POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE




sumber : HIMtv

Pekan lalu beberapa tayangan “super” di Indosiar yang menampilkan duet Ruben Onsu dan Ivan Gunawan mendapat peringatan dari KPI. Untuk soal celetukan spontan mereka berdua yang dianggap terlalu kasar mungkin sebagian dari kita sebagai pemirsa bisa mengerti, tetapi alasan bisa mengganggu sebagian umat muslim dalam menjalankan ibadah magrib menjadi perdebatan menarik di banyak milis karena dianggap terlalu mengada-ada. Dan lagi mengapa program tayangan lain di jam yang sama tidak mendapatkan teguran serupa, entah itu program sinetron, berita, kartun, feature, komedi, dan sebagainya ? Kalau memang ibadah dianggap sebagai kewajiban, mestinya rintangan apapun bukan masalah, apalagi kalau “penghalangnya” cuma sebuah tayangan tv.

Tulisan tentang beberapa tayangan di jam 6 petang ini sebenarnya pernah penulis angkat ketika mengupas soal serial “Heroes” di TransTV beberapa bulan lalu. Dan kini penulis tertarik untuk menyoroti tentang rangkaian program komedi klasik yang ditawarkan oleh ANTV selama 2 jam dari pukul 18.00-20.00 wib. Dibilang “klasik” karena sebenarnya program tersebut pernah tayang di stasiun tv lain. Spontan misalnya pernah jadi program andalan SCTV, untuk ukuran sekarang mungkin idenya tak jauh beda program “Jail” yang sedang tayang di TransTV. Nach, untuk “Tangkap” dan “Bu-gil” juga pernah sempat menjadi buah bibir saat tayang di TransTV. Sedangkan “Kena dech” sebelumnya pernah mengisi layar kaca TV-7 ( sekarang Trans7 ).

Mengapa komedi ? Kalau boleh penulis berasumsi, di jagat broadcast tv kita ada 2 aliran besar acara “lawakan”, yang pertama menggunakan skenario ( contoh : ExtraVaganza ), yang kedua memakai improvisasi ( contoh : Srimulat ). Untuk Spontan, Bu-gil, dan Kena dech memakai gagasan membangun kelucuan lewat mengharapkan reaksi yang tak bisa diduga, setidaknya konsep ini juga muncul dalam “Akhirnya datang juga” TransTV. Sedangkan untuk “Tangkap”, dari segi ide sebenarnya sudah bagus yakni menangkap ironi humor dibalik kejadian2 kriminal di sekitar kita namun sayangnya secara eksekusi tayangan dibuat ala kadarnya.

Sebenarnya komedi tidak melulu soal ketawa-ketiwi untuk melupakan kesumpekan hidup sejenak, apalagi kalau pas mentok biasanya modal mencela kekurangan fisik orang lain dijadikan “andalan” untuk memancing tawa penonton studio. Mestinya ada hikmah mendidik yang bisa ditanamkan pada benak pemirsa. Kalau boleh flashback kebelakang, ada satu acara TVRI yakni “Aneka Ria Jenaka” yang meskipun membawa misi Orba tokh bisa digemari. Lihat saja berapa banyak program pemerintah kala itu bisa tersosialisasikan dengan lumayan baik via tontonan humor ala wayang orang tersebut, mulai dari soal KB, swasembada pangan, posyandu, sampai soal pentingnya kodepos ( masih ingat gurauan kiriman kesasar gara2 kota Kroya vs Korea atau Purwokerto vs Purwakarta J ).

0 Response to "Ruben ONsu dan Ivan GUnawan Yang Menuai Protes KEras...."

Posting Komentar

    Blog Archive

    About Me