POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Penemu Angka Nol

Diposting oleh Masakan On 07.48 0 komentar
Dunia Barat boleh mengklaim bahwa mereka adalah kawasan sumber ilmu pengetahuan. Namun sejatinya, yang menjadi Gudang Ilmu Pengetahuan adalah kawasan Timur Tengah (kawasan Arab maksudnya, bukan Jawa Timur-Jawa Tengah). Mesopotamia, peradaban tertua dunia ada di kawasan ini juga.

Masyarakat dunia sangat mengenal Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar. Namun, dibalik kedigdayaan Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar ternyata hasil pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ilmuwan Muslim bernama Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Dia adalah seorang tokoh yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780. Jika kaum terpelajar lebih mengenal para ahli matematika Eropa, maka kaum biasa juga mengenal ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika tersebut.


Sinking of the Titanic - LIFE Images




Masabumi Hosono





Mungkin anda masih ingat salah satu adegan dalam film Titanic saat sekoci terakhir akan diturunkan dan seorang pria nyelonong masuk kedalam sekoci tersebut, padahal yang diutamakan saat itu adalah perempuan dan anak-anak terlebih dahulu yang diperbolehkan masuk kedalam sekoci itu.Nah, kisah berikut adalah adegan setelah pria bule itu masuk kedalam sekoci penyelamat yang merupakan salah satu kisah heroik seorang penumpang Titanic yang berhasil ia catat dan catatannya ia simpan, ia menulis surat dalam bahasa Inggris kepada istrinya pada kertas catatan Titanic tetapi setelah ia diselamatkan ia kemudian menulisnya dalam bahasa Jepang. Sebelum akhirnya catatan tersebut dipublikasikan oleh putrinya.

Sejarah Nama-nama Hantu di Indonesia

Diposting oleh Masakan On 06.05 0 komentar
Indonesia adalah negara nomor satu yang paling kaya akan suku & budaya, keanekaragaman suku & budaya tersebut melahirkan banyak paham, adat, dan pemahaman yang berbeda-beda, perbedaan itu pula-lah yang membuat indonesia yang juga kerap dikenal dengan nama negara dengan peringkat nomor satu dengan nama keanekaragaman jenis hantu di tiap daerahnya.

Nah, disini kita kumpulin yuk sejarah/asal-muasal alias cikal bakal nama dari hantu yang beredar selama era nenek moyang.

Sejarah nama INDONESIA

Diposting oleh Masakan On 06.21 0 komentar
Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman purba kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama.


Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan).Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *Dwipantara* Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang).

Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.


Pendahuluan
Pada 2004 Asian Development Bank dan Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan di Indonesia (Partnership for Governance Reform in Indonesia) menerbitkan Laporan Tata Pemerintahan Negara Indonesia. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tiga tujuan reformasi tata pemerintahan yang ditempuh oleh Pemerintah Indonesia yakni, penataan struktur pemerintahan negara, desentralisasi pemerintahan, dan reformasi keuangan negara, telah berjalan cukup lancar tetapi belum berhasil seperti diharapkan.
Skala reformasi yang dijalankan oleh Pemerintah Indonesia dinilai cukup luas cakupannya, bahkan dipandang terlalu luas dan terlalu cepat dari yang pernah dijalankan oleh banyak negara-negara di dunia. Indonesia juga dipandang telah melakukan perubahan radikal dalam tata hubungan antara pusat dan daerah melalui program desentralisasi pemerintahan yang belum pernah ditempuh oleh negara mana pun di dunia.
Tetapi mengapa reformasi pemerintahan negara yang demikian luas jangkauannya dan begitu radikal perubahannya belum berhasil menciptakan good governance yang mampu membawa Indonesia keluar dari multi krisis yang sudah melanda bangsa ini sejak 1998? Mengapa kita belum seberhasil? Muangthai dan Korea Selatan yang telah mampu keluar dari krisis ekonomi yang sebenarnya lebih parah?
Ada beberapa faktor penyebab, yang paling utama adalah karena Pemerintah Indonesia sejak Pemerinthan Orde Baru melaksanakan reformasi birokrasi hanya setengah hati. Reformasi gaji misalnya, hanya secara parsial dengan hanya menaikkan 5 – 10 persen dari gaji pokok, tanpa kerangka konseptual yang solid, dengan mengaitkan gaji dengan kinerja serta dengan memperbadingkan dengan skala gaji sektor swasta. Perubahan budaya organisasi juga kurang mendapat perhatian serius, padahal tanpa perubahan budaya organisasi, tidak mungkin tata pemerintahan negara yang amanah dapat dikembangkan.


Tata Pemerintahan Amanah
Dalam kamus, istilah government dan governance seringkali dianggap memiliki arti yang sama yaitu cara menerapkan otoritas dalam suatu organisasi, lembaga atau negara. Government atau pemerintah juga adalah nama yang diberikan kepada entitas yang menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan dalam suatu negara.
Istilah governance sebenarnya sudah dikenal dalam literatur administrasi dan ilmu politik hampir 120 tahun, sejak Woodrow Wilson memperkenalkan bidang studi tersebut kira-kira 1125 tahun yang lalu. Tetapi selama itu governance hanya digunakan dalam konteks pengelolaan organisasi korporat dan lembaga pendidikan tinggi. Wacana tentang governance dalam pengertian yang hendak kita perbincangkan pada pertemuan hari ini — dan yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai tata-pemerintahan, penyelenggaraan pemerintahan atau pengelolaan pemerintahan — baru muncul sekitar 15 tahun belakangan ini, terutama setelah berbagai lembaga pembiayaan internasional mempersyaratkan good governance dalam berbagai program bantuannya. Oleh para teoritisi dan praktisi administrasi negara Indonesia, term good governance telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tatapemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih.
Perbedaan paling pokok antara konsep government dan governance terletak pada bagaimana cara penyelenggaraan otoritas politik, ekonomi dan administrasi dalam pengelolaan urusan suatu bangsa. Konsep “pemerintahan” berkonotasi peranan pemerintah yang lebih dominan dalam penyelenggaran berbagai otoritas tadi. Sedangkan dalam governance mengandung makna bagaimana cara suatu bangsa mendistribusikan kekuasaan dan mengelola sumberdaya dan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.
Dengan kata lain, dalam konsep governance terkandung unsur demokratis, adil, transparan, rule of law, partisipatif dan kemitraan. Mungkin difinisi yang dirumuskan IIAS adalah yanag paling tepat meng-capture makna tersebut yakni “the process whereby elements in society wield power and authority, and influence and enact policies and decisions concerning public life, economic and social development.”
OECD pada 1992, telah menggunakan keruntuhan Uni Soviet, sebagai momentum untuk membenarkan sistem ideologi liberal yang intinya adalah: (1) penghargaan terhadap HAM, (2) demokrasi, (3) penegakan Rule of Law, (4) Pasar bebas dan (5) Perhatian terhadap lingkungnan.
Sejak itu pula good governance di negara penerima bantuan dijadikan salah satu persyaratan oleh lembaga penyedia keuangan internasional.
Ada tiga pilar pokok yang mendukung kemampuan suatu bangsa dalam melaksanakan good governance, yakni: pemerintah (state), civil society (masyarakat adab, masyarakat madani, masyarakat sipil), dan masyarakat pengusaha. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab baru tercapai bila dalam penerapan otoritas politik, ekonomi dan administrasi ketiga unsur tersebut memiliki jaringan dan interaksi yang sinerjik dan setara. Interaksi dan kemitraan seperti itu biasanya baru dapat berkembang subur bila ada kepercayaan (trust) transparansi, partisipasi, serta tata aturan yang jelas dan pasti, good governance yang sehat juga akan berkembang sehat dibawah kepemimpinan yang berwibawa dan memiliki visi yang jelas.
Bagaimana kondisi good governance di Indonesia? Berbagai assessment yanbg diadakan oleh lembaga-lembaga internasional selama ini menyimpulkan bahwa Indonesia samapi saat ini belum pernah mampu mengambangkan good governance. Mungkin karena alasan itulah Gerakan Reformasi yang digulirkan oleh para mahasiswa dari berbagai kampus telah menjadikan Good Governance, walaupun masih terbatas pada Pemberantasan Praktek KKN (Clean Governance).
Namun, hingga saat ini salah satu tuntutan pokok dari Amanat Reformasi itupun belum terlaksana. Kebijakan yang tidak jelas, penempatan personl yang tidak kredibel, enforcement menggunakan, sertra kehidupan politik yang kurang berorientasi pada kepentingnan bangsa telah menyebabkan dunia bertanya apakah Indonesia memang serius melaksanakan good governance?
Tidak perlu disanggah lagi bahwa Indonesia Masa Depan yang kita citacitakan amat memerlukan good governance agar kita dapat menyelenggarakan pemerintahan negara sesuai dengan praktek-praktek yang diterima secara internasional. Namun, perumusan praktek-praktek tersebut harus dilakukan secara hati-hati dan dengan sangat memperhatikan budaya dan kondisi bangsa Indonesia. Jangan terjadi, Indonesia kemudian semakin terjerumus kedalam jebakan negara asing atau lembaga internasional dalam pemilihan bentuk penyelenggaraan pemerintahan negara, hubungan antara pusat dan daerah, serta dalam pengelolaan keuangan negara.
Budaya Organisasi Untuk Mendukung Good Governance
Di muka sudah saya singgung serba sedikit bahwa salah satu penyebab kurang berhasilnya reformasi administrasi untuk mendukung penyelenggaraan tata pemerintahan amanah karena Pemerintah tidak menaruh perhatian yang serius terhadap perubahan budaya organisasi. Selanjutnya ada dua pertanyaan yang perlu dijawab mengenai hal ini. Pertama, apa yang dimaksudkan budaya organisasi? Kedua, bagaimana mengubah budaya organisasi?
Budaya organisasi amat besar pengaruhnya pada keberhasilan dan mati hidup sebuah organisasi. Karena itulah perusahaan bersedia mengeluarkan dana yang amat besar untuk mengubah budaya perusahaan (corporate culture) agar selalu sesuai dengan lingkungannya yang selalu berubah dengan cepat. Sebaliknya, birokrasi pemerintahan negara kurang punya perhatian terhadap perubahan lingkungan karena dua alasan. Pertama, secara konseptual ketika Max Weber, sarjana sosiologi Jerman merumuskan konsep birkrasi kira-kira 140 tahun yang lalu, organisasi birokratis diasumsikan sebagai bentuk organsasi yang cocok untuk lingkungan yang stabil dan untuk menjalankan tugas-tugas yang bersifat massif tetapi redundant. Dengan demikian bentuk dan budaya organisasi harus berubah bila tugas organisasi dan lingkungannya berubah.
Budaya organisasi adalah semua ciri yang menunjukkan kepribadian suatu organisasi: keyakinan bersama, nilai-nilai dan perilaku-perlaku yang dianut oleh semua anggota organisasi. Budaya organisasi adalah tradisi yang sangat sukar diubah. Dalam bukunya “Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi”, Djokosantoso Mulyono mendifinisikan budaya organisasi sebagai “sistim nilai yang diyakini oleh semua anggota organisasi, yang dipelajari, diterapkan dan dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem perekat, dan dapat dijadikan acuan berprilaku dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.
Nilai-nilai dan perilaku yang diperlukan untuk penyelenggaraan pemerintahan amanah antara lain adalah: demokratis, adil, costconsious, transparan, akuntabel. Semuanya ini sebenarnya terangkum dalam konsep budaya FAST yang disebarluaskan oleh Ary Ginandjar yaitu: fathonah, amanah, siddiq dan tabligh.
Pada organisasi baru, membangun budaya organisasi yang sesuai dengan misinya lebih mudah melakukannya. Tetapi dalam organiisasi kementerian dan lembaga non-departemen di pusat dan dinas serta lembaga non-dinas di daerah, nilai dan perilaku sudah berkembang menjadi tradisi yang sukar berubah. Saya pribadi mengalami sendiri betapa sukar merubah budaya organisasi UGM dari PTN yang sudah berusia 56 tahun menjadi perguruan tinggi otonom. Mahasiswa, pegawai dan dosen, serta masyarakat umum termasuk media massam bersamasama mau pun sendiri-sendiri selalu “menentang” langkah-langkah yang kami ambil untuk mengejar ketertinggalan UGM dari PT luar negeri. Budaya UGM harus berubah agar dapat merealisasikan visinya menjadi “Universitas peneliian bertaraf internasional yang unggul dan terkemuka, serta berorientasi pada kepentingan bangsa dan dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.
Bagaimana Mengubah Budaya Organisasi
Peter Bijur (2001) menganggap syarat yang paling utama untuk menjamin keberhasilan upaya perubahan budaya organisasi adalah kepemimpinan yang kuat (strong leadership) baik dalam kemampuan memimpin mau pun dalam ketajaman visinya. Saya kira secara nasional ini yang menjadi kendala utama kita.
Selanjutnya, ada 5 faktor yang penting untuk mensukseskan perubahan budaya organisasi yaitu:
1. Nilai-nilai yang mendukung pencapaian visi yang telah ditetapkan;
2. Motivasi yang mampu memobiliasi dukungan untuk perubahan;
3. Ide dan Strategi yang tepat untuk menciptakan lingkungan yang mampu menyuburkan kebersamaan dalam perumusan ide-ide dan strategi untuk mendorong perubahan;
4. Tujuan yang jelas serta selalu dikomunikasikan kepada para anggota organisasi;
5. Etik kinerja yang ditumbuhkan dengan sistem remunerasi dan penghargaan yang tepat.
Perjalanan Panjang menuju Budaya Organisasi Pemerintahan yang Amanah
Perubahan budaya organisasi adalah ibarat perjalan panjang yang melelahkan dan merupakan upaya yang bersifat incremental, tidak bisa dicapat melalui gebrakan revolusioner. Budaya organisiasi paternalisitik dan sentralistik, misalnya, tidak serta merta berhasil berubah dengan menjungkir balikkan pemerintah yang berkuasa, seperti yang sedang kitaalami selama beberapa tahun ini.
Organisasi yang ingin merubah budayanya harus berani menempuh jalan yang tidak selalu lurus, dari kondisi stabil, melalui turbulence atau bahkan chaos, untuk mencapai penyesuaian dengan nilai-nilai, normanorma, perilaku dan simbol-simbol budaya baru. Organiisasi harus disipkan untuk selalu adaptif terehadap perubahan-perubahan, harus berani bereksperimen, harus berani gagal dan harus dapat menyesuaikan diri dengan unsur-unsur budaya baru, yang ditelakkan oleh pimpinan organisasi.
Walaupun sudah dilakukan dengan komitmen yang tinggi serta program yang benar, selalu ada resiko perubahan budaya organisasi tidak berjalan seperti diharapkan, atau dalam kakus sekstrim bertentangan dengan arah yang diinginkan. Perubahan budaya organisasi adalah proses panjang dan mahal yang tidak ada jaminan akan sukses. Minimal diperlukan waktu 5 sampai 10 tahun untuk merubah budaya organisasi dengan sekala seperti Republik Indonesia atau pemerintah provinsi, kabuaten dan kota. Karena itu strategi yang diajurkan oleh para ahli (Morgan, 1996dan Toolpack, 2001) adalah perubahan secara bertahap dan gradual. Memang kurang revolusioner, kurang radikal tetapi lebih aman.



Aneka Panjat Tebing

Diposting oleh Masakan On 16.13 0 komentar


- Bouldering: dianggap sebagai bentuk murni dari olah raga panjat tebing yaitu memanjat problem/ rute pendek yang kebanyakan enggak terlalu tinggi (sekitar 3m) tanpa tali pengaman. Biasanya rutenya horisontal/ menyamping. Pengaman yang digunakan biasanya crash pad atau matras empuk supaya pada saat jatuh atau kaki medarat tidak sakit/ terluka.

- Buildering: Hampir sama dengan bouldering hanya saja arena pemanjatan bukannya tebing alam melainkan konstruksi buatan manuasia yang dibangun bukan untuk tujuan olah raga panjat tebing seperti gedung bertingkat, jembatan, tower, tiang dll.

- Toproping:Pemanjatan dengan tali pengaman yang bisa diibaratkan dengan tali timba disumur. Ember dianggap sebagai pemanjat, penimba dianggap sebagai pembelay sedangkan katrol dianggap sebagai jangkar pengaman (anchor) yang berada di puncak tebing. Pada saat pemanjat mulai memanjat tali yang mengambang/terulur (slack) ditarik oleh pembelay sehingga jika pemanjat jatuh dia enggak akan jatuh ketanah melainkan menggantung seperti ember timba yang menggantung ditengah sumur. Setelah pemanjat sampai dipuncak, pembelay mengulurkan tali untuk menurunkan si pemanjat ke tanah.


- Lead Climbing: ada dua macam yaitu Sport Climbing dan Traditional (Trad) Climbing. Berbeda dengan toproping dimana tali pengaman terikat ke pemanjat dan mengulur ke karabiner di puncak tebing dan kembali ke bawah terikat pada belayer, pada lead climbing tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer langsung ke pemanjat. Pada saat pemanjat mulai memanjat si belayer mengulurkan tali, kemudian pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 3 meter) pemanjat terus memasang alat pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan pemanjat akan menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang.
Perbedaan dari Sport dan Trad Climbing yaitu dari rute pemanjatan.
Pada Sport climbing rute yang dipanjat umumya di bolted artinya pada interval ketinggian tertentu ada besi berlubang (hanger) yang dipasang/ditempel (menggunakan mur dan juga kadang lem) pada dinding tebing. Pemanjat harus membawa beberapa quickdraws (sepasang karabiner yang diikat oleh sling/tali nylon kuat).Si pemanjat mengklip satu karabiner di quickdraw tsb pada bolt yang ada didinding tebing dan kemudian mengklip tali pengaman pada karabiner yang lain.

Sedangkan pada Trad Climbing, dinding tebing benar2 bersih dari bolts dan hangers, enggak ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang. Si pemanjat harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis pemanjat pertama membuat stasiun belay untuk membelay pemanjat kedua. Pemanjat kedua yang sebelumnya membelay pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama. Alat pengaman yang digunakan pada Trad Climbing ini bisa berupa friends/ cams, nuts, tricams, hexagon, bigbro dll. Peralatan ini mahal dan enggak bisa sedikit, kamu harus memiliki beberapa set yang terdiri dari berbagai ukuran untuk bisa memanjat rute dengan aman dan baik. Beberapa set ini kemudian biasa disebut RACK (baca: rak).


- Free Solo: yaitu kategori panjat tebing yang dilakukan sendirian (tanpa partner) pada tebing tinggi tanpa tali pengaman. Alat yang dipakai hanya sepasang sepatu panjat tebing dengan kantong berisi kapur. Jenis pemanjatan ini hanya dilakukan oleh profesional yang sudah bergelut lama dengan tebing. Pemanjat free solo yang bijak biasanya hanya memanjat rute yang sudah ia kenal dengan baik dan ia panjat berkali2 dengan pengaman. Dia juga udah tau betul batas kemampuannya dan enggak pernah memanjat rute yang dianggapnya sulit. Kalaoupun ia mentok ditengah jalan ia berani mundur dengan balik turun ke bawah dan bukannya nekat nerusin pemanjatan ke puncak tebing. Dua free soloer yang sangat terkenal yaitu John Bachar (USA) dan Peter Croft (Canada).

Semua tipe pemanjatan diatas masuk kedalam golongan FREE CLIMBING artinya pada saat pemanjatan, pemanjat hanya menggunakan tangan dan kaki dan tebing panjat untuk naik keatas mencapai akhir rute panjat. Kamu enggak boleh menarik tali quickdraws, menginjak bolts, menggantung pada tali pada saat memanjat. Golongan kedua yaitu AID CLIMBING. Aid artinya alat, dalam golongan ini enggak peduli bagaimana caranya, dengan berbagai macam alat, bahkan tangga yang terbuat dari tali tambang, kamu bisa nyampe ke puncak. Yang termasuk dalam kategori ini yaitu:

- Big Wall Climbing: Pemanjatan yang biasanya dilakukan berhari2 dengan melakukan kemping di tebing panjat. Para pemanjat membawa berbagai peralatan yang dapat mempermudah akses vertikal. Ini tipe panjat tebing yang paling banyak memerlukan alat, karena bukan saja alat panjat tetapi juga alat kemping dll.

Tiga jenis panjat lain yaitu Ice Climbing (memanjat es), Mixed Climbing (memanjat campuran tebing batu dan es) dan Mountaineering/ Alpine Climbing (memanjat gunung2 tinggi melewati gunung salju, glasier dan puncak-puncak bukit)
Yang saya belum tau pasti yaitu panjat pinang dan panjat pohon kelapa masuknya kategori apa????

Setiap pemanjat bisanya memulai karir panjat tebingnya dari bouldering, kemudian toproping untuk jangka waktu yang cukup sampai dia percaya diri untuk beranjak ke lead climbing. Ada kesan bahwa pemanjat belum benar2 melakukan panjat tebing kalo levelnya belum nyampe ke Lead Climbing.



BUDAYA BISNIS RRC PADA ERA GLOBALISASI

Diposting oleh Masakan On 07.56 0 komentar

ditulis oleh: Denis L. Toruan

I.PENDAHULUAN

Dimulai pada awal era 1980-an RRC mengalami tidak kurang daripada keajaiban ekonomi. Saat ini RRC merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia; Dengan GDP sebesar US$ 8,158 trilyun pada 2005, GDP sebesar kurang lebih US$ 1.703 perkapita pada 2005, dan pertumbuhan ekonomi 9,2% setiap tahunnya. Aspek terpenting dari fenomena ini adalah sebuah sistem terbarunya yang sangat unik. Sistem itu bukan jiplakan dari sistem ekonomi yang pernah ada, melainkan sesuai dengan citarasa Cina yang khas (Prof. Michael Hough, 1995). Sistem ekonomi baru itu akan menjamin pertumbuhan dan kemakmuran Cina sampai abad ke-21. Dengan penduduk yang sekarang sudah mencapai sekitar 1,3 milyar (satu perlima total penduduk dunia), pasar terbesar dunia, RRC selalu akan menyediakan peluang bisnis yang menggiurkan dan menguntungkan bagi pengusaha manapun juga.
Pencapaian RRC moderen tidak lepas dari usaha Partai Komunis Cina (PKC) yang mereformasi negaranya secara besar-besaran dan menciptakan sistemnya yang unik: you Zhongguo tese de shehuizhuyi 有中国特色的社会主义, atau Sosialisme yang bercirikan Cina. Pada bidang ekonomi, pidato Deng Xiaoping yang dikenal sebagai “ucapan nanxun” dikristalisasikan dalam Konggres Nasional PKC ke-14 (September 1992), yang kemudian melahirkan rumusan shehuizhuyi shichang jingji 社会主义市场经济 (ekonomi pasar sosialis). Sejak saat itu, kebijakan yang dituangkan dalam garis besar haluan negara ini, mendasari pertumbuhan ekonomi RRC hingga saat ini.
Serba perubahan pada awal “era globalisasi” menuntut peninjauan ulang atas tanggapan lama mengenai budaya bisnis suatu negara, tidak terkecuali budaya bisnis Cina. Analisis para peneliti diharuskan untuk dapat menyajikan dengan hidup dan tepat gambaran mengenai bisnis/perekonomian RRC pada jaman moderen. “Informasi, yang mirip teknologi, cepat usang dan tidak relevan lagi.” Pentingnya mempelajari cara belajar ini mengingatkan kita pada hakekat pendidikan di era globalisasi, yang mencerminkan pendekatan yang sangat praktis terhadap studi tentang Cina kontemporer.
Berangkat dari hal-hal tersebut ketertarikan penulis terhadap budaya RRC moderen, memberikan banyak pertanyaan menantang yang menarik untuk dibahas. Sebutlah kasus-kasus seperti konsistensi ideologi negara, perubahan nilai-nilai kebudayaan, jaringan bisnis Cina, problem diaspora, dan lain-lain. Namun, hal menarik yang dapat ditemukan ketika berbagai pertanyaan tersebut akan dituangkan ke dalam suatu analisis mendalam, semuanya berangkat dari satu hulu yang sama: Apa yang sedang terjadi pada Cina sekarang? Lebih jauh lagi, pertanyaan tersebut kemudian membawa kita pada suatu usaha pencarian pemahaman baru akan Cina yang ‘bertransformasi’, atau sama seperti pada pameo yang belakangan sering kita dengar : “Sang Naga telah bangkit dari tidurnya.”
Ditinjau dari angle kebudayaan, aspek terpenting dari fenomena yang terjadi di Cina moderen dapat disajikan dalam suatu titik fokus tertentu, yang diharapkan dapat memberikan pemahaman atas pertanyaan-pertanyaan dasar seperti mengapa, kapan, bagaimana, apa, dan siapa; Bidang perekonomian sebagai ujung tombak pembangunan negara melahirkan banyak elemen kebudayaan baik itu simbol-simbol, cara interaksi, distribusi konsep, jaringan bisnis, norma-etika bisnis, dan lain-lain. Ini semua yang kemudian dapat mengantarkan kita pada pemahaman terhadap keberhasilan bisnis Cina di era globalisasi. Di satu sisi, pernyataan “Budaya Bisnis Cina Moderen” yang berhasil mendongkrak kebangkitan RRC di mata dunia, mengandung makna yang sangat luas bagi para peneliti, sebagian menilainya kontradiktif, sebagian lagi menganggapnya sebagai suatu kewajaran. Dikatakan kontradiktif karena, Cina sebagai salah satu kekuatan utama komunis dunia sejak 1949 jelas-jelas mengharamkan konsep kapitalisme & individualisme dalam menjalankan negaranya. Pada kenyataannya, saat ini ladang bisnis RRC yang potensial benar-benar digarap pemerintahnya dan dibuka seluas-luasnya untuk pihak asing (tetapi masih dengan kontrol yang ketat oleh PKC). Apalagi jika kita menengok kembali pada nilai-nilai lama seperti Konfusianisme yang sangat mempengaruhi pemikiran orang Cina hingga kini, keberhasilan dunia bisnis di RRC saat ini dapat dikatakan telah menyimpang sekali dari nilai-nilai lama dan mencoreng ideologi asal (komunisme). Kewajaran itu sendiri dapat dikatakan tercipta karena perkembangan jaman dan harga diri RRC yang tinggi di mata dunia internasional.
Baik itu kontradiktif maupun tidak, studi terhadap budaya bisnis Cina itu sendiri telah banyak menyita perhatian para peneliti belakangan ini. Tulisan kecil ini dibuat sebagai salah satu bahan pemahaman terhadap RRC moderen, khususnya tentang hubungan dalam bidang kebudayaan dan dunia bisnis Cina. Ruang lingkup yang digunakan adalah RRC pada era 1980-an sampai dengan 2003, di luar kota Hongkong dan Shanghai.



Budaya Bisnis Masyarakat Cina Tradisional

Pembahasan mengenai budaya bisnis RRC pada masa moderen tidak dapat dilepaskan dari kaitannya dengan kebudayaan masyarakat Cina tradisional. Pembahasan akan aspek ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan sistematis.
Momentum kebangkitan para kaum bisnis Cina sudah dimulai pada akhir abad kesembilan belas, tepatnya pada era awal kejatuhan dinasti Qing. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya kelas komprador pada struktural masyarakat Cina saat itu. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa sebelum masa ini kaum bisnis Cina tidak/belum pernah ada. Golongan pedagang sudah dikenal di Cina sejak runtuhnya feodalisme dinasti Zhou (1122-246 SM). Saat itu dan hingga seterusnya, golongan ini eksis di masyarakat Cina, namun menempati posisi sosial yang paling rendah. Masyarakat Cina tradisional menggunakan sistem hierarkis dalam memandang nilai pekerjaan seseorang. Penekanannya kepada nilai tenaga kerja (buruh) dan nilai bahan mentah. Berikut adalah empat lapisan sosial yang terdapat pada masyarakat Cina tradisional, dari strata yang paling rendah hingga ke yang paling tinggi :
1. Kaum pedagang, pemain teater, tentara, pelacur
2. Kaum pengrajin (tukang batu, tukang kayu, dll)
3. Kaum petani
4. Kaum literati dan elit pemerintahan
Fungsi kaum pedagang pada masyarakat Cina tradisional dalam hubungannya dengan sistem strata sosial tersebut hanyalah sebatas sebagai pengelola pasar, pelatihan magang, dan ritual pemujaan. Mereka tidak pernah menentang sistem sosial yang sudah berjalan seperti itu, dan berharap dapat meningkatkan status sosial keluarganya dengan mendidik anak-anaknya agar dapat menjadi bagian dari kaum terpelajar.
Siapa atau apa yang membuat sistem sosial pada masyarakat Cina tradisional berlaku seperti itu? Sistem masyarakat Cina tradisional sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai lama seperti Konfusianisme. Ajaran yang muncul pada dinasti Zhou Timur ini mengajarkan suatu ideal tentang bagaimana suatu negara seharusnya dijalankan, dengan menekankan kepada pendidikan moral berdasarkan suatu sistem yang hierarkis. Hal ini dapat kita lihat dari konsep-konsep seperti Wu-lun (lima hubungan), empat konvensi moral, dan lain-lain. Terkhusus mengenai yang disebut terakhir, Konfusius mengajarkan bahwa negara (Cina) harus dijalankan secara hierarkis, yaitu: Cina dibangun berdasarkan negara keluarga, satu organisasi sosial yang otokratis, hierarkis, dan tidak demokratis. Kemakmuran bersama dicapai dari hasil-hasil pertanian. Kestabilan suatu negara dapat dijamin dengan hierarki yang jelas. Dengan kata lain, yang lebih rendah taat kepada yang lebih tinggi, dan yang lebih tinggi menunjukkan kemurahan hati sebagai balasan terhadap kesetiaan tersebut.
Dalam konvensi moralnya Konfusius juga mengajarkan tentang paham kolektivisme. Menurutnya, kolektivisme ini menentukan status individu yang ditentukan oleh hubungannya dengan sistem hierarki. Oleh karena itu, orang yang beretika Konfusian akan bertindak sesuai dengan harapan orang lain daripada harapan/keinginannya pribadi, sehingga mereka selalu bersedia bekerjasama. Individu tidak terpisah dari struktur sosial, melainkan sebagai komponen etis dari suatu bangunan sosial yang lebih besar. Semua hal yang disebut inilah yang mendasari atas berjalannya sistem sosial pada masyarakat Cina tradisional.
Telah diketahui bahwa kaum pedagang menempati posisi terbawah dari strata sosial masyarakat Cina tradisional. Kaum yang dianggap ‘berkemampuan’ lebih, atau ‘lihai’, dan selalu bernafsu mengejar keuntungan sendiri oleh masyarakat Cina tradisional ini, jelas-jelas diposisikan sebagai golongan inferior pada masyarakat, sama seperti yang dikemukakan oleh Guo Hengshi pada sebuah esainya yang berjudul The Early Development of The Modern Chinese Business Class : “Treacherous Merchant was the usual phrase for traders or middlemen. All material innovation and prosperity was renounced by the great teaching of Confucius and his followers. From time to time, merchants were actually suppressed, especially when they appeared to mount in power.” Konsep pembagian tenaga kerja pada masyarakat Cina tradisional semata-mata berdasar atas dikotomi : literati dan petani. Literati berperan dalam menjalankan pemerintahan, petani diperintah dan memproduksi hasil bumi untuk mendukung para superordinatnya. Akibatnya, prestise kaum literati pada strata sosial lebih tinggi dibanding golongan lainnya, karena mereka dikatakan ‘bekerja dengan pikiran’, dan petani yang ‘menggunakan tangannya’ menempati posisi di bawahnya. Semua aktivitas penghidupan selain pengolahan tanah dianggap tidak lazim dan tanpa dukungan moral.

II. Keunikan Budaya Bisnis Cina

Sistem ekonomi pasar sosialis yang dilakukan di RRC sejak tahun 1992 memberikan banyak sekali kemajuan bagi masyarakat Cina moderen. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa sistem ekonomi Cina yang baru memiliki keunikan yang tidak pernah ada di negara manapun di dunia, sistem ini pun memiliki beberapa elemen-elemen penting yang lahir dari setiap aktivitas berbudaya (melalui bisnis). Berikut beberapa elemen tersebut :
1. guanxi
2. ganqing
3. xinyong
II.I. guanxi ( 关系 )
Secara harafiah, guanxi berarti hubungan. Makna ini dapat digunakan untuk setiap jenis hubungan. Dalam budaya bisnis Cina guanxi dapat diartikan sebagai ‘koneksi’. ‘Koneksi’ di sini bermakna sebagai suatu jaringan hubungan di antara bermacam-macam personal, kelompok / badan yang saling bekerjasama dan mendukung satu sama lain. Mental para pebisnis Cina sangat dekat maknanya dengan sebuah pameo dari Barat, “You scratch my back, I’ll scratch yours.” Di mana pun, kapan pun, dalam mengurus segala hal, orang Cina selalu “kao guanxi”, artinya pakai koneksi.
Tanpa memperhitungkan pengalaman seseorang / sebuah badan di negara asalnya, guanxi adalah jaminan akan kelancaran berbisnis di Cina. Guanxi dapat meminimalisir kemungkinan gagal suatu badan dalam berbisnis di Cina dan hambatan-hambatan lainnya seperti ‘prosedur bayangan’, dan lain-lain, jika didapatkan secara tepat. Seringkali guanxi yang benar-benat tepat dihubungkan dengan pihak yang berwenang (pejabat setempat / pemerintah) yang nantinya akan sangat menentukan eksistensi badan (perusahaan) tersebut di Cina dalam jangka panjang.
Guanxi dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bisa saja terjadi dalam sebuah malam di tempat karaoke dengan pemimpin departemen pemadam kebakaran setempat, agar proposal pengajuan ruang kerja baru dengan komputerisasi yang mutakhir disetujui. Atau pada tingkat yang lebih tinggi, guanxi bisa saja berarti datangnya eksekutif perusahaan asing untuk berjabat tangan dengan menteri terkait yang menjadi kunci As dalam pengerjaan sektor industri potensial.

II.II. ganqing (感情 )
Secara harafiah ganqing berarti perasaan. Dalam budaya bisnis Cina konsep ganqing masih berhubungan dekat dengan guanxi. Ganqing merefleksikan suasana umum dari hubungan sosial dari dua orang atau dua badan yang saling berinteraksi. Seseorang dapat dikatakan memiliki ganqing yang baik jika hubungannya dengan orang lain tersebut baik, selain track-record hubungan yang baik di antara keduanya. Sedangkan ganqing yang mendalam adalah terdapatnya ikatan perasaan / hubungan batin yang dalam pada hubungan sosial itu sendiri.
Contoh dari ganqing sering ditemukan pada pernyataan-pernyataan pemerintah Cina dan seringkali salah diterjemahkan ketika diaplikasikan pada konteks ini. Perkataan atau tindakan yang dapat melukai perasaan orang Cina sepatutnya dihindari jika ingin terus bekerjasama (berbisnis) dengan mereka. Konsep ganqing juga dekat sekali maknanya dengan konsep ‘muka’ dalam budaya Cina.
Konsep ‘muka’ dalam kebudayaan Cina mengacu kepada dua hal yang berbeda tapi saling berhubungan, yaitu mianzi 面子 dan lianzi 脸子. Lian adalah kepercayaan masyarakat dalam karakter moral seseorang. Sedangkan mianzi merepresentasikan persepsi sosial terhadap prestise seseorang. Konsep menjaga muka sangat penting halnya dalam hubungan sosial masyarakat Cina karena muka mewakili kekuasaan dan pengaruh. Kehilangan lian berakibat pada hilangnya kepercayaan sosial terhadap seseorang. Dan kehilangan mianzi berakibat pada kehilangan wibawa dan wewenang seseorang. Contoh gampangnya, gosip tentang seseorang yang mencuri dari kas toko; Ia akan kehilangan lian bukan mianzi. Pada kejadian lainnya, memotong pembicaraan bos/atasan seseorang menyebabkannya kehilangan mianzi bukan lian.
Orang Cina berusaha sebisa mungkin menghindari suatu konflik dalam melanggengkan hubungan dengan sesamanya. Ketika mereka menghindari konflik biasanya orang Cina akan berusaha untuk tidak menyebabkan seseorang kehilangan mianzi-nya, yaitu dengan tidak memunculkan kenyataan-kenyataan yang memalukan ke hadapan publik. Sebaliknya, ketika mereka ingin menantang suatu wewenang atau orang lain dalam suatu komunitas tertentu, orang Cina akan berusaha menyebabkan orang tersebut kehilangan lian atau mianzi. Satu contoh publik akan hal ini yaitu saat Tragedi Tian’anmen 1989 di mana Wu’er Kaixi mencemooh PM Li Peng karena datang terlambat untuk bertemu dengan para demonstran. Akibatnya, Li Peng kehilangan mianzi karena dia terlihat datang terlambat dan menjadi figur pemerintah yang sangat tidak populer di mata kalangan publik Cina, khususnya menyangkut peristiwa Tian’anmen. Konsep serupa juga ditemukan pada kebudayaan Jepang dan Korea.

II.III. Xinyong ( 信用 )
Dalam istilah bahasa Inggris, xinyong disebut sebagai gentlemen’s agreement (Cheng, 1985). Xinyong dalam budaya bisnis Cina bermakna sebagai sebuah jaringan antar pribadi.
Bagi orang Cina kepercayaan antar pribadi merupakan hal yang terpenting. Para pengusaha etnis Cina biasanya hanya berhubungan komersial dengan orang yang sudah mereka kenal. Oleh karena itu, reputasi seseorang penting artinya bagi transaksi bisnis. Dahulu, para pebisnis Cina secara pribadi akan berhubungan langsung dengan rekan-rekan bisnisnya, karena hal ini akan meningkatkan kemutlakan peran pemilik di samping tetap menjaga reputasinya sebagai pemilik perusahaan. Fenomena serupa terjadi hingga kini di perusahaan-perusahaan milik etnis Cina di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Sebaliknya, fenomena di Cina Daratan menunjukkan bahwa kehadiran seorang pemimpin perusahaan dalam sebuah pertemuan bisnis tidak selalu signifikan, karena keputusan final tetap dipegang oleh komune/dewan eksekutif yang belum tentu hadir di pertemuan tersebut, yang bisa saja mengakibatkan suatu pertemuan bisnis dengan tema yang sama dapat terjadi berkali-kali dan mungkin sangat alot bagi pihak asing yang masuk ke dalam lingkaran mereka.
Xinyong dapat tertuang dalam kontrak verbal di suatu transaksi bisnis. Penandatanganan kontrak kadang-kadang tidak diperlukan, biasanya hanya diperlukan dengan badan-badan pemerintah. Persetujuan verbal dianggap sudah cukup. Jika pihak I mengatakan akan melakukan sesuatu maka dia tidak akan ingkar. Bagi mereka ingkar adalah perbuatan yang dapat mencoreng mianzi. Jika tersebar reputasinya akan jatuh dan tidak akan ada lagi yang bersedia bisnis dengannya lagi (atau kehilangan lian).


III. Budaya Bisnis RRC pada Masa Moderen

Angin perubahan pada RRC moderen secara kebudayaan dapat dikatakan dimulai sejak kejatuhan dinasti Qing, yaitu saat pengaruh asing masuk secara masif ke daratan Cina dan mempengaruhi segala aspek kehidupan secara signifikan. Salah satu contohnya adalah dengan diberlakukannya Perjanjian Nanking yang sangat memberatkan bangsa Cina dan mengharuskan Cina untuk membuka diri terhadap dunia luar. Tercatat pada era ini dasar bagi perekonomian dan kebudayaan Cina moderen telah mengalami perubahan yang berarti. Kebudayaan lama mulai ditanggalkan dan nilai-nilai yang dianggap sudah tidak relevan lagi dienyahkan. Salah satu buktinya adalah wusi yundong (peristiwa 4 Mei 1919), yang berusaha menghapuskan Konfusianisme di Cina serta merubah dunia kesusastraan dan sosial-kebudayaan masyarakat Cina. Cina sejak dahulu penuh dengan nilai-nilai revolusioner.
Budaya bisnis Cina moderen sendiri mengalami perubahan yang signifikan sejak era tadi. Secara garis besar, gejolak di Cina pada awal abad kedua puluh memunculkan kelas baru di masyarakat Cina yang disebut dengan kelas komprador. Golongan ini bertugas mewakili hubungan dagang antara pemerintah Cina (saat itu masih dipegang Dinasti Qing) dan pihak Barat atau negara asing lainnya. Saat itu, di tengah-tengah masyarakat sendiri pertentangan konsep antara bisnis dan nilai-nilai patriotisme (bukan lagi nilai moral), masih hangat sekali. Sebagian masyarakat Cina masih mengharamkan bisnis (apalagi) dengan pihak barbar/asing, sebagian lagi marah karena diinjak-injak martabatnya oleh bangsa asing sehingga mereka mencari alternatif-alternatif dalam mengatasi penghinaan semacam ini. Kelas komprador lah yang mengawali sepak terjang Cina dalam dunia bisnis moderen.
Pada perkembangannya ketika kaum komunis mutlak menguasai pemerintahan Cina daratan, dunia bisnis Cina (dalam konteks ini individu maupun badan swasta) untuk sekali lagi kembali ditekan. Segala individu maupun badan swasta yang melakukan bisnis tanpa otorisasi elit kaum komunis pasti akan dicap sebagai antek-antek kapitalis atau dengan kata lain bertentangan dengan nilai-nilai kaum revolusioner. Begitu ekstremnya tindakan kaum revolusioner Cina hingga kesusastraan Cina pun dijadikan alat propaganda untuk mendukung komunisme, salah satunya dengan menyerang para kapitalis atau individu yang dianggap sebagai oposisi. Sejak merdeka (1949) hingga sebelum diberlakukannya gaige kaifang (1979), RRC memeluk “ekonomi terencana secara pusat”, yang menempatkan negara pada posisi sentral. Selama 30 tahun itulah dunia bisnis RRC stagnan.
Baru pada Desember 1978, yaitu ketika Kongres XI Partai Komunis Cina mengesahkan rumusan gaige kaifang atau kebijakan reformasi dan keterbukaan, bisnis RRC kembali menggeliat. RRC masuk pada tahap baru, jauh berbeda dibanding sebelumnya. Bahkan seorang Deng Xiaoping sekalipun menegaskan dalam evaluasinya yang dikeluarkan pada September 1982 : “Kemiskinan bukan sosialisme. Sosialisme berarti melenyapkan kemisikinan.”.

III.I. Demam Bisnis di Cina Moderen

Nilai-nilai bisnis masyarakat Cina berubah luar biasa sejak 1978. Sejak saat itu makin banyak masyarakat yang memandang berkarier di bidang bisnis sebagai profesi yang layak. Media mula-mula menyebut gejala ini sebagai “demam bisnis”. Terlebih pada 1979 sampai 1997, banyak orang Cina memandang bisnis sebagai jalan terbaik untuk memperoleh uang. Situasi ini juga menimpa cendekiawan Cina yang kini memilih bisnis sebagai pilihan karier terbaik dan menantang nilai tradisional yang memandang studi sebagai jalan menuju birokrasi. Pergeseran budaya ini telah menjadi pokok pembicaraan sebagian besar masyarakat Cina.
“Demam bisnis” mula-mula timbul pada 1984, yaitu ketika pasar kerja paruh waktu melibatkan banyak karyawan perusahaan milik negara, petani di pedesaan, mahasiswa, dan beberapa cendekiawan. Ledakan kedua yaitu sekitar tahun 1990, yang ditandai hengkangnya pejabat-pejabat pemerintah, kader partai, dan dosen-dosen perguruan tinggi ke sektor perdagangan.
Gejala yang dipicu oleh perubahan fundamental ini bermakna perubahan yang luar biasa pada pola kepercayaan tradisional rakyat kebanyakan dan cendekiawan Cina. “Demam bisnis” menandai berakhirnya satu nilai sosial yang telah berumur 2.000 tahun, yaitu bahwa menjadi pejabat negara adalah tujuan akhir yang wajar dari perjalanan akademis seseorang. Dalam waktu kurang dari satu generasi, peran ilmuwan/cendekiawan Cina telah bergeser dari penjaga pintu gerbang nilai Konfusian menjadi agen penggerak dan pembela perubahan sosial yang terbesar di Cina.

IV. Budaya Perusahaan Cina Moderen

Globalisasi memacu setiap negara di dunia untuk terus meng-update sistem yang dimilikinya dan bersaing agar dapat terus survive, tidak terkecuali RRC. Terpengaruh oleh pandangan pemikir dan praktisi manajemen Barat, sejumlah manajer senior Cina mulai menimbang-nimbang kemungkinan untuk mengembangkan budaya perusahaan yang khas Cina untuk masa kini. Mereka menilai bahwa model yang baru harus menyempurnakan budaya tradisional maupun budaya perekonomian pasar yang kompetitif dan sedang berkembang. Sejak saat itu, muncullah identitas perusahaan Cina yang unik. Identitas tersebut mencerminkan budaya tradisional Cina dan nilai-nilai moderen yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang sangat cepat. Berikut beberapa aspek unik tersebut:

1. Susunan Organisasi - “Dua Kendali”
Perbedaan terbesar antara susunan organisasi kebanyakan perusahaan di Cina dan semua perusahaan Barat adalah adanya sistem manajemen pararel di perusahaan Cina. Yang pertama adalah sistem administrasi dan yang kedua adalah struktur kepemimpinan internal yang melibatkan orang-orang di lingkungan Partai Komunis. Manajer Cina sering menyebut sistem ini sebagai sistem “dua kendali”. Sebelum Reformasi Perusahaan pada tahun 1984, seorang sekretaris Partai Komunis mengawasi semua perusahaan Cina. Setelah 1984, seorang manajer umum juga diberi tanggung jawab mengelola perusahaan. Sejak saat itu sekretaris Partai Komunis dan manajer umum dituntut untuk memikul tanggung jawab yang sama (sistem pararel). Dengan sistem pararel, Partai Komunis mempunyai wakil hampir di setiap badan usaha milik negara, perusahaan bersama, dan perusahaan patungan. Tanggung jawab pokok Partai Komunis adalah mengawasi dan menjamin arah strategi perusahaan serta turut serta dalam pengambilan keputusan penting, terutama yang menyangkut karyawan. Di beberapa perusahaan kecil, direktur eksekutif bisa saja merangkap menjadi pimpinan perusahaan sekaligus sekretaris Partai Komunis. Akan tetapi, di kebanyakan perusahaan milik negara dan usaha patungan besar, jabatan direktur eksekutif dan sekretaris Partai Komunis dipegang oleh orang yang berbeda. Penerapan sistem pararel sering menimbulkan beda pendapat di antara kedua manajemen itu.

2. Fungsi Organisatoris - “Masyarakat Kecil”
Salah satu ciri manajemen Cina yang menonjol adalah peranan organisasi yang sangat besar dalam kehidupan, baik profesional maupun pribadi para karyawan. Kebanyakan perusahaan di Cina tidak hanya memberi kesempatan kerja dan gaji kepada para karyawan, tetapi juga harus menyediakan segala macam keperluan materiil karyawan termasuk asuransi kesehatan, perumahan, perawatan anak, sekolah, dan hiburan. Bahkan, beberapa perusahaan besar milik negara membuka toko eceran di sekitar lingkungan kerja untuk melayani para karyawan. Fungsi organisatoris perusahaan Cina serupa dengan fungsi suatu masyarakat kecil. Kebanyakan perusahaan Cina (setidaknya karyawan BUMN) mengetahui dengan jelas bahwa perusahaan yang dapat dipercaya harus memperhatikan semua segi kehidupan karyawan, termasuk lingkungan kerja dan keluarga mereka. Di samping menangani masalah pengembangan dan dan operasi perusahaan sehari-hari, seorang direktur eksekutif harus menyediakan banyak waktu dan tenaga untuk membina kesejahteraan pribadi para karyawan. Seorang direktur eksekutif yang dapat dipercaya harus terampil memimpin tim manajemen yang bertanggung jawab atas pusat perawatan anak, penyediaan fasilitas perumahan yang terbatas, dan mengatur penyediaan makanan pada kesempatan istimewa dan pesta-pesta. Bahkan, ia diharapkan bisa meredakan perselisihan keluarga atau antarpribadi yang serius. Peranan seorang manajer senior di perusahaan Cina sangat rumit.

3. Nilai-nilai perusahaan Cina
Manajemen perusahaan di Cina masih terpengaruh oleh nilai-nilai Konfusian, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui sosialisasi dalam keluarga. Walaupun pemerintah berusaha meniadakan nilai-nilai lama melalui Revolusi Kebudayaan (1964-1976), pengaruh itu masih kuat hingga kini. Berikut beberapa karakteristik yang menjadi nilai-nilai perusahaan Cina tersebut :
• Orientasi Manajemen pada “Prestasi Bersama”
Para manajer Cina memegang teguh prinsip berorientasi pada kelompok atau kepentingan bersama. Tuntutan atas pengakuan prestasi individu biasanya ditolak. Meskipun penelitian terakhir menyebutkan bahwa motivasi karyawan Cina untuk mengukir prsetasi diri menguat sejak pertengahan dekade 1990-an, tapi sikap berorientasi pada kelompok ini masih menjadi hal yang utama dalam manajemen perusahaan. Para manajer yang menganut etika manajemen non-kompetitif ini, tetap berpandangan bahwa setiap individu hendaknya bekerjasama secara selaras dengan yang lainnya sehingga mendukung organisasi tersebut.
• Ketidakpercayaan dalam organisasi
Dalam banyak organisasi para manajer Cina tidak sepenuhnya mempercayai bawahan, antara lain karena alasan nilai hierarkis. Mereka menganggap organisasi sebagai sistem keluarga . Dari sudut pandang budaya, menurut sistem ini bawahan diperlakukan sebagai “anak-anak” yang bergantung dan tidak dapat dipercayai sepenuhnya. Di sisi lain, manajer umum Cina dipandang sebagai “orangtua” yang harus menjaga dan mengawasi “anak-anak”-nya. Oleh karena itu, banyak perusahaan di RRC yang dijalankan hanya oleh satu figur ayah yang kuat. Segala keputusan penting perusahaan diambil secara mutlak oleh senior/para manajer atas perusahaan.
• Kerjasama berdasarkan kepatuhan dan pentingnya keserasian hubungan
Para manajer Cina bekerja dalam lingkungan kerja yang semi otoriter. Dengan sistem manajemen yang top-down itu, para bawahan diharapkan tunduk sepenuhnya dan menjalankan instruksi manajer mereka dengan sungguh-sungguh. Kompromi dan kepatuhan bawahan merupakan nilai budaya Cina yang fundamental. Pada dimensi yang sama, hubungan ini diharapkan dapat selalu selaras sehingga mendukung operasional organisasi tersebut. Oleh sebab itu, para manajer Cina seringkali lebih banyak memperhatikan hubungan pribadi di lingkungan kerja dibanding tugas yang ada. Pada dimensi yang lebih luas, konsep guanxi selalu menjadi acuan utama perusahaan dalam interaksinya dengan organisasi lain.

V. Budaya Bisnis RRC, Globalisasi, dan Semangat Kebanggaan Nasional

Cina adalah salah satu bangsa tertua di dunia yang memiliki harga diri dan martabat yang tinggi. Sejarah panjang yang terukir dalam perjalanan peradaban mereka mencerminkan dinamika kebudayaan yang lahir dan mati seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, tidak heran jika perubahan selalu terjadi. Berbagai kejadian domestik hingga internasional yang mempengaruhi, terbukti menempa masyarakat Cina untuk selalu beradaptasi dengan sekitarnya.
Masih hangat di benak kita saat Deng Xiaoping mengumumkan kebijakan pintu terbukanya pada 1979, khalayak RRC sekali lagi terhentak oleh angin perubahan. Di daratan Cina masyarakat setempat begitu antusiasnya meneriakkan slogan reformasi. Bagaimana mungkin sebuah negara komunis totaliter yang identik dengan ejekan “Tirai Bambu” ini, tiba-tiba saja menyulap negaranya menjadi sebuah pasar ekonomi bebas hampir serupa dengan para seterunya, negara-negara Barat penganut kapitalisme? Ada dua hal signifikan yang dapat menjelaskan fenomena ini: Globalisasi dan kebanggaan nasional.
Dalam dunia moderen yang semakin sempit ini, RRC melakukan terobosan-terobosan baru dalam menjaga eksistensinya. Hal ini sangat erat berkaitan dengan globalisasi. Perlu diketahui, bahwa RRC merupakan pemain lama dalam globalisasi. Hal ini sudah dilakukannya sejak awal abad Masehi dengan dibukanya jalur sutra, dan pada Dinasti Ming mengirimkan banyak ekspedisi ke luar negri. Hanya saja, RRC dengan paradigma-nya yang inward-looking, memiliki cara yang unik dalam menjalankan globalisasi. Ketika dunia asing (Barat) menyentuh teritori dan otoritas Cina secara masif pada akhir abad ke-19, Cina mengalami perubahan yang drastis. Konsep monarki runtuh dan digantikan dengan konsep yang lebih moderen; demokrasi republik. Perkembangan terakhir yang kita ketahui kini, RRC menjalankan ekonomi pasar sosialis-nya. Menurut para elit politbiro RRC, Cina saat ini sedang mengalami tahap awal sosialisme.
Kedua, semangat kebanggaan nasional. Ketika Cina dijajah dan “dibagi-bagi” oleh bangsa Barat (juga Jepang) pada awal abad ke-20, kebencian terhadap bangsa asing semakin menjadi-jadi. Pihak Cina yang dipimpin oleh Sun Yat Sen berhasil merobohkan dinasti Qing dan mengarahkan Cina ke arah kemerdekaan dengan konsep negara yang lebih moderen dan relevan. Sangat disayangkan bahwa agresi Jepang dan konflik domestik (pertentangan kaum nasionalis-komunis) pada era ini, harus menunda kemerdekaan Cina. Setelah merdeka pada 1949, kaum komunis yang memimpin RRC, mutlak tampil sebagai penguasa tunggal. Rakyat RRC di bawah kepemimpinan Mao Zedong dipenuhi oleh gelombang “kediktatoran proletariat”, yang muncul sebagai semangat sosial dalam menghadapi kekuatan asing di Cina. Akibatnya, segala hal yang berbau Barat (atau produk kapitalisme) secara ekstrem dilarang dan dienyahkan. Dunia bisnis RRC dikontrol secara terpusat oleh pemerintah. Baru pada era Deng, RRC memeluk pendekatan yang berbeda dalam menghadapi globalisasi, namun masih dengan isu yang sama; kebanggaan nasional. RRC mencapai keajaiban ekonomi yang menakjubkan dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Ladang bisnis pun digarap secara serius oleh pemerintah dan dibuka luas untuk orang asing.
Dari sudut pandang budaya, RRC saat ini mengalami begitu banyak perubahan, akan tetapi tidak semuanya merupakan nilai-nilai kebudayaan asing yang diadaptasi. Pada budaya bisnisnya, tidak sedikit orang Cina yang mensikretiskan nilai-nilai lama dengan nilai bisnis moderen. Ini semua tercermin dalam elemen kebudayaan yang muncul dalam interaksi dan operasional perusahaan / organisasi mereka.

















BIBLIOGRAFI


Boisot, M. & Child J. From fiefs to clans and network capitalism: Explaining China’s emerging economic order. USA : Administrative Science Quarterly, 2000.
De Dreu, C. & Van de Vliert, E. Using conflict in organizations. Beverly Hills, CA : Sage, 1997.
Ding, D.Z. In Search of Determinants of Chinese Conflict Management Styles in Joint Ventures: An Integrated Approach. Paper, City University of Hongkong : Hongkong, 1996.
Fishman, Ted. C. China Inc. USA : Simon & Schuster Inc, 2005.
Henderson, Callum. China on The Brink. Singapore : McGraw-Hill, 1999.
http://chinese-school.netfirms.com
http://en.wikipedia.org
Kirkbride, P.S. Tang, S.F.Y. & Westwood, R.I. Chinese conflict preferences and negotiating behaviour: Cultural and Psychological influences. Organizational Studies, 12, 365-386, 1991.
Levy, Marion J., Jr & Guo Hengshi. The Rise of The Modern Chinese Business Class. New York : Institute of Pacific Relations, 1949.
Morse, H.B., The Guilds of China. New York: Longmans, Green and Company, 1932.
Triandis, H.C., McCusker, C. & Hui, C.H. Multimethod probes of individualism and collectivism. Journal of Personality and Social Psychology, 1990.
Whiteley, A. (Juli 2004). Mengelola Bisnis Pendidikan dalam Konteks Budaya Cina. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Juli 2004.
Wibowo, I. Belajar Dari Cina. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, Januari 2004.
Yuan, Wang & Goodfellow, Rob. & Xin ShengZhang. Menembus Pasar Cina. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, Agustus 2000.

Batik Indonesia Di Klaim Milik Malaysia

Diposting oleh Masakan On 22.39 0 komentar
Wah kenapa seh negara tetangga kita ini selalu cari masalah dan perkara sma orang INdonesia padahal dulu mereka sangat menghormati bangsa Indonesia dan mereka juga bisa seperti sekarang ini karena Indonesia.Kenapa seh sekarang Malaysia jadi asak ngomong dan asal ngaku2 aja barang milik Negara Indonesia kita ini apa karena sekarang Indonesia sedang jatuh dan warganya bodoh2 dan Malaysia dengan sombongnya sudah menjadi negara maju.Ada apa denganmu Malaysia???kenapa Kamu jadi begini menjadi bangsa yang gak berpendidikan dan mengaku2 punya Indonesia kamu akui juga.....jangan sampai terjadi PErang Dunia 3......



JAKARTA - Departemen Hukum dan HAM (Depkum HAM) dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) akan mendaftarkan ratusan ribu kebudayaan Tanah Air yang sampai saat ini masih belum terdaftar sebagai hak kekayaan intelektual.

Hal tersebut dilakukan dua instansi tersebut sebagai langkah antisipasi adanya klaim atas kebudayaan Indonesia oleh negara lain.

"Kami bekerja sama dengan Budpar untuk mendaftarkan budaya kita di HAKI. Ada ratusan ribu seperti reog ponorogo, kesenian, patung, arca, belum lagi cerita rakyat seperti malin kundang. Lama-lama nanti itu diklaim pula," ungkap Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Andi Mattalatta usai mengikuti gerak jalan sehat dalam rangka pembukaan kegiatan Hari Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Sedunia ke-8, di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (27/4/2008).

Sebagai contoh, menurut Andi saat ini seluruh produk batik hasil industri dalam negeri sudah diwajibkan diberi logo batik Indonesia.

"Sekarang untuk batik Indonesia ada logo batik Indonesia. Sekarang semua batik produksi Indonesia diwajibkan mengenakan logo batik Indonesia, di luar itu berarti palsu," imbuhnya.(jri)

sumber : okezone


* Tulis di atas kertas kriteria pendamping yang anda inginkan. Jangan berhenti menulis sampai anda mendapat gambaran jelas tentang sosoknya.
* Telusuri pengalaman buruk dengan kekasih di masa lalu. Singkirkan emosi dan pelajari penyebab anda selalu memilih pria yang ‘salah.’
* Ganti taktik anda dalam mencari jodoh. Bila anda biasanya pergi ke café untuk melewatkan malam minggu , coba variasikan ,misalnya dengan mengunjungi pameran foto atau nonton film di pusat kebudayaan.
* Berpikir jangka panjang .Apa yang anda lihat pertama kali ,itulah yang harus anda hadapi untuk seterusnya.Misalnya ,kalau tak mau pasangan anda menyelinap malam-malam ke club,jangan memilih kekasih seorang pria pecandu party.
* Jadikan ajang mencari jodoh seperti ketika anda hendak shopping .Anda tidak akan mendapatkan ‘barang’ kualitas terbaik kalau hanya duduk berpangku tangan .Jadi ,jangan ragu menjelajah banyak’etalase’ sebelum anda mendapatkan ‘barang’ yang dicari

sumber : majalah chic
Mohammad Asad

Pada tahun 1922 saya rneninggalkan tanah air saya Austria untuk melakukan perjalanan ke Afrika dan Asia, sebagai wartawan khusus untuk beberapa harian yang besar di Eropa. Sejak itu, hampir seluruh waktu saya habiskan di negeri-negeri Timur-Islam.

Perhatian saya terhadap bangsa-bangsa yang saya kunjungi itu mula-mula adalah sebagai orang luar saja. Saya melihat susunan masyarakat dan pandangan hidup yang pada dasarnya berbeda dengan susunan masyarakat dan pandangan hidup orang-orang Eropa, dan sejak pandangan pertama, dalam hati saya telah tumbuh rasa simpati terhadap pandangan hidup yang tenang, yang boleh saya katakan lebih bersifat kemanusiaan jika dibanding dengan cara hidup Eropa yang serba terburu-buru dan mekanistik. Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya keinginan saya untuk menyelidiki sebab adanya perbedaan itu, dan saya menjadi tertarik dengan ajaran-ajaran keagamaan orang Islam. Dengan persoalan ini, saya belum merasa tertarik cukup kuat untuk memeluk agama Islam, akan tetapi telah cukup membuka mata saya terhadap suatu pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan sunguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang Islam sekarang masih jauh berbeda dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran-ajaran Islam.

Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan gerak dan maju, di kalangan orang Islam telah berubah menjadi kemalasan dan kemandegan. Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan kemurahan hati dan kesiapan berkorban, di kalangan muslimin sekarang telah berubah menjadi kesempitan berpikir dan senang kepada kehidupan yang mudah, sehingga saya benar-benar bingung memikirkannya, keadaan yang sangat bertentangan antara kaum muslimin dahulu dan kaum muslimin yang sekarang.

Hal inilah yang telah mendorong saya untuk lebih mencurahkan perhatian terhadap persoalan yang rumit ini. Lalu saya mencoba menggambarkan seolah-olah saya sungguh-sungguh merupakan salah seorang anggota masyarakat Islam. Hal itu merupakan percobaan ilmiah murni yang telah memberikan kepada saya dalam waktu yang singkat tentang pemecahannya yang tepat.

Saya telah dapat membuktikan bahwa satu-satunya sebab kemunduran sosial dan budaya kaum Muslimin sekarang ialah karena mereka secara berangsur-angsur telah meninggalkan semangat ajaran Islam. Islam masih tetap ada, tapi hanya merupakan badan tanpa jiwa. Unsur utama yang dahulu pernah tegak berdiri sebagai penguat dunia Islam, sekarang justru menjadi sebab kelemahannya. Masyarakat Islam sejak mulai berdirinya telah dibina atas dasar keagamaan saja, dan kelemahan dasar ini tentu saja melemahkan struktur kebudayaan, bahkan mungkin merupakan ancaman terhadap kehancurannya sendiri pada akhirnya.

Semakin saya mengerti bagamana ketegasan dan kesesuaian ajaran Islam dengan praktek, semakin menjadi-jadilah pertanyaan saya, mengapa orang-orang Islam telah tidak mau menerapkannya dalam kehidupan yang nyata? Tentang ini saya telah bertukar pikiran dengan banyak ahli pikir kaum Muslimin di seluruh negara yang terbentang antara gurun Libia dan pegunungan Parmir di Asia tengah, dan antara Bosporus sampai laut Arab. Suatu soal yang hampir selalu menguasai pikiran saya melebihi pemikiran tentang lain-lain kepentingan dunia Islam. Soal ini tetap menjadi titik berat perhatian saya, sampai akhirnya saya, seorang yang bukan Muslim, berbicara terhadap orang-orang Islam sebagai pembela agama Islam sendiri menghadapi kelalaian dan kemalasan mereka.

Perkembangan ini tidak terasa oleh saya, sampai pada suatu hari musim gugur tahun 1925 di pegunungan Afganistan, seorang Gubernur yang masih muda berkata kepada saya: "Tapi Tuan adalah seorang Muslim, hanya Tuan sendiri tidak menyadarinya." Saya sangat kaget dengan kata-katanya itu dan secara diam-diam saya terus memikirkannya. Sewaktu saya kembali ke Eropa pada tahun 1926, saya pikir satu-satunya konsekwensi logis dari pendirian saya ialah saya harus memeluk agama Islam. Hal itulah yang telah menyebabkan saya menyatakan ke-Islam-an saya, dan sejak itu pulalah datang bertubi-tubi pertanyaan-pertanyaan yang berbunyi: "Mengapa engkau memeluk Islam? Apanya yang telah rnenarik engkau?"

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu saya akui bahwa saya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan selain keterangan bahwa tidak ada satu ajaran tertentu dalam Islam yang telah merebut hati saya, sebab Islam itu adalah satu keseluruhan yang mengagumkan; satu struktur yang tidak bisa dipisah-pisahkan tentang ajaran moral dan program praktek hidup. Saya tidak bisa mengatakan bagian manakah yang lebih nnenarik perhatian saya.

Dalam pandangan saya, Islam itu adalah laksana sebuah bangunan yang sempurna segala-galanya. Semua bagiannya, satu sama lain merupakan pelengkap dan penguat yang harmonis, tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kurang, sehingga merupakan satu keseimbangan yang mutlak sempurna dan perpaduan yang kuat.

Mungkin kesan saya bahwa segala sesuatu dalam ajaran Islam dan teori-teorinya itu tepat dan sesuai, telah menciptakan kekaguman yang amat kuat pada diri saya. Mungkin memang demikian, mungkin pula ada kesan-kesan lain yang sekarang sulit bagi saya menerangkannya. Akan tetapi bagamanapun juga hal itu adalah merupakan bahan kecintaan saya kepada agama ini, dan kecintaan itu merupakan perpaduan dari berbagai macam sebab; bisa merupakan perpaduan antara keinginan dan kesepian, bisa merupakan perpaduan antara tujuan yang luhur dan kekurangan, dan bisa merupakan perpaduan antara kekuatan dan kelemahan.

Demikianlah Islam telah masuk ke dalam lubuk hati saya, laksana seorang pencuri yang memasuki rumah di tengah malam. Hanya saja Islam telah masuk untuk terus menetap selama-lamanya, tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi. Sejak itu saya telah bersungguh-sungguh mempelajari apa yang dapat saya pelajari tentang Islam. Saya telah mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah Rasul s.a.w. Saya pelajari bahasa agama Islam berikut sejarahnya, dan saya pelajari sebahagian besar buku-buku/tulisan-tulisan mengenai ajaran Islam dan juga buku-buku/tulisan-tulisan yang menentangnya. Semua itu saya lakukan dalam waktu lebih dari lima tahun di Hejaz dan Najed, dan lebih banyak lagi di Madinah, sehingga saya bisa mengalami sesuatu dalam lingkungan yang orisinal, di mana agama ini dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Nabi yang berbangsa Arab. Sedangkan Hejaz merupakan titik pertemuan kaum Muslimin dari berbagai negara, dimana saya dapat membandingkan beberapa pandangan keagamaan dan kemasyarakatan yang berbeda-beda yang menguasai dunia Islam sekarang.

Semua pelajaran dan perbandingan itu telah menanamkan kepuasan dalam hati saya, bahwa Islam sebagai satu keajaiban rohani dan sosial masih tetap tegak, walaupun ada kemunduran-kemunduran yang ditimbulkan oleh kekurangan-kekurangan kaum Muslimin sendiri. Sebegitu jauh Islam masih tetap merupakan kekuatan terbesar yang pernah dikenal ummat manusia. Dan sejak waktu itu perhatian saya tumpahkan untuk mengembalikan agama ini kepada kejayaannya semula.
Tentang Pengarang : Mohammad Asad

Mohammad Asad Leopold Weiss di1ahirkan di Livow, Austria pada tahun 1900. Pada umur 22 tahun, beliau mengunjungi Timur Tengah dan selanjutnya menjadi wartawan luar negeri dari harian "Frankfurter Zeitung" Setelah masuk Islam, beliau pergi dan bekerja di seluruh dunia Islam, dari mulai Afrika Utara sampai Afganistan di bagian Timur, dan setelah beberapa tahun mempelajari Islam, beliau telah menjadi seorang Muslim terpelajar yang terkemuka di abad kita sekarang. Dan setelah berdirinya negara Pakistan, beliau ditunjuk menjadi Director of the Department of Islamic Reconstruction di Punjab Barat, kemudian diangkat sebagai wakil Pakistan di PBB.

Dua buku Mohammad Asad yang penting ialah "Islam in the Cross Roads (Islaim di Persimpangan Jalan)" dan "Road to Mecca (Jalan ke Mekah)". Beliau juga menerbitkan majalah bulanan "Arafat", dan sekarang sedang menyelesaikan terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggris. Buku "Road to Mecca" telah diterjemahkan oleh Fuad Hasyem dan diterbitkan oleh P.T. Al Ma'arif, Bandung.
bhs Inggris, sebelum, sesudah)

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma'arif, Bandung
http://www.eramuslim.com/berita/aspirasi/305/11165310,6414,1,v.html

eramuslim - Salah satu krisis di Indonesia yang berpotensi terjadinya
pergeseran nilai dari para generasi dan masyarakat umumnya, adalah
krisis akhlak dan kebudayaan. Salah satu penyumbang cukup besar dalam
menghantarkan krisis akhlak ini adalah dengan masuknya media internet
ke Indonesia. Hadirnya akses internet merupakan media yang tidak bisa
dihindari, karena telah menjadi suatu peradaban baru dalam dunia
informasi dan komunikasi tingkat global.

Dengan adanya akses internet, maka sangat banyak informasi yang dapat
dan layak diakses oleh masyarakat Indonesia, baik untuk kepentingan
pribadi, pendidikan, bisnis, dan lain-lain. Penulis sungguh sangat
merasakan dengan adanya internet adalah sebuah revolusi dalam dunia
informasi. Untuk mencari informasi sebuah referensi atau produk yang
ternyata sulit didapat sebelumnya, dengan adanya internet dalam
hitungaan menit informasi tersebut dapat diperoleh langsung dihadapan
mata, padahal data tersebut ternyata berasal dari negara lain. Dan dengan memalui internet juga, komunikasi antar negara menjadi
sangat murah, katakan saja dengan teknologi VOIP.

Namun sayang sekali, bersamaan dengan masuknya internet ke negeri
yang dulu dikenal masyarakatnya sopan santun, berpakaian rapih,
berbudaya baik dan berbudi luhur, saling menjaga kehormatan, dan
berakhlak mulia, kini telah berubah drastis akhlak menjadi kotor,
budaya menjadi serba kebarat-baratan dalam hal kebebasan berekspresi
terutama terkait seksualitas.

Tiada lain penyebab utamanya adalah adanya informasi yang dapat
diakses memalui internet berupa bertebarannya situs-situs maksiat,
pornografi. Lagi-lagi, Indonesia adalah termasuk negara yang sangat
lamban dalam menyikapi berbagai kondisi buruk sepert ini. Lihat saja
di negara lain, Cina, Pakistan , misalnya pemerintah terjun langsung
dalam upaya mengamankan masyarakatnya terhadap serangan pengkotoran
akhlak dan moral. Berbagai metode dilakukan, ada yang membatasi
jumlah warnet, ada yang menerapkan pemakaian perangkat lunak untuk
mengawasi akses ke situs-situs kotor dapi menarik tersebut, dan
langkah-langkah nyata lainnya yang diterapkan sesuai kondisi dan
situasi negara bersangkutan.

Di China, pernah dilakukan penutupan ratuan warung internet, lain
lagi di Pakistan komputer untuk warnet tidak boleh tertutup atau
harus terbuka. Tapi efektifkah upaya sejenis itu untuk membatasi
masyarakat akses ke situs-situs porno?

Bagaimana di Indonesia? usaha dan kebijakan apa yang dilakukan
pemerintah untuk membatasi akses internet ke situs porno? Penulis
belum bisa mengatakan dengan pasti, karena hingga saat ini belum
mendengar adanya larangan untuk mengakses informasi maksiat tersebut,
sebagai tanda tidak ada keseriusan pemerintah dalam menyelamatkan
akhlak genearasi dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Bahkan ada yang meprediksi, jika akses ke situs-situs maksiat
tersebut di blokir, maka usaha ISP, warnet bisa bangkrut. Jika hal
ini diketahui oleh pengusaha ISP atau warnet, bahwa bisnisnya meraih
untung dari adanya akses ke situs=situs maksiat, maka apa bedanya
dengan bisnis lainnya yang menjalankan maksiat? Apakah rela dan
nyaman mendapatkan untung dari usaha maksiat? Tentunya akal sehat dan
hati nurani tidak akan setuju akan hal tersebut.

Ada juga yang berpendapat, bahwa akses internet adalah menjadi
tanggungjawab pribadi masing-masing, atau filter terhadap situs
maksiat ada pada diri pribadi. Tentunya rambu-rambu ini akan efektif,
manakala masyarakat keseluruhan telah memiliki benteng keimaman yang
tinggi. Walaupun tidak ada yang melihat, namun karena percaya dan
yakin disaksikan oleh Sang Pencipta, maka pengguna internet dimanapun
berada, baik ditempat terbuka mapun tertutup akan menjaga untuk tidak
maksiat dengan internet.

Kekhawatiran akan efek buruk dari kebebasan akses internet dirasakan
paling besar oleh para orang tua, dimana putra putrinya yang masih
duduk di SLTA, SMA, dan perguruan tinggi dapat dengan bebas mengakses
internet ditempat-tempat umum seperti warnet.

Pada tulisan ini tidak perlu dibeberkan efek buru jika manusia dengan
sering dan mudahnya mengakses gambar-gambar dan video pornografy,
pasti masyarakat sudah mengetahui keburukannya.

Senjata apa yang paling efektif untuk mencegah masyarakat mengakses
situs-situs maksiat?

Pertama, Peraturan Pemerintah

Penulis hanya yakin, langkah efektif yang mampu memblokir ke situs
maksiat tersebut adalah harus dilakukan oleh pemerintah dengan
mengeluarkan peraturan agar para pengusaha terutama ISP dan warnet
atau pengusaha layanan internet lainnya memblokir ke situs-situs
porno tersebut. Memang membutuhkan keberanian dan upaya kontrol yang
terus-menerus dari pengusaha ISP tersebut. Keberanian untuk membangun
akses internet bersih, penuh manfaat.


Kedua, Pengawasan Orang Tua pada Putra-Putrinya

Upaya ini harus tetap dan terus-menerus dilakukan. Janganlah
membiarkan dengan bebas putra-putri Anda mengakses internet di
warnet, atau di sekolah tanpa sepengetahuan orang tua. Sebaiknya
selalu diberikan saran dan menanyakan keperluannya mengakses internet
untuk apa. Begitu juga bagi yang memiliki akses di rumah, sebaiknya
diawasi orang tua. Dengan kata lain orang tua harus peduli atas
kegiatan anaknya terutama terkait dengan akses internet.

Ketiga, Kontrol Tokoh Masyarakat Pada Internet

Para guru, dosen, pimpinan perusahaan, pimpinan lembaga, 'ulama,
tokoh masyarakat, melakukan kontrol dengan memberikan nasihat,
ceramah, atau mengeluarkan peraturan agar menggunakan internet untuk
kebutughan akses informasi yang bermanfaat, bukan maksiat.

Seperti halnya acara televisi yang semakin bebas menampilkan acara- acara berbau maksiat, maka upaya yang paling efektif adalah
menghentikan program tersebut oleh stasiun televisi bersangkutan.
Jika semua diserahkan kepada penonton, maka jelas acara yang berbau
maksiat akan memiliki rating tinggi sehubungan jalan menuju neraka
pasti akan banyak temannya, dan pendukungnya, terutama setan.

Catatan terakhir, penulis ingin mengingatkan, bahwa kerusakan akhlak
generasi muda salah satu yang bertanggungjawab adalah para pengusaha
internet, tentunya tanggungjawab dunia akhirat yang harus
dipertanggungjawabkan masing-masing. Penulis yakin, tidak ada satu
agamapun yang membolehkan pengikutnya untuk terbiasa berbuat maksiat.
Oleh karena itu mari kita galakan internet bersih, dan stop akses ke
situs-situs maksiat.


Penulis : J. Triharja Sekjen Asosiasi TI Muslim (MIFTA)

Masih tentang ummat Islam mundur

Diposting oleh Masakan On 20.35 0 komentar
Ada 3 poin penting yg diringkas dan perlu disharing ke rekan-rekan


Yang pertama adalah Optimalisasi semangat Jihad dan semangat Belajar serta semangat menegakkan ajaran agama. Karena ini kunci keberhasilan dan kemajuan ummat Islam masa lalu. Pada saat salah satunya kendor, maka akan mengakibatkan stagnasi atau kemunduran ummat Islam. Terlebih bila semuanya mundur seperti yang dialami dalam 2-3 abad belakangan ini.



Yang kedua adalah tidak boleh berlemah hati atau pesimis, karena walau kita mundur, tapi ada langkah-langkah kecil kemajuan yang sudah kita buat. Juga bisa jadi kondisi mereka tidak sebaik yg kita perkirakan, bisa jadi sama dengan kita.

Sebagai contoh, sudah mulai marak kaum intelektual dan cendekiawan muslim yg cukup lurus bermunculan meniru jejak pada masa lalu.

Contoh lain, sudah mulai marak kesadaran utk menegakkan hukum syariat baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat, maupun bernegara. Terlebih dalam skala individu s/d masyarakat, yang dulunya orang sulit atau jarang berjilbab, sekarang mulai marak. Yang dulunya susah menemukan institusi ekonomi syariah, sekarang mulai bermunculan.

Juga contoh masa lalu, tatkala invasi Mongol banyak menyapu bersih daerah peradaban utama, termasuk peradaban ummat Islam...tidak menjadikan yg terjajah tenggelam dgn kebudayaan penjajah, justru sebaliknya yg menjajah terwarnai dgn kebudayaan yg dijajah. Kaum penjajah Mongol banyak yg memeluk Islam. Ini contoh langka yg hampir jarang terjadi dan terekam dlm catatan sejarah.

Selain itu banyak negara muslim yg cukup maju dan teratur, juga banyak negara non-muslim yang prestasinya menurun atau bahkan terbelakang dan tidak teratur.

Contoh, beberapa negara di kawasan timur tengah yg mayoritas muslim cukup maju dan teratur. Sebaliknya banyak negara yg cukup tua di Amerika latin dan juga beberapa negara di Eropa Timur yg mayoritas non-muslim mundur, atau bahkan terbelakang dan tidak teratur.

Jadi ada Sunnatullaah yg perlu kita cermati dan kita ikuti/jalankan dgn baik.

Juga Tetap Semangat, Jangan Pesimis!

Ingat salah satu hadits Nabi yg menyatakan agar tetap menanam benih walau besok adalah hari Akhir. Ini menunjukkan betapa optimis adalah karakter utama Islam. Begitu pula dgn ayat Al-Quran yang menyatakan bekerjalah, Allah akan melihatnya. Tugas kita adalah bekerja seoptimal mungkin. `Hasil duniawi` tidak utama, karena yang dinilai adalah `Hasil Ukhrowi` yaitu ketulusan niat dan kesungguhan usaha, bukan lahirnya.



Yang ketiga, satukan barisan, apa pun `warna komunitas` kita, tetap berpegang dgn tali Allah (ajaran agama) dan tali manusia (persatuan). Sinergikan usaha utk menegakkan dan mengagungkan Kalimat Allah.

Kita hanya bisa maju bila memegang teguh agama Allah, bersatu, dan berusaha meninggalkan maksiat.

Ummat non-muslim hanya bisa maju (sesaat) dgn meninggalkan agamanya, tetapi selanjutnya kehilangan fitrahnya dan akhirnya hancur.



Demikian ringkasan dari ane, semoga cukup utk menyimpulkan posting tsb.

Wassalam,

Butahuruf Cina meningkat

Diposting oleh Masakan On 18.28 0 komentar
Para pejabat Cina mengatakan, jumlah orang dewasa yang buta huruf bertambah sebanyak lebih dari 30 juta orang dalam beberapa tahun terakhir.
Banyaknya lowongan kerja bagi buruh kasar dalam perekonomian Cina, dituduh menjadi salah satu penyebab peningkatan jumlah orang yang buta huruf, karena mendorong orang untuk putus sekolah.
Laporan di surat kabar the China Daily menggambarkan situasi ini mengkhawatirkan.
Jumlah orang dewasa yang buta huruf pada tahun 2005, tulis koran ini, meningkat sebesar 30 juta orang menjadi 116 juta orang.
Ini berarti terjadi peningkatan besar jika dibandingkan selama lima tahun sebelumnya, yaitu 87 juta orang.
Daya tarik
Seorang pejabat pendidikan yang dikutip dalam artikel itu, menyalahkan daya tarik lapangan pekerjaan yang memberikan gaji besar untuk pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian.

Lowongan pekerjaan kasar ini sangat banyak di daerah perkotaan. Anak-anak muda dari daerah pedesaan, kata pejabat itu, memilih putus sekolah supaya bisa pindah ke kota dan mencari pekerjaan kasar.
Mutu pendidikan juga bisa menjadi salah satu faktor.
Beberapa kalangan mengatakan prihatin atas standar pendidikan yang menurun dalam beberapa daerah terpencil.
Itu bisa berarti semakin banyak murid yang menyelesaikan pendidikannya tanpa bisa membaca dan menulis seribu lima ratus karakter Cina.
Melek huruf
Wartawan BBC Jill McGivering melaporkan, membaca dan menulis 1500 karakter Cina adalah ujian dasar sebelum seseorang bisa dinyatakan melek huruf.
Jurubicara badan pendidikan dan kebudayaan PBB di Beijing mengatakan kepada BBC bahwa lembaganya terkejut atas temuan ini karena angka-angka mereka tidak menunjukkan peningkatan jumlah orang yang putus sekolah secara nasional.
Cina tengah berjuang meningkatkan jumlah pekerja trampil, khususnya kalangan yang tertinggal dalam ekonomi Cina.
Negara ini juga bertekad mencapai tujuan pembangunannya yaitu mengurangi 50 persen jumlah orang yang butahuruf pada tahun 2015 nanti.

Suku Osing

Diposting oleh Masakan On 18.25 0 komentar
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Sejarah
Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Osing) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.
Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya, termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan.

Bahasa
Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan.

Kepercayaan
Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.

Demografi
Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.

Profesi
Profesi utama Suku osing adalah petani, dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan, guru dan pegawai pemda.

Stratifikasi Sosial
Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali, hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya. tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut, kaum Drakula, kaum sudrakula, kaum hydrakula, kaum coliba. mereka merupakan penduduk asli.

Seni
Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kesenian utamanya antara lain Gandrung, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong dan Jedor.

Desa Adat Kemiri
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini.

ooo0ooo

Suku Bali
Suku Bali adalah sukubangsa yang mendiami pulau Bali, menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Sebagian besar suku Bali beragama Hindu, kurang lebih 90%. Sedangkan sisanya beragama Buddha, Islam dan Kristen.
Ada kurang lebih 5 juta orang Bali. Sebagian besar mereka tinggal di pulau Bali, namun mereka juga tersebar di seluruh Indonesia.
Penyebaran orang Bali ke luar Bali sudah terjadi sejak jaman dahulu kala. Contohnya, pada tahun 1673, ketika penduduk kota Batavia berjumlah 27.086 jiwa sudah terdapat 981 orang Bali. Adapun komposisi bangsa-bangsa lainnya di masa itu adalah sebagagai berikut: 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Sebagian besar orang Bali di Batavia didatangkan sebagai budak belian.
Salah satu jejak pengaruh bangsa Bali pada kebudayaan Betawi adalah kesenian Ondel-Ondel. Orang-orangan raksasa ini berasal dari kesenian Barong Landung Bali. Akhiran-in dalam bahasa Betawi, misalnya dalam kata: mainin, nambahin, panjatin, dll., yang kemudian juga diadopsi sebagai akhiran yang populer dalam bahasa gaul Indonesia juga berasal mula dari akhiran -in yang lazim dalam tata bahasa Bali.

Bahasa Bali adalah sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik dan lebih spesifik dari anak cabang Bali-Sasak. Bahasa ini terutama dipertuturkan di pulau Bali, pulau Lombok bagian barat, dan sedikit di ujung timur pulau Jawa. Di Bali sendiri Bahasa Bali memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya dan Bali Kasar. Yang halus dipergunakan untuk bertutur formal misalnya dalam pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara orang berkasta rendah dengan berkasta lebih tinggi. Yang madya dipergunakan di tingkat masyarakat menengah misalnya pejabat dengan bawahannya, sedangkan yang kasar dipergunakan bertutur oleh orang kelas rendah misalnya kaum sudra atau antara bangsawan dengan abdi dalemnya, Di Lombok bahasa Bali terutama dipertuturkan di sekitar kota Mataram, sedangkan di pulau Jawa bahasa Bali terutama dipertuturkan di beberapa desa di kabupaten Banyuwangi. Selain itu bahasa Osing, sebuah dialek Jawa khas Banyuwangi, juga menyerap banyak kata-kata Bali. Misalkan sebagai contoh kata osing yang berarti “tidak” diambil dari bahasa Bali tusing. Bahasa Bali dipertuturkan oleh kurang lebih 4 juta jiwa.
Agama Hindu Dharma
Kebanyakan penduduk Bali mengamalkan sejenis agama Hindu yang disebut, Agama Hindu Dharma atau Agama Tirtha (Agama Air Suci). Agama Hindu di Bali merupakan sinkretisme unsur-unsur Hindu dan Buddha dengan kepercayaan asli orang Bali.
Agama Hindu dan Buddha tiba di Bali menerusi Pulau Jawa dan juga secara langsung dari anak benua India di antara abad ke-8 dan abad ke-16. Unsur kedua-dua agama tersebut berkembang dan bergabung di Bali.


Catur Warna
Di Bali berlaku sistem Catur Varna (Warna), yang mana kata Catur Warna berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata Catur berarti empat dan kata warna yang berasal dari urat kata Wr (baca: wri) artinya memilih. Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra.
Warna Brahmana: Disimbulkan dengan warna putih, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan.
Warna Ksatrya: Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara.
Warna Wesya: Disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain- lain).
Warna Sudra: Disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan.
Dalam perjalanan kehidupan di masyarakat dari masa ke masa pelaksanaan sistem Catur Warna cenderung membaur mengarah kepada sistem yang tertutup yang disebut Catur Wangsa atau Turunan darah. Padahal Catur Warna menunjukkan pengertian golongan fungsional, sedangkan Catur Wangsa menunjukkan Turunan darah.

Hari Raya Agama
Hari raya keagamaan bagi pemeluk agama Hindu Dharma, umumnya di hitung berdasarkan wewaran dan pawukon. Kombinasi antara Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Namun adapula Hari raya yang menggunakan penanggalan Saka.

Hari Raya Berdasarkan Wewaran
• Galungan — Jatuh pada hari: Buda, Kliwon, Dungulan
• Kuningan — Jatuh pada: Saniscara, Kliwon, Kuningan
• Saraswati — Jatuh pada: Saniscara, Umanis, Watugunung. Hari Ilmu Pengetahuan, pemujaan pada Sang Hyang Aji Saraswati.
• Banyupinaruh — Jatuh pada: Redite, Pahing, Shinta
• Pagerwesi

Hari Raya Berdasarkan Kalender Saka
• Siwaratri
• Nyepi

Upacara Keagamaan
Upacara keagamaan yang dilakukan dalam Agama Hindu Dharma, berkolaborasi dengan budaya lokal. Ini menjadi kekayaan dan keunikan yang hanya ditemukan di Bali.

Manusa Yadnya
• Otonan / Wetonan, adalah upacara yang dilakukan pada hari lahir, seperti perayaan hari ulang tahun, dilakukan 210 hari.
• Upacara Potong Gigi, adalah upacara keagamaan yang wajib dilaksanakan bagi pemeluknya. Upacara ini dilakukan pada pemeluk yang telah beranjak remaja atau dewasa. Bagi wanita yang telah mengalami menstruasi, dan bagi pria yang telah memasuki akil balik.

Pitra Yadnya
• Upacara Ngaben, adalah prosesi upacara pembakaran jenazah, Sebagaimana dalam konsep Hindu mengenai pembakaran jenazah, upacara ini sebagai upaya untuk mempercepat pengembalian unsur-unsur/zat pembentuk dari raga/wadag/badan kasar manusia.

ooo0ooo
Suku Aceh

Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara pulau Sumatra. Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Campa.

Riwayat Nama Aceh
Tentang nama aceh, sebuah dongengan yang sudah banyak diketahui oleh umum menceritakan sebagai berikut:
Sekali peristiwa ada seorang puteri Hindustan hilang dicari-cari oleh saudaranya hingga sampai ke pulau Sumatera. Sesampainya di Aceh tiba-tiba si saudara menjumpai puteri itu. Kepada penduduk lalu dijelaskannya bahwa puteri tersebut adalah “aci”-nya yaitu adiknya. Karena puteri itu berkelakuan baik dan terhormat, penduduk meyakininya keturunan bangsawan juga. Atas mufakat penduduk, puteri ini diangkat menjadi ratu (raja) mereka. Untuk menamai negeri yang baru dibangun ini disebut sajalah “Aci”, diambil dari perkataan yang mula-mula terdengar diucapkan oleh saudaranya. Demikian selanjutnya sebutan “Aci” itu lama kelamaan berubah menjadi “Aceh”.
Lain kisah, menurut Valentijn (1688), Aceh asalnya dari “Acai”, juga istilah Hindustani, yang artinya cantik. Menurut dongeng itu istilah ini acap kali diucapkan oleh pengunjung-pengunjung India dari hindustani. Ketika mereka tiba di Aceh, mereka menyaksikan indahnya pemandangan dari kapal. Dengan kekaguman mereka terhamburlah ucapan “Acai”, “Acai”. Karenanya mereka menyebut negeri itu Acai, tanah Acai dan akirnya menjadi tanah Aceh, artinya tanah indah.
Lain lagi ada pula yang menyebut bahwa Aceh asalnya “Acas”, disebut menurut lidah Minangkabau.
Veltman ketika membicarakan asal nama Aceh dari “Aci” (adik) mencari kemungkinan dari petunjuk sejarah. Ma‘ruf Syah (raja Pidie) setelah mengalahkan Lamuri (Daru’l-Kamal) mengizinkan kakaknya menjadi raja atas namanya, tapi hanya dalam nama saja. Menurut katanya moyang Ma‘ruf Syah berasal dari India. Berhubung karena kepada perempuan tidak bisa diserahi tampil menjalankan pemerintahan, itulah sebabnya si kakak hanya memerintah dalam nama saja, sedangkan yang menjalankan sehari-hari adalh putera kakanya itu sendiri, Syamsu Syah. Dari sini timbul sebutan “Aci”. Syamsu syah adalah anak Munawar Syah. Tapi sebagai ternyata dari cerita di atas, mengenai soal nama itu adalah hanya cerita-cerita. Kepastiannya tidak ada. Begitupun tentu tidak janggal untuk membenarkan terjadinya nama “Aci” seperti yang diceritakan di atas, yakni “adik”, atau tidak pula janggal jika hendak disebut bahwa asal nama “Aci” adalah indah, mengingat indahnya pantai Aceh bila ditatap dari laut. Banyak nama-nama negeri, desa, pulau dan lain-lain di negeri kita terjadi karena suatu peristiwa kebetulan. Hanya sedikit nama-nama yang secara bersungguh dipikirkan dan dicari.

Tokoh-tokoh dari Suku Aceh
• Sheikh Hamzah al-Fansuri
• Sheikh Nuruddin ar-Raniry
• Sheikh Abdurrauf atau lebih terkenal dengan nama Syiah Kuala
• Tun Sri Lanang
• Ismail al-Asyi
• Mr Teuku Mohammad Hassan
• Mohamad Kasim Arifin
• Teungku Hasan Muhammad di Tiro
• P.Ramlee atau Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh
• Tan Sri Sanusi Juned
• YB Dato Seri Paduka Haji Badruddin Amiruldin
• Teuku Umar
• Cut Nyak Dhien
• Cut Nyak Meutia
• Panglima Polim
• Teungku Chik di Tiro
• Sultan Iskandar Muda
• Teuku Nyak Arief
• Teungku Muhammad Daud Beureu'eh

Bahasa Aceh merupakan bagian dari Keluarga Bahasa Malayo-Polinesia. Bahasa ini dituturkan di Nanggröe Aceh Darussalam, dominan di sebagian besar wilayah kecuali di Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Tenggara dan Simeulue. Ada kemungkinan Bahasa Aceh ini ada keserupaan dengan Bahasa Cham dan Bahnar di Kamboja dan Vietnam.

Ejaan
Bahasa Aceh telah mengalami berulang kali perubahan ejaan, mulai penggunaan huruf Arab, huruf Latin ejaan lama, dan sekarang adalah Ejaan Yang Disempurnakan. Berikut adalah pedoman ejaannya:
• Ee dibaca seperti huruf "e" dalam kata "dekat"; contohnya: le (banyak).
• Èè dibaca seperti huruf "e" dalam kata "besok"; contohnya: lè (dulu).
• Éé dibaca seperti huruf "e" dalam kata "kue"; contohnya: lé (oleh).
• Ëë tidak ditemui padanannya dalam bahasa Indonesia.
• Öö tidak ditemui padanannya dalam bahasa Indonesia.
• Ôô dibaca seperti huruf "o" dalam kata "soto", "foto", "tato"; contohnya: bôh (taruh), sôh (tinju), tôh (mengeluarkan).
• Oo dibaca seperti huruf "o" dalam kata "tolong", "kota"; contohnya: boh (buah), soh (kosong), toh (mana).

Contoh
• Peu haba? = Apa kabar?
• Haba gèt = Kabar baik.
• Lôn piké geutanyoë han meureumpok lé = Saya kira kita takkan bersua lagi.
• Lôn jép ië u muda = Saya minum air kelapa muda.
• Agam ngön inong = pria dan wanita
• Lôn = saya
• Kah, droë = kamu, anda
• Han = tidak
• Na = ada
• Pajôh = makan
• Jih, dijih, gobnyan = dia, beliau
• Ceudah that gobnyan = Tampan sekali dia.

ooo0ooo

Suku Asmat

Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.
Pada tahun 1770, James Cook dan anak buahnya mendarat di daerah Asmat. Tiba-tiba, mereka melihat sebuah perahu lesung yang didayung oleh ratusan orang Asmat. Mereka berkulit gelap dengan wajahnya dan tubuhnya diolesi warna merah, hitam dan putih. Saya berpikir bahwa ini menarik karena warna yang itu di bendera Indonesia. Anak buah James Cook dilukai dan dibunuh oleh orang Asmat. Saya berpendapat bahwa orang Asmat sangat bengis pada waktu itu!
Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Hal yang saya rasa paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan. Nah, saya berpendapat bahwa itu rasanya tidak begitu lezat! Peristiwa itu mengejutkan karena berarti Suku Asmat dulu adalah kanibal.
Sekarang Biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.
Suku Asmat dulu menarik sekali dan hidup mereka keras dan primitif karena mereka adalah kanibal. Tetapi, hari ini, mereka menjadi lebih beradab dan mereka hidup bersama dengan orang Indonesia lain. Kalau saya mengunjung Indonesia, saya mau menyaksikan kebudayaan Suku Asmat dan melihat ukiran kayu yang dibuat orang Asmat yang terkenal di seluruh dunia.

ooo0ooo

Suku Batak
Kelompok etnis terdekat
suku Gayo, suku Rejang, dan suku-suku non-Melayu lainnya di Sumatra Utara dan Sumatra bagian selatan.
Batak adalah nama sebuah suku di Indonesia. Suku ini kebanyakan bermukim di Sumatra Utara. Mayoritas orang Batak beragama Kristen dan Islam. Tetapi dan ada pula yang menganut kepercayaan animisme (disebut Parmalim).


Nama kumpulan
Suku Batak terdiri dari beberapa sub suku yang berdiam di wilayah Sumatera Utara, Kota Subulussalam, Aceh Singkil dan Aceh Tenggara. Sub suku Batak adalah:
• Suku Alas
• Suku Kluet
• Suku Karo
• Suku Toba
• Suku Pakpak
• Suku Dairi
• Suku Simalungun
• Suku Angkola
• Suku Mandailing

Wilayah Bermukim
Dalam tata pemerintahan Republik Indonesia yang mengikuti tata pemerintahan Kolonial Belanda, setiap sub suku berdiam dalam satu kedemangan yang kemudian dirubah menjadi Kabupaten setelah Indonesia merdeka.
Sub suku Batak Toba berdiam di Kabupaten Tapanuli Utara yang wilayahnya meliputi Ajibata (berbatasan dengan Parapat), Pulau Samosir, Pakkat, serta Sarulla. Empat tahun terakhir ini, Kabupaten Tapanuli Utara sendiri telah dimekarkan menjadi beberapa Kabupaten yakni Kabupaten Tapanuli Utara (ibukota Tarutung), Kabupaten Toba Samosir (ibukota Balige), Kabupaten Samosir (ibukota Pangururan), Kabupaten Humbang (ibukota Siborong-borong), Kabupaten Humbang Hasundutan (ibukota Dolok Sanggul).
Sub suku Batak Karo mayoritas berdiam di Kabupaten Karo dengan ibukota Kabanjahe, namun sebagian juga tersebar di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Mereka yang bermukim di wilayah Kabupaten Karo kerap disebut sebagai Karo Gunung, sementara yang di Kab. Langkat dan Deli Serdang kerap disebut dengan Karo Langkat.
Sub suku Batak Alas bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Populasi mereka meningkat paska Perang Aceh dimana pada masa perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda, suku Batak Toba selalu mengirimkan bala bantuan. Setelah perang usai, mereka banyak yang bermukim di wilayah Aceh Tenggara.
Sub suku Batak Pakpak terdiri atas 5 sub Pakpak yaitu Pakpak Kelasen, Pakpak Simsim, Pakpak Boang, Pakpak Pegagan, bermukim di wilayah Kabupaten Dairi yang kemudian dimekarkan pada tahun 2004 menjadi dua kabupaten yakni: Kabupaten Dairi (ibukota Sidikalang)dan Kabupaten Pakpak Bharat (ibukota Salak). Suku Batak Pakpak juga berdomisili di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah.Suku Pakpak yang tinggal diwalayah tersebut menamakan diri sebagai Pakpak Kelasan. Dalam jumlah yang sedikit, suku Pakpak juga bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.
Sub suku Batak Simalungun mayoritas bermukim di wilayah Kabupaten Simalungun(ibukota Pematang Siantar) namun dalam jumlah yang lebih kecil juga bermukim di kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Asahan.
Sub suku Batak Mandailing dan Angkola bermukim di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan (ibukota Padang Sidempuan) dan Kabupaten Mandailing Natal (sering disingkat dengan Madina dengan ibukota Penyabungan). Kabupaten ini berdiri sejak tahun 1999 setelah dimekarkan dari Kabupaten Tapsel.
Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Tengah (ibukota Sibolga)sejak dulu tidak didominasi oleh salah satu sub suku batak. Populasi Batak Toba cukup banyak ditemui di daerah ini, demikian juga dengan Batak Angkola dan Mandailing. Dalam jumlah yang kecil, Batak Pakpak juga bermukim di daerah ini khususnya Kota Barus. Hal ini dimungkinkan karena Tapanuli Tengah terletak di tepi Samudera Hindia yang menjadikannya sebagai pintu masuk dan keluar untuk melakukan hubungan dagang dengan dunia internasional. Salah satu kota terkenal yang menjadi bandar internasional yang mencapai kegemilangannya sekitar abad 5 SM-7 SM adalah Kota Barus.

Falsafah Batak
Secara umum, suku Batak memiliki falsafah adat Dalihan Na Tolu yakni Somba Marhula-hula (hormat pada pihak keluarga ibu/istri) Elek Marboru (ramah pada keluarga saudara perempuan) dan Manat Mardongan Tubu (kompak dalam hubungan semarga). Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah ini dipegang teguh dan hingga kini menjadi landasan kehidupan sosial dan bermasyarakat di lingkungan orang Batak.

Batak pada era modern
Sejarah Batak modern dipengaruhi oleh dua agama samawi yakni Islam dan Kristen. Islam makin kuat pengaruhnya pada saat Perang Padri, melalui aktivitas dakwah yang dilakukan para da'i dari dari negeri Minang. Perluasan penyebaran agama islam juga pernah memasuki hingga ke daerah Tapanuli Utara dibawah pimpinan Tuanku Rao dari Sumatera Barat, namun tidak begitu berhasil. Islam lebih berkembang di kalangan Batak Mandailing dan sebagian Batak Angkola.
Agama Kristen baru berpengaruh di kalangan Batak Angkola dan Toba setelah beberapa kali misi Kristen yang dikirimkan mengalami kegagalan. Misionaris yang paling berhasil adalah I.L. Nommensen yang melanjutkan tugas pendahulunya menyebarkan agama Kristen di wilayah Tapanuli. Ketika itu, masyarakat Batak yang berada di sekitar Tapanuli, khususnya Tarutung, diberi pengajaran baca tulis, keahlian bertukang untuk kaum pria dan keahlian menjahit serta urusan rumah tangga bagi kaum ibu.
Pelatihan dan pengajaran ini kemudian berkembang hingga akhirnya berdiri sekolah dasar dan sekolah keahlian di beberapa wilayah di Tapanuli. Nommensen dan penyebar agama lainnya juga berperan besar dalam pembangunan dua rumah sakit yang ada saat ini, RS Umum Tarutung dan RS HKBP Balige, yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.
Sementara itu, perkembangan pendidikan formal juga terus berlanjut hingga dibukanya sebuah perguruan tinggi bernama Universitas HKBP I.L. Nommensen (UHN) tahun 1954. Universitas ini menjadi universitas swasta pertama yang ada di Sumatra Utara dan awalnya hanya terdiri dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Theologia.

Bahasa Batak sebenarnya merupakan nama sebuah rumpun bahasa yang berkerabat yang dituturkan di Sumatra Utara.
Bahasa Batak bisa dibagi menjadi beberapa kelompok:
• Bahasa Batak Utara
• Bahasa Alas
• Bahasa Karo
• Bahasa Batak Selatan
• Bahasa Angkola-Mandailing
• Bahasa Pakpak-Dairi
• Bahasa Simalungun
• Bahasa Toba