterogasi dan digeledah rumahnya dengan sangat tidak manusiawi.
Aku murka, sekaligus sedih. Aku teringat shohibku di Masjid Buranda-Holland Park. Terbayang wajah Imam Masjid Brother Abdul Quddus. Juga Brother Dwi dan Seno di University of Queensland.
Rabu, 16 Oktober 2002
Subuh aku tiba kembali di Australia. Petugas imigrasi menginterogasiku habis-habisan. Dia bertahan bahwa aku tak bisa masuk ke Australia karena status visa-ku tidak jelas. Aku ngotot. Aku adalah permanent resident dan bisa menjadi citizen karena menikah dengan wanita Australia. Juga, bahwa aku adalah lawyer dan kandidat doktor di bidang hukum yang bisa menggugatnya ke pengadilan. Ternyata yang terakhir itu mujarab.
Sabtu, 19 Oktober 2002
Hari ini aku giliran jaga malam di masjid Wabash Street. Masjid ini berulangkali menerima ancaman. Jum”at kemarin satu grup pemuda rasis bolak-balik di depan masjid sambil menunjuk-nunjuk masjid.
Jarum jam menunjukkan pukul dua dinihari. Aku membangunkan Brother Bahri untuk bergantian ronda. Lalu bersiap shalat malam. Dari samping tempat wudhu kudengar suara-suara slank Australia dan bunyi cat disemprotkan. Aku menyeret Brother Bahri keluar masjid. Sederet kata-kata kotor di tembok mesjid yang dibuat dengan cat pylox yang masih basah. Kata-kata kasar keluar dari empat mulut berbau minuman keras. Mereka juga mengeluarkan double stick dan pisau.
Kami bersiap menghadapi mereka. Tidak lama kemudian kami telah terlibat perkelahian. Syukurlah, lawan kami tak begitu lihai. Dalam dua menit si tinggi besar roboh. Tragisnya, pisau yang dipegangnya menikam dirinya sendiri.
Aku terhenyak. Kenapa sampai sejauh ini? Raungan sirene polisi semakin dekat. Kami digelandang ke kantor polisi terdekat.
Selasa, 22 Oktober 2002
Tiga hari kami menginap di kantor polisi. Tuduhannya : penganiayaan dan percobaan pembunuhan ! Selama itu kami tetap bungkam. Aku hanya mau bicara kalau aku didamping oleh pengacara. Polisi memberi waktu hingga Kamis jam dua belas siang. Jika kami tidak mendapat pengacara, polisi akan menyediakan pengacara negara. Akankah mereka berpihak pada kami? Aku tidak yakin.
Teman-teman kami telah menghubungi hampir semua pengacara, tapi nihil. Sebenarnya ini perkara biasa. Tapi setting sosial politik-nya tidak biasa. Beribu orang mencaci kami. Gelombang aksi massa menyerbu kantor polisi.
Kamis, 24 Oktober 2002
Hampir jam 12.00. Aku masih belum punya pengacara. Semenit sebelum pukul dua belas. Langkah-langkah panjang polisi penjara memasuki lorong. “ Yeah, lady ini mengajukan diri untuk menjadi pengacara anda,” \lquote Namanya Lady Cindy Stuart Masterson!” Aku tertegun.
Kamis, 5 Desember 2002
Hari ini sidang terakhir. Setelah sebulan lebih menghadiri sidang, kini aku dan Brother Bahri menanti putusan hakim.
Aku dituntut tujuh tahun penjara atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Brother Bahri dituntut empat tahun penjara atas tuduhan penyertaan dalam penganiayaan dan percobaan pembunuhan.
Alhamdulillah, sejak pemeriksaan polisi, pemeriksaan district attorney (kejaksaan) hingga pengadilan di district court aku selalu didampingi Cindy. Pengacara muda lulusan terbaik School of Law UNSW dan sebentar lagi menggaet Ph.D di bidang hukum. Dan, yang terpenting, ia istriku!
Cindy memang luar biasa. Kemampuan beracara-nya sangat piawai. “ Yang mulia, terdakwa harus dibebaskan dari semua tuduhan karena telah terbukti ia tak sedikitpun memiliki niat untuk menganiaya ataupun membunuh. Ia hanya self defense, membela diri karena empat orang berandal menyerang masjid-nya.”
“ Yang mulia, terdakwa harus dibebaskan dari semua tuduhan, pisau itu tidak digenggamnya, bukan miliknya dan tidak diarahkan untuk menusuk korban. Lihat, tak ada satupun sidik jarinya di pisau tersebut. Pisau itu menancap ke tubuh korban oleh peran korban sendiri.
“ Yang mulia, ini tak adil. Terdakwa hanya membela diri dan rumah ibadahnya. Sementara keempat penyerangnya merusak rumah ibadahnya dan menyerangnya denga pisau dan double stick. Kedua terdakwa hanya melawan dengan tangan kosong. Ini tidak seimbang. Ini bela paksa. Sekarang mereka berdua jadi pesakitan, sementara sang penyerang masih bebas berkeliaran.
“ Yang mulia, korban sekarang sudah sembuh dari lukanya. Ia berfikir semua muslim militan, dan kejam.
“ Yang Mulia, itu adalah prasangka. Kalaupun memang benar, bolehkah kita menggeneralisir? menghukum seluruh muslim di seluruh dunia atas kejahatan sekelompok radikal muslim? Ini absurd, irrasional, Yang Mulia. Saya keberatan sekali!
“ Yang Mulia, masjid bagi umat Islam adalah tempat yang sakral. Menyerang tempat ibadah adalah kejahatan HAM Yang Mulia. Crime against humanity and Gross Violation of Human Right.
Setengah jam kemudian hakim District Court Sydney membebaskan kami dari tuduhan.
Aku dan Brother Bahri menangis terharu. Cindy memelukku. Pers memotret kami. Gelombang massa rasis dan ultranasionalis berteriak memprotes putusan hakim. Aku sujud syukur.
Jum”at, 6 Desember 2002
Sydney di akhir musim semi. Sydney Bridge berdiri dengan gagahnya. Di kejauhan, nampak Darling Harbour bermandi cahaya senja.
“ Cindy, Honey, kenapa kamu mau membela aku di pengadilan ? “ tanyaku dalam Bahasa Inggris yang paling santun.
“ Kamu lupa, my dear Tommy. Aku masih istrimu. Aku masih sayang kamu, “ Cindy menyahut mesra.
Hatiku berdebar. “ Hanya itu?” tanyaku gelisah.
“ Tidak. Aku salut. Kamu begitu mencintai Islam, begitu mencintai masjid. Kendati kerap diintimidasi dan dihina. Dalam lima tahun perkawinan kita, kamu tak sekalipun meninggalkan shalat. Aku-lah yang jarang shalat. \lquote
“ Honestly, kami di sini sudah lama tak peduli dengan agama. Buat kami agama adalah ilusi. Agama tak lebih dari urusan pribadi. Di negara ini ada dua pertanyaan yang tabu, kamu juga tahu, agama dan status pernikahan. Karena itu, jika ada orang yang patuh dengan ajaran agamanya kami sangat penasaran. Apa yang membuat dia komit dengan Tuhan-nya?” Kata-kata itu diucapkannya perlahan.
“ Honey, engkau telah membuat mataku terbuka. Mungkin, memang sudah saatnya aku mengikuti langkahmu.”
Aku terharu. Matahari senja 1 Syawal 1423 H bersinar semakin temaram.
Chicago, 13 November 2002
Buat kawan-kawan di Sydney dan Brisbane, salam hangat dan tetap semangat, taqabalallahu minna wa minkum !



Fragmen Si Aji
Hidup buatku pedih. Hidup dengan begitu banyak anggota keluarga tapi rasanya sebatang kara. Tak ada yang bisa diajak tertawa, apalagi menangis. Semua keruh dengan belitan masalah yang mencekik leher; setiap orang melakonkan perannya dengan buruk. Bayangkan, anak-anak yang harus dibiayai, istri yang terus merongrong agar bakul nasi terus terisi, suami pemabuk, ayah yang pemalas, ibu yang nrimo hingga tak mampu berusaha dan seabreg masalah yang terhampar di hadapanku. Aku bisa apa? Hanya menghela nafas sambil berharap.
Ah, hidup! Kapan aku bisa menikmati hidup ? Umur di penghujung tigapuluh, pekerjaan tak tetap, istri belum punya. Aku sering nyengir sendiri kalau melihat bayangan diriku di cermin. Perempuan mana yang mau denganku, pria kurus, bermata cekung dan kantong tipis? Aku jadi sering berkhayal, mungkin nanti aku akan bertemu dengan bidadari. Ya mungkin nanti, kalau masuk surga. He, he, he.
Mimpi bertemu bidadari di surga? Lebih baik aku shalat subuh dulu. Aku bangkit dari tempat tidurku, hasil menjadi kuli tinta di harian Gempita selama enam bulan. Aku merenggangkan tangan sambil menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya lagi. Badanku terasa remuk setelah semalaman begadang mencari inspirasi tulisan.
Aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Tetapi aku terpaksa antri. Si bontot lagi keramas. Sambil duduk di bangku meja makan, aku menguap kemudian ngucek-ngucek mata.
''Ambil wudhu di luar aja Ji!'' suruh emak yang sedang merebus air.
''Ya. Aji mah, kopinya yang rada paitan dikit, Mak!'' kataku sambil ngeloyor ke pintu belakang.
Brrr . Dingin betul udara di luar. Kuedarkan mata. Ada bayangan hitam pohon pisang di sudut halaman. Kata si Bontot, di sana sering ada kuntilanak. Ah peduli nyamuk. Aku sih lebih takut sama nyamuk Aedes agepty yang menyebabkan si Komar meninggal karena demam berdarah daripada sama kuntilanak.
Aku merangkaikan harap di penghujung shalat. Yang kuingin hanya keridhoan-Nya. Kehidupan yang baik untuk dunia dan akheratku. Semoga juga, Dia yang Maha Peduli, menjaga dienku agar aku tidak gelap mata menghalalkan segala cara untuk menyumpal perutku. Biar perutku membusuk kalau ada satu saja makanan haram yang masuk ke dalamnya.
Kepalaku masih sedikit pusing. Kalau tak ingat janji dengan Furqon temanku, mungkin aku akan kembali tidur. Aku seruput kopi pahitku yang disediakan Emak di atas meja. Si Bontot sedang berdandan di depan kaca di ruang tengah. Sambil bersenandung kecil, dia melebarkan sehelai kain putih ke atas kepalanya. Dengan seragam putih abu-abunya ditambah semangatnya untuk bersekolah, Putri mampu memberiku seberkas cahaya untuk terus berusaha. Dia permata hatiku.
''Lagi seneng nih,'' aku menyentuh bahunya dengan ujung jariku.
''Iya, dong! Hari ini kan pengumuman lulus ujian, Bang, '' katanya bergeming dari depan cermin.
Waduh, aku lupa! Putri sudah lulus SMU. Sebentar lagi kuliah.Wah, aku mesti cepat-cepat mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan, nih!
''Bang, hari ini Putri mau sekalian daftar SPMB. Duitnya mana?''
'' SPMB? Apaan tuh?'' tanyaku bingung.
''Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru! Lupa lagi. Ah abang gimana?'' Putri mulai cemberut.
''Iya, ya. Berapa sih?'' aku tidak tega melihat wajahnya.
''Tujuh puluh ribu,'' jawabnya santai.
Tujuh puluh ribu? Mahal betul, pikirku. Padahal, seingatku dulu harganya cuma lima belas ribu rupiah. Aku kembali masuk kamar dan mengambil beberapa lembar uang puluhan ribu dari dompetku.
''Nih,'' kuserahkan uang itu ke tangan putri.
Putri menghitungnya hati-hati. Tiba-tiba mulutnya cemberut.
''Kok pas, Bang?!'' rajuknya.
''lho memang segitu kan,'' Aku jadi bingung.
''Yah, Abang payah. Tambahin sepuluh ribu atau dua puluh ribu, kek. Ini nih, buat nambahin bayar perpisahan,'' katanya.
Demi adik kesayangan, akhirnya kurogoh kantong celanaku lebih dalam.
''Nih, dua puluh ribu. Cukup?''
''Ma Acih, abang sayang,'' Putri menyambar uang dua puluhan dari tanganku kemudian berlari ke kamarnya.
Mataku berbinar sesaat untuk kemudian redup. Ku sambar handuk di gantungan baju belakang pintu kamarku. Kemudian melangkah dengan gontai ke kamar mandi.
***
''Ji, beras paling tinggal tiga hari lagi,'' ujar ibu ketika aku mulai menyuap nasi goreng.
''Ya, mak. Doain aja Aji dapat duit.'' Sahutku.
''Emak sih ngedoain terus. Biar luh cepet dapat kerja yang beneran dan dapat jodoh yang baik,'' kata Emak serius.
Kunyahanku tertahan karena tersedak. Aku tidak berani menatap emak. Aku teruskan saja suapanku. Bagaimana mau kawin? Cari uang buat kehidupan sekarang saja aku sudah setengah mati. Sejak bapak meninggal, aku yang menjadi tulang punggung keluarga. Semula kupikir dengan titel sarjana, aku akan mudah mendapat pekerjaan. Ternyata sulit, apalagi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan visi hidupku.
''Insya Allah, kalau memang sudah waktunya kagak bakal kemana, Mak. Rizki, jodoh ama mati, Allah yang ngatur. Kita sih cuma bisa berusaha.'' Sahutku.
''Iya, kita sih berusaha aja terus ya, Ji. Eh iya, tadi Cicih kesini.'' Kata Emak tiba-tiba.
''Ngapain tuh anak ke sini,'' tanyaku. Tidak biasanya adik nomer duaku itu pagi-pagi bertandang ke rumah.
''Mau pinjam duit buat bayaran anaknya. Si Abas lagi tekor dagangannya. Dua minggu lagi bakalan dibayar kok, Ji,'' sahut Emak.
Aku merogoh saku celana sekali lagi. Ku ambil beberapa lembar uang puluhan dari dompet dan kuletakkan di atas meja.
''Beras masih bisa ngutang kan, Mak,'' kataku akhirnya.
Emak mengangguk. Aku menyeruput teh manis hingga tandas. Kucium tangan emak kemudian pamit.
Hari ini seribu harap ada dalam benakku. Furqon mengajakku bergabung dengannya merilis tabloid baru. Satu kesempatan, semoga saja sesuai dengan harapanku.
Stasiun kereta api tampak ramai. Beratus-ratus orang sudah berdiri di pinggir peron. Aku yang paling enggan berdesakkan dan berebutan tempat duduk hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimana lagi? Janji dengan Furqon jam delapan di Cikini. Terpaksalah jam tujuh sudah harus naik kereta. KRL sudah mulai memasuki jalurnya. Begitu berhenti, brurr semua berebut masuk. Dalam hitungan satu menit, penumpang sudah berjejalan di dalamnya. Beginilah angkutan murah meriah, Bekasi-Jakarta cuma seribu.
Aku menunggu hingga kereta beranjak pergi. Begitu ada pemberitahuan dari ruang informasi kereta akan berangkat, aku langsung bergelantungan di pintu kereta bersama beberapa penumpang lain. Hingar bingar terdengar dari dalam kereta. Suara celoteh perempuan yang terkadang ditimpali sesama dan lawan jenis mulai terdengar. Begitu celotehnya tersambut, tawa pun pecah menggema.
Ketika jalan menikung, aku terdesak dari dalam oleh para penumpang lain. Sekuat tenaga aku bertahan pada pinggiran pintu. Suara teriakan-teriakan genit terdengar lagi. Tiba-tiba, BRUK. Seseorang terjatuh dari kereta, padahal kereta sedang melaju kencang. Dia terguling kemudian diam tak berkutik. Nafasku seolah berhenti. Pandanganku nanar, jantungku seolah berhenti berdetak. Aku alihkan pandanganku ke samping. Anak muda yang berdiri di pintu bersamaku sudah tak ada. Masya Allah, Innalillahi wa inna ilahi roji”un.
Di stasiun berikut aku beringsut masuk ke dalam kereta. Biarlah berdesak-desakan daripada mati konyol terjatuh dari kereta. Siksaan macam ini harus kulalui selama hampir dalam satu jam. Kepalaku masih memikirkan nasib anak muda itu. Dia masih sangat muda, hanya Allah yang tahu nasibnya sekarang. Di stasiun Jatinegara penumpang berkurang, aku sedikit lebih bisa bernafas. Begitu sampai stasiun Cikini, aku bergegas turun. Di depan wartel, Furqon sudah menunggu. Aku tersenyum padanya, dia pun tersenyum.
''Sudah makan?'' tanyanya.
Aku menerima tawaran Furqon. Perjuangan di atas kereta cukup menguras energi yang dihasilkan sarapanku tadi di rumah. Furqon mengajakku makan di sebuah kantin di bawah stasiun. Sambil makan kami bercerita tentang masa mahasiswa kami dulu. Diselingi tawa dan canda. Aku dan Furqon memang kawan lama. Begitu lulus dia dapat kerja jadi reporter di Surabaya. Sementara aku tetap di Jakarta mengurus bapak yang sedang sakit.
''Jadi gimana, Qon?'' tanyaku.
''begini, aku dapat tawaran dari orang-orang berduit untuk bikin satu situs.''
''Situs apaan?''
''Itu lho, yang laku di zaman sekarang.''
''Apaan sih?''
''Itu lho, situs bayi baru bisa merangkak.''
''Situs porno! Gila luh Qon, nawarin gituan sama gue. Luh sama aja nawarin tiang gantungan ke gue. Kamu kan tahu, waktu aku di Metropolis saja aku mengundurkan diri. Padahal aku mau dipromosiin jadi redpel. Satu alasanku, karena Metropolis sudah enggak obyektif lagi. Konkalingkong dengan beberapa pejabat tertentu. Itu namanya bukan jurnalis murni. Ini pakai nawarin yang kayak gituan. Binatang luh!''
''Eit, jangan marah dulu. Aku bencanda kok, Ji. Ternyata Aji yang sekarang enggak beda dengan yang dulu. Tetap idealis. Top deh.''
''Becanda. Keterlaluan kamu, Qon. Aku tuh sudah serius setengah mati,'' aku bernafas lega.
''Aku tidak bakal bikin hal-hal yang kayak gitu. Aku sekarang dapat amanah bikin satu media Islam. Yang jernih, full of vision dan tidak emosional. Dan aku pikir dengan kemampuan investigasimu yang cemerlang, media ini bisa lebih mencerahkan.''
''Media Islam? Aku?''
''Iya, kenapa enggak.''
''Aku khawatir tidak mampu.''
''Kita tidak sendiri, insya Allah akan ada beberapa orang yang mempunyai visi dan misi yang sama dan berasal dari berbagai disiplin ilmu.''
''Kalau kau yakin, aku akan berusaha berbuat sebaik mungkin. Aku tidak mau mengecewakanmu, tapi pengetahuanku akan Islam sedikit.''
''Kita akan belajar. Kamu tidak bosan belajar, kan. Paling tidak belajar meredam emosimu.''
''Insya Allah, dengan dzikir kan''
''Tapi salarynya tidak sebesar waktu kau di Metropolis.''
''Ya, tidak apa-apa. Yang penting berkah.''
''Amin. Ngomong-ngomong bagaimana kabarnya Putri?''
''Sudah lulus SMU. Mau kuliah dia.''
''Terus sudah ketemu belum sama bidadari tambatan hati? Kamu ini gimana, aku saja sudah punya tiga anak.''
Ah, kawin lagi. Saat ini aku sedang asyik menikmati kata nikmat. Selama ini aku salah mengintrepetasikan kata nikmat. Nikmat bukan hanya yang senang-senang saja. Nikmati lebih pada rasa. Rasa syukur karena masih ingat kalau diri ini hanya seorang hamba. Rasa tercukupi segala kebutuhan. Aku benar-benar merasa Allah Maha peduli. Ketika aku sudah di ujung pasrah, Allah memberikanku jalan keluar. Indah bukan. Anganku mengembara pada Putri, juga seorang bidadari di sampingku kelak. Aku tidak akan sendiri lagi ketika masalah membelit leherku.
Setengah jam kami nongkrong di kantin itu. Furqon pamit, kami berjanji ketemu dua hari lagi. Furqon juga memintaku untuk membuat beberapa konsep tabloid yang akan kami buat. Di depan kantin ada lapak penjual majalah dan koran. Aku mengambil beberapa majalah edisi terbaru. Begitu merogoh dompet ingin membayar, aku melongo.
''Kenapa, Ji.'' Furqon menatapku heran.
Aku tersenyum. Uangku di dompet tinggal seribu rupiah. Uangku sudah habis buat bayar SPMB dan perpisahan Putri juga untuk bayaran anak-anaknya Cicih.
''Ini pakai uangku saja dulu,'' Furqon menyorongkan uang seratus ribu ke arahku.
''Potong gaji pertama, ya Qon.'' Aku tersenyum kecut.
''Beres.'' Furqon tersenyum.

Untuk asa di hati.