POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Majalah HIM X (Tentang Pemilu)

Diposting oleh Masakan On 18.29
HIMtv

Pemilu tinggal setahun lagi. Berbagai kasak-kusuk berita maupun rumor politik pastinya sudah menghangat akhir2 ini. Sekedar untuk menyebut beberapa “hot item” dunia perpolitikan saat in, diantaranya : PDI-P masih saja mengandalkan Megawati sebagai kandidat presiden ( jadi sekarang lebih disibukkan pada pencarian sosok cawapresnya ), Golkar masih terombang-ambing apakah hendak melakukan konvensi lagi ( yang berarti bakal ada “pertarungan” jilid kedua antara Jusuf Kalla dengan Akbar Tanjung ? ) atau berkoalisi dengan partai lain, PKB sedang didera kisruh perselisihan antara ketua umum dengan ketua dewa syuro, Partai Demokrat tampaknya memang mau tak mau untuk kesekian kalinya masih mengunggulkan figur pak Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan dari jalur “indie”, beberapa kandidat berusaha masuk dalam bursa calon presiden seperti Sultan Hamengku Buwono X, Wiranto ( lewat jalur partai Hanura ), Sutiyoso, dan kelihatannya sich Prabowo juga. Akan semakin seru juga kalau calon perseorangan yang tidak melalui jalur partai telah disetujui.

Ketimbang mumet atau sampai langganan sms-nya mama Lauren segala untuk sekedar tahu siapa pemimpin bangsa ini tahun depan, lebih baik penulis membahas soal sosok “news anchor” yang tampaknya akan banyak menghiasi layar talkshow tv belakangan ini. Kita mulai dari MetroTV yang kelihatannya akan memasang Rizal Malarangeng sebagai ujung tombak pembawa acara spesialis bincang2 politik seperti ini ( seperti yang selama ini dilakoninya via “Save our nation”, mungkin kedepannya akan didampingi oleh Meuthia Hafid. SCTV, yach mau tak mau bakal mengusung pemrednya yakni Rosiana Silalahi. Penulis tidak tahu apakah Sondang Sirait yang mulanya berasal dari VOA akan diterjunkan pula untuk “proyek” ini.

ANTV mempersiapkan Wimar Witoelar lewat acara (the return of) Perspektif-nya. Sedangkan untuk tvOne, meski banyak merekrut presenter kawakan dari banyak stasiun tv lainnya, kandidat pembawa acara yang diunggulkan tampaknya duet tandem antara Alfito Deannova dan Rahma Sarita. Tak mau kalah, saluran tv kabel Astro Awani pun sudah bersiap diri untuk menyambut pesta demokrasi terbesar tahun depan, setidaknya penampilan bung Rizal Mustari dalam segmen “Sudut Pandang” saat ini masih konsisten saat dia dulu membawakan “Kupas Tuntas”-nya TransTV. Ditunggu nich, stasiun tv mana yang berhasil menggaet Ira Koesno kembali ke kancah “wajah” (program tv) perpolitikan nasional kita ?





HIMedia

Sabtu lalu, KOMPAS menyisipkan lembaran angket sebagai salahsatu bentuk menjaring karakter dan opini pembacanya. Banyak hal bisa dijaring dari program tersebut tentunya tergantung isian kuesioner yang diminta, meski tentunya ini hanya terbatas pengamatannya dari hasil yang dikirim. Jadi kemungkinan adanya aspirasi pembaca yang tidak mengirimkan angketnya juga tak bisa dipungkiri pasti ada, maklumlah hadiah undian bagi para pengirimnya relatif sedikit sich, he3… Tapi setidaknya angket seperti ini tidak seperti polling sms yang mana sebenarnya tidak berorientasi pada valid atau tidaknya hasil “terfavorit”, tapi lebih kepada pengumpulan pulsa sebanyak-banyaknya.

Jadi teringat beberapa minggu lalu di sebuah ATM bank BUMN, tampaknya kala itu sedang ada tim survey “ask the customer”, singkatnya setelah nasabah melakukan proses transaksi di ATM, lalu ada anggota pensurvey yang hendak menjaring persepsi pelanggan, entah itu dari pertanyaan seberapa sering menggunakan ATM dalam sebulan, transaksi apa saja yang dilakukan ( biasanya sich cuman tarik tunai dan cek saldo doank ), bagaimana soal kemudahan prosedur, dan berbagai input saran lainnya. Entah hasil surveinya akan seperti apa kalau yang dihadapi kebanyakan adalah nasabah yang duitnya ditelan ATM J. Kalau dari penulis sich sarannya, kapan donk saya bisa menang undian grandprize-nya bila untuk mendapatkan 1 poin undian saja perlu saldo rata2 jutaan rupiah ?

Balik lagi ke soal angket, sistem “rating” mungkin paling diperdebatkan keabsahannya dalam dunia broadcast televisi. Banyak pengamat, pemerhati, maupun insan pertelevisian kita kadang terheran dengan hasilnya, mengapa tayangan “sejelek” itu ( maksudnya mungkin tidak mendidik ) menurut rating bisa ditonton banyak orang. Jadi selama ini bisa jadi memang ada semacam salah kaprah bahwa program “laris” bukan hendak melayani kecerdasan pemirsa, tetapi membantu “kecerdasan” pemasang iklan memilih. Mungkin ada baiknya pula sesekali pengelola tv membuat survey internal yang lebih independent sebagai bahan komparasi.





HIMtermezzo

Minggu2 belakangan ini banyak perusahaan terbuka mulai mempublikasikan laporan keuangannya di media massa untuk periode tutup tahun 2007. Tentunya dari satu sumber tersebut bisa memunculkan banyak interpretasi tergantung kepentingannya. Misalnya untuk investor maupun pemegang saham dapat menjadi indikator mengukur kinerja perusahaan tersebut. Bagi kantor pajak, yach bisa dipakai untuk memperkirakan apakah selama ini pajak yang disetorkan tidak berbeda jauh dengan yang dilaporkan. Namun bagi kalangan awam seperti penulis, yach nggak beda jauhlah dengan iklan2 harian lainnya. Kalau biasanya menyangkut soal brand produk, tapi untuk financial report tahunan ini seperti mempromosikan brand perusahaan.

Namun bagi karyawan mungkin saja ada kerisauan tertentu, seperti lho kok tidak berbanding lurus yach dengan kenaikan gajinya. Semisalkan pertumbuhan profitabilitas perusahaan 15%, tapi kenaikan pendapatan hanya 10%. Untuk budget tahun depan, sales ditarget meningkat 20%, tapi upah karyawan hanya disesuaikan 7-8%. Biasanya sebagai dalih atas kecilnya kenaikan upah karyawan ini adalah untuk menekan biaya operasional, sebagai anak buah kita diajak prihatin atas kenaikan harga bbm yang salahsatunya berbuntut pada tingginya ongkos transportasi dan harga beli bahan baku . Menaikkan harga jual terlalu beresiko bagi pencapaian target penjualan, jadi pilihannya adalah mengefisienkan ongkos produksi, dimana elemen gaji karyawan adalah komponen biaya yang relatif “mudah dikendalikan”.

Setidaknya lihat saja fenomena penolakan para pengusaha kalau UMR dinaikkan. Komplain bahwa hal tersebut akan makin menggerus keuntungan perusahaan yang sudah tipis dimakan berbagai “biaya siluman”. Sudah lama salahsatu ironi “biaya buruh murah” dijadikan keunggulan kompetitif ( competitive advantage ) dalam versi pengajaran ilmu ekonomi kita di sekolah-sekolah. Sedangkan bagi karyawan sich melihatnya gampang saja bahwa harga kebutuhan saja sudah naik, masa gaji tidak naik.

Berkaca ke tahap awal kita memasuki dunia kerja, lihat saja ketika tahapan wawancara kerja yang membahas negosiasi gaji, banyak pihak HRD yang justru malah bertanya kepada pelamar soal gaji yang diharapkan ( maksudnya diharapkan serendah mungkin ? ), padahal mustinya terbuka saja dari awal bahwa untuk posisi X yang tersedia bisa ditawarkan gaji segini dengan tunjangan dan insentif segitu. Kalau tawaran tersebut dianggap tidak sesuai ekspetasi pelamar kerja, silakan bandingkan dulu dan boleh dicek dech dengan perusahaan sebelah… lha, kalau ini sich mirip jualan hp donk....

0 Response to "Majalah HIM X (Tentang Pemilu)"

Posting Komentar

    Blog Archive

    About Me