POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan (Islami). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan (Islami). Tampilkan semua postingan

EMPAT ORANG YANG DIRINDUKAN SURGA

Diposting oleh Masakan On 19.13 0 komentar
Kita yakin… siapapun kita, pada strata sosial manapun kita, apapun prosfesi kita, dibumi manapun kita berpijak pasti mau menjadi orang yang dirindukan oleh syurganya Allah SWT. Tempat yang di idam-idamkan oleh seluruh makhluk Allah, tempat yang tidak terdengar di dalamnya perkataan yang tak berguna,sia- sia dan dusta, didalamnya ada mata air yang mengalir, takhta-takhta yang ditinggikan, gelas-gelas berisi minuman yang terletak dekat, bantal-bantal sandaran yang tersusun, permadani-permadani yang terhampar, kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya. Kebayang enggak indahnya syurga ?….

Rasulullah SAW, mengatakan :" Syurga merindukan empat orang:

Wali Ashif

Diposting oleh Masakan On 19.41 0 komentar
Nama Wali Ashif memang tidak terdapat dalam Qur'an. Tetapi, konon, sejumlah sufi mengenal beliau bahkan mengamalkan wiridan yang diamalkan Wali Ashif.

Siapa dia sebenarnya? Wali Ashif hidup pada masa Nabi Sulaiman. Dalam surat an-Naml (QS 27: 38-40) diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman meminta para pembesar kerajaannya memindahkan singgasana Ratu Bilqis. Jin Ifrit menjawab, "Aku akan datangkan kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".




Ucapan Ifrit itu ditimpali oleh seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip!" Nabi Sulaiman berkedip, dan singgasana Bilqis sudah berada dihadapannya. Lalu siapa dia yang disifatkan al-Qur'an dengan "seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab".

Literatur sufi menyebut orang tersebut bernama Wali Ashif. Sufi yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud itu sebenarnya adalah malaikat. Entahlah siapa dia sebenarnya. Yang jelas dia memiliki ilmu dari al-Kitab. Yang pasti dia memiliki kemampuan melebihi jin ifrit. Mari kita pelajari al-Kitab yang diturunkan Allah, mari kita raih cahaya al-Kitab itu. Jika kita mampu menguasai ilmu dari Kitab Suci maka kemampuan gaib kita melebihi kemampuan jin ifrit.

Sayang, kita tidak mau mendalami al-Kitab yang Allah turunkan kepada kita sebagai "petunjuk bagi orang yang bertakwa". Kita lebih suka bermain-main dengan jin. Kita lebih suka meminta tolong kepada jin. Ah...betapa jauh kita dari tuntunan Allah. Kisah Wali Ashif seharusnya menyadarkan kita bahwa kalau kita mau mendalami kitab suci, maka derajat kita akan naik dan kita sama sekali tak butuh pada bantuan jin.

Ya Ilahana, Ilaha kulli sya'i, ilahan wahidan La ilaha illa anta

(Wahai Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, Tidak ada tuhan kecuali Engkau)

Konon dengan do'a ini Wali Ashif mampu memindahkan singgasana Bilqis sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip.

Para Kader Belia

Diposting oleh Masakan On 06.43 0 komentar
Para Nabi:

Nabi Ibrahim as: menebas leher paganisme.
Nabi Yusuf as: berjuang menembus tembok istana dan menjadi penguasa adil
sejahtera.
Nabi Musa as: disweeping Firaun sejak bayi. Meruntuhkan tirani besar angkara murka.
Menyatukan kaum yang terpecah belah.
Nabi Isa as: sejak bayi sudah berdakwah. Ketulusan kasih sayangnya mencairkan
kebekuan hati.
Nabi Muhammad as: berhimpun segenap potensi kebaikan.
Nabi-nabi lainnya.


Sahabat Rasulullah Saw:
Ali bin Abi Thalib dibina sejak usia 8 tahun.
Zubair bin Awwam 8 tahun.
Arqam bin Abi Arqam 16 tahun
Ja'far bin Abi Thalib 8 tahun
Shahih Ar Rumy 19 tahun
Zaid bin Haritsah 20 tahun
Saad bin Abi Waqqash 17 tahun
Utsman bin Affan 17 tahun
Usamah bin Zaid masih berusia 18 memimpin pasukan Islam pertama ekspansi keluar
Jazirah Arab.
Dll.

Prestasi generasi pertama diatas: menaklukkan 2 negara adidaya waktu itu: Romawi dan Persia, dan meluaskan wilayah kekuasan Islam hingga kerajaan-kerajaan Syam (Syiria), Mesir, Irak, Afrika Utara , dalam waktu 35 tahun, selama era Khulafaur Rasyidin.

Generasi berikutnya:
Imam ath Thobari, seorang ahli tafsir besar telah hafal Al Qur'an pada usia 7 th dan menjadi Imam pada usia 8 tahun.
Imam Ibnu Taimiyah telah memberikan fatwa pada usia 15 tahun.
Shalahuddin al Ayyubi: mempersatukan kembali seluruh negeri Islam yang tercerai berai mulai dari sungai Eufrat sampai sungai Nil dan mengalahkan kekuatan salib di Hathin pada tahun 1187 M, disusul setahun kemudian menaklukkan Yerusalem/Palestina .
Muhammad Al Fatih Murad: dalam usia 24 tahun memimpin pasukannya menaklukan Konstantinopel pada bulan Mei 1453 M. Suatu penaklukan yang gemilang dan sangat dirindukan setelah gagalnya 6 kali penyerangan sebelumnya selama 800 tahun!

Prestasi masa dinasi Umayyah dan Abbasiyah: berekspansi hingga ke wilayah yang amat luas: membentang ke negeri India dan perbatasan negeri Cina, sedangkan ke arah barat mencapai Andalusia (Spanyol). Benua Asia, India, Eropa, dst.....

Teori Kupu - kupu

Diposting oleh Masakan On 16.09 0 komentar
Suatu hari ada seorang hamba yang meminta pd Allah stangkai bunga segar, Tapi Allah memberi hamba tersebut kaktus berduri. Kemudian Ia meminta pd Allah Binatang mungil nan cantik, Tapi Allah memberinya ulat berbulu
Ia pun sedih, protes, Bahkan kecewa, Betapa tidak Adilnya ini. Namun kemudian... Kaktus itu berbunga, indah bahkan sgt indah dan ulat itu pun tumbuh dan berubah menjadi kupu - kupu yg cantik.

itulah JAlan Allah....... Indah pd waktunya.


Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.
Kadang kita sedih, Kecewa, terluka, tapi jauh diatas segalanya, Allah sedang merajut yg terbaik
untuk hamba-Nya yg BERSYUKUR..

Yupz...Sesungguhnya yg terpenting hny prosesnya,. dari situlah kita dapat memetik pelajaran dan kesalahan..
Kalau untuk hasil kita pasrahin aja sma Allah,,..Sesungguhn ya Allah tidak akan menyia-nyiakan niat dan usaha yg kita lakukan,,..

Allah maha adil & Maha Mengetahui.. .

Allahualam bin showab...

Ini adalah sebuat cerita penuh hikmah. Seorang Kakek Muslim Amerika
hidup di sebuah pertanian di pegunungan bagian timur Kentucky dengan
cucu laki2nya. Setiap shubuh sang Kakek selalu bangun awal, duduk di
meja dapurnya membaca alQuran. Cucunya selalu ingin seperti kakeknya,
dan meniru perbuatan kakenya tersebut sebisanya..

Suatu hari
sang cucu bertanya, "kek, aku mencoba membaca alQuran seperti kakek,
tapi aku tidak mengerti, kalaupun ada yang aku mengerti aku langsung
lupa begitu aku menutup alQuran. Apa sih manfaat membaca alQuran?"




Sang kakek pun berbalik perlahan, menghentikan kerjanya memasukkan
batu bara ke tungku dan menjawab. "Ambillah keranjang batu bara ini, dan pergilah ke sungai dan bawakan aku sekeranjang air"

Sang
cucu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, tapi semua air tumpah
sebelum ia berhasil kembali ke rumah. sang kakek tersenyum dan berkata
"kamu harus bergerak lebih cepat mengangkut airnya" dan menyuruh sang
cucu tuk kembali ke sungai mengambil air. Sang cucu pun berusaha lari
dengan cepat ketika mengantar air, namun tetap saja airnya tumpah.
Sambil kehabisan nafas, ia pun berkata kepada kakeknya bahwa tidak
mungkin mengangkut air dengan keranjang, lalu sang cucu berjalan tuk
mengambil ember sebagai ganti keranjang.

Sang kakek berkata,
"aku menginginkan sekeranjang air, bukan seember air. kau kurang
bekerja keras tuk mengambilnya" , dan si kakek pergi ke pintu tuk
melihat si cucu berusaha lagi.

Ketika itu,
sang cucu sudah tahu bahwa perbuatannya tidak ada manfaatnya, tapi dia
ingin menunjukkan kakeknya bahwa secepat apapun dia lari, air dari
keranjang akan tetap tumpah. Dia mengambil air di sungai, lalu berlari
cepat ke kakeknya, namun air tetap tumpah sebelum ia sampai ke tempat
kakeknya. Maka ia pun berkata, "lilhat kek, gak da manfaatnya kan!"

"jadi kamu berpikir perbuatanmu tidak ada manfaatnya?" , sang kakek berkata, "lihatlah keranjangnya"

sang
cucu melihat ke keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa
keranjangnya telah berubah. Keranjangnya telah berubah dari keranjang
batu bara yang kotor menjadi keranjang yang bersih, luar dalam.

"Cu,
itu yang terjadi ketika kau membaca alQuran. Kamu mungkin tidak
mengerti atau mengingat apa pun, tapi ketika kamu membacanya, kamu akan
berubah, luar dalam. Dan itu adalah kuasa Allah atas diri kita.

mari akhi...
betapapun sibuknya kita...
sempatkanlah waktu untuk tilawah...

semalas2nya seorang mu'min, ia mampu mengkhatamkan al-qur'an dalam sebulan (1juz/hari). .

mari saling mengingatkan dan menguatkan.. .!!

Kupu-kupu

Diposting oleh Masakan On 15.11 0 komentar
Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung.
Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata
angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas.
Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain
disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek
tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak
Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak
juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan
lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku
harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"


Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di
pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada
sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor
kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku
dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa
lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan
bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan
disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat
pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran.
Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain.
Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari
tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk
mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya
semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat
ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak
naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda.
Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada
sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka
terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak
tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap
pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin
kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi
dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan
benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah
kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari
kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang
hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan
keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang
mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu
indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

***

Teman, mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi
mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka
cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak
sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja
mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat
meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap
setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan
cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di
genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan
adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam
hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari
kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan
menjauh.

Teman, cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu
menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap
langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup
kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia
itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan
mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah
memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita,
namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya. ***

Hati yang Selalu Tersenyum

Diposting oleh Masakan On 16.08 0 komentar
Rasulullah saw adalah sosok manusia yang sempurna. Di medan perang beliau adalah seorang jendral profesional yang menguasai taktik dan strategi bertempur. Ditengah masyarakat,beliau adalah teman,shabat, guru,dan sosok pemimpin yang menyenangkan. Di rumah,beliau adalah seorang kepala rumah tangga yang bisa mendatangkan rasa aman,kasih sayang,sekaligus kebahagiaan. Beliau adalah sosok yang romantis.

Beliau biasa memanggil istrinya,'Aisyah, dengan panggilan yang indah: "Ya Humaira" (wahai si merah jambu). Wanita mana yang tidaK tersanjung saat dipanggil suaminya dengan panggilan ini? Telinga siapa yang tidak ingin mendengar sapaan seperti ini? Tapi keindahan itu tercipta bukan karena beliau ahli merayu,melainkan karena hati beliau bersih,bening, dan indah. Dari hati yang indah itu keluar kata-kata,prilaku, dan sikap yang indah. Dari keindahan hati itulah terpancar segala keindahan dari setiap yang dipandang dan ditemuinya. Memang, betapa indah hari-hari kehidupan dimata Rasululah. Romantisme tidak hanya berlaku bagi istri-istrinya, juga anak-anak,nenek- nenek dan semua mahluk Allah swt lainnya pun merasakannya. Begitu dekatnya Rasulullah dengan unsur-unsur di alam sekitar.

Setiap berhadapan dengannya beliau kerap menyapanya dengan ungkapan:"Robbiy wa Rabbukallahu" (Tuhanku dan tuhanmu adalah Allah). Melihat sekuntum bunga yang mulai terbuka kelopaknya, kalbunya bergetar,hatinya bersuka cita,dan segera beliau mendatanginya, mencium dengan bibirnya,dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa beliau mengucapkan:"Aamu khairin wa barokatin insya Allah"(T ahun baik dan penuh berkah, insya Allah). Demikian pula ketika beliau mendapati bulan sabit di awal-awal malam kemunculannya, tak lupa menyambutnya dengan suka cita. Dengan penuh optimis beliau bercakap tentangnya:"Hilaalu khairin wa barokatin insya Allah"(Awal bulan yang baik dan penuh berkah,insya Allah).

Setelah menyambut dengan tahniah (ungkapan kegembiraan) , beliau juga tak lupa berdoa:"Allahumma ahillahu'alaina bil yumni wal imani wassalamati wal Islami"(Ya Allah, jadikan permulaan bulan ini membawa keuntungan,iman, keselamatan, dan Islam). Apa bedanya bulan yang ditatap Rasululah emat belas abad yang lampau dengan bulan yang kita lihat setiap malam? Bukan bulannya yang berbeda, tapi cara pandangnya yang berbeda. Rasulullah saw memandangnya dengan cahaya iman,sedang kita mungkin memandangnya dengan hati yang masih ragu. Rasulullah melihat di balik bulan ada kebesaran Allah, sedang kita melihat bulan tidak lebih dari sekedar materi.

Beliau melihat bulan dari perspektif waktu yang akan datang (dengan visi),sedang kita melihatnya sekedar dengan "menghitung hari". Melalui tulisan ini, saya mengajak seluruh aktivis Hidayatullah dan segenap pendukungnya, mari kita tatap dunia ini dengan senyum, sebagai pertanda bahwa kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena bulan dan matahari masih dipergilirkan, siang dan malam masih berputar. Ada waktu untuk berbuat dan beramal. Mari kita tatap masa depan dengan penuh harapan. Tak usah berkecil hati, sekalipun tantangan sebesar dan sebahaya gunung Merapi. Kita masih punya tuhan pemilik dan penguasa alam semesta. Di tangan-Nya tergenggam seluruh nyawa, sekaligus kehendak-Nya. Sekali diputar, semuanya akan berubah.

Tersenyumlah, sebagaimana Rasululah tersenyum ketika menyapa matahari terbit setiap pagi, dan bulan yang mengorbit setiap malam. Tersenyumlah dan sapalah istri dengan suka cita sebagimana beliau melahirkan kebahagiaan kepada keluarga dan semua manusia.

*Suara Hidayatullah Edisi Agustus 2006

Khidhr ...oh....Khidhr

Diposting oleh Masakan On 04.51 0 komentar

Masih hidupkah Khidhr ? Entahlah, saya memang mendengar cerita seorang 'alim yang mengaku berjumpa Khidhr. Nama Khidhr memang sudah terlanjur melegenda, meskipun al-Qur'an sendiri tidak pernah menyebut nama Khidhr secara terang-terangan. Al-Qur'an melukiskan Khidhr dengan "...seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS 18:65)

Perhatikan redaksi yang digunakan al-Qur'an. Ternyata, Khidhr atau apapun nama beliau hanyalah satu dari sekian banyak hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu. Boleh jadi banyak sekali hamba Allah yang punya kelebihan seperti Khidhr, tetapi Allah tidak beritakan kepada kita atau kita memang tidak mengetahuinya. Tapi itulah Khidhr, sebuah nama yang terlanjur melegenda dan menyimpan misteri yang tak kunjung habis dibicarakan.

Dalam surat al-Kahfi diceritakan bagaimana Nabi Musa ingin berguru dengan Khidhr. Khidhr semula menolak, namun Musa terus mendesak. Perhatikan redaksi al-Qur'an ketika mengutip penolakan Khidhr, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS 18:67-68)

Khidhr menolak Musa bukan dengan argumen bahwa Musa itu bodoh atau malas. Khidhr menolak Musa karena Musa tidak akan bisa bersikap sabar. Soalnya, kata Khidhr, bagaimana kamu bisa sabar pada persoalan yang kamu tidak punya ilmu tentangnya?

Begitulah yang terjadi. Musa selalu memprotes dan menyalah-nyalahkan perbuatan Khidhr yang, dipandang dari sudut pengetahuan Musa, merupakan perbuatan yang keliru.

Sayang, kita jarang mau belajar dari kisah Khidhr dan Musa ini. Seringkali kita sebar kata "sesat", "kafir", "menyimpang", "bid'ah" kepada saudara-saudara kita, yang dipandang dari sudut pengetahuan yang kita miliki, melakukan kesalahan besar.

Kita menjadi emosional, kita menjadi tidak sabar. Pada saat itu, ada baiknya kita ingat kembali kisah Khidhr dan Musa. Kisah Khidhr mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran merupakan lambang tingginya pengetahuan.

Nadirsyah Hosen



Kiyai dan Ayam

Diposting oleh Masakan On 01.51 0 komentar
Selepas Isya', setelah merasa cukup memberikan pengajian selama bertahun-tahun pada santrinya, seorang Kiyai memberikan santrinya masing-masing seekor ayam. Kiyai berpesan, "terimalah ayam ini, lalu semblihlah ditempat, dimana tidak ada yang bisa melihat apa yang kamu lakukan."

Subuh itu udara cukup dingin, namun Kiyai dan para santrinya sudah berkumpul di Langgar. Selepas shalat subuh berjama'ah, Kiyai bertanya perihal ayam yang diberikannya itu. Seorang santri senior meminta ijin berbicara, "Kiyai, saya sudah jalankan pesan Kiyai untuk menyemblih ayam itu di tempat yang tak bisa ada yang melihat saya menyemblih ayam itu."

Kiyai tersenyum, "Dimana kamu semblih?"

Santri menjawab, "Di belakang sumur, malam tadi tepat jam 12.00"

"Kamu yakin tak ada yg melihat perbuatan itu?," tanya Kiyai lagi.

"Yakin....a'inul yakin, Kiyai, saya sudah periksa berulang kali tempat itu dan sudah sangat berhati-hati" jawab santri dengan takzimnya.

Kiyai menghela nafas. Dia tatap seluruh santrinya. Lalu dengan perlahan dia bertanya, "Bagaimana dengan yang lain?" Satu-satu melaporkan "tempat rahasia" mereka saat menyemblih ayam tersebut.

Kiyai sekali lagi menghela nafas. Dengan suara berat, Kiyai berkata, "Kalian semua tidak lulus.... berbulan-bulan aku mengajarkan Islam kepada kalian, sayang, kalian tak mampu menangkapnya dengan baik. Ketika kalian merasa telah menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat perbuatan kalian, kalian lupa, wahai anak-anakku, bahwa sungguh tak ada tempat di dunia ini yang lepas dari pengamatan Allah!" "Ketika kalian semblih ayam itu, tak sadarkah kalian bahwa Allah melihat perbuatan itu."

Saya menghela nafas mengingat kembali kisah di atas. Betapa sering kita lupa bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui perbuatan kita. Ketika kita "semblih" nasib bawahan kita, kita lupa bahwa Allah melihat perbuatan kita. Ketika kita berhasil meloloskan diri dari kecurigaan isteri untuk berdua-duaan saja dengan wanita yang bukan hak kita di sebuah motel selama berjam-jam, kita lupa bahwa Allah tak bisa kita kelabui.

Saat kita sukses merubah laporan keuangan sehingga di akhir tahun anggaran, terdapat banyak dana sisa yang bisa kita "hanguskan", kita juga lupa bahwa Allah akan "meng-audit" laporan keuangan tersebut di akherat nanti. Manakala kita tunjuk pihak-pihak lain sebagai kambing hitam dari persoalan moneter di negara kita, dan melupakan bahwa kitapun memiliki "saham" dari persoalan ini, kita lupa bahwa Allah bisa membedakan dengan jelas mana kambing yang "hitam" dan mana yang "putih".

Ah...bisakah kita melepaskan diri dari "mata" Allah, bisakah kita menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat apa yang kita lakukan...???

Ya Allah, ampuni kami....

Oleh :
Nadirsyah Hosen



Lebih Panas Mana?

Diposting oleh Masakan On 19.23 0 komentar

Seorang Raja mengumumkan sayembara:"Barangsiapa yang sanggup berendam di kolam kerajaan sepanjang malam akan dihadiahi pundi-pundi emas." Sayembara ini sepintas terlihat mudah, namun berendam di kolam pada saat musim dingin tentu bukan perkara mudah. Walhasil, tak ada yang berani mencobanya.

Seorang miksin dari pelosok pedesaan, karena tak tahan dengan tangisan kelaparan anaknya, memberanikan diri mengikuti sayembara itu. Pundi-pundi emas membayang di pelupuk matanya. Bayangan itulah yang mendorong dia akhirnya berangkat ke istana. Raja mempersilahkan dia masuk ke kolam istana. Sekejap saja orang miskin ini masuk ke dalamnya, ia langsung menggigil kedinginan. Giginya saling beradu, mukanya mendadak pucat dan tubuhnya perlahan meringkuk.

Tiba-tiba ia melihat nyala api dari salah satu ruang istana. Segera saja ia bayangkan dirinya berada dekat perapian itu; ia bayangkan betapa nikmatnya duduk di ruangan itu. Mendadak rasa dingin di tubuhnya, menjadi hilang. Kekuatan imajinasi membuatnya mampu bertahan. Perlahan bayang-bayang pundi emas kembali melintas. Harapannya kembali tumbuh.

Keesokan harinya, Raja dengan takjub mendapati si miskin masih berada di kolam istana. Si miskin telah memenangkan sayembara itu. Raja penasaran dan bertanya "rahasia" kekuatan si miskin. Dengan mantap si miskin bercerita bahwa ia mampu bertahan karena membayangkan nikmatnya berada di dekat perapian yang ia lihat di sebuah ruangan istana.

Lama sudah waktu berjalan sejak saya baca kisah di atas sewaktu masih di Sekolah Dasar. Namun baru belakangan saya menyadari kiasan dari cerita itu. Imajinasi dan harapan akan kehidupan yang lebih baik telah menjadi semacam stimulus untuk kita bisa bertahan.

Ketika krisis ekonomi menghadang negara kita, sekelompok orang menjadi panik tak karuan. Apa saja dilakukan mereka untuk mempertahankan kenikmatan hidup. Mulai dari menjadi spekulan mata uang, menimbun barang, menjilat penguasa dan meniupkan isu kemana-mana. Norma agama telah dilanggar untuk kepentingan duniawi belaka. Akan tetapi, segelintir orang tetap tenang karena sudah lama badan mereka di "bumi" namun jiwa mereka di "langit".

Kelompok terakhir ini membayangkan bagaimana nikmatnya hidup di "kampung akherat" nanti, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah. "Pundi-pundi kasih sayang ilahi" membayang dipelupuk mata mereka.

Bagaikan si miskin yang tubuhnya berada di dasar kolam, namun jiwanya berada di dekat perapian; bayangan "kampung akherat" membuat mereka tenang dan tidak mau melanggar norma agama. Bagaikan kisah si miskin di atas, boleh jadi Raja akan takjub mendapati mereka yang bisa bertahan di tengah krisis ini, tanpa harus menjilat kepada istana (apalagi bila jilatan itu dibumbui sejumput ayat dan hadis)

Ada seorang muslim yang tengah berpuasa, rekan bulenya yang tinggal satu flat berulang kali mengetok pintu kamar hanya untuk memastikan apakah si muslim masih hidup atau tidak. Orang bule itu tak habis pikir bagaimana si muslim bisa bertahan hidup dan tetap beraktifitas tanpa makan-minum selama lebih dari 12 jam. Rindu "kampung akherat" menjadi jawabannya.

Sama dengan herannya seorang rekan mendapati seorang muslimah di tengah musim panas (summer) tetap beraktifitas sambil memakai jilbab. Ketika ada yang bertanya, "apa tidak kepanasan?" Muslimah tersebut menjawab sambil tersenyum, "lebih panas mana dengan api neraka?"

Kenikmatan "kampung akherat" rupanya jauh lebih menarik buat seorang muslim/muslimah.
Oleh :
Nadirsyah Hosen

Kisah Dua Ekor Kodok

Diposting oleh Masakan On 20.15 0 komentar

Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan. Malangnya, dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Kodok-kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati.Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusaha
dan mati saja.Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil.

Akhirnya, dengan sebuah lompatan yang kencang, dia berhasil sampai di atas.Kodok lainnya takjub dengan semangat kodok yang satu ini, dan bertanya "Apa kau tidak mendengar teriakan kami?" Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia tuli.Akhirnya mereka sadar bahwa saat di bawah tadi mereka dianggap telah memberikan semangat kepada kodok tersebut.

Apa yang dapat kita pelajari dari ilustrasi di atas?Kata-kata positif yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" justru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari. Sebaliknya, kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan.

Suarakan 'kata-kata kehidupan' kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa 'kata-kata kehidupan' itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.Semua orang dapat mengeluarkan 'kata-kata kehidupan' untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaanya, kejatuhannya, kemalangannya.Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan spirit bagi mereka yang sedang putus asa dan jatuh!




Ya berapa malaikat yang sudah kau temui hari ini?
Atau hari kemarin?
Di dalam perjalananmu menuju tempat kerja?
Atau dalam perjalananmu menuju ke rumah kembali?
Berapa?
Bahkan itu di rumahmu sendiri.
Berapa malaikat yang kau temui?
Tidak ada?
Tidak mungkin! Siapa bilang? Smile
Mari kita ingat-ingat lagi...
Mungkin dia yang membuatmu marah-marah karena
membuatmu terbangun di tengah malam buta. Membuatmu
terjaga dengan tangisan. Dan kau hanya berkata dengan
bersungut-sungut, "Anak siapa sih? Rese amat
malem-malem nangis. Berisik!"
Padahal mungkin ia membangunkanmu untuk sesuatu hal
bermanfaat yang bisa kau lakukan di tengah malam itu.
Mungkin dia yang membuatmu sewot, ketika kau
bertabrakan badan di jalan sehingga membuatmu
terjatuh. Dan kau menjadi sedikit sakit dan malu. Dan
kau membentaknya dengan ucapan,

"Pake mata dong kalo
jalan!"
Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berlatih bersabar
dan malahan justru jika ia tidak menabrakmu kau akan
sedetik lebih cepat dan mungkin ceritanya akan
berbeda. Tertabrak mobil barangkali.
Mungkin dia yang membuatmu berpikir buruk, sebab
setiap hari ia selalu menengadahkan tangan padamu
dengan pakaian compang-camping dan baju dekilnya.
Sehingga membuat ini terbersit di pikiranmu, "Males
amat sih ini orang. Badan masih seger gitu loh?"
Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berpikir positif
dan lebih bermurah rejeki, setidaknya bermurah senyum.
Ya. Cobalah ingat-ingat lagi. Berapa kali dalam sehari
kau membentak, menghardik, membenci, berprasangka,
mencibir, memaki orang lain?
Berapa kali?
Sebab mungkin sebanyak itu pulalah kau berlaku tidak
sepantasnya pada malaikat.
Senyumlah setiap hari pada siapapun yang kau jumpai.
Berpikirlah positif pada setiap orang yang kau temui.
Perlakukanlah orang lain dengan cara yang sama seperti
kau mengharapkan orang lain memperlakukanmu. Tuhan
selalu "bekerja" dengan cara yang misterius.
Maka, selalu lah peka dalam menyikapi semua ini.

Lelaki yg ditarik ke neraka

Diposting oleh Masakan On 05.38 0 komentar

* Ayah
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat.
* Suami
Apabila seorang suami tidak memperdulikan tindak-tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram dan apabila suami mendiam diri. Walaupun dia seorang alim (solat tidak tangguh, puasa tidak tinggal) maka dia akan ditarik oleh isterinya.
* Abang
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke pula kepada abang-abangnya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM...Tunggulah tarikan adiknya di akhirat.
* Anak Lelaki


Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari islam, maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak...nantikan tarikan ibunya.
Kepada golongan lelaki, cuba lah sebaik mungkin untuk melaksanakan tanggungjawab kalian.
Kepada golongan wanita, sama-sama lah meringankan bebanan yang ditanggung oleh golongan lelaki.
Bukankah kita diciptakan untuk sama-sama membantu dan nasihat-menasihati??

Renungan Dari millis sebelah,

Diposting oleh Masakan On 00.09 0 komentar

Apa yang paling dekat dengan kita .....?
* Bukanlah uang, saudara atau kemewahan lainnya, bahkan
kebahagiaan yang kita miliki sekarang ini adalah semu belaka
* Jawabnya adalah kematian, karena kematian akan selalu
manghantui setiap umat manusia di muka bumi ini

Apa yang paling berat dlam hidup kita . . .?
* Jawabnya adalah amanat
Apa yang paling kecil dalam hidup kita . . .?
* Jawabnya tingkah laku

Apa yang paling jauh dari kita . . .?
* Bukanlah cita-cita dan harapan kita yang selalu tidak tercapai
dan terpenuhi,sehingga umat manusia selalu merasakan apa yang
didapatnya selalu kurang dan kurang lagi tak ada rasa puas dan syukur
terhadap apa yang telah diberikan Allah SWT
* Jawabnya adalah Masa lalu, karena masa lalu akan semakin jauh
meninggalkan kita dan masa lalu itu dapat dijadikan pelajaran yang
paling berharga didalam hidup kita dan kemungkinan masa lalu itu akan
terulang kembali didalam hidup kita.

Apa yang paling besar pada diri kita . . .?
* Yang paling besar dari kita bukanlah bentuk fisik yang sudah
kita dapatkan ataupun kedudukan yang tertinggi sehingga kita akan
lupa apa yang telah diberikan dan diamanatkan Allah SWT kepada kita,
sehingga kita akan menjadi RIA dan tidak akan merasa puas.
* Jawabnya adalah NAFSU

Apa yang paling ringan pada diri kita . . .?


* Jawabnya adalah sholat lima waktu
Apa yang paling tajam pada diri kita . . .?
* Jawabnya adalah lidah

Apa yang paling tumpul pada diri kita . . .?
* Jawabnya adalah mata
Maka peliharalah semuanya agar menjadi bermanfaat sebagai amal menuju
akhirat..... ..

Amin . . .

Akhwat....

Diposting oleh Masakan On 11.52 0 komentar

Suatu ketika, seorang santri putra bertanya pada Ustadznya: Ya Ustadz, Ceritakan Kepadaku Tentang Akhwat Sejati…
Sang Ustadz pun tersenyum dan menjawab…Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar jilbabnya yang lebar, tetapi dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghudhul bashar), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian islamnya….
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kelembutan suaranya, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan laki2 bukan mahramnya…..
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak2nya, keluarga dekatnya, para jama’ah, para tetangga dan orang2 di sekitarnya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat ia bekerja tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah tangganya…
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang enak2, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan suami dan anak2nya yang sebenarnya tidak rewel, pintar mengatur cash flow finansial keluarga, mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami dan selalu merasa cukup (qonaah) dengan segala pemberian dari sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang cantik, tetapi dari bagaimana ia bermurah senyum dan sejuk jika dilihat di hadapan suaminya dengan sepenuh hati tanpa dibuat2/dipaksakan.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang mencoba berta’aruf kepadanya, tetapi dari komitmennya untuk mengatakan bahwa sesungguhnya “Tidak ada kata “CINTA sebelum menikah.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari gelar sabuk hitam dalam olahraga beladirinya, tetapi dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan…
Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar banyaknya ia menghafal Al-Quran, tetapi dari pemahaman ia atas apa yang ia baca/hafal untuk kemudian ia amalkan dalam kehidupan sehari2.
….setelah itu, Si Murid kembali bertanya…


“Adakah Akhwat yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ya Ustadz ?”
Sang Ustadz kembali tersenyum dan berkata: “Akhwat seperti itu ada, tapi langka.
Sekalipun ada, biasanya ia memiliki karakter khas antara lain; Sangat mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun, tidak lepas dari dunia da’wah (minimal di lingkungan sekitar tempat tinggalnya), hidup berjamaah tapi tidak dikenal ‘ashobiyah, tidak ingin dikenal-kecuali diminta/didesak oleh jama’ah (masyarakat), dari keturunan orang2 yang shalih/shalihat, berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara, punya amalan ibadah harian, mingguan dan bulanan di atas rata2 orang kebanyakan, hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain, dikenal sebagai tetangga yang baik hati, sangat berbakti terhadap orang tua, sangat hormat kepada yang lebih tua dan sangat sayang terhadap yang lebih muda, sangat disiplin dengan sholat fardunya, rajin shaum sunnah dan qiyamullail & atau bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang2 yang mengenalnya, rajin memperbaiki istighfarnya (taubatan nashuha), rajin mendoakan saudara2nya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzolimi secara terang2an/tersembunyi, rajin bersilaturahim, rajin menuntut ilmu-mengaji- (terutama yang syar’i)/minimal rajin hadir di majlis ilmu dan mendengarkannya, senantiasa menambah/memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya, rajin membaca/menghafal alqur’an atau hadits dan buku2 yang bermanfaat, pintar/kuat hafalannya, sangat selektif soal makanan/minuman yang ia konsumsi, sangat perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin sekali soal thaharah, sangat terjaga dari soal2 ikhtilat apalagi berkhalwat, jauh dari gosip-menggosip, lisan dan semua perbuatannya senantiasa terjaga dari hal2 yang sia2, zuhud, istiqomah, tegar, tidak takut/bersedih hati hingga berlarut2 melainkan sebentar (wajar), pandai menghibur dan pandai menutupi aib/kekurangan dirinya dan orang2 yang ia kenal, mudah memaafkan kesalahan/kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam, ringan tangan untuk membantu sesama, mudah berinfak (bershadaqah), ikhlas, jauh dari riya, ujub, muhabahat, takabur dan tidak emosional, cukup sensitif tapi tidak terlalu sensitif (tidak mudah tersinggung), selalu berbuat ihsan dan muraqobatullah (selalu merasa dekat dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT baik di saat ramai maupun di saat sendirian), selalu berhusnudzon kepada setiap orang, benar2 berkarakter jujur (shiddiiq), amanah dan selalu menyampaikan yang haq dengan caranya yang terbaik (tabligh), pantang mengeluh/berkeluh kesah, sangat dewasa dalam menyikapi problematika kehidupan, mandiri, selalu optimis, terlihat selalu gembira dan menentramkan, hari2nya tidak lepas dari perhitungan (muhasabah) bahwa hari ini selalu ia usahakan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, dan senantiasa pandai bersyukur atas segala ni’mat (takdir baik) serta senantiasa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan (takdir buruk) dalam segala keadaan. Kapan pun dan di manapun..
Si Murid rupa2nya masih penasaran, dan bertanya kembali kepada Sang Ustadz. “Ya Ustadz, adakah cara yang paling mudah untuk mendapatkannya? atau minimal bisa mendapatkan seorang Akhwat yang mendekati profil Akhwat Sejati??
Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya: “Ada, jika antum ingin mendapatkan Akhwat Sejati nan benar2 Shalihat sebagai teman hidup maka SHALIHKAN DAHULU DIRI ANTUM…!! karena InsyaAllah Akhwat yang shalihat adalah pada dasarnya juga untuk Ikhwan yang shaalih…

MISTERI REZEKI

Diposting oleh Masakan On 20.15 0 komentar

Sebuah teka-teki kehidupan, yang sadar atau tidak sering timbul di dalam
pikiran kita, mengapa saya tidak sekaya orang lain ? mengapa mereka yang
banyak bermaksiat justru semakin sukses dalam bisnisnya? Apakah ini
sudah takdir saya?

Untuk itu perlu kita kaji firman Allah Ta'ala berikut ini :

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan
antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah
meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat,
agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat
Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." QS. Az Zukhruf : 43

Bahwa Allah-lah yang mengatur pembagian rezeki kepada hambanya,
Allah-lah yang mengatur penghidupan kita (ma'isyah kita) bukan orang
lain, bukan pelanggan, bukan pimpinan perusahaan dan bukan diri kita,
tapi Allah-lah yang menentukan seberapa banyak rezeki kita hari ini dan
esok.

Lalu Mengapa Allah Menentukan Rezeki Saya Hanya Sedikit ?

Boleh jadi karena Allah tahu batas kemampuan kita, jika diberi kekayaan
melimpah kita tidak lagi ingat kepadaNya, kita akan banyak berbuat
maksiat. Karena Allah Maha Tahu, Dia mengetahui kadar kemampuan kita
dalam menerima fitnah harta.

"Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. " QS.
Al Baqarah : 233

"Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba- Nya tentulah
mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa
yang dikehendaki- Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui
(keadaan) hamba-hamba- Nya lagi Maha Melihat." QS. Asy Syuura : 27

Semua itu terjadi karena Allah tahu kapasitas dan kemampuan kita dalam
menerima ujian kekayaan, semua karena kasih sayang Allah kepada
hambanya, ada orang yang jika diberi kemiskinan maka dia akan bermaksiat
sedangkan jika dia dalam kecukupan maka dia banyak beramal kebajikan.
Sebaliknya ada orang-orang yang diberi kemiskinan justru banyak
beribadah, sedangkan jika diberi kekayaan akan bermaksiat.

"Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan
terhadap umatku ialah harta-benda" HR. Tirmidzi

Kalau Rezeki Sudah Ditakdirkan Lalu Mengapa Kita Harus Berusaha dan
Bekerja ?



Kita tidak pernah tahu takdir kita sebelum takdir itu terjadi, oleh
karena itu tetaplah berusaha bekerja sungguh-sungguh dan banyak beramal
kebaikan untuk menyambut takdir kita, karena kita akan dipermudah menuju
takdir kita.

Tentang masalah ini, jangankan kita, sahabat Rosulullah-pun menanyakan
hal yang sama, buat apa berusaha dan bersusah payah jika sudah
ditakdirkan buruk ?

"Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah
diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw.
bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang
berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang
berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang
sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang
sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena
setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai
orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan
orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang
sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan
orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini:
Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan
menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil
dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka
kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar." (Shahih Muslim
No.4786)

Jadi bersyukurlah jika Anda termasuk orang-orang yang dimudahkan dalam
berbuat kebaikan. Selain dari itu, perbaiki kualitas agama kita agar
kita lebih siap menerima ujian baik kekayaan dan kemiskinan, karena jika
kita sudah berbuat baik dengan banyak bersedekah dan bertakwa maka Allah
akan memudahkan jalan kesuksesan kita, sekali lagi renungkan firman
Allah Ta'ala berikut ini :

"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang
memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan
adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah." QS. Al-Lail : 4 - 7

Lalu Bagaimana dengan Mereka yang Berbuat Dosa, Mengapa Mereka Justru
Sukses di Dunia ini ?

Karena mereka telah melupakan peringatan Allah, maka Allah akan
memberikan semua kenikmatan dunia sehingga mereka semakin lupa dan
semakin banyak berbuat dosa yang akhirnya akan di azab dengan
sekonyong-konyong, sesuai dengan firmannya :

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada
mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka;
sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan
kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika
itu mereka terdiam berputus asa." QS. Al An'aam : 44

Jadi berhati-hatilah jika disaat kita banyak berbuat dosa dan maksiat
justru Allah memberi rezeki melimpah!

Ingatlah :

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang
bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah
memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki- Nya tanpa batas." QS
Al Baqarah :212

Wallahu'alam
Ternyata,,,,memang tak semudah yg terlihat,bukan?

Peringatan Intifadhah ke 21

Diposting oleh Masakan On 06.44 0 komentar

Tanggal 8 Desember 2008 M, merupakan peringatan Intifadhah Pertama atau Intifadhah Al Mubarakah, sering juga disebut dengan Revolusi Masjid, tahun ini memasuki hitungan yang ke Dua Puluh Satu.

Intifadhah yang telah terjadi dua puluh satu tahun yang lalu di Palestina, patut kita ingat kembali karena Intifadah merupakan peristiwa yang sangat bersejarah bagi estafeta perjuangan rakyat Palestina yang dilakukan dengan heroik, penuh semangat jihad dan sarat dengan pengorbanan mencari ridha Allah bagi Palestina merdeka dari penjajahan.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ ﴿٢٠٧﴾

“dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba- Nya”. (QS: Al Baqarah/2 : 207).

Apalagi untuk tahun ini, dengan takdir dan izin Allah, umat Islam seluruh dunia, baik yang berada di Australia, Asia, Afrika, Eropa dan Amerika, termasuk Indonesia dan Palestina serta yang sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekah, mengadakan Hari Raya Idul Adha pada hari Senin, 10 Dzulhijjah 1429 H bertepatan dengan 8 Desember 2008 M.

Hari Raya Idul Adha bertepatan dengan peringatan ke 21 Intifadhah Al Mubarakah, dan dilakukan berbarengan oleh seluruh umat Islam sedunia, bukanlah suatu kebetulan!!!

Ini sudah merupakan taqdir dari Allah Yang Maha Kuasa dan peristiwa tersebut penuh dengan berbagai hikmah, diantara hikmahnya adalah agar kaum muslimin di seluruh dunia, yang berjumlah sekitar 1,3 milyar tidak membiarkan Rakyat Palestina khususnya di Jalur Gaza menjadi “kurban” dari penjajah Zionis Israel.

Jika pada hari Raya Idul Adha kaum muslimin melihat darah hewan kurban menggenang membasahi bumi, lain halnya di Palestina, hampir setiap hari yang sering terlihat adalah darah anak-anak yang tidak berdosa, darah remaja, darah orang tua, darah umat Nabi Muhammad saw, darah umat Islam yang menggenang membasahi bumi para nabi, ini menunjukkan bahwa rakyat Palestina telah menjadi “kurban”.

Sejarah Intifadhah



Intifadah Pertama terjadi karena pekerja Palestina yang baru pulang dari tempat kerjanya ditabrak truk Zionis Israel yang melaju dari pemukiman Iriz dengan kecepatan tinggi, peristiwa tersebut terjadi di jalan Mawazi.

Empat orang meninggal seketika dan sembilan orang luka parah. Sedangkan pengemudi truk kabur dengan mengendarai sebuah mobil yang berlebel tulisan Israel, mirip dengan mobil Mosad (Dinas Intelijen Israel).

Peristiwa penabrakan yang dilakukan agen Zonis Israel terjadi pada tanggal 8 Desember 1987 M, dijadikan oleh para aktifis perlawanan yang masih muda belia, usia remaja dan anak-anak sebagai momentum Intifadhah.

Pada saat itu terjadi perlawanan rakyat semesta, mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek, mereka semua bergerak melawan kebiadaban, kezaliman penjajah Zionis Israel yang sudah berlangsung lama, yaitu sejak di diproklamirkannya secara sepihak berdirinya “Negara Israel” pada 14 Mei 1948.

Sejak digaungkannya Intifadhah Pertama, maka seluruh lapisan rakyat Palestina di daerah pendudukan, khususnya di Jalur Gaza ambil bagian melakukan perlawanan, walaupun hanya menggunakan batu, ketapel dan pisau dapur. Karena pada saat itu tidak ada lagi persenjataan yang dimiliki rakyat Palestina.

Ada sebuah kisah heroik tentang keberanian dan perlawanan yang di lakukan oleh seorang anak yang bernama Faris Audah. Faris berusia 11 tahun, tanpa ada perasaan takut sedikitpun bergerak maju menghadang tentara dan tank Zionis Israel dengan berbekal iman di dada, batu di tangan dan kalimat takbir: Allahu Akbar !.

Komandan tentara Zionis Israel sangat takut melihat keberanian yang luar biasa dari seorang anak, Faris Audah, sehingga keluar intruksi kepada pasukannya untuk menangkap dan membunuh Faris Audah, sehingga Faris Audah yang masih anak-anak gugur, syahid dijalan Allah dan telah menjadi korban kejahatan Zionis Israel.

Mudah-mudahan Allah menerima amal perjuangannya dan darahnya yang bercucuran membasahi bumi menjadi pupuk bagi perjuangan rakyat Palestina dan umat Islam pada umumnya sehingga dapat melanjutkan perjuangan suci untuk membebaskan Masjid Al Aqsha dari tangan kotor Zionis Israel, serta meraih kemerdekaan yang hakiki bagi Palestina.

Keberanian Faris Audah melawan penjajah Zionis Israel telah menjadi inspirasi bagi anak-anak dan remaja di Palestina dalam berjuang membebaskan tanah airnya, mereka harus tampil ke gelanggang perjuangan melawan penjajah Zionis Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) karena orang tua mereka berada di penjara-penjara Zionis Israel, pemimpin-pemimpin Arab dan dunia Islam diam “seribu bahasa”, tidak mampu mendobrak blokade atas Jalur Gaza yang telah berlangsung dua tahun lamanya, apalagi mengusir penjajah Zionis Israel dari tanah Palestina, bumi para Nabi.

Bahkan saat ini pemimpin Arab dan dunia Islam “bercengkarama dan bermain mata” dari suatu konferensi ke konferensi yang lain bersama Zionis Israel, penjajah biadab tanpa ada tindakan tegas untuk mendobrak blokade atas Jalur Gaza, akibat blokade tersebut rakyat menjadi korban, kebutuhan pokok berkurang, persediaan obat-obatan makin menipis, susu untuk anak sulit didapat, BBM (Bahan Bakar Minyak) sulit didapat.

Kebenaran firman Allah

Rakyat Palestina terus berjuang dengan tegar, teguh dan gigih, berjihad di jalan Allah, khususnya di Jalur Gaza yang saat ini sedang di embargo, di blokade oleh Zionis Israel, apa yang sedang terjadi di bumi Palestina sesungguhnya telah membuktikan kebenaran firman Allah swt yang termaktub di dalam Al Qur’an.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al ‘Ankabut/ 29 :69).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴿٧﴾

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS: Muhammad/ 47: 7)

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِن مِّصْرَ لاِمْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَى أَن يَنفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَكَذَلِكَ مَكَّنِّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ ﴿٢١﴾

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS: Yusuf/12 : 21).

Siapa dapat menyangka??? Dalam keadaan dijajah, diembargo, diblokade, pemimpin perjuangannya seperti Syekh Ahmad Yasin, Dr. Abdul Aziz Rantisi, Jamal Manshur, Jamal Salim, Shalah Syahadah, Ir. Abu Syanab, Ibrahim Maqadmah, Yahya ‘Ayasy di bunuh penjajah Zionis Israel, akan tetapi perjuangan, perlawanan melawan penjajah, jihad di Palestina terus berlangsung hingga saat ini dengan berbagai variasinya, dan rakyat Palestina tidak menyerah kalah.

Memasuki peringatan 21 tahun Intifadhah Pertama, Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa, Tuhan Penguasa Alam Semesta telah membantu perjuangan rakyat Palestina, dahulu hanya menggunakan batu dan ketapel untuk melawan penjajah Zionis Israel, kini pejuang Palestina telah mampu membuat roket Al Qassam, bahkan roket anti tank. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mereka tidak akan mampu bertahan berjuang hingga saat ini.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, dan pejuang Palestina telah membuktikan kebenaran firman Allah tersebut.

Apakah belum yakin juga dengan janji Allah dalam Al Qur’an???

EMPATI

Diposting oleh Masakan On 21.06 0 komentar

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran
cepat saji dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua
pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya
yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba
untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.


Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan
restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel
lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang
berantakan.


Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu
dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya.
Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti
ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara
ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa
tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.


Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini
seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu
membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya
biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang
melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.


Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang
sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa
sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari
sisa-sisa makanan yang berserakan,

tampaknya rombongan yang cukup besar.
Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu
meninggalkan sampah bekas makanan.


Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam
berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa
dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.


Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang
berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega
meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka
betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh
seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.


Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang
sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga
meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum
ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan
teman-teman.
Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah
keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong
sampah.
Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.


Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa
makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma
butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang
melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.


Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil
yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya
untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks
rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan
anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk
membuang sampah disitu.


Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti
jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi
bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak
ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya
memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.


Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum.
Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang
yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang
mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang
lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada
banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.


Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang
saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika
hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia
menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui
hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.


Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal
satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika
orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan
tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.


Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa
mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan
karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat
orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.


Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya
bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya.
Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus
berempati pada mereka.
Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar
setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?''
Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuahtulisan
almarhum Romo Mangunwijaya.
Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot
seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.


Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita
dapat membuat orang lain bahagia.
Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada
perasaan orang lain.
Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa
makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan
pelayan restoran.


Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja
setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan
tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari
perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.


Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi
berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik,
ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk
berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering
melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa
perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.


Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang
tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain.
Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu.
Mulailah sekarang juga.

By: Andy F Noya

Mistery terbelahnya bulan

Diposting oleh Masakan On 16.11 0 komentar

Makanya jangan kagum pada Amerika bisa ke bulan dan melihat fakta … bahwa bulan pernah terbelah… Subhanallah…. dan Daud Musa Pitkhok pun seorang peneliti Inggris akhirnya memilih Islam sebagai pegangan hidupnya.
Allah berfirman: “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)”
Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur’an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ??Di bawah ini adalah kisahnya:
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?
Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ.Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an. ; Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung ; mukjizat secara ilmiah ? maka saya menjawabnya : Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan,
maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu
‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya,sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.
Dan mukjizat yang kelihatan,

maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab > Allah hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.
Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.
Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa ; membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?” Rasulullah bertanya, “Apa yang
kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belahlah bulan, ..”
Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan
sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad,
engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir”orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”
Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!! !”
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….sampai akhir surat Al-Qamar.
Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr.Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?”
Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.”
Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan
Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…….”
Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris.
Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata,
“Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen
kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertani an. Jadi pendanaan
tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.
Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.
Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di
bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan
dana itu kepada siapapun.
Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, “Ternyata bulan > pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!
Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?”
Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan.
Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!!
Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … (aku pun bergumam), “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Jawaban Sederhana PENUH MAKNA

Diposting oleh Masakan On 06.28 0 komentar

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus
tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang
sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik - rintik
selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit
berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang
bakso dorong lewat.

Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan
beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau
bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ..", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu
disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue
semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkali
ada tujuan ?"

"Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang
sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya
ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak Orang
lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan
iman ".

"Maksudnya.. .?", saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan
sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :




1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup
sehari - hari Emang dan keluarga.


2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk
melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi
tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya
yang ukuran sedang saja.


3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama
yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu,
untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang
besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di
setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan
sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17
tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan
ibadah haji.

Hatiku sangat...sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah
jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki
nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu
memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali
berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya
melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut :
"Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Iya menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal
mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau
pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah
definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.
Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka
mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau
kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka insya Allah dengan segala
kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".

Sahabat....
Cerita ini sangat sederhana. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan
kita. Amin

oleh : Dede Farhan Aulawi