POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

SEPOTONG KENANGAN UL

Diposting oleh Masakan On 20.13 0 komentar
oleh : Nataresmi Salinggih

Mengapa? Kernyitan samar mengiringi saat hatinya bertanya demikian. Dengan mata memicing ke arah matahari, ia berkesimpulan senja segera tiba. Saatnya mandi sore, dan mencari makanan di kulkas buat teman nonton. Tapi ia tahu sudah kehilangan waktu untuk kebahagiaan yang sederhana itu.
Dunia makin bermasalah dan kehidupan akan menunjukkan ketakadilannya kalau terlalu banyak bertanya. Untuk sesaat ia halau pikirannya dan memusatkan mata pada lalu-lalang orang di peron stasiun. Yang datang dan pergi tergesa-gesa, keluarga dengan anak-anak yang berceloteh serta tas tas bawaan, atau berpasang-pasang kekasih yang menikmati detik per detik menjelang perpisahan mereka. Tukang koran. Pedagang makanan minuman. Lengking peluit dan mesin kereta bersuara bising.
Kesibukan rutin. Mendadak terasa ganjil setelah matanya menyambar langit dan menenggelamkannya pada kebiruan tanpa batas. Benaknya terusik tanya: apakah kesibukan manusia di kulit bumi terasing sendirian, di jagat mahaluas berdiameter 100 parsec ini?! Dari milyaran bintang belum diketahui apakah kehidupan di bumi berkawan. Kalau tak ada, alangkah lengangnya jagat.
Hal-hal astronomis mengingatkannya pada kuliahnya yang berantakan di pertengahan semester kelima ini. Observatorium Bosscha dan bougenville tuanya yang setia memunculkan bunga tiap musim penghujan, apalagi saat purnama sepanjang Mei-Oktober waktu diadakannya Malam Umum, tinggal sepotong kenangan belaka. Betapa, ia lebih tertarik untuk merekam alam yang puitis itu kedalam sekian bait puisi daripada mengutak-atik teropong Zeiss untuk memperoleh setumpuk hasil mengamatan.
Aku terperangkap di jalan yang seharusnya bukan untukku, gumamnya. Mengapa? Seperti biasa, ia tak mendapat jawaban. Dicobanya menerka, mungkin karena ketertarikannya pada sastra. Atau, keraguannya terhadap prospektif ilmu murni menjamin masa depan, seperti rata-rata temannya. Atau juga, konsep pengetahuan eksak yang sulit ia pahami. Ia tak menemukan jawaban. Tapi tangannya menemukan setumpuk kertas di saku jaketnya. Surat. Kartu. Foto kawan Astronomi Angkatan 97 berlatar gerbang Ganesha.
“Tetep semangat. Semoga Nobel impianmu tercapai, Penyair! Dengan cinta, kawanmu: Nataresmi” (Ada gambar bibir bertuliskan Cup! Dekat tanda tangannya).
“Dari Ina: Pergi saja, dirimu pergi....bilang saja pada dunia... Ah, Ul... gua “gak bisa meneruskannya. Jaga diri baik-baik ya!” (Ia tersenyum kecut membayangkan Ina berlagu Krisdayanti dengan sok melankolis).
“Ul, ingat tidak waktu kita sekelas hiking ke Maribaya? Saat aku hampir tergelincir dari jembatan, kamu menyelamatkanku. Kalau tidak, mungkin aku terseret pusaran air terjun. Lewatmu, aku masih diberi-Nya umur. Terima kasih ya, Ul, untuk semua kebaikanmu. Semoga Allah tetap bersamamu. Salam, Neflia. (Ah, Li...bukannya aku yang sering merepotkanmu. Minjem duitlah, maksa ditraktir, nyontek PR...).
Sudut matanya memanas. Kartu-kartu perpisahan dibacanya satu per satu.
“You”re the best my friend. Be carefull “n wish your dream come true. Vivi. (Pesan singkat ini mengingatkannya kepada sosok Ambon yang keranjingan komputer: Avivah.)
“Sok didoakeun sing pinter, bageur, cageur. Jangan lupain gue. And Missisipi is mighty, but it starting at Minnesota at a place where”d you could walk, cross with five step down.
Sampai ketemu lagi nanti. Saya sudah beranak empat dan punya Land Rover dan jadi desainer terkenal. Si Idola tea: Maria M. Lubis. (Bibirnya membuat garis tawa. Si Lurus ngaku - ngaku peranakan Batak-Spanyol tapi sangat Sunda ini temannya bercanda. Mereka mengangankan punya sekolah alam yang tidak menjejali muridnya dengan hafalan. Masihkah ada waktu buat mewujudkannya? Ia menggeleng).
“Je suis triste. Kita kehilangan nih, Ul. Ul yang manis dan misterius. Eh, dulu aku berhutang 2.000 perak bekas jajan soto, ikhlaskan ya!!! He ... he...”
Tya si Nona Prancis, Mariyam, Ichal, Zaid, Ketut, Udin, Farkhan, Yana, saling tersenyum di foto itu. Ia tatapi dengan pandangan mengabur.
Hey, mengapa menangis? Meski percaya airmata bukanlah perwakilan emosi sesungguhnya, ia saat ini ingin melakukannya selagi pikirannya memaklumi kesedihan yang timbul kali ini. Sebab telah lama ia menahan karena keyakinan bahwa Tuhan akan memberinya kekuatan kalau ia tabah dan tidak menangis.
Saat Papa tertembus peluru nyasar dalam huru-hara politik di penghujung Mei 1998, rasa kehilangan itu ia bunuh dengan susah payah. Bukankah mati; kapan, di manapun dan bagaimanapun, kembalinya ke tempat yang sama. Saat harga kostnya makin menurun dan akhirnya hanya sebuah kamar pengap di pojok Tamansari Bawah yang mampu ditinggalinya, ia belum menyerah. Pun pada kemampuannya yang sedang-sedang dalam menghadapi rumitnya mata kuliah Fisika, ia coba bertahan. Meski akhirnya kebakaran juga. Dua D, satu E, dua C, dan A sendiri. Melarikan diri ke Perpustakaan Salman, bau kertas dari novel tua menjadi karibnya. Salah satu favoritnya karya Jose Rizal Noli me Tangere yang gelap dan puitis.
Pertahanan yang telah dibangun dari retak-retak kekuatannya memang tidak kokoh. Mama berkunjung. Bercerita tentang Josh, insinyur lulusan Delft. Sudah mapan. Putra bungsu karib Papa. Saat itu ia menyelami mata Mama dalam-dalam. Ditemukannya di situ ketiga adik lelakinya mencari masa depan. Tanpa kata, semata karena niat baik, ia iyakan permintaan ibunya. Ia memararelkan cintanya kepada Josh karena mencintai ibu dan adiknya. Juga deretan nilai ujiannya yang pas-pasan menjadi pertimbangan lain. Tetapi ia menyodorkan alasan berbeda kepada teman-temannya saat berpamitan; ingin serius menulis mungkin kelak mengambil jurusan sastra.
Paling nanti Maria atau siapa pun akan memergokinya sebagai nyonya belia, ia tersenyum getir. Dan untuk itu ia menyiapkan sebuah gurauan klise; ternyata menikah itu enaknya cuma 30 %, yang 70 % itu enak sekali. Haha, ia nyaris tertawa. Josh, samar-samar benaknya merekonstruksi sosok bungsu yang manja, montok dan atraktif sebagai kawan sekilas masa kecil. Keajaiban alam yang berlangsung perlahan, seiring waktu mengubah setiap benda dalam keteraturan yang harmonis. Pun dengan Josh. Dia legam dan langsing seperti patung-patung dewa Yunani. Perhatian dan religius. Apapun dia dan bagaimana, satu saja pertanyaan mengusik benak: bisakah ia rela terhadap dirinya sendiri yang tiba-tiba saja dihampiri kehidupan baru, sebagai istri dan kehilangan dunia mahasiswa begitu saja!
Tuhan!! Aku tak mengenal-Mu terlalu baik, desisnya, hanya berbekal kesadaran kecil tentang satu hal: seorang manusia selalu dalam ujian, yang menjadi benang merah hubungan kita. Dan maaf, benang itu sekarang tampak teregang dengan jalinannya sebagian pecah menahan beban ini...
Tap. Tap. Tap.
Tepukan berulang mampir di bahunya ia mengangkat muka segera.
“Meski tidak terdengar, saya dapat menerka seberapa dalam kesedihan Anda. Perlu tissue-kah?”
Ia mengabaikan tawaran ramah itu dengan gelengan lemah. Dijepitnya hidung sekilas, muncul suara ingus yang terhisap tarikan napas, terasa panas dan berair, ia bisa menerka kekontrasan antara warna merah di hidungnya dengan kulitnya yang putih pucat.
“Hendak ke mana?”
“Surabaya,” ujarnya mengambang. Minggu depan aku menikah, lanjut batinnya. Sejurus kemudian ia balik bertanya, “dan Mbak?”
Orang itu tertawa kecil, menganguk-angguk. Aneh, gerutunya. Tetapi wajah sedemikian ramah itu mengirimkan perasaan ditemani yang menenteramkan.
“Anda nampak lapar. Saya kebetulan punya makanan.” Orang itu membuka travel bag-nya, mengeluarkan kotak berisi kue pisang keju khas Stasiun Bandung “Kartika Sari”. Menyodorkan tepat di depan matanya, dan meski agak sungkan ia mengambil satu. Usai berterima kasih, langsung dikunyahnya, setengah malu ia lantas menyadari sikapnya agak bernapas.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap orang itu keras-keras.
Seketika ia tersedak. Menoleh heran dan menemukan ekspresi yang datar saja. Seperti diingatkan ia pun dalam hati mengeja basmallah.
“Hmm. Enak ya. Saya juga suka makanan Bandung yang lain: siomay dan es cendol.” Gayanya bercerita seolah mereka sudah akrab lama. “Cuaca di sini juga nyaman, dan gampang mencapai tempat buat berwisata alam yang dekat kota. Pernah ke Hutan Jayagiri?”
Ia mengangguk. “Juga mendaki Gunung Burangrang, keliling kawah Tangkuban Perahu dan jalan kaki selama sembilan jam ke Situ Lembang. Waktu berkemah di Rancaupas saya malah pernah terjebak badai dalam suhu 5 derajat Celsius...” paparnya dengan suara rawan. Petualangan alam sudah selesai baginya.
“Wow. Menyenangkan, bukan. Saya harus bersyukur dengan semua pengalaman pengalaman yang menarik, karena...,” orang itu menunjuk para pekerja yang sedang membersihkan badan kereta, “saya tak yakin mereka punya waktu untuk menikmati hal serupa kita. Paling sekedar menginginkan. Tapi hidup jadi tak seimbang kalau selalu memuaskan keinginan, akan seperti menguras air di laut. Tak kunjung habis. Tuntas satu keinginan saya akan segera tahu keinginan berikutnya jumlahnya sudah berganda. Tetapi, tanpa itu... uh, alangkah membosankan.” Orang itu terkekeh halus.
Ia menggumam tak jelas sebagai komentar. Dengan bosan dilayangkannya mata ke kejauhan cakrawala yang dilukisi cahaya lembayung. Dalam ujian Laboratorim Astronomi, ia pernah menemukan soal: mengapa pada siang hari langit berwarna biru sedangkan sore hari lebih kuning? Jawabannya ketika itu: saat mengelilingi matahari bumi yang bulat juga berotasi terhadap sumbunya, suatu tempat akan mengalami perpindahan sejauh seperempat keliling lingkaran bumi selama rotasi 6 jam, hal itu mengakibatkan perbedaan panjang jarak ke matahari. Kala siang hanya gelombang cahaya biru yang terhambur di udara, dan pada sore hari yang jaraknya lebih panjang menyebabkan gelombang cahaya kuninglah yang tertangkap mata pengamat di bumi. Tetapi ia lebih suka mendefinisikan cahaya kuning senja hari itu sebagai lukisan naturalis yang membangkitkan rasa sentimentil. Seperti waktu ini, setelah salam perpisahannya dengan Kampus Ganesha, Perpustakaan Salman, kawan-kawannya, dan masa lajang! Ketika rasa kehilangan mendekat pasti, betapa tersadari keterikatan yang ketat dan tak hendak melepasnya dari takdir kita. Tetapi, hidup terus berjalan.
Ia bangkit menepuk-nepuk debu yang tak ada pada jinsnya. “Saya salat Maghrib dulu.”
“Silakan. Saya tidak karena... biasa perempuan,” Orang itu mengibaskan tangan dan tersenyum. “Anda lagi sedih. Mengadulah saat salat. Pasti Anda diberi-Nya kekuatan. Percaya, bukan?!” Matanya teduh sekali.
“Bisakah saya titip tas dan koper ini kepada Anda?”
Orang itu mengiyakan. Mengisyaratkan keamanan terjamin. Setelah berterima kasih, ia menuju pintu keluar peron. Berdesakan mengambil wudhu. Musala di ujung barat stasiun terlalu kecil untuk menampung jamaah. Lebih seperempat jam baru mendapat giliran, setelah orang agak lengang. Didapatinya masbuk pada takhiyat awal, lalu menyelesaikan kedua rakaat terakhir dengan perasaaan abstrak tanpa kontur. Seolah dipeluk ke dalaman Mahagaib yang mengisi seluruh sel dan syarafnya. Dari ucap ke ucap, gerak demi gerak. Hanya bacaan sepanjang salatlah bahasa Arab yang dimengertinya. Dan ia bersunguh-sungguh kali ini. Maka kelegaan tanpa batas saat menyudahi dengan salam, memaku keyakinan di dadanya: mengalirnya air tenang adalah kepasrahan yang mempunyai kekuatan seperti gelora laut. Detik berikutnya ia berdoa agar diberi-Nya sifat air, setia meliuk sepanjang arus dan mengikis satu per satu perintang. Di belokan pertama telah menungguinya seorang Josh. Ia percaya, seseorang tidak akan dibebani melebihi kesanggupannya.
Ia hembuskan napas. Ia menyadari kelegaan yang tiba-tiba. Ia merasa kesejukan.
Dunia nyata menepuknya dan memberi tahu waktu sudah pukul setengah tujuh. Agak bergegas dimasukinya peron dan ia terkesiap menumbuk bangku yang didudukinya tadi. Detak sepatunya seperti berlomba tiba. Ke mana orang tadi?!
Barang-barangnya utuh. Rasa bersalah menyeruak, telah berburuk sangka sebelumnya. Memberesi bawaan pun, kepalanya sibuk bertanya-tanya. Akhirnya, ia mendekati seseorang.
“Maaf, apakah saudara melihat seseorang tadi duduk di sini pergi?”
“Anda bercanda? Tak ada siapa-siapa, bukan? Sedari tadi Anda duduk sendirian dan terlihat sedih.”
Ia mengabaikan keheranan orang itu. Malaikat? Simpulnya menjawab sendiri. Tapi dia perempuan, ralatnya, tentu makhluk gaib yang baik hati. Yang tadi itu begitu nyata. Kartika Sari dan tatap matanya. Tiba-tiba sel otaknya mengolah informasi tak masuk akal menjadi hal terlogis, mendatangkan kejutan di ujung-ujung syaraf membuat kulitnya menebal tanpa rasa, seperti dibius. Merinding dingin.
“Aku ditemani,” gumamnya dengan perasaan nyaman.
“Kereta Turangga dengan tujuan Surabaya akan diberangkatkan tepat pukul tujuh malam, telah disediakan di jalur tiga. Kepada para penumpang yang telah memiliki karcis silakan segera naik.” Pengumuman dari pengeras suara.
Bandung, selamat tinggal.
Kakinya menuntun ke selatan. Melewati tempat sampah, ia berhenti, mengambil kertas-kertas dari saku jaketnya dan membuangnya. Satu episode hidupnya telah selesai. Kusimpan saja kalian dalam hati, batinnya. Sayang, ia melewatkan secarik kartu putih yang belum dibacanya. Dari Nataresmi. Sebait syair karya Sufi dari Konya, Rumi:
Pergilah ke pangkuan Tuhan, dan Tuhan akan memelukmu
dan menciummu, dan menunjukkan
bahwa Ia tidak akan membiarkanmu lari dari-Nya
Ia akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya,
siang dan malam

Sepenggal Kisah Emen

Diposting oleh Masakan On 19.52 0 komentar
By : Islamuda.com

Remaja seumuran Emen dihinggapi pubertas adalah suatu hal yang wajar. Mulai memikirkan enak nggak enaknya sekedar ngobrol dengan kaum hawa. Atau bahkan berhubungan yang lebih serius dengan mereka. Wah, kalo untuk yang satu ini, Si Emen kayaknya harus berpikir panjang kali lebar kali tinggi, sehingga ketemu luasnya pemikiran tentang itu.

Kalo dihitung-hitung emang nggak ada ruginya khan mencoba untuk menyunting seorang gadis. Tapi jangan salah, Emen sudah barang pasti nggak mau ngelakuin yang namanya pacaran. Sebab, selain Emen tahu adzab dari Allah bagi yang melakukannya, Emen juga ngeh, kalo hidup diisi dengan pacaran, artinya hidup dalam kepura-puraan. Payah khan, kalo tiap hari kita musti berbohong tentang diri kita dihadapan pacar kita.

Emen ngambil ibrah dari kasus yang dialamin tetangganya, si Sahrul Gunaguna. Sahrul emang terbilang cowok paling keren di kampungnya, nggak salah kalo dia diidolain ama remaja puteri yang aktif di pengajian. Sayang sejuta sayang, dia harus koit dihantam AIDS, sebab pacarnya Monica Omar Bakrie yang bapaknya Israel, ibunya Amerika itu ternyata pengidap HIV.

Yo?..kembali ke kisah si Emen tadi. Niatnya untuk mencari pendamping hidup-mati udah keburu bulat, jadi nggak bisa dibuat segitiga atau persegi panjang. Artinya, siapa ceweknya, rumahnya dimana, orang tuanya gimana, berapa usianya, semua info dari intelejen jodoh udah akurat ia dapatkan.

Hari ke hari, minggu ke minggu, akhirnya sampe juga hari buat nyampein perasaan hatinya. Hari itu hari Minggu, kebetulan pas ada acara Tabligh di Masjid Raya. Di sela-sela ramainya jamaah yang menghadiri, Emen yang dari rumah udah mempersiapkan sepucuk surat, resah dan gelisah. Sampe ada semut merah yang berbaris di dinding, menatap curiga seakan penuh tanya ?sedang apa disini??..lho??koq?

Sambil menunggu, Emen coba bayangin apa reaksi akhwat?sebutan untuk cewek aktivis yang berkerudung dan berjilbab?kalo menerima suratnya. Sontak bayangannya buyar, karena yang dibayangkan ternyata sudah ada didepannya sambil ditemani temannya.
?Ini proposal yang ukhti pesen, udah saya bikin bersama surat permohonan. Dan saya juga dapat titipan surat dari someone khusus buat ukhti Siti? kata Emen, sambil menyodorkan proposal beserta suratnya.

Perasaan lega, plong dan mungkin juga deg-deg plas menggelanyuti si Emen. Sepulang dari masjid hingga H+ 7, aliran darah Emen terasa berhenti, mulut terasa terkunci. Apakah ini namanya cinta? Wallahu?alam

Akhirnya?.Tit, tit?tit, SMS diterima: ?srt dr akhi, dah sy jwb di email, from Siti Nurhayati?. Tanpa pikir panjang, dibukanya email, dan isinya:?
Jawaban atas sebuah risalah: Saudaraku, aku sangat mengerti perasaan kamu. Tapi aku berharap kamu juga harus ngerti perasaan aku. Sebab aku sedang belajar memahami perasaan lelaki dari negeri jiran, yang kebetulan teman satu kantor ayahku disana. Emang kami baru tahap ta?aruf (perkenalan, red). Tapi sebagai wanita dan calon isteri, tentu aku ingin kepastian kelangsungan hidup masa depan, dengan hidup serba berkecukupan. Meski siti tahu calon suami siti orang yang seumuran paman siti dan bukan orang yang satu harokah (kelompok/jamaah, red) sama kita. Tapi jodoh khan gak, ngeliat umur dan harokah, khan? Lagian, ayah Siti banyak berhutang budi pada ayahnya dia selama di Malaysia. Maafkan, Siti kalo ternyata menyakiti hati kamu. Tapi siti juga nggak mau menyakiti hati ortu Siti. Afwan. Wassalam??

Gleg..!!! Kali ini rasanya bukan hanya saja darah yang berhenti mengalir, tapi rasanya jantung ikut berhenti berdetak. Emen?., benar-benar tidak kuasa menahan rasa kecewa. Buat Siti Nurhayati, Emen hanya bisa berharap, ?smoga kamu bisa bahagia dengan calon suami pilihan orang tuamu?. Emen tetep yakin bahwa jodoh di tangan Allah, dan nggak musti didapatin lewat pacaran, seperti layaknya remaja sekarang. Yang katanya cinta, padahal nafsu yang bicara.

Sumpah, baru kali ini, keliatan ekspresi wajah Emen kalo sedih. Tapi kesedihannya segera berlalu, sebab dia harus melakukan tugas utamanya, apalagi kalo bukan melayani umat dengan dakwah. Soal jodoh? Ah?tunggu episode berikutnya. Perjuangan belum berakhir, Men. Biarlah nggak dapat Siti Nurhayati, asal dapat Siti Nurhaliza.Eleh-eleh...

PINJAMAN

Diposting oleh Masakan On 19.44 0 komentar
Satu hal yang banyak aku belajar dari suamiku adalah sifat pemurahnya. Aku memahami bahwa sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang Islam. Tetapi mengeluarkan sesuatu yang kita susah payah untuk meraihnya, buatku masih merupakan hal yang agak berat dilakukan. Kondisi ekonomi keluarga kami Alhamdulillah mencukupi kebutuhan sehari-hari. Cukup dalam arti yang sebenarnya Pemasukan kurang lebih sama dengan pengeluaran. Kalau dapat menabung itu pun karena aku memutar otak agar dapat memanajemen uang yang masuk dengan efektif. Tapi karena sifat suamiku yang seperti itu, sampai hampir empat tahun kami menikah, tabungan kami tak pernah bertambah. Selalu saja terpakai untuk orang lain. Aku bersyukur diberi Allah suami yang seperti Bang Razak.
Karena selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya ataupun keluarganya sekalipun.
Tapi kadang-kadang...
"Kata siapa tabungan kita nggak banyak, Tia..Malahan dikasih bunga sama Allah sampai 700 kali lipat.."
Begitu selalu katanya, ketika kusinggung tentang tabungan kami yang tak pernah bertambah.
"Kalau ada seseorang yang meminjam kepada kita, kita harus bersiap-siap mengikhlasannya sebagai sedekah...Karena kemungkinan tidak dapat mereka bayar juga ada..." Kata Bang Razak di lain waktu ketika kami memerlukan uang cukup banyak untuk membayar onglos reparasi mobil butut bang Razak yang mengalami benturan karena tabrakan. Dan karena uang persediaan yang ada tidak mencukupi terpaksa malah kami yang harus meminjam kekurangannya pada seorang kawan.
Dan malah kami yang jadi berhutang.
Siang itu aku bersama Hilya dan Fuadi (anak-anakku) pergi mengunjungi Mbak Ratna, untuk menyampaikan amanat Bang Razak mengembalikan pinjaman uang untuk reparasi mobil tempo hari.
Alhamdulillah, mbak Ratna ada di rumah, karena aku tak sempat menghubungi nya sebelumnya.
"Tia..masuk.."katanya ketika melihat aku yang mengetuk pintu. Setelah mengobrol ke sana ke mari, aku menyerahkan amplop coklat pada Mbak Ratna. "Ini Mbak, uang pinjaman tempo hari..Alhamdulillah. Jazakillah
khoir.."
Mbak Ratna tersenyum,"Sudah dibayar kok, Tia. Mas Bambang yang memberitahukan padaku semalam.
Katanya kalau keluarga Razak datang mengembalikan pinjaman, pinjaman itu sudah lunas sejak seminggu lalu.."
Aku Terlongong sebentar,"loo..siapa yang membayarnya, Mbak..?"
"Aku juga kurang tahu..Tapi itu amanat yang disampaikan Mas Bambang..." Masih dengan keherananku aku pulang dengan membawa kembali amplop coklat itu.
Sesampai di rumah kulihat Salman, adik bungsuku, telah menunggu di Beranda.
"loh, kok nggak masuk saja..Kan ada Imah di dalam."tegurku ketika kulihat tampaknya Salman sudah aagak lama menunggu.
"Justru karena ada Imah di dalam, nggak masuk.."jawab Salman sambil mwengambil Fuadi dari gendonganku dan menggandeng Hilya. Dan mendahuluiku masuk rumah sambil mengucap salam berbarengan dengan Hilya.
Aku tersenyum mengikuti di belakang mereka. Aku bangga pada Salman, karena dia tahu batas-batas berkunjung ke rumah orang, walaupun rumah kakaknya sendiri. Memang rumah kami kecil, sehingga agak rikuh untuk berlama-lama dengan non mahram.
Itulah sebabnya mengapa Salman memilih menunggu di teras.
"Wa'alaikum salam..Wah, Ibu sudah pulang. Untung Imah sudah selesai masaknya. Tadi Mas Salman yang Imah minta di dalam, tetapi nggak mau, katanya kalau mas Salman yang di dalam masakan nggak akan selesai..."
Aku tertawa mendengar laporan Imah.
"Tuh, gara-gara kamu Imahnya jadi diburu-buru masaknya..." Salman hanya nyengir.
"Ada apa kok, tumben kau datang siang-siang begini..? Tak ada kuliah..?" Aku bertanya sambil sibuk menyuapi Hilya dan Fuadi bergantian.
"Hmm.."Salman masih sibuk dengan makanan yang dikunyahnya.
"Aku perlu uang Ceu Tia..."jawabnya setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Lo, bukannya buat bulan ini sudah ada..?"tanya ku.
Biaya kuliah Salman memang sebagian besar kami yang menanggung. Abah sudah pensiun ketika Salman harus masuk perguruan tinggi. Gaji pensiunan kepala sekolah dasar saja tentu tidak mencukupi untuk membiayai kuliah. Aku anak kedua dari tiga orang bersaudara. Kakak perempuanku, meskipun sudah menikah, keadaan ekonominya tak cukup memungkinkan untuk ikut membantu membiayai kuliah Salman. Asa(Atas) usul Bang Razak, akhirnya biaya kuliah Salman kamilah yang menanggung. Salman sendiri bukannya tidak berusaha untuk berdikari. Dia memberi les privat sambil kuliah.
"Yang ini bukan buat urusan kuliah, Ceu...Tapi buat urusan masa depan."
"Aku kan juga harus memikirkan buat berdikari, kasihan kalau harus minta Ceu Tia dan Bang Razak terus.
Apalagi Hilya dan Fuadi sudah beranjak besar. Tentunya memerlukan investasi buat pendidikan mereka."
"Hmm, terus.."
"Iya..aku ingin wiraswsta kecil-kecilan, bersama beberapa kawan. Dari itu aku butuh modal. Makanya aku ingin pinjam modal itu dari Ceu Tia dan Bang Razak ,kalau Ceu Tia nggak berkeberatan...
"Insya Allah nanti aku bicarakan dengan bapaknya Hilya dan Fuadi. Ngomong-ngomong berapa yang kau perlukan ...? Mungkin kalau kau perlunya banyak, tak bisa kami penuhi semuanya..."
Salman menyebutkan sejumlah uang. Hmm, aku jadi teringat amplop coklat yang tak jadi kubayarkan itu. Dua kali lipat yang ada di situ. Tapi aku tak bisa memberikannya pada Salman sekarang. Aku harus membicarakannya dulu pada suamiku.
Akhirnya, jadilah Bang Razak menyetujui rencana Salman. Aku jadi tertawa sendiri. Ternyata ada hikmahnya juga pinjam meminjam ini. Uang yang datang, tanpa diduga, ternyata perginya juga tanpa diduga. Uang yang seharusnya untuk membayar pinjaman yang ternyata telah lunas itu, sekarang dipinjam Salman. Ah, mungkin dengan cara begini Allah membagi rizki hamba-hambaNya. Pikirku belajar dari kejadian itu.
*******
Aku sedang asyik memeriksa pe-er murid-muridku, ketika kudengar seruan Imah dari ruang tamu."Bu, Ibu! Ada tamu yang mencari bapak."
Aku beranjak mengambil jilbab kausku dan bergegas memakai kaus kaki butut yang senantiasa selalu kuletakkan berdekatan dengan jilbab kaus.
"Sambil membuka pintu , kujawab salam itu.
"Maaf, Bu. Benar ini rumah Pak Razak?"
"Iya benar. Maaf, Pak, suami belum datang sekarang ...Boleh saya tahu bapak siapa...? Biar bisa saya sampaikan pada suami."
"Saya Jumadi, Bu. Pak Razak Insya Allah mengenal saya. Kalau begitu tolong serahkan saja surat dan bungkusan ini pada pak Razak. Lain kali, jika ada ke-sempatan Insya Allah, saya bertandang lagi."
Aku menutup pintu dengan sedikit pertanyaan. Kuamati bungkusan kecil yang cukup tebal itu. Kutahan rasa keingin tahuan ku yang kuat. Ini amanah buat bang Razak. Tidak sepatutnya aku membukanya sebelum sampai ke tangan Bang Razak sendiri.
Lewat Isya Bang Razak baru datang. Seperti biasa, kedatangannya di sambut ramai oleh Hilya dan
Fuadi-yang baru saja bisa berjalan tertatih-tatih. Hilya mencium tangan ayahnya seraya mengambil tas kantor ayahnya. Bang Razak bergerak ke arahku sambil menggendong fuadi di lehernya.
"Afwan, Tia. Pulangnya kemalaman. Seperti biasa ngadat lagi tuh"gerobak".
Alhamdulillah banyak yang mau mbantuin dorong,"katanya tertawa. Aku ikut tertawa. Bang Razak menyebut mobil butut kami dengan"gerobak". Walaupun gerobak mobil itu telah banyak membantu kami, khususnya Bang Razak yang banyak mempunyai kesibukan di luar kantor. Dapat aku bayangkan, bagaimana jika Bang Razak hanya mengandalkan kendaraan umum saja. Bisa-bisa setiap hari baru jauh malam Bang Razak bisa pulang ke rumah. Sudah lama sebenarnya ada keinginan untuk menggantikannya dengan yang lain, biarpun mobil bekas. Tapi ya, itu... Anggaran untuk mencicilnya tidak bisa disisihkan. Sehingga jadilah keinginan hanya tinggal keinginan. Di meja makan kuceritakan tentang kedatangan Pak Jumadi dan tak lupa kuserahkan pula bungkusannya.
"Pak Jumadi itu siapa, Bang?"
"Orang tua dari teman sekelas Abang dulu di SMA"
"Perempuan?"tanyaku ingin tahu.
"lho? Memangnya kenapa kalau perempuan? Namanya juga teman sekelas, bisa saja toh perempuan." Jawab Bang Razak santai sambil membuka amplop surat. Aku memandangi Bang Razak dengan gemas karena jawabannya. Kulihat perlahan air muka Bang Razak berubah. Nampak rasa haru membias di matanya. Lalu Bang Razak memandangiku sambil menyerahkan kertas yang tadi dibacanya.
...
Nak Razak, Alhamdulillah keadaan kami sekeluarga jauh lebih baik dari 7 tahun lalu. Usaha dagang kami yang dulu sempat pailit karena tertipu orang, dengan ijin Allah perlahan-lahan membaik dan tampaknya mapan sekarang. Kami tak pernah melupakan jasa baik Nak Razak. Alhamdulillah. Kalau saja Nak Razak tidak meminjamkan uang itu pada kami, mungkin kami tidak dapat menikmati hasil dagang kami seperti sekarang. Karena tempat-tempat untuk meminjam modal waktu itu pun tidak mempercayai kami lagi, karena tidak ada satu barang berharga pun yang dapat kami jadikan jaminan.
Di saat seperti itu hanya Nak Razaklah yang mau meminjamkan kami uang dalam jumlah yang cukup besar.
Meskipun, mungkin sebenarnya Nak Razak memerlukannya juga. Kami mengerti, sebesar-besar beasiswa yang diterima di luar negeri pun, toh diperlukan untuk keperluan Nak Razak sendiri. Tapi nak Razak begitu pecaya pada kami, yang statusnya hanyalah orang tua dari teman sekelas.
Bahkan di surat terakhir Nak Razak mengatakan, tak usah dipikirkan sebagai hutang, karena Nak Razak sendiri sudah mengikhlaskannya. Nak Razak, Rahmad sendiri sekarang Alhamdulillah telah menikah, bahkan telah dikaruniai seorang putra. Karena bantuan Nak Razak pula anak kami itu dapat menyelesaikan kuliahnya dengan selamat.
Sebenarnya, telah lama kami merencanakan untuk mengembalikan pinjaman uang kami. Tapi baru sekarang jumlah yang sama dengan waktu meminjam dapat kami kumpulkan. Sehingga terpikirlah oleh kami, betapa sebenarnya uang ini bagi Nak Razak sendiri sangat berarti. Kami jadi merasa bersalah, karena sejak Nak Razak kembali pulang ke Indonesia pun, tak pernah datang menagih uang yang sebenarnya masih menjadi hak Nak Razak.
Alhamdulillah, kami mendapat alamat Nak Razak di Bandung lewat orang tua Nak Razak di jakarta. Dan dengan ijin Allah, surat dan uang ini sampai di Ja(tangan) nak Razak dan keluarga. Terimakasih atas kepercayaan yang Nak Razak berikan kepada kami. Semoga Allah memberkati Nak Razak dan keluarga, serta memberi ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah Nak Razak kerjakan.
.........
Aku menatap Bang Razak yang tengah memandangiku.
"Ini..,"kataku terputus sambil mendorong bungkusan itu ke dekat Bang Razak. Bang Razak tak pernah menceritakan hal ini sedikit pun kepadaku. Walau beliau banyak menceritakan pengalaman-pengalamannya ketika belajar di Jepang, namun tak pernah sekalipun menyinggung masalah yang ini. Bang Razak rupanya tak mau merusak keikhlasannya dengan mengungkit-ungkitnya. Rasa hormatku makin bertambah pada suamiku.
"Ini Abang percayakan pada Tia,"katanya sambil mengambil tanganku dan meletakkan bungkusan kecil itu di atas tanganku.
"Sebanyak ini..?" tanyaku agak ragu.
Bang Razak mengangguk.
"Tapi ingat, ini hanyalah pinjaman dari Allah.."lanjutnya sambil tersenyum. Aku mengangguk haru. Ini adalah kedatangan rizki yang tak kuduga-duga ke dua kalinya sejak kejadian pinjaman kami yang tanpa sepengetahuan kami telah terbayarkan itu. Tapi kali ini aku merasakannya juga sebagai teguran Allah atas rasa beratku dan ketidak ikhlasan ku dalam memberi pada orang lain, juga atas ketidak sabaranku, yang kadang-kadang terdesak keadaan, menunggu piutang pada seseorang untuk segera dilunasi. Aku menyimpan bungkusan itu di lemari pakaian tanpa kubuka. Biarlah sampai ada yang datang lagi memerlukan sebagian darinya, baru kubuka. Begitu niatku. Tak lama beberapa menit setelah itu...
"Tia!" kudengar seruan Bang Razak yang berjalan ke arah kamar di mana ku berada.
"Abang lupa, Abang tadi pinjam uang pada Rudi buat ongkos bengkel..

PESANTREN DILORONG BUKIT

Diposting oleh Masakan On 19.39 0 komentar
Pondok pesantren itu berada di kaki bukit. Dari sisi utara bukit itu terlihat pantai utara Jawa. Sesekali terlihat perahu layar kerajaan Demak dengan bentuknya yang khas. Pohon munggur, johar, dan randu tampak menjulang tinggi memagari beberapa rumah berderet menghadap ke sebuah jalan setapak yang menjadi tempat tinggal para santri. Jalan itu akan berakhir ke sebuah masjid dengan halaman yang luas. Kiai Rahmat biasa mengajar santri-santrinya bermain silat di halaman itu. Umurnya masih muda. Belum sampai tiga puluh tahun. Mungkin dua tujuh atau dua delapan tahun. Belum pantas dipanggil kiai. Namun masyarakat sekitar pesantren biasa memanggil begitu. Hampir setiap sore bahkan kalau malam terang bulan mereka berlatih pula. Mengaji dilakukan selepas Subuh sampai Zuhur.
Setiap awal bulan Muharram sampai bulan purnama pondok itu terlihat lengang. Mereka mengembara melatih fisik menghadapi segala tantangan alam sekaligus mencari pengalaman menerapkan ilmu bela dirinya. Medan yang sulit merupakan tujuan mereka. Kalau di dalam perjalanan mereka mendengar kabar tentang suatu daerah yang rusuh maka mereka akan datang. Dan mereka belum beranjak sebelum pelaku keonaran tertangkap, sehingga rencana perjalanan dua minggu itu kadang-kadang molor. Cuma tidak pernah lebih dari sebulan.
Maka tenarlah pesantren Kiai Rahmat sebagai tempat orang mencari perlindungan dan melaporkan tindak kejahatan. Dalam ilmu bela diri Kiai Rahmat memang jagonya. Lincah bermain segala macam senjata. Orang-orang tua bilang kakeknya seorang pendekar pilih tanding. Di bawah asuhan kakeknya, sejak kecil Kiai Rahmat ditempa untuk menjadi pendekar pula, sehingga pada usia masih sangat muda belum genap 15 tahun dia telah menyamai kakeknya dalam olah kanuragan. Di samping itu kakeknya juga seorang kiai. Mengembara mencari ilmu agama pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya telah menjadi jalan kehidupannya di masa muda. Tak mengherankan kalau Rahmat memiliki pemahaman tentang agama Islam yang cukup memadai, walaupun tentu lebih mendalam saudara tuanya yang datang tiga hari dalam sepekan untuk mengajar tafsir dan fikih di pesantren itu. Karena saudara tuanya ini pengembara ilmu Islam di Timur Tengah.
Kiai Rahmat pernah mengembara pula. Ada yang bilang lima tahun ada yang bilang sampai delapan tahun berguru bela diri ke Tiongkok. Beberapa aliran kungfu telah dikuasainya. Makanya kalau dia belanja ke pedagang Tionghoa, bahasa Tionghoanya keluar.
Istri Kiai Rahmat orang Tionghoa juga. Tetapi sekarang sudah mahir bahasa Melayu dan Jawa. Setiap pagi selepas Subuh bacaan Qurannya mengalun merdu menerobos keluar dari bilik bambu. Kerudung yang lebar dan panjang selalu menyertainya di waktu berpergian. Karisma dan kehebatan suaminya menjadikan dia sangat dihormati dan banyak perempuan desa yang meniru-niru penampilannya, walaupun banyak di antara mereka masih mengikuti agama resmi negara Majapahit yakni Hindu atau Budha.
- - -
Tidak seperti biasanya, sore itu Kiai tidak melatih bela diri. Beberapa orang santri tampak mengelilingi Kiai mendengarkan cerita pengembaraannya di Tiongkok termasuk pula sampai dia memboyong seorang gadis dari sana. Istri Kiai Rahmat itu orang asli Xinjiang. Dia tinggal tidak jauh dari makam shahabat besar Rasulullah Saad bin Abi Waqqash. Papanya seorang guru kungfu Shaolin kenamaan.
Kiai Rahmat sangat mengagumi akhlak putri gurunya itu. Ketekunannya beribadah dan kecermatannya menutup aurat, membuatnya mabuk kepayang. Sudah banyak para pendekar dan pembesar melamarnya. Namun selalu ditolaknya. Kebetulan orang yang melamar putrinya itu tidak memenuhi keinginan Guru dalam masalah agamanya. Akhirnya suatu saat aku memberanikan diri untuk melamarnya.
“Guru, sebelumnya saya mohon maaf. Terdorong oleh keinginan hati yang selalu menggelisakan tidur. Saya memberanikan diri melamar putri Guru.”
Sang Guru terdiam lama. “Sudahkah engkau mantap dalam pilihanmu?”
“Sudah, Guru.”
“Aku akan memberi jawaban ya atau tidak kalau engkau sudah bisa menyamai ilmuku atau bisa mengalahkanku.”
Sejak mendapat tantangan itu Rahmat menjadi semakin giat berlatih siang dan malam seperti tak kenal lelah. Sampai suatu saat Sang Guru mengajaknya bertanding. Dia masih ingat betul, waktu malam bulan purnama bulan Muharram. Pertarungan yang amat menentukan karena sekaligus menjadi forum pengesahan akan kelulusan dia di perguruan itu. Seluruh murid perguruan berkumpul, sejak selepas salat \lquote Isya sampai tengah malam Rahmat bertanding. Semua jurus yang pernah diajarkan gurunya dikeluarkan berikut olah napas dan keterampilan menggunakan segala senjata. Baru setelah bulan mulai condong ke arah barat sang guru memberi isyarat sudah cukup. “Kalian jangan pergi dulu, aku melakukan sesuatu yang sangat penting.”
Para murid perguruan itu bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan dilakukan gurunya termasuk Rahmat. Guru mengajak Rahmat masuk rumah. Lalu Guru memanggil putri satu-satunya yang cantik jelita itu. “Putriku yang amat kusayang. Pada malam hari ini Papa ingin memberi jawaban dan kepastian akan lamaran Rahmat murid papa orang Jawa ini, sebagaimana telah Papa sampaikan sepekan yang lalu. Waktu tujuh hari Papa kira sudah cukup untuk memikirkan persoalan ini sekaligus pula memohon petunjuk Allah. Semua ilmu yang kasat mata telah kuberikan kepadanya. Tinggal beberapa rahasia ilmu yang akan kuberikan kunci-kuncinya besok pagi. Rahmat telah lulus dari perguruan ini. Semua sangat tergantung padamu. Papa tidak ingin engkau tidak berbahagia karena Papa memaksakan pilihan. Kalau engkau tidak suka katakan terus terang. Kalau engkau diam saja, maka Papa akan berpegang kepada sabda Rasulullah saw bahwa diamnya seorang gadis atas sebuah pinangan itu pertanda persetujuan.”
Putri Sang Guru itu terdiam sejenak. Airmata yang bening mengalir. Semakin lama semakin deras. Mereka bertiga terdiam membisu. “Aku tidak ingin berpisah dengan Papa.”
Sang Guru pun meneteskan air mata, “Papa pun demikian. Namun perjalanan hidup manusia kadang-kadang mengharuskan seperti itu. Engkau harus selalu ingat bahwa tanah Jawa itu juga bumi Allah. Papa berani mempercayakan dirimu kepada Rahmat karena dia seorang mujahid dan dai yang gigih. Papa yakin engkau akan selalu dibimbingnya untuk selalu istiqomah di jalan-Nya yang lurus. Jika engkau mau menerima pinangannya, maka malam bulan purnama ini juga akan Papa nikahkan.”
“Papa...” putri sang Guru menelungkupkan wajahnya di pangkuan papanya. “Doa Papa selalu ananda minta.”
“Tentu saja Papa tidak akan melupakan. Marilah kita semua keluar.”
“Lalu pada malam hari itu juga aku resmi menjadi menantu Sang Guru. Keesokan harinya di dalam rumah Sang Guru dengan disaksikan istriku aku menerima segala rahasia ilmu yang selama ini masih disembunyikan. Tuan Guru bilang dengan beberan ilmunya yang terakhir itu aku akan berhasil mengalahkan Guru. Namun aku bersikeras tak mencobanya, demi menjaga wibawanya di hadapan murid-muridnya,” kata Kiai Rahmat mengakhiri ceritanya.
***
Malam terang bulan Kiai Rahmat tidak keluar untuk melatih. Namun beberapa santri tetap berlatih di halaman masjid. Gerakan-gerakan kungfu mengalir dengan lancar. Samar-samar dari bilik Kiai terdengar suara isak tangis.
“Dinda, mengapa sejak tadi engkau selalu menangis? Apakah engkau sakit? Ataukah engkau menginginkan sesuatu? Katakanlah! Asal Kanda sanggup akan Kanda turuti malam ini juga.”
“Dinda sangat rindu kepada Papa.”
“Dinda, Kanda perlu waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, untuk berlayar ke Tiongkok. Apalagi Dinda sekarang sedang hamil. Apakah Dinda tidak kasihan kepada anak kita, membawanya menyeberangi lautan luas? Bersabarlah sampai dia lahir dan berumur setidak-tidaknya dua tahun.” Kata-kata itu tidak membuat tangisnya reda. Bahkan airmatanya semakin deras mengalir. “Maafkan Dinda.”
Tiba-tiba terdengar suara keributan di halaman masjid. Seketika Kiai Rahmat berlari keluar. “Hai, ada apa?”
“Dua orang penyerang gelap, Kiai,” seorang santri menjawab. “Kami sedang berlatih tiba-tiba dua bayangan hitam berkelebat, gerakannya cepat sekali. Sejurus kemudian empat orang santri terkapar menahan sakit.” Dari bilik-bilik rumah santri-santri yang lain berlarian menuju ke tanah lapang mengeroyok dua penyerang gelap yang tidak bisa dikenali karena memakai topeng.
Kiai Rahmat memperhatikan sebuah pertarungan yang sangat sengit. Dua penyerang gelap itu sama sekali tak tersentuh. Gerakan-gerakannya sangat cepat dan lincah. Namun dia sangat kenal dengan gerakan-gerakan itu. Terlihat mereka berdua tidak menyerang untuk mematikan.
“Bukan tandingan mereka,” gumam Kiai. Kemudian dia berteriak lantang, “Minggir! Minggir semua!”
Tinggallah di tengah halaman masjid Kiai dengan dua penyerang gelap itu. Dengan gerakan-gerakan cepat mereka berdua menyerang Kiai Rahmat. Kiai lebih banyak bertahan. Beberapa lama mereka menyerang tak juga berhasil menyentuh Kiai. Tiba-tiba Kiai berteriak, “Bersiaplah!” Lalu pertarungan berubah cepat tidak lebih dari sepuluh gerakan dua penyerang gelap itu tak berdaya. Kiai memberi isyarat kepada para santri untuk mengikat keduanya.
“Siapa kalian? Apa mau kalian?” dengan kedua tangannya Kiai membuka topeng keduanya. “Guru.”
“Lepaskan dia!” perintah Kiai kepada santrinya. “Dinda! Ini Papa datang!”
Dari dalam terdengar langkah tergopoh-gopoh. “Oh, Papa!” Istri Kiai Rahmat menghambur dalam pelukan papanya. “Kenapa Papa datang dengan cara seperti ini?”
Orang yang dipanggil guru dan papa itu tersenyum. “Aku ingin tahu hasil kerja menantuku. Ternyata tidak salah pilihanmu anakku. Oh ya, Rahmat. Perkenalkan ini muridku yang terbaik. Dia akan menggantikan kedudukanku. Aku sudah memutuskan untuk pindah ke Jawa. Aku tak tahan berpisah jauh dengan putriku, anakku satu-satunya.

Nurhayati Berjilbab

Diposting oleh Masakan On 19.38 0 komentar
oleh dudungks

Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas di dalam benak saya. Waktu itu saya berpikir sebagai seorang muslim cukuplah sholat, zakat, puasa , shodaqoh, dan haji kalau mampu. Mungkin karena saya dibesarkan dalam keluarga islam tradisional seperti itu. Dan di keluarga saya memang berkembang pandangan bahwa jilbab identik dengan kalangan fanatik, ekstrimis, pengikut aliran tertentu dan sebagainya lah. Pokoknya orang biasa nggak perlulah menunjukkan kefanatikan beragama dalam hal berpakaian seperti itu.

Saya tidak pernah ikut lagi pengajian karena saat itu ada seorang ikhwan yang secara tegas tidak menyukai dan mengecam wanita yang tak berjilbab. Tapi entah kenapa tiba-tiba saya sangat tertarik untuk mengkaji al Qur,an sehingga diam-diam tiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk membaca terjemahannya. Sampai saya temukan surat Al Ahzab: 59 tentang perintah untuk menutup aurat. Setelah itu, saya yakin bahwa kewajiban berjilbab itu datang dari Allah SWT dan saya bertekad untuk melaksanakannya.
Tapi tentu saja hal itu tidak mudah untuk dilaksanakan. Selain keluarga yang pasti sangat keberatan, saya sendiri masih merasa tidak pantas untuk memakainya. Mengaji saja masih belum lancar. Nanti malah malu-maluin, berjilbab kok tidak bisa mengaji. Keinginan untuk berjilbab dengan berbagai tantangan itu akhirnya membuat saya hanya bisa pasrah semoga Allah menunjukkan jalan dan menjaga ketetapan hati saya.
Suatu hari sekolah kami mengadakan study tour ke beberapa kota. Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Intitut Teknologi Bandung . Saya melihat banyak kakak-kakak putri berjilbab. Subhanallah , mereka terlihat sangat anggun, damai, mantap, dan bangga dalam keislamannya.
Mungkin ini salah satu solusi bagi keinginan saya . Sejak itu saya bertekad untuk kuliah di ITB supaya bisa berislam dengan lebih baik dan posisi tawar jilbab di mata keluarga saya bisa terangkat.
Alhamdulillah tahun 1997 saya berhasil terdafatar sebagai salah seorang mahasiswa ITB.
Sebagai seorang perantau, saat itu saya masih kaget dengan kultur kampus yang sangat individualis sehingga membuat saya sibuk berusaha untuk bisa 'survive'. Dan selama semester I belum ada kemajuan yang berarti dalam keislaman saya. sampai datanglah Ramadhan 1418 H, saya ikut kepanitiaan P3R di Masjid Salman. tentu saja sebagai satu-satunya akhwat yang tidak berjilbab.
<>
9 Februari 1998, awal semeter II saya memutuskan untuk memakai jilbab. Seperti yang sudah saya duga keluarga saya pasti menentangnya. Ibu saya tiap hari menelpon, agar saya melepaskan jilbab karena Bapak sangat kecewa dengan keputusan saya. Ibu bilang bahwa jilbab itu hanya mode yang bisa saya tinggalkan dengan mudah. Ibu juga mengatakan bahwa Bapak tidak mau lagi berbicara dan akan mencabut semua biaya kuliah dan biaya hidup saya.
"Minta saja pada yang menyuruhmu memakai jilbab." kata Bapak. Bapak menganggap saya telah kehilangan akal sehat dan melakukan sesuatu tanpa pemikiran rasional lebih dulu. Saya memahami kekecewaan keluarga saya akan jilbab yang mereka pandang akan menghalangi aktivitas, membatasi pergaulan, kolot, akan menyulitkan mencari pekerjaan dan pasangan, ataupun ketakutan atas aliran-aliran berlabel Islam yang ujung-ujngnya menyebabkan seorang anak mengkafirkan orang tua. Dan Saya rasa ketakutan itu dikarenakan kasih sayang mereka pada saya.
Saya berkeras untuk berjilbab dan saya tidak mau melepaskannya lagi, meskipun ancaman itu mengkhawatirkan saya.Untungnya uang saku saya diberikan tiap awal semester, jadi saya masih punya kesempatan selama satu semester ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka atas kewajiban berjilbab bagi umat islam.
Penjelasan itu hanya bisa saya berikan lewat surat karena bapak dan ibu tidak mau berbicara kepada saya. Saya jelaskan lewat surat-surat alasan-alasan, dasar pemikiran, keinginan-keinginan saya dan saya jelaskan juga bahwa sebenarnya pendorong terbesar saya untuk bisa masuk ke ITB adalah keinginan untuk berjilbab dan berislam dengan lebih baik. Saya ceritakan juga kegiatan saya selama di kampus baik kegiatan yang berhubungan dengan islam ataupun yang bukan. dan yang paling utama adalah doa dan akhlak yang baik yang akan saya tujukan buat mereka terus menerus, mulai saat itu.
Tak terasa satu semester berlalu. Meskipun mereka tidak pernah membalas surat itu. saya yakin suadah ada perubahan sikap dan pandangan pada mereka tentang Islam. Allahu Akbar! Alhamdulillah di suatu pagi yang cerah di ujung semester II ada telpon dari Ibu yang menanyakan kapan saya akan pulang. Tentu saja itu hal yang sangat saya inginkan… Pulang di saat liburan!
------------------
Menginjak semester III. Saya bertekad untuk makin mendalami Islam dan masuk ke dalamnya secara kaffah. Saya mulai berinteraksi dengan dunia Islam lewat buku-buku, majalah, sahabat-sahabat, majelis ta'lim, tilawah,tafakkur, tadabbur Qur'an, dan berusaha untuk mengambil hikmah dari berbagai kejadian dalam perjalanan hidup saya untuk sebuah perbaikan dan kemajuan.
Islam tidak akan mempersulit umatnya. Jilbab bukanlah penghalang aktivitas , Insya Alllah.. .Setidaknya itu bisa saya buktikan kepada keluarga saya lewat foto-foto 'gank ekspedisi kami' , empat orang muslimah pecinta alam ITB di puncak Gunung Rinjani, Gede-Pangranggo, Burangrang, dan Merbabu.
Islam juga merupakan sistem yang akan mengembalikan kemanusiaan manusia, lewat kekuatan akidah, keindahan akhlak dan utuhnya syari'at yang ditegakkan .
Jilbab merupakan gerbang untuk mengembalikan diri kepada fitrah kita dan sekaligus melahirkan sebuah konsekuensi untuk mengenal Islam lebih jauh, mengenal kewajiban dan hak-hak kita sebagai manusia dan hamba Allah dan mempersiapkan diri untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.
Dan percayalah semua itu indah….dan keislaman yang benar adalah karunia yang terbesar. Insya Allah!
Jadi selamat datang di dunia keindahan….
……Allahu a'lam bishawab…. [MQMedia.com]

NOMBOK DONK

Diposting oleh Masakan On 19.35 0 komentar
Pieree! Keciliin tape-nya! Suara Dea mengelegar, saingan ama suara tape dari kamar Pieree. "Apaaa?" jawab Piere nggak kalah menggelagar. "Keciliin tape-nya!" ulang Dea "Keciliin? Emangnya aku tukang sulap?" Pieree cekikikan.
Dea jadi dongkol mirip ikan tongkol yang keselek engkol. Sudah berapa kali Piere ngejawab dengan gaya slengean.
Dea yang kelewat kece itu punya adik yang nggak kalah kece. Namanya Piere, anaknya jangkung, putih dan ada talinya, eh itu sih tiang bendera. Pokoknya keluarga Dea itu ditakdirkan cakep-cakep. Bapaknya yang orang Prancis mirip David Ginola, ibunya orang Sunda, rumahnya bersih lagi (idih apa hubungannya coba) Kucing di rumahnya aja cakep sampe anjing-anjing di sekitar komplek pada nguber-nguber gemes. Gemes ingin melumatnya.
Pieree yang baru naik kelas 3 es em pe itu emang lagi 'lucu-lucu'nya. Maklum, ABG, anak baru gila, ledek Dea. Bayangin aja, sepatu untuk ke sekolah nggak mau sama dengan sepatu untuk main ke sawah! Hiiii. Bajunya pengen yang ada cap palunya alias Hammer. Kalo maen kemana-mana pasti peke minyak wangi. Lazimnya ABG, selalu bikin masalah. Minggu kemaren dia minta diajarin nyetir mobil ke Dea. Terang aja Dea sak kakak ogah-ogahan. Tapi dasar nekat, diam-diam Pieree nyetir mobil keliling komplek bareng gengnya.
Ketawa-ketiwi sambil ngebayangin jadi Alain Prost atau Michael Scumacher sampe nggak sadar kalo di depan ada tukang bakso, Piere panik, bantir setir dan alhamdulillah, sukses mencium pagar tetangga. Terpaksa papanya turun tangan gantiin pager yang ringsek. Piere juga kena hukuman, tabungannya dipecah buat ngebetulin bemper mobil yang penyok.
Meski demikian gokil, mamanya tetap sayang. Siapa lagi yang bisa disuruh buang sampah selain Piere?Eh, enggak ding, Piere meski bandel tapi pinter. Di sekolah aja termasuk top ten murid-murid pinter. Walaupun guru-guru juga sering dibikin pusing. Ya, itulah Piere, meski bandel namun memang bandel
"Assalamu'alaikum" Piere yang lagi nyuci sepeda heboh-nya jadi bangun. Ngelongok keluar, ternyata ada seonggok manusia di pintu gerbang sedang menenteng map.
"Walaikum salam, maaf Mas, ibunya lagi belanja. Kalo minta uang ronda besok aja, tapi kalo saya inget ya?" teriaknya dari garasi mobil. Ery yang mau ketemu Dea jadi dongkol. Masa tampang sekece ini dikira minta uang ronda.
"Eh, itu Piere ya? Saya Ery, temannya Dea, mau ketemu De"
"Oh, maaf, saya kira mau minta iuran ronda. Habis mukanya kembaran sih sama pentungan hansip" Piere ketawa-ketiwi. Piere jalan ke pager lalu membuka pintu pager, dan mempersilahkan Ery masuk.
"Deanya ada?" tanya Ery. "Ada, tapi kayaknya belum keluar dari kepompongnya tuh. Dia kan lagi metamorfosis" jawab Piere sekenanya sambil jalan balik ke tempat cuci sepeda. Ery hanya bengong, pantesan Dea setres, adiknya gokil banget. Nggak lama kemudian Dea muncul
"Assalamu'alaikum, eh Ery, udah lama, Er?" sapa Dea sambil sumringah.
"Walaikum salam, baru aja"
"Bawa pesanan saya, khan?"
"Bawa nih, sekalian ada titipan buku dari anak-anak pengajian putri. Mereka nggak sempat ke sini, jadi saya yang di suruh"
"Oh, I see, Eh, Ery minum dulu, ya? Mau apa? Coca cola? Sprite? Air jeruk? Air putih?" Dea nawarin mirip pelayan warteg.
"Wah terima kasih, cuma saya lagi ada perlu. Buru-buru nih, Assalamu'alaikum" Ery pamitan.
"Walaikum salam" Dea ngunci lagi pintu pager rumah. Sementara Piere nongol di pintu rumah, "Itu Ery?" tanyanya. "Iya," jawab Dea. "Boleh juga", "Boleh juga apa?" Dea penasaran. "Boleh juga sih kalo diadu balap sama herder" lagi-lagi usilnya kumat.
Piere akhir-akhir ini lagi gandrung banget sama album kram otak-nya Iwa K. Hampir tiap pulang sekolah kaset itu diputer. Kadang-kadang sambil main basket di lapangan basket di komplek, di setel juga kaset nombok dong-nya Iwa K.
"Saatnya sekarang .... hempaskan bola ke dalam keranjang. Dong nombok dong, nombok dong, nombok dong" koor anak-anak di lapangan basket. Wah kumpulan ABG di komplek itu memang heboh banget. Dandanannya pada modis-modis, kaosnya aja dibeli dari Amrik langsung, Celtics, Houston, Rocket, Chicago Bulls nemplok di kaos anak-anak. Termasuk Piere, tujuannya sih maen basket, tapi sekalian ngecengin anak-anak dari komplek lain. Ya sambil menyelam nangkep ikan begitu.
Piere ngaso dulu, keringatnya bercucuran mirip kue cucur, eh air mancur. Sambil ngegantungin handuk ke leher dengan rakus dia nenggak es sirop. Sepintas mirip tukang becak lho.
"Piere, besok hiking yuk?" kata Bobi sambil duduk di sebelahnya. "hiking kemana?"
"Ya, ke gunung masak ke Tanjung Priok?"
"Lho kan biasanya elu jadi kuli pelabuhan?" ledek Piere. "Enak aja, dia mah kuli pasar" Hendra nimpalin dari belakang. "Biarin ah, yang penting halal" Bobi melakukan self defense. Maklum diantara anak-anak komplek, Bobi yang punya bodi paling gede, item lagi. Maka sering diledekin kuli. Tapi dia paling bermanfaat lho! Misalkan, kalo ada perlombaan tarik tambang, Bobi suka dimanfaatin sebagai ... tambang" hiii
"Gimana nih, anak-anak udah Oke lo?" Bobi penasaran. "Siapa saja yang mau mikut?" tanya Piere.
"Para kurcaci ini. Anak-anak cewek juga mau ikutan. Gimana? Seru kan?"
"Anak cewek? Siapa saja?" sekarang Piere yang penasaran. "Ani, Maudy, Ike, si Tami juga mau ikutan"
"Si Tami mau ikut?" mata Piere berbinar-binar. Nama itu memang masuk dalam daftar buruannya.
Ransel ijonya Piere dipenuhi kaos, celana jeans, celana Hawai, makanan kecil. Ada roti kecil, kacang kecil, biskuit kecil, dan nasih kecil. Nggak lupa dia siapin juga panci mini, kompor mini, meja belajar, lemari pakaian, wastafel, toilet yeeee emangnya kena gusuran. Eh, walkman? Bawa ah, lagi Dea nggak bakalan tahu.
"Eh, walkman jangan dibawa, entar ilang lagi!". Masya Allah, jantungnya hampir aja copot. Ternyata Dea udah berdiri di depan pintu kamarnya sambil melotot. "Jangan dibawa walkmannya, kalo ilang mau ngegantiin?" Dea nanya setengah ngancam. Piere jadi ciut, buru walkmanya dikeluarin lagi. Dea keluar sambil nyomot snack dari meja Piere. Dasar Piere, walkman itu dimasukin lagi ke dalam Ransel. Pagi-pagi sekali, Piere sudah berkemas-kemas. Sementara maminya sudah ngasih bekal dan memeriksa dengan teliti, jangan-jangan ulekan Mami kebawa.
"Piere, hati-hati ya di jalan, Jangan lupa sholat ya?" pesan mami
"Iya, mam, tenang aja. Piere sudah gede kok" Piere sun tangan dan jreng, tancap gas di VW-nya Ipung. Semuanya 10 orang, 6 cowok dan 4 cewek.
Akhirnya, sampailah mereka di perkemahan di Sukabumi. Dengan antusias mereka turun lalu membongkar segala macam perbekalan. Seperti sudah tradisi, anak-anak perempuan selalu bawa banyak barang. Kayak tasnya Maudy, gemuk banget, isinya ada makanan kecil, aneka T-shirt, beberapa buah jaket, pakaian santai, gaun pesta dan sepatu kaca ...(emanya Cinderela) yang paling santai Bobi. Hanya bawa pakaian dalam tiga biji, itupun karena beliau suka ngompol di malam hari. Masalah makan dengan ikhlas Bobi ngandalin anak perempuan.
Karena mereka harus melewati jalan setapak maka VW Ipung terpaksa dititipkan di tempat penitipan kendaraan. Apa boleh buat, mereka harus mengandalkan kekuatan kaki untuk sampai ke tempat perkemahan. Piere jadi komandan regu.
"Berhubung Bobi yang badannya paling kekar diantara kita, maka dengan hormat saya tugaskan beliau membawa semua perbekalan" Piere mulai membagi tugas. "Horee, rasain lu Bob!" teriak anak perempuan. Bobi nggak bisa menolak. Akhirnya semua tas dipegang, tiga tas nangkring di punggung, dua di depan dan dua lagi ditentengnya.
"Tu ...wa... tu... wa" Piere ngasih semangat. Gantian, kadang Ipung yang memimpin sambil nyanyi lagu syukur, terang aja diprotes anak-anak. Itu sih bikin ngantuk. Hendra juga ikutan tapi lagunya lagu dangdutnya Evi Tamala yang didemeninya, terus diulang-ulang sampe akhirnya ditimpukin anak-anak yang lain. Sementara Bobi terseok-seok kelebihan beban, berjalan paling belakang, sambil sesekali diawasi anak-anak perempuan, takut jatah makanan mereka disikat/
Baru setengan perjalan mereka hampir colaps. Akhirnya Piere memutuskan untuk ngaso dulu. Lagian sudah waktunya dhuhur. "Kita sholat dulu yuk, Tuh ada mushola" ajak Piere. Berebutan mereka menuju tempat wudhu. Ah, seger air yang dingin itu membuat mereka semangat lagi. Mereka sholat berjamaah, Ipung jadi imam sholat. Tapi, lho kok ada yang duduk-duduk saja di luar, nggak ikutan sholat?
Piere yang habis sholat hampiri Hendra. "Hen, kok lu nggak sholat sih?" tanya Piere. Hendra diam sambil nundukin kepalanya. "Datang bulan ya?" canda Piere, tapi Hendra nggak ketawa, mesem pun nggak, malah makin menunduk. Piere jadi bingung ... atau .......
"Kamu nggak bisa sholat Hen?" tanya Piere pelan. Masya Allah, dirangkulnya bahu teman sekelasnya itu. "Yuk, gua ajarin" katanya pelan sambil mengajaknya ke tempat wudhu. Hendra belajar sholat setelah dibimbing Piere. Sambil menunggu Hendra sholat, Piere diam-diam menahan tangis. Ah, ternyata ada juga kawanku yang tahu cara sholat.
Ih sirim benget" Tami ketakutan. Mereka sekarang harus melewati jembatan gantung yang kecil. Dibawahnya mengalir sungai yang cukup deras. Terang aja anak-anak perempuan pada menciut nyalinya. Anak cowok juga sebetulnya sih pada gemetaran, tapi gengsi dong kalo sampe keliatan anak-anak cewek.
"Tenang-tenang, jangan panik, jembatan ini aman kok. Liat aja talinya kuat begini" Piere sok menenangkan kawan-kawannya padahal dia sendiri panik juga.
"Kalo gitu, anak cowok duluan jalan" Tami ngerengek. "Lho, bukannya lady first?" tanya Piere, kontan dia dipelototin anak-anak cewek. "Iya sori, deh, gimana kalo Ipung yang jalan duluan. Dia khan paling getol sholat" Piere ngelirik Ipung.
"Piere, tega kamu mengorbankan teman sendiri. Itu tidak setia kawan namanya. Giman kalo Hendra aja?" balas Ipung. "Kalian ini gimana sih? Bukannya mencoba dulu malah becanda aja" Tami ngomel-ngomel.
"Yuk, kita jalan, tinggalin aja anak-anak pengecut itu" ajak Tami pada teman-temannya. Tami jalan paling depan, kakinya mulai menginjak kayu jembatan. Setelah dua, tiga langkah, anak-anak ngerasa jembatan itu mulai goyah. Muka mereka jadi pucat kayak mayat, Hih nyesel juga sok berani. Tapi berhubung gengsi mereka nyoba jalan terus. Semeter, dua meter sampai akhirnya sampe di ujung jembatan. Puih, meski sukses mereka masih agak-agak gemetaran juga. Mau ngomong sulit, apalagi kentut. Setelah ngatur nafas, baru mereka bisa ngomong.
"Hoi, ayo berani nggak jalan terus?" teriak anak-anak cewek di seberang. Tanpa pikir panjang, anak cowok ngebirit jalan di jembatan. Ngerasa keenakan mereka goyangin jembatan. Kayunya diinjek keras-keras, akhirnya jembatan goyang nggak karuan.
"Hoi. Hoi stop. Aduh, gua mau hatuh nih" teriak Bobi panik. Tapi dengan tidak berkeprimanusiaan anak-anak terus menginjak kenceng-kenceng jembatan gantung itu. Akhirnya Bobi mulai sempoyongan. Dia oleng ke kanan dan ke kiri. Anak perempuan mulai jejeritan, baru mereka sadar ada yang nggak beres. Tapi terlambat, Bobi kepeleset dengan sukses, Piere panik lari ke arah Bobi, tas anak-anak jatuh satu demi satu ke bawah dan tenggelam ditelan sungai yang deras. Anak-anak perempuan hanya bisa memandang terkesima, memandangi sungai dan tepi bukit yang curam dengan tatapan kosonng. Tiba-tiba mereka merasa ingin pulang ke rumah.
Mereka duduk melingkar. Merenungi nasib. Maudy masih sesenggukan menahan tangis. Hendra terdiam, Ipung juga apalagi Bobi. Sementara Piere, selain memikirkan kelompoknya dia juga merenungi nasib walkman Dea yang ikut hanyut. Sementara itu, cuaca mulai gelap dan dingin. Itu juga yang menghalangi mereka untuk kembali ke pangkalan. Akhirnya mereka mencari tempat yang lumayan aman, meski tetap aja mereka kedinginan. Belum lagi kelaparan mulai menyergap, kacang garing yang dibawa Tami udah habis. Supaya nggak gelap, mereka memasang dua biji lampu senter.
Udara yang dingin membuat anak-anak merapatkan tubuhnya. Dengan berjaket saja tidak cukup, maka mereka memeluk lutut sambil gigi bergeretak kedinginan. Bobi udah mulai gelisah, nggak kuat menahan pipis karena dia bingung mau pipis kemana, kemana-mana gelap Ih, syerem.
"Pung, anterin gue dong, gue kebelet nih, pengin pipis, tolong, Pung, Pleas"
Ipung yang kedinginan jadi jengkel, dia diam aja. Tapi karena Bobi dengan gencar merayu, akhirnya Ipung menyerah juga. Diantarnya sohibnya itu. "Bentar ya, gua ama Ipung mau jalan-jalan dulu" kata Bobi sumringah. "Jalan-jalan kemana? Diculik jin lu!" Piere bengong.
Udah belum Bob?" tanya Ipung kesel, kakinya mulai gatel digigitin nyamuk. "Udah" jawab Bobi tersenyum lega. Satu beban sudah hilang. "Lega rasanya, thanks Pung, kamu emang benar-benar teman dalam suka maupun duka" Puji Bobi. Mereka mulai berjalan baru beberapa langkah Bobi dan Ipung mulai cemas. "Bob, kita lewat sini nggak ya tadi?" Ipung mulai cemas. "Aduh Ipung, mana sempat gua ngapalin jalan. Gua kan lagi kebelet" kata Bobi juga ikutan panik. Keduanya mulai ketakutan, apalagi ditambah suara binatang-binatang malam terdengar menakutkan. Mulai terbayang di benak Bobi, monster-monster macam Zombi, Frankenstein sampai kuntilanak. Ipung juga ketakutan, kudunya serasa ada yang niup-niup, soalnya kemaren ada tetangganya yang meninggal. Nah, tetangganya itu konon kabarnya suka miara kucing. Trus kenapa? Ya nggak apa-apa, emangnya nggak boleh miara kucing. Ih nggak lucu deh.
Dari kejauhan tiba-tiba ada cahaya merah berjalan. Cahaya itu mati lalu nyala lagi, begitu seterusnya. Dan cahaya itu mendekati mereka. Bobi dan Ipung makin gugup, cahaya itu makin mendekat, cahaya itu disertai bayangan besar di belakangnya, sekilas mirip hantu scarecrow. Makin dekat. Makin dekat dan....
"Hantuuuuuu" teriak Bobi. "Setan pocong, sundel bolong!" Ipung juga nggak kalah heboh.
'Tenang-tenang, saya bukan hantu, saya bukan hantu" teriak bayangan hitam itu. Bobi dan Ipung mulai tidak teriak lagi meski nafas mereka masih ngos-ngosan.
"Bu ... bu ... bu kan hantu? Lalu a.... aa. Pa? Tanya Ipung gagap. "Saya bukan hantu, tapi saya genderuwo" Kontan anak-anak itu pingsan dengan sukses.
Bobi terbangun mencium bau balsem. Di pinggirnya, Ipung duduk sambil makan roti coklat. Demi melihat roti coklat Bobi makin segera sadar dan terduduk. "Kita dimana Pung? Tanyanya. "Di Sukabumi, mau roti?" Ipung ngasih segepok roti. Hanya sebentar saja roti itu sudah meluncur ke dalam perut Bobi yang gendut.
"Eh, udah bangun yang gendut itu?' tanya seseorang , Bobi kaget. "Lho, mas ini siapa?" tanyanya penuh curiga. "Saya Ery, habisin tuh rotinya" kata Ery, tapi dia segera bengong melihat rotinya sudah raib. "Sebentar ya, saya juga bawa teman koq, Indro namanya" Ery keluar sebentar. Tak lama kemudian dia masuk bareng Indro. Begitu Indro masuk, kontan Ipung dan Bobi menjerit pendek dan jatuh pingsan lagi.
"Oh begitu critanya bisa barengan ketemu disini" komentar Hendra. Akhirnya Ery dan Indro ikut mengantarkan Ipung dan Bobi ke basecamp mereka. Ternyata Ery dan Indro lagi ngerjain tugas sekolah. Pelajaran biologi, yaitu membikin gambar-gambar binatang malam. Karena Ery yang jago motret, akhirnya dia yang diutus oleh sekolah bersama Indro. Semula Indro menyangka mereka bakal jalan-jalan ke diskotik atau ke mal-mal mencari binatang malam. Lho emangnya ada binatang malam di diskotik? Ada cuma itu namanya kupu-kupu malam.
Tapi nggak disangka kalo Ery bakalan ketemu anak-anak bengal di sini. Ery dan Indro juga kaget mendengar perbekalan anak-anak raib ditelan sungai. Ery merasa terharu dan Iba.
"Jadi kalian belum makan dari kemaren sore?" tanya Ery. "Beluumm" koor anak-anak.
"Ya, coba sukarelawan tolong masakin mi instan dari base camp kita" perintah Ery
Hanya sebentar saja mereka sudah balik lagi, masak air dengan kompor Ery, masak mie sepuluh bungkus. Ery dan Indro hanya geleng-geleng kepala melihat anak-anak itu demikian giras menggasak mie.
Kamu ketua regunya?" tanya Ery. Piere menganggukkan kepala. Ery dan Piere duduk di depan api anggun yang dibuat supaya badan hangat. Mereka kebagian giliran jaga. Sementara anak-anak putri tidur di dalam tenda yang dibawa Ery dan Indro, anak-anak laki tiduran atau tepatnya bertumpuk di sliping bag gede punya Indro, sepintas mirip sarden.
"Kenapa kamu bawa anak-anak cewek?" Ery nanya lagi. Piere bengong, "Maksudnya?" tanyanya heran. "Apa kamu nggak tahu, itukan bahaya. Lagian nggak boleh kan perempuan jalan-jalan bareng lelaki yang bukan mahromnya" kata Ery. "Eh, kamu tahu mahram nggak?" tanya Ery lagi.
"Saya nggak tahu karena saya nggak pernah ngaji" Piere menjawab pelan. "Papa sama Mama nggak pernah nyuruh saya ngaji".
"Kalo begitu kamu harus ngaji. Kamu udah gede."Sambung Ery. Piere terdiam Dia jadi malu dan nggak enak hati. "Terus gimana dengan anak-anak itu sekarang?"sekarang Piere yang nanya. Ery diam sebentar.
"Indro bawa hand phone, kamu pinjem hand ponenya, kasih tahu supaya anak-anak perempuan itu dijemput sama bokapnya. Gimana?"
"Ok, sekarang bangunin anak-anak sudah shubuh nih" kata Ery sambil bangun berjalan ke anak-anak cowok.
Agak siangan rombongan Piere mau pulang. Sekarang ada satu mobil tambahan. Setelah mendengar anaknya nelangsa di tempat perkemahan, kotan papinya Tami nyuruh kakaknya Tami nyusul, mobil yang tarikannya wus, wus itu sudah nongkrong di pos penjagaan. Khusus ngangkutin anak-anak perempuan. Mobil TKW, ledek Ery.
"Kalian nggak ikut pulang?" tanya Piere. "Nggak ah, masih betah. Lagian kalau pulang juga disuruh ngesiin bak. Mendingan di sini santai" jawab Indro slengean.
"Indro rencananya mau indekost disini, sekalian jadi kuncen" ledek Ery.
"Kalo gitu kita pulang duluan deh" Ipung nyalamin Ery dan Indro, anak-anak juga ngantri, mirip acara beres pengajian di mesjid.
"Jangan lupa ngaji ya, Piere" kata Ery. "Insya Allah" Jawab Piere.
Tak lama kemudian dua mobil itu pun jalan meninggalkan bumi perkemahan. Tinggal Ery dan Indro yang harus berkemas-kemas.
Ditulis Ery and the gank [islamuda.com]

NILAI SEBUAH HARGA DIRI

Diposting oleh Masakan On 19.33 0 komentar
Dari ufuk timur semburat merah mulai merayap naik dari balik gumpalan awan yang gelap. Suasana pagi itu masih diselimuti kabut dingin karena hujan baru reda beberapa saat. Hawa dingin masuk ke sel kami melalui celah diantara jeruji besi yang kokoh. Hawanya masih terasa menusuk tulang sumsumku. Ruangan berukuran 4 x 6 meter persegi yang kami tempati makin pengap dengan aroma lantainya yang lembab.
Sayup-sayup terdengar azan subuh dari mushola Lembaga Anak Nakal Tangerang.
"Daeng, bangun Daeng" suara Maman mengusik mimpiku.
"Jam berapa sekarang?" sahutku, seraya tanganku mengucek kedua belah mataku. "Kurang lebih setengah lima, Daeng" jawabnya. "Ayo sholat dulu" ajaknya.
Segera aku bangkit dari tidurku, lalu kulipat kembali tikar plastik pemberian kakakku sebagai alas tidur yang sudah kelihatan lusuh. Bergegas aku menuju kamar mandi lalu berwudhu dan begerak bersama kawan lain ke mushola untuk menghadap Sang Pencipta.
Sebagian besar teman-teman di lembaga ini memanggilku Daeng, sebutan anak asli Bugis, Makasar. Padahal nama asliku Syarifudin. Katanya sih panggilan itu lebih gagah, aku sih terserah mereka saja.
Hari ini adalah genap dua tahun aku menghuni Lembaga Anak Nakal, ini setelah suatu peristiwa tragis yang tak mungkin kulupakan dan telah menyeret diriku sebagai salah satu penghuni tempat ini.
Aku terpaksa pindah ke Jakarta dari daerahku untuk mengikuti kakakku yang berprofesi sebagai pedagang. Aku terpaksa ikut karena tinggal dialah angota keluargaku sepeninggal ayah dan ibuku karena suatu kecelakaan yang merenggut nyawanya. Semenjak aku ikut kakakku, aku bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan padaku untuk melanjutkan sekolah atas biayanya.
Hari-hari pertamaku di SMA Bhineka agak merepotkanku. Ini karena bahasa daerahku yang masih kental. Maka tak jarang yang aku ucapkan kurang begitu dimengerti oleh kawan-kawanku.
Tetapi mereka cukup memaklumi dengan keadaanku. Maka tak heran kalau mereak jarang mengajakku bersendaru gurau, habis kadang suatu pembicaraan dianggapnya lucu tapi aku sendiri tidak merasa lucu.
Tapi bagaimanapun suka atau tidak suka aku tetap harus mengikuti kedaan karean aku berada di lingkungan orang lain yang notabene mereka akan menjadi kawanku kelak. Tinggal bagaimana aku menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut.
Suasana istirahat hari itu sangat riuh dengan berbagai tingkah laku anak-anak kelasku. Aku yang masih berstatus anak baru masih belum berani bergaul dengan yang lainnya, makanya aku cuma banyak bediam diri di kelas sambil memperhatikan tingkah laku mereka.
"Din, kamu lagi ngapain?" suara Ani sedikit menggetkanku. Ani adalah sahabatku yang pertama di SMA ini, dia pula yang pertama kali menawarkan tempat duduk buatku pada hari pertamku.
"Lagi duduk-duduk saja" sahutku seraya mempersilakan duduk. "Kok kamu nggak ikut gabung sama mereka?" tanya lagi, sesekali tangannya sibuk menyibakkan rambutnya yang selalu jatuh tergurai menutup wajahnya yang manis.
"Aku belum biasa dengan mereka, lagipula aku takut nanti cuma menggangu saja" sahutku perlahan.
Aku memang ingin juga bergaul dengan yang lainnya cuma sebagai anak baru harus tahu dirilah. Cuma Ani saja yang kadang mengajakku ngobrol, ngobrol apa saja, yaa tentang kehidupanku di Makasar, tentang lingkungan baruku dan macam-macam lagi. Namun kedekatanku dengan Ani dianggap lain oleh Rudi, kawan kelasku yang kabarnya dia naksir berat sama Ani, namun belum kesampaian. Habis Ani nya sendiri cuek bebek sama Rudi.
Sejak hari pertama aku masuk, aku sudah memperhatikan Rudi. Dia sepertinya termasuk siswa yang sedikit urakan, dari penampilannya yang gondrong dan tindikan anting di telinga kanannya. Khabarnya dia dari keluarga broken home. Ayah dan ibunya sudah lama bercerai dan kini ia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya.
Suatu ketika aku kebetulan aku lagi sendiri di kelas saat istirahat, tiba-tiba Rudi dan dua temannya masuk dan menghampiriku. Tanpa permisi sedikitpun dia langsung duduk di mejaku dan meletakkan kakinya di atas kursiku. Aku yang melihatnya sedikit gerah dengan sikapnya itu tapi aku coba untuk bersabar.
"Gua liat lu kayaknya suka sama Ani, ya?" tanyanya dengan logat Jakarta seraya tangannya memainkan sebatang rokok.
"Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Ani" jawabku tegas. "Kagak ada hubungan gimane?"sergahnya.
"Udah ngaku aja, kalau elu emang suka sama Ani!" cerocosnya dengan nada yang makin tinggi. Matanya yang tinggal segaris sedikit dipaksakan untuk memelototiku.
Aku yang melihat perubahan pada omongannya sedikit terpancing emosi, segera aku berdiri dari tempatku. Kutatap matanya dengan tatapan yang tajam. Tanganku menegapal erat hendak menghajar mulutnya yang congak.
Namun belum sempat hal itu terjadi tiba-tiba bel berbunyi. Anak-anak segera berhamburan masuk ke dalam kelas. Bersamaan dengan itu Rudi dan temannya ikut bergerak meninggalkanku, namun dengan sedikit ancaman.
"Kalau lu masu dekat-dekat sama Ani, awas!!! ancamnya sambil mengacungkan tinjunya ke arahku. Ani yang kebetulan masuk terakhir sempat melihat kejadian itu mulai mengorek keterangan dariku setelah dia sudah duduk di sampingku.
"Mau ngapain dia dekatin kamu?" tanyanya penuh selidik. "Nggak ada apa-apa!" jawabku sangat singkat.
Jawabanku yang sedikit ketus itu membuat Ani diam, dia tak berani ajukan pertanyaan lagi. Wajahku masih memerah dan degup jantungku masih berdetak kencang, sepertinya aku hampir tidak dapat mengendalikan emosiku. Namun secara perlahan aku sudah mulai dapat mengendalikan emosiku. Akupun sadar kalau aku masih anak barudi sekolah ini.
"Aku tak ingin studiku kacau cuma karena masalah sepele" pikirku.
Ani yang melihat perubahan pada diriku kembali mengintograsiku bak maling ayam yang baru ketangkap basah. "Bener kamu nggak ada masalah dengan Rudi?" tanyanya sedikit berbisik, takut kalau-kalau Pak Tobing, guru Fisika ku yang galaknya minta ampun mendengar percakapan kami. Kalau dia sempat dengar ada yang berbisik waktu mata pelajaran dia, jangan heran kalau penghapus kayu itu bisa landing dengan sempurna ke kepala.
"Cuma masalah sepele, kok "
"Sepele gimana?"
Aku cuma terdiam dan tidak menjawab lagi, habis Pak Tobing menoleh ke arahku sedikit curiga setelah dia merasa ada suara seperti tawon kumpul. Ani kelihatan kesal dengan sikapku. Akupun jadi tidak tega melihatnya cemberut.
"Kamu janji tidak marah kalo aku ceritakan masalahnya?" bisikku yang disambut dengan anggukan kepalanya.
Lalu kuceritakan ihwal permasalahannya dari awal sampai akhir. Pelajaran Fisika yang saat itu kami hadapi tidak begitu kami hiraukan. Ani kelihatan antusias sekali.
"Trus tanggapan kamu bagaimana? tanyanya ketika aku mengakhiri ceritaku.
"Tanggapan bagaimana?" aku balik bertanya. "Ya mengenai ancaman itu"
"Kalau itu sih aku tidak terlalu ambil pusing, lagian aku sama kamu memang tidak ada apa-apa, iya khan?"
Ada sedikit perubahan pada wajah Ani ketika aku menjawab pertanyaan itu.
"Dan kalau dia marah lagi, apa urusannya" jawabku sedikit diplomatis.
"Tapi kalau bisa, kamu jangan sampai bentrok fisik sama Rudi, ya? pintanya sedikit berbisik nyaris tak terdengar olehku."'Dia itu anaknya brengsek dan kalau ribut suka bawa teman-temannya, makanya aku khawatir kalau kamu sampai ribut sama dia" pintanya lagi.
"Aku janji untuk tidak melayaninya lagi kok" jawabku untuk mengurangi rasa khawatir pada diri Ani.
Ani tersenyum tatkala aku mengatakannya sebersit senyum manis terpancar dari bibirnya yang mungil. Lesung pipitnya yang aduhai makan menambah manis wajahnya yang memang sudah manis. Aku yang memperhatikannya tidak melewatkan saat-saat itu sampai aku sedikit grogi dan tidak memperhatikan Pak Tobing yang siap melayangkan penghapusnya. Untung saja bel berbunyi dan selamatlah daku.
Waktu terus bergerak laksana roda pedati yang terus berputar. Banyak hal-hal yang baru aku temui sejak aku tinggal di Jakarta, sama halnya dengan kejadian-kejadian yang aku alami di SMA Bhineka.
Tak terasa aku sudah satu bulan menjadi siswa di SMA Bhineka. Hubungaku dengan teman-teman satu kelas sudah mulai dekat meskipun belum begitu akrab. Namun untuk sedikit ngobrol, mereka suka mengajakku, walaupun kadang logat daerahku masih sering muncul.
Ada satu hal yang belum aku bisa lepaskan dari diriku. Yaitu kebiasanku membawa badik. Badik pemberian pamanku tatkala ku hendak meninggalkan kampung halamanku. Katanya sih untuk jaga diri di negeri orang. Akupun sering dinasehati oleh kakakku untuk tidak membawa badik itu.
"Tapi bagaimana dengan pesan paman?" jawabku yang hanya ditanggapi oleh diam seribu bahasa kakakku pada suatu malam selepas kami sholat maghrib.
Ada satu hal lagi yang belum bisa aku selesaikan, yaitu Rudi.Ya, Rudi anak lama yang masih menyimpan dendam amarah padaku. Padahal aku sendiri merasa tidak punya masalah dengannya. Sudah beberapa kali dia berusaha memancing aku untuk duel, cuma aku tanggapi saja dengan dingin.
Dan terkadang kawan lainya ikut melerai, aku pun berusaha untu tidak melayaninya selama kehormatanku tidak diinjak-injak. Namun puncak kesabaranku akhirnya pecah pada suatu pagi tepat pukul 09.15 tatkala Pak Martomo, guru kimia kami tidak bisa mengajar. Ketika aku lagi asyik ngobrol dengan Ani menunggu Faisal sang ketua kelas yang baru mengambil tugas kimia di ruang guru, tiba-tiba saja Rudi masuk ke kelas dengan sedikit sempoyongan.
Aroma alkohol menyebar bersamaan masuknya Rudi ke dalam kelas. Matanya tampak merah akibat kebanyakan minum. Di tangannya tergenggam sebatang pipa besi. Aku dan kawan lainya heran, apa yang akan diperbuatnya.
"Hai banci!" teriaknya sedikit terhuyung seraya pipa itu ditunjukkan ke arahku.
"Kalau lu bukan banci, lawan aku sekarang!" teriaknya lagi dengan sedikit parau. Aku yang merasa ditunjuk jadi emosi. Belum pernah aku dibuat semalu itu di depan umum. Rasa kehormatanku seakan tertohok oleh kata-katanya. Sebagai Putra Bugis pantang bagiku untuk dibuat malu di depan umum.
"Siapa yang banci!" jawabku lantang tidak mau kalah dan berdiri di depannya sambil menatap matanya yang makin sayu karena pengaruh alkohol. Ani dan yang lainya segera menghindar berlarian menuju ruang guru. Namun aku tetap berusaha untuk menjaga emosi jangan sampai aku terpancing olehnya, karena aku memang nggak ada masalah dengannya.
Baru saja aku hendak menarik nafas sebagai cara menenangkan diri, tiba-tiba Rudi mengayunkan pipa besi itu ke arah kepalaku. Segera aku menghindar dan secepat kilat aku meraih sesuatu dari bajuku, dan ....
"Cressss"
Badik pemberian pamanku itupun menancap tepat di dada Rudi. Mulutnya mengerang kesakitan, matanya terbelalak, tangannya memegangi badikku yang telah menancap di dadanya. Darah segar mengalir deras dari dadanya membasahi baju putihnya. Seiring dengan itu ia pun goyah seketika. Kedua kakinya seperti tak kuasa meopang tubuhnya lalu ambruk ke lantai.
Rupanya tusukanku tepat megenai jantungnya. Dia tak begerak sedikitpun. Darah mengalir dari bekas tusukanku. Suasana kelasku jadi kacau, anak perempuan berteriak histeris seakan tidak percaya dengan semua ini. Aku yang barus saja menikamnya berdiri menatap wajah Rudi. Tidak ada lagi keangkuhan lagi di wajahnya. Hilang sudah kesembongannya yang selama ini dia agungkan. Namun tiba-tiba saja ada rasa gejolak yang memberontak dalam relung kalbuku. Ada rasa penyesalan dan rasa kasihan yang timbul, tapi ....
"Daeng lagi ngapain?" suara Maman kembali mengagetkanku dari lamunan masa laluku yang kelam. "Ingat kejadian dual, ya?" tanyanya lagi sambil ikut duduk di sampingku. "Orang seperti Rudi itu memang harus diberi pelajaran biar tidak kurang ajar" ujarnya, sambil mulutnya asyik mengunyah sepotong roti dan tangannya memegang secangkir kopi yang masih hangat.
"Kamu nggak usah pikirkan lagi, lagian kamu kan membela kehormatanmu sebagai orang Bugis" ujarnya lagi lalu menyeruput kopi hangatnya. Nikmat.
"Tapi ....."
"Ala ... sudahlah nggak usah dipikirkan" sahutnya sambil menarik tanganku untuk menikmati saran pagi di ruang makan. Namun bagaimanapun aku tetap menyesali perbuatanku, karena aku telah menghilangkan nyawa seseorang.
Seseorang yang sebenarnya masih ada pertalian darah dengaku, karena Rudi adalah saudara tiriku yang telah lama berpisah denganku sejak bayi. Rudi diasuh oleh ibunya yang hijrah ke Jakarta setelah bercerai dengan ayahku. Rahasia ini aku ketahui setelah kakakku yang menceritakannya padaku setelah aku menghuni lembaga ini.
Tapi penyesalan tinggalah penyesalan. Nasih sudah jadi bubur. Biarlah aku menjalani sisa masa tahanku yang entah berapa lama lagi akan aku selesaikan. Aku berjanji untuk menemui keluarga Rudi selepas masa tahananku untuk meminta maaf akan kesalahanku. Dan harapanku semoga kesalahanku ini dapat dimaafkannya.
Ditulis Oleh : ACI, Jatibening