POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Tampilkan postingan dengan label gs2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gs2008. Tampilkan semua postingan

Di sadur dari http://www.malingsia.com/?p=289

Seorang teman membuat saya tersentak hari ini, “Njie, budaya kotamu diambil Malaysia.”

Kalimat diatas membuat saya langsung berfikir keras ?
“Budaya kotaku ?”
“Iya, Reog Ponorogo itu lho ?”

Kemudian dari link yang diberikan oleh teman saya tersebut, saya mulai menelusuri satu per satu hingga sampai di sebuah bagian yang judulnya Tarian Barongan.

Silahkan Anda mengikuti langkah saya :
http://www.heritage.gov.my/ >> Kesenian >> Tarian >> Tarian Tradisional Melayu >> Tarian Barongan (option ke lima dari atas)

Anda akan disuguhi kata-kata seperti ini :

Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.

Kontan saya terperanjat ! Dari fotonya saya yakin betul bahwa itu mirip sekali dengan kesenian dari kota kelahiran saya, Ponorogo - Jawa Timur. Saya lahir dan besar di Kota Reog ini. Saya hafal setiap bentuk dari Reog, riwayat dan asal-usul kesenian yang juga menjadi simbol dari Propinsi Jawa Timur ini.

Silahkan kunjungi website kota Ponorogo, dan Anda akan disuguhi tampilan dari Reog yang mirip dengan Tarian Barongan dari Malaysia ini.
http://reog.ponorogo.go.id/

Menurut cerita kelahiran kesenian Reog dimulai pada tahun saka 900. Dilatarbelakangi kisah tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana, Raja Kerajaan Bantarangin yang sedang mencari calon Permaisurinya. Bersama prajurit berkuda, dan patihnya yang setia, Bujangganong. Akhirnya gadis pujaan hatinya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri Kediri. Namun sang putri menetapkan syarat agar sang prabu menciptakan sebuah kesenian baru terlebih dahulu sebelum dia menerima cinta sang Raja. Maka dari situlah terciptalah kesenian Reog.



Bentuk Reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran yang maknanya bahwa sang Raja (kepala harimau) sudah disetir atau sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (burung merak).

Biasanya satu group dalam pertunjukan Reog terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong, penari Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya.

Tulisan Reog sendiri asalnya dari Reyog, yang huruf-hurufnya mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: rasa kidung/ingwang sukma adiluhung/Yang Widhi/olah kridaning Gusti/gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa.

Penggantian Reyog menjadi Reog-yang disebutkan untuk “kepentingan pembangunan”- saat itu sempat menimbulkan polemik. Bupati Ponorogo Markum Singodimejo yang mencetuskan nama Reog (Resik, Endah, Omber, Girang gemirang) tetap mempertahankannya sebagai slogan resmi Kabupaten Ponorogo.

Alur cerita pementasan Reog yaitu warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, barulah barongan atau dadak merak di bagian akhir. Ketika salah satu unsur di atas sedang beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.

Adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Sumber : berbagai sumber

Sebagai masyarakat Ponorogo asli, jujur saya sedih dengan adanya berita ini. Sepertinya budaya asli Indonesia mulai diangkuti satu per satu oleh malingsia.

Sejak kasus Sipadan-Ligitan, Ambalat, pemukulan wasit dan penyiksaan TKI kita di malingsia, Pematenan lagu Rasa sayange, Ilir-ilir, Indung-Indung, Si Jali-jali, batik, wayang, angklung, dll, saya pribadi sangat menyayangkan sikap Pemerintah malingsia yang seolah-olah arogan terhadap bangsa serumpunnya, yakni Indonesia.

Indonesia ? Kapan Anda sadar akan imperialisme perlahan-lahan seperti ini ?
sumber : http://ihatemalingsia.blogspot.com/2007/12/reog-ponorogo-indonesia-vs-tarian.html

Batik Indonesia Di Klaim Milik Malaysia

Diposting oleh Masakan On 22.39 0 komentar
Wah kenapa seh negara tetangga kita ini selalu cari masalah dan perkara sma orang INdonesia padahal dulu mereka sangat menghormati bangsa Indonesia dan mereka juga bisa seperti sekarang ini karena Indonesia.Kenapa seh sekarang Malaysia jadi asak ngomong dan asal ngaku2 aja barang milik Negara Indonesia kita ini apa karena sekarang Indonesia sedang jatuh dan warganya bodoh2 dan Malaysia dengan sombongnya sudah menjadi negara maju.Ada apa denganmu Malaysia???kenapa Kamu jadi begini menjadi bangsa yang gak berpendidikan dan mengaku2 punya Indonesia kamu akui juga.....jangan sampai terjadi PErang Dunia 3......



JAKARTA - Departemen Hukum dan HAM (Depkum HAM) dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) akan mendaftarkan ratusan ribu kebudayaan Tanah Air yang sampai saat ini masih belum terdaftar sebagai hak kekayaan intelektual.

Hal tersebut dilakukan dua instansi tersebut sebagai langkah antisipasi adanya klaim atas kebudayaan Indonesia oleh negara lain.

"Kami bekerja sama dengan Budpar untuk mendaftarkan budaya kita di HAKI. Ada ratusan ribu seperti reog ponorogo, kesenian, patung, arca, belum lagi cerita rakyat seperti malin kundang. Lama-lama nanti itu diklaim pula," ungkap Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Andi Mattalatta usai mengikuti gerak jalan sehat dalam rangka pembukaan kegiatan Hari Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Sedunia ke-8, di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (27/4/2008).

Sebagai contoh, menurut Andi saat ini seluruh produk batik hasil industri dalam negeri sudah diwajibkan diberi logo batik Indonesia.

"Sekarang untuk batik Indonesia ada logo batik Indonesia. Sekarang semua batik produksi Indonesia diwajibkan mengenakan logo batik Indonesia, di luar itu berarti palsu," imbuhnya.(jri)

sumber : okezone